3 Hari+

Selama 3 hari pekan lalu saya menemani peserta 海外交流サーキット 4 研修 (training kerjasama keliling luar negeri ke-4) yang diadakan oleh departemen HRM (personalia) di perusahaan. Selain peserta dari Jepang yang memang dijadikan sebagai target utama kegiatan ini, ada 4 orang dari Indonesia, dan masing-masing 1 orang dari Taiwan, Thailand, dan Filipina. Tadinya saya diminta oleh presenter di pabrik untuk meng-handle translation japanese-english, tapi untunglah Yoshida-san dari divisi Internasional sudah stand by dan mengisi posisi tersebut sehingga saya hanya menangani terjemahan japanese-Indonesia.

Hari pertama adalah kunjungan pabrik, materi yang dibawakan tidak begitu susah karena hanya menyangkut fasilitas pabrik, produksi, dll. Setelah berkeliling ke beberapa spot di pabrik, hari rabu siang itu kami meninggalkan Fukusaki dan tiba di Sheraton Osaka sekitar sejam pukul 3 sore.

Setelah istirahat sejam-an, acara dilanjutkan dengan pemateri mantan CEO Mandom Indonesia, Yamashita Matsuhiro. Sekitar 1 menit pertama beliau nyerocos lalu menoleh ke Yoshida-san dan menanyakan apakah ngomongnya tidak terlalu kecepatan untuk diterjemahkan. Saya jadi tersenyum karena beliau bukannya bertanya kepada saya yang orang asing, pertanyaan itu malah beliau lemparkan ke Yoshida-san yang walaupun memang bahasa Inggrisnya lebih bagus daripada bahasa Jepangnya, tetap saja orang Jepang karena orang tuanya adalah asli Jepang walaupun ia menghabiskan masa kanak2 dan remajanya 15 tahun di Los Angeles. Mungkin Mr.Yamashita sudah yakin dengan kemampuan japanese saya atau mungkin juga lupa bahwa ada 4 orang dari MID (Mandom Indonesia). Pak Widodo dari akaunting, Nugroho dari Personalia, Solihin dari bagian printing di Cibitung, dan Fery dari sistem produksi di pabrik Sunter. Dan hasilnya saya agak keteteran karena speed pidato Yamashita-san yang luar biasa berapi-api.

Setelah acara sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang tema utamanya adalah merangkum seluruh kegiatan circuit training mulai dari Indonesia, Malaysia, hingga Jepang. Karena kebagian menerjemahkan maka secara otomatis saya jadi mengerti semua materi yang dibawakan peserta di kelompok saya sebab kalau tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia maka pasti harus saya terjemahkan ke bahasa Jepang 🙂

Setelah makan malam beres yang diadakan dengan gaya standing party, Jepang2 itu mulai kerasukan karena minuman keras yang menyertai makan malam. Yang sangat saya sayangkan adalah ke-4 orang Indonesia yang semuanya muslim dengan mudah terhanyut dan ikut menenggak bir. Akhirnya sayalah satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak membasahi tenggorokan dengan minuman keras. Kalau tidak menyeruput teh Oolong maka saya menenggak jus jeruk murni. Berkali-kali saya ditawari bir tapi dengan halus saya mengelak dan mengatakan bahwa saya muslim, jadi tidak minum minuman keras. Beberapa di antara mereka tampak bingung, belakangan baru saya tahu bahwa mereka bingung ketika dikatakan bahwa muslim tidak minum minuman yg beralkohol karena ketika mereka meninjau pabrik di Indonesia mereka disuguhi minuman keras dan orang Indonesia pun ikutan mabuk. Saya buru2 menjelaskan bahwa agama adalah hak asasi manusia yang tidak bisa kita paksakan agar dipatuhi oleh orang lain, kita bisa menghimbau tapi keputusan akhirnya tetaplah di tangan ybs. Minum alkohol atau tidak tergantung pada orangnya, tapi pada prinsipnya Islam melarang manusia menenggak minuman beralkohol. Saya tidak menambahkan penjelasan bahwa muslim yang minum minuman beralkohol dipersilakan libur sholat karena dilakukan pun tidak akan diterima selama 40 hari 🙂

Hari kedua, materi training dibawakan di kantor pusat Mandom di daerah pusat kota Osaka. Pemateri adalah orang nomor 2 di Mandom, Bapak Kamei yang merupakan wakil  presiden direktur. Kecepatan pidato beliau juga cukup aduhai sehingga saya keteteran ketika membahas masalah prinsip-prinsip marketing yang dipakai oleh perusahaan kami. Dan yang paling menyusahkan adalah penerjemah bahasa Inggris, Yoshida-san, duduk berdekatan sehingga ketika ia menjelaskan dalam bahasa Inggris, saya yg sedang konsentrasi dengan bahasa Indonesia menjadi kebingungan sebab baik bahasa Jepang maupun bahasa Inggris sama-sama diterima oleh otak dan diolah ke dalam pemahaman saya. Berkali-kali saya terpaksa membiarkan terjemahan bahasa Inggris beres lalu kemudian menerjemahkan bahasa Inggris itu ke dalam bahasa Indonesia, dan tentu saja isinya sudah jauh berkurang karena ternyata Yoshida-san pun tidak menerjemahkan keseluruhan isi pidato. Saya konsentrasi penuh sampai2 kepala agak pusing ketika masuk istirahat. Materi yg dibawakan oleh pejabat perusahaan lain pun agak berat karena gangguan itu sehingga kadang2 saya mendahului menerjemahkan sebelum bahasa Inggris masuk ke telinga saya. Inilah rupanya kesulitan yg dialami ketika menerjemahkan secara simultan manakala ada penerjemah bahasa lain yg bisa dimengerti dan masuk dalam ruang lingkup pendengaran. Yoshida-san sendiri tidak memiliki masalah karena tidak mengerti bahasa Indonesia 🙂

Pesta penutupan acara berlangsung mulai jam 18:30-an. Sebelumnya peserta dibawa jalan2 untuk melakukan market research di pusat2 kota Osaka, sementara saya yg punya urusan dengan personalia terpaksa minta ditinggalkan saja di kantor.

Makan malam terakhir berlangsung dengan hingar bingar. Di hadapan saya duduk Senior Managing Director yang merupakan orang ketiga di Mandom. Beliau awalnya bertanya nama saya, namun setelah senior di samping saya menyebut nama dan menjelaskan ttg saya maka beliau berkata “Oh kamu yg namanya Arif”. Saya hanya tersenyum dan mengangguk sembari bingung karena rupanya beliau sudah mendengar beberapa hal tentang saya walaupun saya tidak tahu persis apa yg beliau dengar. Beliau menyebutkan bahwa yayasan Nishimura sangat merekomendasikan saya ketika akan masuk ke perusahaan. Saya bersyukur bahwa tampaknya hal2 baiklah yg beliau dengar tentang saya.

Makan malam yg digabungkan dengan acara minum2 itu berlangsung riuh karena kebanyakan dari mereka sudah mulai mabuk. Saya yg tak minum setetes pun ngakak berkali-kali melihat tingkah laku mereka. Pada momen2 seperti inilah orang2 Jepang itu lebur dan satu tanpa memandang gelar, jabatan, dsb. Tapi hebatnya adalah, mereka tetap masih sadar untuk tidak melakukan hal2 yang diluar batas kesopanan. Senior Managing director yang sehari-harinya mungkin tidak akan bisa ditemui karena berkantor di lantai teratas gedung 11 lantai itu, dengan enaknya disoraki dengan nama belakangnya ketika dipropaganda untuk meneguk arak Jepang. Semua kena giliran dan tentu semuanya minimal menenggak segelas bir, kecuali saya yang hanya minum segelas teh oolong 🙂

Acara kemudian dilanjutkan dengan menyewa sebuah ruang besar karaoke yg berlokasi di daerah hiburan malam tidak jauh dari restoran. Di situ suasana lebih heboh lagi karena mabuk-mabuknya dilampiaskan dengan menyanyi dan berteriak-teriak. Saya yg tidak mabuk pun akhirnya ikutan tepuk tangan, menyanyi, dan gerak tubuh tengah malam. Lumayan, olahraga malam-malam.

Menjelang jam 12 karaoke selesai dan acara tampaknya akan berlanjut ke sesi ke-3. Untunglah peserta dari Indonesia mau ikut pulang ke hotel dan permisi duluan. Peserta dari Filipina dan Thailand mengekor di belakang dan kami akhirnya menuju hotel.

Sebelum tidur saya sempat belanja onigiri dan teh manis yang tadinya saya maksudkan untuk sahur. Namun apa dikata, saya terbangun jam 4 lewat ketika waktu subuh sudah lewat. Akhirnya saya puasa tanpa sahur.

Pukul 9:30 saya bersama seorang staf HRM mengantar peserta dari luar negeri ke bandara dan bergegas menuju KJRI untuk sholat jumat. Tadinya saya yg sudah kecapekan sudah ingin pulang tapi diingatkan oleh pak Adi, konsul di KJRI bahwa pesta perpisahan pak Ibnu, konsul ekonomi KJRI akan diadakan hari itu.  Karena sudah janji akan hadir ketika bertemu seminggu sebelumnya di konser budaya di Kobe, maka keinginan untuk pulang ke rumah saya tangguhkan.

Sore hari menjelang buka puasa saya muncul di wisma kediaman konsulat jenderal RI di daerah Mikage dengan koper kecil berisi bekal selama 3 hari di hotel dan pakaian yang setengah resmi. Pesta perpisahan yang banyak diisi tamu2 dari kalangan pengusaha, politikus, dan budayawan Jepang itu, tampaknya sayalah satu2nya yg berpenampilan kasual. Dalam hati saya merasa tidak enak juga, tapi niat awal saya yg memang hanya ingin menunaikan janji kepada saudara muslim, maka saya membesarkan hati bahwa cukuplah Allah yang menilai keberadaan saya.

Pesta belum berakhir ketika saya menjabat tangan pak Ibnu dan menghormat ke Ibu Resti, lalu permisi pulang. Jam hampir menunjukkan pukul 11 ketika saya membuka intu apartemen kami sekeluarga di Himeji. Adnan dan Aisha sudah tertidur dengan lelap.

2 comments

  1. andi says:

    salam.. hati2 bro, ntar korslet ki area Broca n Wernicke-nya gara2 ntranslet…

  2. arif says:

    Wedede, apami itu Broca n Wernicke? Jangan pake bahasa susah, bisa pake bahasa arab cess?

%d bloggers like this: