Indonesia Daisuki

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 siang ketika saya bergegas meninggalkan apartemen menuju stasiun Port Liner. Hari ini saya harus tiba di wisma Konjen RI di daerah Mikage, Kobe sebelum jam 12 siang sesuai janji saya kepada Ibu Ratna Pitono, istri Bapak Pitono Purnomo, konsulat jenderal Republik Indonesia di Osaka.

Setelah berganti kereta ke Hankyu, saya mulai kebingungan karena agak lupa2 harus turun di stasiun mana. Akhirnya saya turun di stasiun Rokko lalu menelpon teman. Ternyata saya terlalu cepat turun, karena harusnya saya turun di stasiun Mikage, satu stasiun dari Rokko. Bergegas saya naik kereta selanjutnya dan melirik jam tangan, 11:19.

Setelah turun di Mikage buru2 saya menuju taksi yg diparkir dan meminta diantar ke wisma konjen. Tadinya sedikit khawatir jangan2 sopir taksi tidak tahu, ternyata sang sopir hapal dengan baik posisi kediaman wakil RI di daerah Kansai itu.

Sesampainya di sana, Ibu Ratna ternyata masih sedang bersantap siang dengan mbah Tatsuta sensei, Ibu Resti, istri konsul Ekonomi KJRI, dan rombongan kesenian dari Saung Mang Udjo Bandung, Lia, Wildan, dan perwakilan PPIJ (Persatuan Persahabatan Indonesia Jepang), ibu Susy. Ibu Indri, istri konsul sosbud KJRI dan Nyonya Masni, konsul penerangan tampak duduk2 di pintu gerbang dan tidak ikut bergabung di meja makan karena menjalankan ibadah puasa. Ibu Ratna, Ibu Susy, mbah Tatsuta memang non muslim jadi tidak puasa, Ibu Resti, tidak menjalankan puasa karena sedang berhalangan sementara Lia dan Wildan libur puasa dulu karena sedang safar menjalankan misi kebudayaan ke Jepang ini. Ibu Susy, Lia, dan Wildan baru tiba dari Bandung kemarin pagi setelah dijemput oleh saya dan eyang+mbah Tatsuta. Saya ikut duduk2 di meja makan dan tentu saja menolak hidangan karena puasa.

Hari ini jadwal mereka adalah kunjungan ke Sekolah Dasar Kambara di daerah Shukugawa, Kobe.

Sesuai janji akhirnya kami tiba di lokasi sekitar jam 1 siang, setelah ramah tamah sejenak dengan kepala sekolah dan guru2 kami segera menyiapkan perangkat angklung yang berjumlah sekitar 130 buah. Ruangannya adalah aula serba guna yang saya taksir lebih luas daripada masjid di pesantren saya, IMMIM Tamalanrea yg biasa menampung lebih dari 800 orang.

Bangunan sekolah sudah terlihat tua tapi masih sangat bersih dan rapih. Menurut keterangan guru di situ, murid2lah yg selalu rajin membersihkan segala penjuru sekolah itu. Selain aula yg sangat besar, ruangan belajar, ruang guru, sekolah itu dilengkapi dengan lapangan olahraga yang luasnya mungkin sama dengan lapangan sepak bola standar. Fasilitas yg standar di Jepang , tapi mungkin hanya dimiliki oleh sekolah2 elit kalau di Indonesia. Dan karena sekolah ini adalah sekolah negeri, maka tentu saja semua fasilitas itu dibiayai oleh negara tanpa perlu ‘sumbangan’ murid2 dengan membayar uang pembangunan yang besarnya aduhai. Inilah enaknya kalau negara dikelola dengan benar, buntut2nya yg enak adalah kita sendiri, rakyat. Sementara negara kita yg dikelola oleh pejabat2 yg banyak koruptor, kita hanya bisa mengusap dada karena fasilitas yg tidak memadai.

Acara angklung dimulai setelah siswa2 berkumpul. Lia dan Wildan yang sebenarnya masih sangat muda karena berusia 17 dan 21 tahun, tampak tidak canggung melakoni perannya. Wildan dengan mulus memainkan beberapa lagu Indonesia dan Jepang dengan seperangkat angklung dari Saung Mang Udjo, sementara Ibu Susy membeking dengan alunan piano. Anak2 SD itu tampak menyimak dengan seksama dan dengan semangat bertepuk tangan riuh ketika Wildan menutup konser solonya dengan baik.

Setelah Wildan, Lia tampil untuk membimbing anak2 itu bermain angklung. Para istri2 pejabat ikut membantu membagikan angklung ke anak2 SD itu yg dengan antusias memegang dan mencoba membunyikan alat musik bambu itu. Sayang sekali karena angklung yg dibawa hanya sejumlah 120 buah, maka hanya anak2 kelas 3 & 4 yang kebagian, sementara anak2 kelas lain terpaksa menatap dengan penuh harap ke teman2nya yg beruntung kebagian alat musik itu.

Lia yg bulan depan baru berusia 18 tahun itu tanpa canggung membimbing anak2 SD Kambara memainkan beberapa lagu. Anak2 Jepang itu ternyata dengan mudah mengikuti petunjuk dan berhasil memainkan beberapa lagu. Permainan angklung ditutup dengan lagu Bengawan Solo, karangan mpu Gesang.

Anak2 dan guru2 di sekolah itu tampak senang sekali. Seorang anak murid kelas 4 malah tidak mau jauh2 dari Wildan dan terus saja mencoba berkomunikasi dengan Wildan. Sesekali saya menterjemahkan bolak-balik sembari kesana kemari membereskan alat musik bambu. Seorang anak mendekati saya dan menjabat tangan sembari mencium punggung tangan saya dan berucap”arigatou gozaimashita”. Saya membalas dengan “dou itashimashite”. Sempat kaget juga karena biasanya anak2 Jepang biasanya hanya diajarkan jigi (membungkukkan badan ketika mengucapkan salam/terima kasih), mereka tidak diajarkan untuk cium tangan.

Ketika kami bersiap-siap pulang, anak2 itu masih sempat merubungi mobil dan mencoba berkomunikasi. Si anak yg sedari tadi dekat2 Wildan sempat berkata “Indonesia daisuki. Ookiku nattara Indonesia no daigaku ni ikitai” (Saya suka sekali dengan Indonesia, kalau sudah besar saya ingin masuk universitas di Indonesia). Ketika kalimatnya saya terjemahkan, ibu Ratna terlihat sangat senang sekali.

Kami meninggalkan SD itu dengan perasaan puas karena kegiatan berlangsung sukses.

Dua jam kemudian eyang+mbah Tatsuta, ibu Susy, Lia, Wildan, dan saya sudah duduk di restoran Takakura yg terletak di lantai 25 gedung Joy Plaza di Shin Nagata. Kami menikmati hidangan ala Jepang sembari disuguhi pemandangan malam kota Kobe yang bersinar di bawah purnama 15 ramadhan.

2 comments

  1. Tomimoto Diah says:

    Saya adalah orang Indonesia yang tinggal di Jepang.
    Setelah membaca cerita ini saya sangat kagum dan berterimakasih yang telah memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak S.D di Jepang.
    Yang mana yang saya tahu anak-anak Jepang sama sekali tidak tahu tentang kebudayaan -kebudayaan negara lain.Mereka hanya mengetahui tentang kebudayaannya mereka saja.Terutama negara kita yang banyak akan bermacam adat kebudayaan yang membuat Orang Asing terpesona.
    ?????????????????
    Sebenarnya saya juga hadir dalam acara tersebut,siapakah saya coba terka…..
    Setelah rombongan Orang2 Indonesia (Bpk Arif,Ibu Konjen dll) pulang,Guru2 S.D Kanbara sangat puas dan senang sekali mendapat hiburan Tradisional “gratis” untuk mereka.Kepala sekolah dan Wakil Kepala sekolah sangat senag sekali karena sekolah mereka dipilih untuk mendengarkan alat musik Angklung ini. Guru musik di sekolah itu juga sangat terpesona dengan Angklung yang bisa mengeluarkan nada seperti nada piano.Semoga tahun depan juga bisa hadir lagi diSD Kanbara.Dapat salam dari guru orang Jepang yang bertanggung jawab tentang anak2 indonesia diSD Kanbara.Namanya ????(Hozumi), dia ingin lagi bertemu dengan Bpk Arif .
    Untuk membicarakan berbagai hal tentang kebudayaan Indonesia dan lain2nya.
    Sekali lagi saya ucapkan banyak2 terimakasih,salam juga untuk mbak lisa dan yang lainnya.

  2. arif says:

    Saya juga mengucapkan terima kasih atas bantuan Ibu Diah yg sudah mendampingi Lia selama kegiatan, padahal suara Ibu Diah sudah hampir habis 🙂
    Tentang tawaran SD Kambara itu, untuk saat ini sepertinya masih belum memungkinkan untuk saya penuhi. Mudah2an nanti ada waktu yg terluang.

%d bloggers like this: