There is Always The First Time for Every Thing – USA

Bulan ini menjadi bulan yang istimewa dalam perjalanan karier saya, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Amerika Serikat. Tujuan utamanya adalah menghadiri rapat HR Global Meeting TDK Corporation, yang mempertemukan pimpinan HR dan kepala departemen di Global HR dari seluruh dunia. Sebuah kesempatan berharga untuk bertemu langsung dengan kolega lintas benua, bertukar pandangan, dan membangun koneksi yang lebih erat dalam skala global.

Proses Visa yang Penuh Cerita

Sebelum keberangkatan, ada satu tahap yang cukup menegangkan: pengurusan visa Amerika. Prosesnya tidak sesederhana mengisi formulir dan menunggu hasil. Saya harus melampirkan berbagai dokumen, termasuk daftar akun media sosial seperti Facebook dan Instagram, sebuah pengalaman unik yang belum pernah saya alami sebelumnya dalam pengajuan visa negara lain. Untuk visa schengen yang cukup ketat pun, hanya disyaratkan wawancara, tanpa perlu screening postingan akun sosmed.
Namun kejutan menyenangkan datang ketika visa akhirnya disetujui. Ternyata visa tersebut berlaku multiple entry selama tiga tahun. Rasanya lega sekaligus gembira, karena artinya pintu untuk kunjungan berikutnya terbuka lebih lebar.

Perjalanan Panjang Menuju New York

Perjalanan dimulai dari Bandara Haneda di Tokyo menuju John F. Kennedy International Airport (JFK) di New York. Lebih dari 13 jam di udara, dengan campuran rasa lelah, antusiasme, dan sedikit rasa penasaran tentang “negara adidaya” yang selama ini hanya saya lihat lewat layar TV dan cerita teman.

Tiba di JFK, kesan pertama yang muncul justru agak berbeda dari ekspektasi. Bandara tidak semegah yang saya bayangkan, penerangan temaram, suasana agak kusam, dan wajah petugas imigrasi yang tidak ramah. Uniknya, beberapa petugas wanita tampak mengenakan jilbab, sesuatu yang biasanya hanya ditemui di negara mayoritas muslim.
Setelah keluar dari terminal, suasana di luar bandara pun terasa sedikit kusam walaupun tetap teratur, kontras dengan kebersihan yang biasa saya temui di Jepang, Singapura, atau negara maju lainnya di Eropa.

Menuju Long Branch, New Jersey

Dari New York, bersama General Manager dan dua kolega lainnya kami melanjutkan perjalanan dengan Uber menuju Long Branch, sebuah kota kecil di negara bagian New Jersey, tepat di sebelah barat New York. Sopir kami bernama Ahmad, seorang imigran asal Kazakhstan. Saya menyapanya dengan “assalamualaikum”, membuatnya agak terkejut karena sepanjang perjalanan saya dan rekan-rekan berkomunikasi dalam bahasa Jepang.

Kami menginap di Wave Resort, hotel yang terletak di tepi pantai dengan pemandangan laut Atlantik yang menakjubkan. Suara ombak dan udara pantai di pagi hari memberi nuansa tenang sebelum hari-hari rapat yang padat.

Lima Hari Bersama HR Global

Selama lima hari, agenda utama kami diisi dengan meeting intensif bersama tim HR global dan regional dari seluruh dunia. Lebih dari 30 orang hadir secara langsung, ditambah dengan rekan dari Tiongkok dan Hong Kong yang sebagian terpaksa bergabung secara online karena pembatasan anggaran.

Diskusi berlangsung produktif, membahas strategi HR global, rencana inisiatif lintas wilayah, dan arah pengembangan organisasi untuk tahun fiskal berikutnya.
Di sela-sela rapat, kami juga melakukan kegiatan team building di pantai, memperkuat hubungan antar anggota melalui aktivitas luar ruangan yang santai namun bermakna.

Menyusuri Pantai dan Kehidupan Sekitar

Setiap pagi sebelum rapat dimulai, saya selalu meluangkan waktu berjalan di sepanjang pantai Long Branch. Udara dingin khas musim gugur terasa menyegarkan, angin laut terasa agak mulai menggigit di kulit. Kadang saya mampir ke Dunkin’ Donuts lokal, mengamati aktivitas warga sekitar yang sibuk memulai hari. Saya juga sempat mengunjungi stasiun kereta lokal dan berkeliling di area perumahan sekitar hotel, menikmati sisi tenang dari kehidupan Amerika di luar hiruk-pikuk kota besar seperti New York. Semua rumah di wilayah Long Branch ini dilengkapi dengan halaman luas, beberapa rumah bahkan terlihat dilengkapi dengan alat BBQ di sudut halaman.

Tantangan Kuliner dan Pengalaman Baru

Salah satu tantangan kecil selama di sana adalah mencari makanan halal. Pilihan restoran terbatas, jadi saya biasanya memilih menu ikan atau vegetarian. Setiap hidangan terasa berkesan karena menjadi bagian dari pengalaman baru yang tak terlupakan. Selama beberapa kali kunjungan ke Eropa saya sering kaget dengan harga makanan, namun di New Jersey pun tidak kalah mahalnya. Untuk makan siang dengan menu yang sangat sederhana saja, kami harus merogoh kantong setara 3000 yen atau sekitar 300rb rupiah, belum lagi kalau makan di restoran tips adalah barang wajib, selain PPN.

Refleksi

Perjalanan ke Amerika ini bukan sekadar perjalanan kerja. Ia membuka perspektif baru tentang keberagaman budaya, cara kerja global, dan dinamika manusia di balik organisasi multinasional.
Dari proses visa yang menegangkan, bandara yang tidak seperti bayangan, hingga pagi-pagi yang tenang di pantai Long Branch, semuanya menjadi bagian dari mozaik pengalaman yang memperkaya pandangan saya tentang dunia dan tentang diri sendiri.

Tuliskan komentar anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses