Archive for January 2006

Periode 17 Januari 2006

Menurut laporan staf di Makassar, bagi yang rekening BCA periode 17 Januari sudah beres, kecuali yang bermasalah rekeningnya. Mudah2an BNI dan Mandiri bisa selesai sebelum jumat, yang berarti kami bisa mendahului target transfer 3 Februari, lebih cepat satu minggu. Dengan cepatnya aliran dana ini, kami juga tidak bingung-bingung dengan alokasi bunga yang bisa muncul. Semakin singkat dana ngendon, semakin sedikit bunga yang timbul, dan semakin ringan kerja kami :kedip: dan tentu saja, semakin senang pemohon klaim 🙂

Pasar saham kembali normal

Akhirnya pasar saham kembali normal hari ini, harga saham selain Livedoor kembali merangka naik. Untuk transaksi saham Livedoor grup masih tidak dilayani, di layar indeks harga nilai saham Livedoor ditandai "- -" yang artinya "tidak ada nilai jual dan beli". Menurut berita, Dow Jones dan Nasdaq pun terkena efek sehingga IHSG turun beberapa poin. Indonesia sih kayaknya terkena juga walaupun sedikit, karena biasanya guncangan di pasar saham akan berefek global.

Tampaknya akan ada perubahan aturan dan undang-undang tentang investasi setelah kejadian ini, mengingat banyaknya pendapat yang mengatakan bahwa memang aturan main investasi di jepang masih terlalu "memanjakan" investor.

Chotto….

Hari ini begitu membuka keitai, ada telpon masuk tak terjawab dari luar negeri lebih dari 20 kali sejak pagi, tapi begitu saya periksa mesin penjawab ternyata kosong. Entah dari satu orang atau bukan, tapi kalau dilihat dari pola jam-nya kemungkinan besar dari satu orang. Sedemikian perlunyakah menelpon hingga puluhan kali walaupun tidak ada yang angkat :bawah: Di hari kamis saya memang ada kuliah dari pagi hingga malam, jadi tidak memungkinkan untuk menerima telpon hingga jam 20:00 malam. Seharusnya kalau memang ada hal yang sangat penting, maka tinggalkanlah no.HP di mesin penjawab(kalau di keitai "rusuban denwa") supaya bisa kami hubungi balik lewat SMS.

Ini bukan kejadian yang pertama, walaupun sampai sekarang baru beberapa kali. Ini sebenarnya menyangkut akhlak atau etika dari penelpon. Dalam menelpon, hal yang harus diingat adalah jenis telpon apa yang kita hubungi, apakah handphone atau telpon rumah. Terus, hal yang perlu dicatat juga, bagaimana kondisi atau kegiatan orang yang kita telpon. Kalau sampai berkali-kali kita telpon dan tidak diangkat, maka harus maklum bahwa saat itu tidak memungkinkan untuk mengangkat telpon.

Ini sama persis dengan datang bertamu ke rumah orang, dalam Islam diajarkan untuk mengetuk dan memberi salam sebanyak 3 kali. Jika yang bersangkutan tidak menyahut, maka adalah wajib hukumnya kita pulang dan membatalkan kunjungan. Sebab mungkin tuan rumah sedang ada kegiatan yang mengakibatkan tidak bisanya terima tamu. Kalau ngetuk dan salam terus sampai 20 kali lebih, maka dalam Islam itu disebut tidak berakhlak karimah.

Akhlak ini bukan cuma berlaku dalam kehidupan sosial, dalam berbisnis pun sama. Memang ada saatnya kita bersikap reaktif ketika menawarkan bisnis atau mencari peluang, tapi tetap saja kita harus bersikap santun. Karena kalau sudah dicap "tidak berakhlak", maka semua urusan jadi susah.

Mari belajar untuk lebih berakhlak yang baik dalam hidup ini.