Archive for Mandom

Final Edition : Forum8 Tokyo Chapter

Hari ini adalah Forum8 Chapter Tokyo terakhir dari rangkaian kegiatan yang dimulai sejak 6 bulan lalu. Dengan berakhirnya kegiatan hari ini, selesai sudah seluruh kurikulum yang dirancang oleh Steering Committee Forum8.

Forum8 chapter Tokyo dihadiri oleh 7 perusahaan yang semuanya kelas kakap di bidangnya, kecuali perusahaan kami. Ada Asahi Kasei, Asahi Beer, Takenaka Komuten, Panasonic, Nestle Japan, Kokuyo, dan Mandom. Dari 6 perusahaan selain kami bahkan ada yg nilai omset pertahunnya mencapai angka trilyun Yen, anak perusahaan hingga 500 buah, dan karyawan ratusan ribu.

Forum8 ini sangat menarik karena dihadiri oleh berbagai macam jenis perusahaan yang memiliki pasar yg berbeda, produk yg berbeda,.dan tentu saja approach yg sangat berbeda dalam menjalankan bisnis. Dan lebih menarik lagi adalah karena kurikulum Forum dibuat oleh kami para anggota Steering Committe, yang terdiri dari 7 orang.

Saat pertama diminta untuk mewakili perusahaan untuk menjadi Steering Committe, saya sempat ragu apakah bisa menjalankan tugas dengan baik karena sebagai SC, kami harus menyusun kurikulum, mengeksekusi program, melakukan review, dan mempersiapkan semuanya termasuk membimbing para peserta training yang tentu saja semuanya orang Jepang (tahun ini kebetulan ada satu peserta orang China). Apalagi saya diminta memegang dua chapter sekaligus, Chapter Jepang Barat dan Chapter Jepang Timur. 

Saya masih ingat ketika pertama kali berdiri di depan seluruh peserta dan diperkenalkan oleh SC pendahulu saya, para peserta terlihat bengong karena memang sepanjang sejarah forum yang sudah berdiri sejak 12 tahun ini, belum pernah ada SC yang merupakan tulang punggung Forum, dari kalangan non Japanese. Alasannya sederhana, karena semua komunikasi, baik tertulis maupun lisan dilakukan dalam bahasa Jepang. Namun, wajah bengong itu jadi berubah menjadi tertarik ketika pendahulu saya menjelaskan bahwa saya muslim, sehingga selama puasa saya tidak ikut makan siang, saya tidak makan babi, tidak minum alkohol, dan jika masuk waktu akan sholat di sudut ruangan yang tersedia. Saat itu suasana mulai cair ketika saya memperkenalkan diri dan melontarkan joke sehingga mereka jadi tertawa. 

Saat Forum mulai berjalan dan saya membawakan materi, terkadang saya memperhatikan beberapa orang terlihat mengkerutkan dahi pertanda kurang mengerti dgn bahasa Jepang saya, namun tak satupun yang pernah memperlihatkan rasa tidak senang.

Selama enam bulan, saya justru banyak belajar, padahal bukan sebagai peserta Forum. Namun karena kami harus mendampingi mereka saat materi, akhirnya kami ikut mendengarkan dan menyerap ilmu yang didapatkan secara gratis. Materi yang disampaikan selalu menarik dan mudah dicerna karena isinya tidak sekedar teori bangku sekolah, melainkan langsung dari praktisi pada bidang masing-masing dari perusahaan peserta.

Business Strategy diajarkan oleh praktisi dari Kokuyo, perusahaan produsen alat tulis kantor terbesar di Jepang. Finance Accounting dibawakan oleh GM dari Asahi Kasei, perusahaan chemistry yg terkenal dgn banyak produk hitsnya. Presentasi dan Komunikasi oleh Nestle Japan, Karir oleh Asahi Beer, Leadership oleh Takenaka Komuten, top 3 di bidang arsitek dan konstruksi di Jepang, dan marketing oleh Manajer kami.

Bulan lalu saat meeting SC, saya diminta untuk menutup Forum tahun ini pada pertemuan terakhir,.yakni hari ini. Saya hanya tertawa dan mengira mereka hanya bercanda karena walaupun saya bisa bahasa Jepang, tentunya akan lebih baik kalau yang menutup adalah SC orang Jepang yg pandai presentasi. Namun mereka serius, dan saya tentu saja sempat panik. Saat di Indonesia, saban tahun saya memang sering ngeMC acara RUPS tahunan yang dirangkaikan dengan public expose yg mengundang wartawan. Saat terjadi kecelakaan ledakan di pabrik dan membuat kami harus kehilangan 28 orang orang-orang baik dari karyawan kami, saya disuruh oleh Manajemen untuk ikut dalam team Direksi menghadapi pertanyaan wartawan di jumpa pers. Saat megang Management Planning pun, sempat menjadi facilitator dalam diskusi Direksi dengan Manajer. Tapi semua itu dalam bahasa Indonesia! 

Kali ini semuanya dalam bahasa Jepang, dan tanggung jawabnya sangat berat karena kalau closing ini tidak bagus, maka semua usaha kami yg enam bulan, akan sia-sia.

Tapi saat itulah saya menyadari bahwa mungkin inilah kesempatan untuk mengalahkan semua rasa takut dan minder saya sebagai orang asing di negeri ini. Bukannya berkelit, saya terima tantangan itu dan melaksanakannya tadi sore.

Ada semacam kelegaan yang sangat terasa setelah tadi saya meletakkan mic dan mengucapkan terima kasih saat menutup Forum8 tahun 2017 untuk Chapter Jepang Timur.

Ketakutan itu berhasil saya taklukkan. Memang tidak mudah, saya harus ikut training tentang presentasi dan komunikasi beberapa kali. Saya harus latihan berkali-kali mengulang teks dan menghapalkan skenario materi. Saya harus mendengarkan review para peserta dan mensummary saat detik-detik terakhir sebelum naik di podium. Dan saya harus melontarkan gurauan sebelum mulai bicara agar tidak gugup.

Alhamdulillah berkat bimbingan Allah, pesan yg ingin saya sampaikan tampaknya bisa mereka mengerti.

Ketika anda takut, hadapilah rasa takut itu. Karena itulah satu-satunya cara untuk menaklukannya.

@Shinkansen Nozomi No.525 Tokyo-Shin Osaka 17-11-2017

Ceremony New Office 2015

Hampir seminggu terakhir tidur tidak pernah lebih dari 4 jam dalam sehari. Pasalnya sebagai project sub leader di kantor saya, manager A&P pak Ade (sub leader) dan Direktur Sales Pak Ozaki (Project leader) harus mengkoordinasi team yang terdiri dari puluhan general manager, manager, dan staf lainnya untuk mensukseskan acara peresmian kantor pusat dan pabrik baru kami di Kawasan Industri MM2100 Cibitung.

Sebenarnya di acara ini kami menggunakan jasa EO dari sebuah agency iklan papan atas di Indonesia, akan tetapi bercermin pada pengalaman perusahaan ketika peresmian pabrik plastik di tahun 2007, kami tidak mau mengambil resiko. Kala itu kami juga menggunakan agency lain yg juga boleh dikata masuk papan atas di dunia iklan dan EO di Indonesia, tapi banyak masalah di mana-mana. Akhirnya pada gawean kali ini, trio Kami mau tidak mau turun langsung dalam banyak hal yang seharusnya dilakukan oleh agency sebagai bagian dari tanggung jawab mereka dalam manajemen acara.

Peresmian itu dihadiri oleh menteri perdagangan Bapak Rachmat Gobel yang alhamdulillah bersedia meluangkan waktunya di tengah kesibukan beliau setelah sehari sebelumnya mengikuti perhelatan besar keluarga presiden di Solo. Awalnya kami sempat menawarkan fasilitas helikopter untuk menjemput beliau dari bandara menuju Cibitung karena kekhawatiran kami terhadap macet. Tapi beliau dengan rendah hati menolak dan justru memilih usulan stafnya menggunakan pesawat komersial Low Cost Carrier dari Solo. Kami sempat benar-benar merasa bersalah menyebabkan seorang menteri menggunakan airways yang saya sendiri sudah kapok menggunakannya sejak 12 tahun yang lalu. Alhamdulillah Allah membukakan jalan karena akhirnya pihak kementerian bisa mengatur jadwal beliau sehingga malam itu juga beliau bisa pulang dan di pagi harinya kami bisa menjemput beliau di kediaman di daerah Kalibata.

Ketegangan mulai berasa di hari H minus 1 ketika matahari sudah mulai hilang tapi persiapan produksi belum seluruhnya beres. Sistem registrasi masih saya benahi lagi karena database yg berubah hingga di hari terakhir. Saya akhirnya turun tangan langsung oprek-oprek php dan mysql karena merasa khawatir akan timbul masalah kalau sistem registrasi 300-an tamu hanya ditangani dengan lembar excel buatan teman-teman IT. Butuh semalam untuk menyelesaikan sistem itu. Lembar Excel buatan team IT kami jadikan sebagai back up system kalau-kalau ada masalah.

Production list yang dijanjikan pihak EO tidak kunjung muncul, sementara kami team inti di lingkar 1 mulai gelisah. Untunglah team registrasi sigap membantu dengan ditambah staf dari marketing dan sales sehingga ID card bisa beres menjelang tengah malam.

Selagi sibuk itu, di stage, Rieke Caroline, news anchor Metro TV yang akan menjadi MC di acara ceremony ternyata sudah hadir sejakjam 8lewat. Akhirnya saya minta mereka mulai rehearsal dengan ditemani Pak Ade, sementara saya dan Pak Ozaki membantu menyelesaikan ID card peserta dan panitia. Sekitarjam 9:30saya bergabung dengan team yg sedang rehearsal.

IMG_2146

Rieke Caroline in rehearsal.

Rieke terlihat santai padahal mungkin masih capek sepulang siaran. Beberapa kali saya mengintervensi karena beberapa script belum sesuai dengan yg sudah kami sepakati dgn EO. Setiap kali saya minta maaf karena intervensi, Rieke cuma tersenyum dan malah acungkan jempol pertanda all right.Jam 10:30Rieke selesai dengan skenario yg sedikit berubah di sana-sini. Di bagian Voice Over yg menyambut menteri masuk ruangan, saya mengganti Rieke dan menyuruh staf EO melakukannya, kemudian VO itu sekaligus memperkenalkan Rieke sebagai MC sehingga pamor Rieke sebagai presenter bisa semakin mengkilap, hasilnya bagus.

Menjelangjam 12, meja reservasi belum beres, main gate belum selesai, back drop di ceremony venue masih on progress, dan sederet kerjaan lain yg masih tanda tanya. Tapi saya menenangkan pak Ozaki dan mengatakan bahwa di sinilah kehebatan orang Indonesia yg akan mampu menyelesaikan pekerjaan walaupun di akhir-akhir waktu. Saya mengajak pak Ade dan pak Ozaki untuk meninggalkan venue supaya mereka bisa konsentrasi dan tidak terganggu. Sekalian supaya kami bisa istirahat agar besok harinya bisa segar menjalankan acara. Saya menjabat tangan PIC production EO dan menatap tajam matanya “Jam 3, semua sudah selesai ya.Jam 3mas”. Si mas-nya menjawab agak ragu “iya pak, insya Allah”. Kami meninggalkan kantor menuju Prime Biz, hotel bintang 3 di daerah Cikarang yang ternyata cukup bagus jika dibandingkan business hotel sekelas di Jepang. Jam menunjukkanpukul 2lewat ketika saya nyungsep di balik selimut.

Jam 5morning call berbunyi dan dengan mata yg masih berat karena tidur kurang dari 3 jam saya menyingkap selimut dan menyegarkan badan di bawah siraman shower air panas. Kami meninggalkan hotel jam setengah enam lewat.

Setiba di kantor perasaan agak lega karena persiapan sudah terlihat rampung. Kami berbagi tugas, pak Ozaki dan pak Ade menuju ceremony venue mengecek kesiapan, saya mengecek ulang database, sistem registrasi dan mempersiapkan terjemahan speech pak Nishimura, CEO Mandom Corporation Japan yang berubah total semalam, satu malam sebelum acara dimulai. Sistem registrasi sudah OK, tapi butuh sekitar 30 menit untuk menyelesaikan terjemahan pidato berbahasa Jepang sebanyak hampir 2 lembar A4 itu.

Sambil ngetik saya sambil mengontak PIC yang standby di Fairmont Hotel, Borobudur Hotel, dan kediaman bapak Menteri. Rombongan Borobudur berangkatjam 6:30, Fairmont7:15, dan pak Rachmat7:50.

CEO Mandom Group Mr. Nsihimura

Karena para host adalah orang luar, mereka tidak mengenal CEO Mandom Group dan sempat mengarahkan untuk registrasi. Saya langsung ambil alih dan menunjukkan ruang SVVIP.

Menjelang jam 8 tamu mulai berdatangan. Beberapa kali saya menyemangati sambil menegor cewek-cewek cantik yang jadi host dan usher hari itu karena sempat meloloskan tamu tanpa disapa dan diarahkan ke meja registrasi. Akibatnya saya yang harus berlarian menyusul mereka sehingga konsentrasi saya mulai pecah. Padahal harusnya saya fokus di tamu Super VVIP.

Pengarahan ulang para host

Berkali-kali para host itu saya minta untuk bergerak menyambut tamu, bukan hanya diam mematung.

Melayani tamu

Melayani seorang tamu

Rombongan dari hotel borobudur tiba sehingga komposisi tamu yang hadir langsung membesar karena 1/6 tamu menginap di sana. Kondisi menjadi di luar kendali ketika tamu dari partner kami tiba. Kami sudah membagi rombongan mereka menjadi dua yaitu chairman dan CEO ke Super VVIP, sementara lainnya ke VIP. Tapi strategi itu mentah karena beberapa dari rombongan itu ngotot ikut chairman ke ruangan SVVIP dan itu berefek pada semua prosedur berikutnya, mulai dari korsase penanda tamu SVVIP hingga ke shuttle ke ceremony site yg letaknya agak jauh dari holding room. Saya langsung meminta ke bagian transport untuk menyiapkan mobil tambahan bagi Super VVIP melalui HT. Inipun menjadi sumber masalah karena belakangan saya baru tahu bahwa ternyata channel yg saya pakai hanya dimonitor oleh panitia ring 1, yaitu saya dan Pak Ade. Bagian transport tentu saja tidak melakukan apa-apa karena informasi tidak ada. Keadaan itu diperburuk dengan kepanikan bagian transport sehingga bukannya menjejerkan mobil di lobi depan, mereka malah membariskan mobil di pintu belakang, sebuah langkah fatal yang menyebabkan strategi shuttle untuk SVVIP menjadi mentah. Beruntunglah Bapak Menteri malah menolak naik mobil dan memilih jalan kaki sehingga permasalahan shuttle menjadi beres.

Acara kami dimulai jam 09:30an, telat 15 dari target semula.

Acara berjalan lancar, 2 kali saya muncul di stage bagian belakang karena harus menerjemahkan pidato CEO Mandom Jepang dan Managing Director kontraktor kami Kajima Corporation. Kami sebenarnya menggunakan 3 interpreter, dua Indonesia-Jepang, satu indonesia-english. Tapi interpreter bahasa Jepang dua-duanya orang Jepang sehingga saya memutuskan menangani sendiri terjemahan Jepang-Indonesia.

Managing Director Kajima

Mendampingi speech Mr. Koshijima, Managing Director dari Kajima Corporation.

CEO Mandom Group

Mendampingi Mr. Nishimura, CEO Mandom Group.

Setelah bagian terjemahan selesai saya kembali mengambil posisi dekat panggung karena masih ada beberapa hal yg harus saya dan pak Ade tangani. Acara tidak ada masalah hingga penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita selesai.

Prasasti signing

Penandatanganan prasasti oleh Pak Menteri

Pemotongan pita

Acara pemotongan pita.

 

Tamu Super VVIP

Bapak Menteri, Direksi, dan tamu VVIP lainnya berpose pada sesi foto.

 

Semua lancar-lancar saja hingga closing dan factory tour dimulai, dan di sinilah masalah terbesar muncul, saya ditelpon dan diberi tahu bahwa mobil catering yg membawa makan siang tertahan di tol karena ada kecelakaan yang menyebabkan kemacetan total dari arah Jakarta. Catering yang kami ambil adalah catering yang terbilang baru tapi memiliki nama karena konon sudah sering melayani hajatan-hajatan besar baik dari perusahaan-perusahaan besar maupun pejabat-pejabat tinggi. Tapi posisinya yang berada di Kemang memang hal yang kami tidak perhitungkan dengan matang karena ternyata itu menjadi penyebab semua masalah besar yang kami hadapi.

Setelah melepas beberapa rombongan dan kemudian setengah berlari menuju lunch room yang terletak lumayan jauh dari ceremony venue. Saya harus tiba sebelum rombongan factory tour pertama yaitu Bapak Menteri dan kementerian tiba di lunch room. Dan setibanya di sana saya langsung mencari PIC FnB, manajer A&P kami. Dan ternyata berita buruk itu benar adanya, mobil box catering yg membawa 300 porsi makan siang masih tertahan di pintu keluar tol padahal tamu-tamu mulai memasuki lunch room. Sambil menunggu catering datang, kami melanjutkan sesuai run down yaitu menunggu hingga semua tamu kembali dari factory tour dan acara potong tumpeng sementara Pak Menteri saya arahkan ke conference room agar media yang berjumlah 50an bisa meninggalkan ruangan lunch.

Ceremony (440)

Semua sudah sesuai rencana karena corporate secretary juga sudah standby di depan conference room siap menyambut Bapak Menteri yang hanya ditemani saya. Tapi saya terpaksa improvisasi karena dalam perjalanan menuju conference room Pak Rachmat malah berbelok ke show room tempat kami memajang produk-produk utama. Terpaksa saya yang menemani beliau, bukan corporate secretary Alia yang terjebak dan terhalang kelompok wartawan yang jumlahnya puluhan orang.

Pak Rachmat langsung menunjuk ke display Gatsby dan menunjuk ke Gatsby Pomade.

“Saya pakai yang ini” kata beliau.

“O ya pak? Makasih, ini salah satu produk andalan kami” saya sedikit berpromosi.

“Kalau yg ini laku juga?” Kata beliau menunjuk Gatsby Water Gloss.

“Itu produk dengan penjualan yang masuk kategori top dalam merek Gatsby. Bahkan ada 12 varian untuk produk ini dan yang kuning adalah yang paling laku” kata saya menjelaskan. Untung saja product knowledge saya cukup memadai untuk menjadi seorang sales karena selama 3 tahun di Management Planning saya memang hampir menghapal semua jenis produk andalan beserta angka penjualannya.

“Ini juga buat di Indonesia?” Tanya Pak Rachmat memegang Gatsby Moving Rubber yang berwarna biru.

“Kalau yang ini produk premium, kemasan kami buat di Indonesia, tapi isinya sementara masih buat hanya di Jepang karena proses produksi yang ekstra hati-hati dan bahan baku yang masih sulit di Indonesia” saya menjelaskan sambil menyobek shrink plastic produk karena beliau sangat ingin sekali melihat isinya.

Gatsby Moving Rubber

Antusiasme beliau mellihat isi produk kami.

“Saya suka ini” kata beliau

“Pegang dong produknya pak, hadap kamera pak” pinta wartawan yang bejibun jumlahnya.

Dan jadilah beliau berpose dengan produk kami. Sayang sekali saya berada posisi terjepit oleh puluhan wartawan sehingga tidak sempat mengeluarkan hape untuk foto.

Sekitar 15 menitan beliau melayani berbagai macam pertanyaan sampai akhirnya beliau merasa cukup dan menuju pintu keluar.

Gaya santai Bapak Menteri

Dengan santai beliau melayani pertanyaan-pertanyaan dari wartawan.

“Kalau sapi gimana pak? Kok malah nambah kuota?” Tanya seorang wartawan cewek di dekat pintu.

“Impor sapi kan dari dulu, kenapa sekarang nanya? Kamu ini nanya ngga pada tempatnya. Tanya dong yang berhubungan Mandom dan ekspor” pukas beliau.

Sementara itu asisten Rieke dari balik kaca bertanya dengan isyarat dan bahasa bibir yg artinya “selanjutnya bagaimana? Mbak Rieke nanya”

Saya memberi isyarat bahwa saya akan memandu pak Menteri ke lunch room dan minta beliau yang minta potong tumpeng.

Makanan dari catering belum tiba padahal jam sudah menunjukkan11:30, waktu sholat jumat sudah sangat mepet.

Saya akhirnya mengawal pak Menteri menuju ruang lunch lalu mendekati Rieke Caroline yang sudah standby dengan mic untuk mengarahkan acara. Saya jelaskan singkat bahwa pak Menteri yang akan potong tumpeng dan serahkan ke perwakilan Serikat Pekerja. Rieke dengan sigap mengarahkan acara sesuai tugasnya sebagai MC. Tapi lagi-lagi Pak Rachmat berimprovisasi, tumpeng yang dia potong beliau serahkan ke CEO Mandom Group dan Chairman partner distributor kami.

Tumpeng Pak Menteri

Pak Rachmat menyerahkan tumpeng kepada CEO Mandom Group.

Saya membisiki perwakilan SP yang ada dua orang.

“Bentar ya, sabar”.

Tumpeng untuk SPSI

Mr. Nishimura menyerahkan tumpeng ke perwakilan SPSI Mandom.

Akhirnya setelah pak Menteri makan tumpeng, saya meminta CEO Mandom Group Mr. Nishimura dan CEO baru kami Bapak Makmun untuk bersiap memotong tumpeng. Tumpeng dari Mr.Nishimura diserahkan ke Ketua SP, sementara tumpeng dari Pak Makmun ke Sekjen SP, selesai sudah prosesi utama. Dan alhamdulillah makanan dari catering juga akhirnya mulai loading in.

Saya mendekati pak Menteri yang melirik jam tangannya, dan berbisik.

“Makanan sebentar lagi siap pak, bagaimana apakah Bapak berkenan makan siang dulu atau mau sholat dulu?”

“Ngga, saya mau sholat di Panasonic Cawang, sudah cukup lama saya ngga kesana” jawab beliau sambil memberi isyarat kepada ajudan bahwa beliau siap berangkat.

Saya langsung mendekati duo CEO kami dan memberitahukan bahwa pak Menteri akan meninggalkan lokasi. Akhirnya kami berempat diikuti ajudan dan pengawal menuju lobi utama, di lobi Pak Heru ikut gabung, mobil beliau sudah standby depan lobi. Beliau menjabat tangan kami lalu naik mobil dan melambaikan tangan ketika meninggalkan lobi dengan dikawal voorijder yang sudah kami siapkan. Di belakangnya mobil pengawal dan ajudan mengiringi.

Hufh, saya menyeka keringat yang bercucuran di dahi dan mengucapkan terima kasih kepada Mr. Nishimura, Pak Makmun, dan Pak Heru lalu menuju ruangan lunch.

Para tamu sudah mulai makan siang, dan saya langsung setengah berlari menuju masjid di lantai 2 karena khatib jumat sudah mulai berceramah.

Satu sesi utama selesai, saya menghela nafas panjang.

 

Beberapa link berita :

http://economy.okezone.com/read/2015/06/12/320/1164311/mandom-indonesia-resmikan-pabrik-baru-di-cibitung

http://djpen.kemendag.go.id/app_frontend/accepted_rsses/view/557e436a-9938-4d5e-ac98-1855c0a83502

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/resmikan-pabrik-mandom-mendag-minta-tingkatkan-nilai-ekspor

Loker Menarik Bagi Pemegang Level 1 JLPT Di Perusahaan FMCG Terkemuka di Indonesia

Siapa tahu ada yang berminat, silakan mencoba langsung ke alamat email yang tertera.
———————————————————————————————

Being the leader in cosmetic industry, Mandom sets new standards for others to follow , we are looking for highly motivated, creative, innovative and qualified people to maintain and develop our market in Indonesia and overseas as part of the team to implement the company global business project. Now Mandom wishes to interview a suitable candidates as :

Management Planning Staff

Responsibilities :
– Report to Management Planning Manager
– Manage corporate budget and management planning activity
– Representing and communicate relevant finance issues with other Department

Ideally candidates will have a number of the following attributes :
– Bachelor degree with a min of 1 years experience as Corporate Planning / Budgeting Staff in consumer product industry preferred
– Master Degree ( Fresh Graduated ) from reputable university are welcome to apply.
– Good knowledge of Marketing & Manufacturing ( consumer goods ) processes and system
– Excellent Interpretative and analytical skills
– Flexible to adjust a new information with ease and considering a broad range all natures when solving a problem.
– Strong leadership skills and demonstrated team behavior.
– Proficiency in Japanese Language level N1 is a MUST ( Speaking & writing )

Successful candidates will be offered career development opportunities and competitive remuneration packages. Applications are treated with the strictest of confidence and only shortlisted candidates will be called for interview. If you are confident that you meet our requirements, please forward your application with complete curriculum vitae, expected salary and most recent photograph, indicating the job position, to:

Recruitment & People Development
E-mail: recruitment[at]mandom.co.id

Not later than 2 ( week ) after this posting.