Saham LIVEDOOR secara resmi menghilang dari pasar

Hari ini secara resmi Livedoor dinyatakan 上場廃止 alias ditarik dari pasar saham. Perusahaan ini dinyatakan tidak boleh turun ke lantai bursa sebagai hukuman atas berbagai pelanggaran aturan main pasar saham Jepang. Di balik semua kemelut ini pasti telah banyak orang yang telah menangguk kerugian, tapi bisa dipastikan juga selama kemelut berlangsung ada banyak day-trader yang justru menambah pundi-pundi uangnya. Begitulah permainan di short term trading, bisa untung tapi juga bisa buntung hanya dalam sekejap. Tidak cukup modal dan nyali? Lebih baik jangan mencoba 🙂 Tapi kalau anda punya cita-cita membangun bisnis yang besar, belajarlah dari sekarang karena siapa tahu suatu saat perusahaan anda butuh dana yang bisa diperoleh melalui pasar modal dengan melepas saham.

Ada banyak pelajaran yang bisa ditarik dari peristiwa yang disebut LIVEDOOR SHOCK ini. Dari semula trik2 yang dipakai oleh Horie Takafumi untuk mendongkrak nilai saham perusahaannya, dinilai oleh banyak kalangan yang lebih senior sebagai langkah yang kurang mem-bumi. Dengan modal popularitas sesaat seperti pengumuman rencana pembelian klub Baseball (yg akhirnya dikalahkan oleh RAKUTEN) atau terjunnya Horie ke dunia politik dengan mencalonkan diri di daerah Hiroshima, saham Livedoor memang meroket jika dibandingkan sejak pertamakali turun lantai 6 tahun yang lalu. Tetapi tanpa dibarengi dengan kinerja yang berarti, maka Livedoor hanya melakukan money game karena tidak mendapatkan value added dari cabang-cabang usaha yang dimilikinya.

Usia muda dan uang berlimpah memang sepertinya melambungkan Horie ke awang-awang. Bisnis yang diliriknya bukan ke usaha yang punya tangible assets, malah ia lebih banyak mencari peluang di bisnis yang bergantung pada intangible asset seperti bisnis perjalanan ke luar angkasa(ditawarkan oleh badan antariksa Cina). Bisnis seperti itu kalau menjadi populer memang akan mendatangkan uang banyak, tapi jika namanya hancur karena sebab yang kecil pun, maka dalam sekejap akan bangkrut.

Beberapa tahun terakhir sudah banyak contoh perusahaan yang bergantung pada intangible assets hancur dalam sekejap, jangankan Livedoor yang boleh dikata masih usia bayi dalam bisnis, raksasa dewasa seperti Enron dan Worldcom di USA pun tumbang dalam sekejap karena skandal. Dengan modal reputasi saja, menjalankan bisnis tidaklah cukup.

Bagaimana dengan Indonesia?

2 comments

  1. Papani(tamu) says:

    Bagaimana dengan indonesia?
    di jepang mungkin sacho yg semodel takafumi rada jarang ditemukan, tapi sacho di negeri kita sebagian besar semodel dengan takafumi. jago melobi pemegang kekuasaan sehingga mendapatkan banyak proteksi, meminjam modal keluar negeri seakan2 mereka busineesman kelas dunia. tapi modal itu ternyata pinjaman jangka pendek yg diinvestasikan ke usaha jangka panjang. ibaratnya seseorang pinjam duit ke bank keliling yg pengembaliannya ditarik tiap hari seperi tukang kreditan kelontong yg nagih tiap hari. cocoknya pinjaman kayak gini dipoake usaha dagang kakilima yg omset hariannya lancar., tapi malah duit pinjaman ini malah dibelikan sepasang kambing dan ditungggu beranaknya yg pastinya memakan waktu setahun lebih. tapi…setahu saya pedagang kakilima di indonesia nggak se′baka′ itu sih…demo nande konglomerat sona ni yatta ne..?
    shinjirarenai na…?

  2. Webmaster says:

    Ngomong2, menurut beberapa pengamat di TV, sebenarnya gara2 demam saham yg dipopulerkan oleh mas Horie ini, dalam masyarakat Jepang muncul penyakit sosial yang menjangkiti kalangan muda. Mereka ini disebut ニート (ni-to), yaitu generasi muda yg selalu ingin hidup enak tapi tidak mau bekerja (di Indonesia mah udah biasa….). Yang parah, remaja putrinya banyak yg rela jualan "benda berharganya" demi beberapa lembar "Fukuzawa Tersenyum" 🙂

%d bloggers like this: