Minat Pengusaha Jepang Terhadap Starts Up Indonesia

Kemarin siang seorang kenalan wakil rektor sebuah universitas di Jakarta menelpon, beliau memediasi seseorang dari kementerian perindustrian Jepang bernama Mr.T yg katanya sedang berkunjung ke Indonesia dan ingin mendiskusikan sesuatu yang berhubungan dengan dunia enterpreneurship di Indonesia.

Intinya Kemenperin Jepang memiliki ide untuk melakukan semacam kompetisi ide bisnis bagi tamatan Jepang, baik itu tamatan universitas di Jepang maupun tamatan program magang semacam IMM Japan atau HIDA.
Konsepnya adalah menjaring ide-ide bisnis dari tamatan Jepang tersebut kemudian mempertemukan pemilik ide tersebut dengan investor atau enterpreneur dari Jepang. Ide itu kemudian dimasak bersama dan diwujudkan menjadi bisnis riil yang bisa dimiliki bersama.

Beliau bertanya kira-kira seberapa besar minat yang bisa dijaring dari alumni-alumni Jepang. Saya menjawab bahwa kemungkinan nieche itu cukup besar, alasan saya adalah karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yg cukup stabil telah menciptakan pertumbuhan kelas ekonomi menengah yang merupakan pasar besar bagi segala jenia bisnis. Saya juga sharing kegiatan teman-teman WGTT di Jepang yg proaktif mengedukasi teman-teman kenshusei di Jepang untuk berpindah kuadran menjadi enterpreneur sepulang ke Indonesia. Saya promosikan juga komunitas teman-teman pengusaha mantan kenshusei yang tergabung di dalam organisasi Ikapeksi. Dan sekaligus bercerita tentang kegiatan teman-teman Enjinia Nusantara yang sudah sukses mengadakan Olimpiade Monozukuri beberapa waktu lalu.

Mr.T terdengar cukup antusias mendengar beberapa kegiatan yang tampaknya sejalan dengan ide mereka walaupun target pesertanya berbeda. Mereka membidik mantan kenshusei dan alumni universitas Jepang yang masih di kuadran investor dan karyawan untuk dibimbing menambah kaki di kuadran enterpreneur.

Sebagai penutup saya meminta dia untuk mengirimkan proposal kegiatan yang dia maksud karena dari pengalaman, seringkali program kementerian Jepang hanya didasari ide mentah yang belum diolah dengan matang sehingga terhenti bahkan sebelum dimulai.

Setelah si Mr. T menutup telpon dan saya kembali ke meja kerja, saya jadi terpikir betapa gigihnya pemerintah mereka membantu kalangan swasta agar bisa ekspansi ke Indonesia. Sekaligus saya merasa aneh karena ide-ide kegiatan seperti ini justru tidak difasilitasi lebih aktif oleh kementerian perindustrian, perdagangan, dan kementerian-kementerian lain dari Pemerintah Indonesia. Padahal kalau ini terlaksana, akan ada puluhan ide-ide bisnis yang kreatif dari anak negeri yang diboyong pergi ke negara matahari terbit itu. Kalaupun implementasi bisnisnya dilakukan di Indonesia, tetap saja beberapa bagian dari keuntungan bisnis itu akan terbang keluar Indonesia, dan tentu saja kepemilikan ide itu akan dipegang oleh pemodal yang notabene dari Jepang. Padahal ada ribuan investor di negeri ini yang mengendalikan trilyunan aset, bukan hanya domestik tapi juga di LN.

Ayo dong investor Indonesia!