Hanabi 2007

Aisha tampak ceria dengan yukata biru yang saya belikan di Motomachi beberapa hari lalu. Bundanya bersama Adnan yang nongkrong di baby car tampak cukup kebingungan ketika kami sampai di pelataran kampus baru KOBE GAKUIN DAIGAKU di salah satu daerah pantai di pulau yang kami diami PORT ISLAND, Kobe. Taman yang menghadap ke arah Meriken Park Kobe itu penuh dengan manusia, padahal biasanya di sore hari ketika saya mancing, biasanya hanya ada 1-2 orang yang duduk2 atau ikutan mancing di pantai yang indah itu. Hanabi tahun ini adalah hanabi pertama bagi Dewi, Aisha, dan tentu saja Adnan.

Saya akhirnya berhasil bertemu dengan pak Yon, seorang mahasiswa Kobe university, setelah telpon2an di tengah tumpah ruah ratusan bahkan ribuan manusia itu. Ternyata pak Yon dan mbak Desy sudah nangkring duluan bersama mbak Ami, mas Anung, dan mbak Inge di atas selembar tikar persis di daerah yang cukup tepat untuk menikmati suguhan pertunjukan kembang api tahunan itu.

Ledakan pembukaan cukup seru disertai dengan kilatan cahaya yang memenuhi seantero kota Kobe. Di atas kepala kami meraung-raung helikopter yang entah berisi wartawan yg meliput acara itu ataukah orang yang terlalu kaya sehingga menyewa helikopter untuk menikmati keindahan percikan kembang api yang katanya malam ini berjumlah 6.000 batang. Di laut di hadapan kami, puluhan yacht dan kapal pesiar membawa penumpangnya untuk menikmati hanabi dari atas air. Hanabi memang bisa dinikmati gratis seperti yang kami lakukan bersama ratusan orang di darat, tapi sekaligus bisa dinikmati mahal seperti orang2 yg ada di atas yacht itu.

Pertama kali saya melihat hanabi di Fukui, saya betul2 terpukau dengan keindahan percikan cahaya yang memercik di atas sungai Asuwa. Sebelum itu hanya pernah melihat kembang api di pernikahan adik seorang teman di Bogor, tapi hanabi di Fukui waktu itu memang bukan bandingannya.

Hanabi yang dulu sangat berkesan adalah hanabi yang saya lihat bersama teman2 sesama kenshusei dulu di daerah Mikuni, Fukui. Kala itu hanabi diluncurkan dengan dua kombinasi, yang pertama adalah dari atas pantai dan yang kedua adalah hanabi yang dibuang dari atas kapal. Percikan api yang memantul di atas air laut sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.

Tapi, hanabi tahun ini tampaknya menjadi hanabi yang sangat berkesan walaupun hanya berlangsung selama 1,5 jam. Percikan terakhir ditutup dengan semburan yang meluncur kecil di awalnya lalu melebar dan mengembang di ketinggian. Aisha tampak terpana sementara Adnan menangis karena kaget dengan suara dentuman yang keras.

Hanabi tahun ini kami nikmati sekeluarga. Ya, sekeluarga! Saya, istri dan anak 🙂  I have a family. Alhamdulillah ya Rabbanaa.