Angin Krisis Yang Mulai Terasa

Krisis moneter Amerika mulai berefek pada ekonomi riil di Jepang. Setelah serentetan berita bangkrutnya perusahaan-perusahaan kecil dan menengah, kali ini berita TV dipenuhi dgn tayangan tentang raksasa otomotif Honda yang mulai mengetatkan keuangannya dengan memutuskan untuk keluar dari F-1. Dengan keluarnya Honda dari ajang sirkuit maka hampir boleh dipastikan salah satu sirkuit kebanggaan Jepang di Mie ken, Suzuka Circuit, akan tetap ditutup setelah direncanakan akan dibuka awal tahun depan. Sirkuit ini sendiri sedang reses selama 3 tahun karena berbagai masalah, terutama keuangan.

Di dunia akademik, krisis ini mengejutkan dengan terkuaknya berita penghapusan 内定 oleh beberapa perusahaan, 内定 ini adalah semacam janji perusahaan untuk memberikan pekerjaan kepada mahasiswa tingkat 4 yg akan lulus april tahun depan. Menurut berita TV, hingga hari ini sudah 315 orang yg telah diPHK sebelum sempat bekerja, jumlah ini adalah yang terbesar sejak 10 tahun yg lalu ketika balon ekonomi Jepang pecah di pertengah tahun 90.Di dunia industri berat, fenomena menyepinya kota pabrik yg kesohor di Tokyo bernama 大田区 (Oota Ku) cukup mengkhawatirkan kalangan pengamat ekonomi & industri. Oota ku ini adalah salah satu wilayah yang menunjang industri Jepang karena di situlah berkumpul 職人 (shokunin) yang keterampilan tangannya telah melengkapi jutaan mesin industri, mobil, hingga roket NASA yang melayari angkasa luar. Malah konon saking melilitnya kesulitan ekonomi hingga akhirnya ada pemilik perusahaan yg putus asa dan bunuh diri.

Berita pagi banyak menayangkan kisah sedih pegawai2 kontrakan yg mulai gelisah karena masa depan tak menentu. Sony akan merumahkan sekitar 8000 s/d 10000 orang,  Toyota dan grupnya 3,000, menyusul di bawahnya Nissan, Honda dengan masing2  angka setengah dari Toyota. Di bawahnya berderet nama2 perusahaan otomotif dan elektronik yg ternama di Jepang. Menurut perhitungan kasar, jumlah penganggur baru akan bertambah lebih dari 30.000 orang hingga maret tahun depan.
Di satu sisi, krisis ini mungkin terlihat memporak-porandakan ekonomi Jepang  di dalam negeri, tapi sebenarnya tidak semua mengalami kemunduran total karena beberapa perusahaan yg mengembangkan bisnisnya dengan kebijakan lokalisasi, masih bisa mengimbangi kemerosotan di dalam negeri dengan pemasukan luar negerinya. Mandom corporation yg telah menerapkan kebijakan lokalisasi, yaitu membangun pusat produksi di negara tempat produk dipasarkan, contohnya, bisa mengurangi kemerosotan penjualan dalam negeri dengan penjualan luar negerinya. Statistik penjualan perusahaan untuk kuartal terakhir yg berhasil dibukukan oleh Mandom Indonesia melebihi angka 100% dibanding angka tahun lalu. Walaupun angka penjualan di beberapa negara lain seperti Cina dan Filipina memang tidak sebaik Indonesia.

Secara umum, industri otomotif, elektronik, dan barang2 mewah memang banyak yg goyah oleh krisis kali ini, tapi biasanya ada beberapa industri yg akan bertahan dan bahkan bertumbuh. Apalagi dengan masuknya awal tahun dan pemilu yg biasanya membawa stimulasi bagi ekonomi.

Pemerintah Jepang sendiri sejak beberapa waktu yg lalu sudah memberikan janji untuk menggelontorkan dana BLT yg mencapai angka 2 trilyun yen dan rencananya akan dibagi merata tanpa memandang jumlah penghasilan. Rencana yg terlalu berbau kampanye ini ditentang mati2an oleh partai oposisi dan kebanyakan anggota dewan karena dianggap tidak akan efektif memberi stimulasi ekonomi. Yang hebat adalah media massa betul2 aktif dalam mencari pembenaran atau penyalahan dari kebijakan pemerintah. Stasiun TV dengan serius mengadakan talk show, angket, polling, dan penelitian langsung dengan menanyai orang2 di jalanan. Aktifitas ini secara sekilas hanya seperti kegiatan pers biasa yg mencari info dan menjual berita, tapi sebenarnya mereka secara tak langsung melakukan pembentukan opini publik karena pendapat mayoritas dari umum itu akan dianggap sebagai pendapat masyarakat secara keseluruhan oleh pemirsa. Apalagi pendapat publik itu sendiri bisa digiring oleh produser acara TV dengan mensiasati isi pertanyaan atau dengan memperlihatkan hasil ing yg ada sebelum pemirsa menjatuhkan pilihannya, sebab peserta polling diminta memberikan pendapatnya dengan menempelkan stiker pada papan yg memberikan opsi pilihan, padahal di papan itu sudah tertempel stiker peserta polling sebelumnya. Teknik penggiringan opini publik ini masih belum banyak digunakan oleh media TV di negara kita (entah nanti kalau produser TV membaca tulisan ini).

Di koran, 日経新聞 (Harian Ekonomi Jepang) sekitar seminggu yg lalu menurunkan ulasan tentang UNIQLO yg dinilai termasuk dalam daftar perusahaan yg survive di tengah krisis ini. Uniqlo dinilai berhasil terutama karena inovasi produknya berupa pakaian yg bisa menjaga tubuh tetap hangat tapi kainnya tetap tipis. Inovasi produk ini sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh kanebo tapi kemudian dipopulerkan oleh Uniqlo karena perusahaan pakaian jadi itu bisa memproduksi bahan unik tersebut dengan harga jauh lebih murah dibanding penemu awalnya.Apakah krisis ini bisa berakhir dalam satu tahun, hampir semua ekonomis tidak ada yg berani memberikan jawaban pasti, jawaban umum yg biasanya ada yaitu ekonomi Jepang masih belum akan membaik hingga quartal kedua tahun depan.

Wallahu alam bis showab.