Sopan santun menelpon dan berkomunikasi

Sejak membuka line telpon sebagai jalur umum yang tersedia di internet dan pamflet, deringan telpon di malam hari sudah bukan hal yang aneh. Hanya saja yang sering membuat tidak enak, adalah cara orang2 yang menelpon itu. Kadang2 ada yang menelpon, begitu telpon saya angkat dan mengucap "halo…" di seberang langsung bertanya, "bagaimana dokumen saya?, kok saya belum terima dananya?" padahal dia belum menyebut nama, identitas dan keperluan. Kadang2 saya hanya mengelus dada dan mencoba mengerti, atau malah mentertawakan saja saking jengkelnya. Kami mengerti sekali bahwa dana pemohon itu penting sekali bagi pemohon (siapa sih yang tidak butuh duit? 😡 Justru kalau sikap menelponnya sopan dan santai, maka kami jadi mudah mencari data dan menjelaskan bagaimana dan sampai di mana aplikasi beliau itu.

Hari ini, kembali terulang hal seperti itu. Seorang pemohon klaim menelpon dari Indonesia dengan nada marah mengatakan "kenapa belum masuk rekening saya? Saya butuh uang itu karena besok saya harus ke Semarang naik kereta, saya sudah ndak punya uang, uang itu harus saya dapatkan, bla..bla..bla…." Untung saja dia sempat sebut nama, jadi langsung bisa saya kenali kasus yang mana.
Pemohon yang satu ini tertahan dananya karena dia menggunakan rekening atas nama lain, yang katanya punya dia juga. Nama yang kedua itu adalah nama palsu yang ia pakai untuk kembali magang ke Jepang. Surat pemberitahuan rekening sebenarnya sudah kami kirimkan ke alamat rumah orang tuanya, tapi dia mengeluh bahwa surat itu tidak akan sampai ke tangan dia sebab dia sudah di Jakarta sementara komunikasinya dengan orang tua sudah terputus.
Tentu saja kami tidak percaya begitu saja, ada ratusan orang yang bisa mengaku dengan cerita seperti itu, lalu kami minta dia melampirkan fotokopi paspor lama secara keseluruhan, dan ternyata tidak bisa dengan alasan paspor itu tertinggal di rumah orang tua yang tidak bisa dihubungi karena tidak ada telpon. Sampai hari ini pun status rekeningnya masih belum kami acc menunggu dokumen yang katanya telah dia kirimkan ke PO Box Makassar. Kemungkinan besar, dana akan tetap kami tahan sampai bisa mendapat bukti bahwa memang dia adalah yang berhak. Memang susah kalo memulai sesuatu dari berbohong, buntut2nya susah juga yang didapat ya 😛