Archive for May 2008

Tahap 1 Selesai

Tak terasa sudah penghujung bulan mei yang menandai bakal berakhirnya masa training saya di pabrik no.1 Mandom di Fukuzaki, Hyogo. 2 minggu pertama saya betul-betul tak diberi kesempatan untuk bekerja beneran, sepanjang hari saya cuma diminta untuk berdiri di samping karyawan di bagian produksi. Mandor lapangan yang ditugasi menemani masa training saya di pabrik tertua di antara 4 blok pusat produksi Mandom itu, selalu khawatir kalau-kalau saya kecapekan dan takut dimarahi oleh atasan. Sampai akhirnya saya jadi bosan dan menghadap ke Asisten Direktur di pabrik. Kepada beliau saya meminta agar saya diberi kesempatan untuk betul-betul bermanfaat kepada perusahaan, saya utarakan keengganan penanggung jawab site untuk membiarkan saya bekerja dengan otot karena menurut mereka nanti juga saya tidak akan melakukan pekerjaan itu, jadi tidak perlu mempelajari dan melakukannya secara penuh. Asisten direktur itu manggut2 dan berjanji akan melakukan sesuatu.

Sebagai hasil dari negosiasi itu akhirnya mandor lapangan mulai membiarkan saya betul2 bekerja bersama staf dan karyawan kontrak di mesin2 yang memproduksi moving rubber. Menuangkan bahan-bahan wax, mengukur bahan campuran, mengangkut bahan, dll yang membuat otot-otot saya terlatih kembali. Tapi saking baiknya, sang mandor selalu memilihkan saya beban2 yg ringan untuk dikerjakan, setiap kali ada yg berat maka ia yang selalu mengambil alih. Kalaupun ingin menyuruh mengangkat yang berat maka ia akan bertanya “apakah tidak apa-apa?”, dan meminta maaf karena sudah menyuruh mengerjakan yang berat. Menurut beliau, sekarang kepala bagian malah memarahinya kalau saya dibiarkan bengong karena kabag itu juga tampaknya telah diberi arahan oleh asisten direktur. Dalam hati saya kasihan juga karena mandor lapangan yang baik hati bernama Nakamura-san itu menjadi sasaran teguran dari atasan gara-gara saya.

Besok adalah hari terakhir di pabrik no.1 satu, selanjutnya saya ditugaskan masuk di pabrik no.2 mulai bulan depan untuk mempelajari proses2 produksi produk yang menggunakan aerosol. Menurut bagian informasi pabrik, perusahaan kosmetik yang memproduksi sendiri aerosolnya di Jepang ini hanya Mandom-lah satu-satunya, itulah sebabnya harga produk Mandom yg memakai aerosol, relatif lebih murah dibanding pesaing2nya.

Capek juga karena harus belajar berbagai hal dalam waktu yg cukup singkat, tapi karena saya berkesempatan untuk menemukan hal-hal baru dan menemui orang2 baru di pusat2 produksi, maka ada perasaan menyenangkan dan mendebarkan. Tanoshimi ni shite imasu.

Minggu Kedua

Hari ini sudah masuk minggu kedua kerja. Materi harian yang saya lakukan masih tetap sama sejak 2 minggu yang lalu yaitu chourei (朝礼=briefing pagi), mengamati pekerjaan staf di bagian produksi, mencatat, makan siang, buat laporan, dan pulang. Awal-awalnya masih mendingan karena pekerjaan dan bahan-bahan toiletris/kosmetik yang digunakan masih barang baru bagi saya sehingga sangat menarik untuk saya amati, tapi setelah hampir semua mesin di pabrik nomor 1 itu saya jelajahi, mengamati mulai terasa membosankan. Walaupun mandor di pabrik selalu menekankan bahwa saya hanya perlu mengamati tanpa perlu ikut bekerja, karena mulai bosan akhirnya saya mulai memegang sapu, pengepel, lap basah, dan mulai membersihkan bagian-bagian mesin yang tidak tersentuh oleh kegiatan bersih-bersih harian. Sekali-sekali saya ikut membantu staf yang menuangkan Gatsby Gel dan Moving Rubber dari wadah pengaduk ke dalam drum pengangkut, melihat-lihat proses pengukuran bahan-bahan campuran, dan ikut nimbrung ketika staf peneliti dari R&D datang untuk mengetes produksi massal produk-produk baru dari Mandom.

BTW, sudah make Moving Rubber-nya Gatsby belum? Di bawah ini salah satu dari serialnya, Spiky Edge.


Kalau ke toko beli ya … hehehe..jadi promosi 🙂

BBM Di Jepang

Pagi musim semi tiba seperti biasa, udara segar menyelinap masuk memenuhi ruangan tengah ketika saya membuka shoji (pintu ala Jepang yang terbuat dari rangka kayu & kertas) dan jendela kaca di belakangnya. Bukit yang menampilkan lapangan golf di kejauhan masih terselubung kabut tipis. Serangga belum berbunyi di bulan2 Mei seperti ini, mereka mungkin masih terlelap di tidur tahunannya sejak musim dingin akhir tahun kemarin.

Acara berita di TV hampir semua diisi oleh berita tentang harga BBM, semalam sejak jam 00:00, tanggal 1 Mei 2008, pemerintah Jepang mulai memberlakukan kembali pajak tentatif BBM yang sempat dianulir selama sebulan karena rancangan undang-undangnya tidak disahkan oleh Majelis Tinggi.  Akibat dari pemberlakukan kembali pajak tentatif ini maka harga bensin yang sempat dinikmati dengan harga sekitar 126 yen/liter (dgn kurs 1yen=Rp.88,xx maka senilai dengan Rp.11.000-an/liter), kembali melambung menjadi sekitar 163yen/liter (Rp.14.500-an/liter). Berita di TV sempat menayangkan di beberapa daerah seperti Hokkaido, Aomori, dll warga antri di pompa bensin hingga mencapai panjang 500 meter.

Kenaikan harga BBM ini cukup ditentang oleh warga negara Jepang karena kondisi ekonomi dalam negeri yang semakin sulit. Setelah berturut-turut terkena dampak krisis ekonomi global, ekonomi Jepang mulai merasakan inflasi sebagai derita. Berbeda dengan kondisi 4-5 tahun lalu ketika deflasi masih menjadi sorotan utama ekonomi, sekarang ini melambungnya harga barang (物価高騰) menjadikan orang Jepang sangat sensitif terhadap harga barang, itulah sebabnya isu pajak tentatif BBM yang berhubungan langsung dengan harga BBM menjadi bola panas bagi partai berkuasa LDP.

Menurut berita-berita yg disiarkan di TV popularitas PM Fukuda pasca penerapan ulang pajak tentatif BBM ini turun hingga di bawah angka 20% yang tentu saja cukup menakutkan bagi Fukuda seandainya saja Majelis Rendah gagal mensahkan ulang Undang2 BBM tersebut. Karena, seandainya Majelis Rendah gagal mengumpulkan 2/3 suara untuk pengesahan maka Fukuda dihadapkan pada dua pilihan yaitu membubarkan Majelis atau membatalkan penerapan pajak tersebut. Dan jika saja diadakan pemilu ulang seperti yang dilakukan pada masa pemerintahan PM Koizumi ketika rancangan UU privatisasi posnya ditolak, maka besar kemungkinan LDP akan kalah. Kalau LDP kalah kursi oleh Partai Demokrat dan konco2nya, maka tentu saja Fukuda harus lengser. Untunglah Majelis Rendah berhasil mengumpulkan 2/3 suara dari total anggota dewan walaupun utusan dari partai Demokrat tidak ada satu pun yang hadir pada persidangan.

Papan harga bensin di pompa bensin dekat perusahaan sore tadi menampilkan 167yen (Rp.14.700-an)/liter untuk bensin. Harga itu sudah hampir dua kali lipat dari sekitar 98yen/liter sekitar 4 tahun lalu. Sampai di mana harga bensin ini akan naik? Entahlah.