Empat Hari di Hong Kong: Meeting Marathon, Hujan Badai, dan iPhone yang Sempat Hilang

Saya tiba di Hong Kong Airport sekitar jam 6 sore. Matahari belum tenggelam. Di luar masih terang, jadi rasanya belum seperti malam walaupun badan sebenarnya sudah mulai menghitung hari ini sebagai hari yang panjang.

Butuh beberapa menit sampai saya menemukan sopir jemputan yang dikirim kantor. Dia berdiri sambil memegang iPad bertuliskan “Mr. Arif”. Penampilannya sangat rapi. Lengkap dengan tuxedo, jas, dan dasi. Untuk ukuran layanan penjemputan kantor, ini sudah masuk kategori serius.

Saya memang selalu merasa level layanan jemputan di tiap negara biasanya berbeda-beda, tergantung skala perusahaan lokalnya. Ricoh Hong Kong sendiri termasuk perusahaan ukuran menengah, dengan jumlah karyawan lebih dari 600 orang. Tapi urusan jemputan, mereka tidak main-main. Mobil yang datang adalah Alphard keluaran terbaru. Begitu pintu dibuka, aroma kulit kursinya masih sangat terasa. Kombinasi antara mobil baru, kabin yang senyap, dan badan yang lelah itu berbahaya. Saya sempat memotret pelabuhan Hong Kong dari kejauhan, lalu tidak lama kemudian tertidur.

Sampai di hotel, saya check-in, menaruh barang, lalu langsung turun lagi ke lantai satu. Malam itu Mr. Aaron, Chairman Ricoh Hong Kong, sudah berjanji mengajak saya makan malam di restoran masakan Cina lokal yang halal.

Beliau sudah menunggu dengan senyum lebar di samping mobil Tesla-nya.

Kami lalu menyusuri daerah Kowloon. Di tahun 1990-an, kawasan ini dulu adalah landasan pacu bandara lama Hong Kong, sebelum akhirnya bandara dipindahkan ke lokasi yang baru. Sedikit mengingatkan saya pada Kemayoran di Jakarta. Kawasan yang dulu identik dengan pesawat, lalu berubah fungsi, tapi jejak sejarahnya masih terasa kalau kita tahu harus melihat ke mana.

Restoran tujuan kami bernama Islam Food 清真牛肉館. Letaknya beberapa blok dari jalan besar yang dulu menjadi landasan pacu utama. Restorannya tidak mewah. Bahkan kalau hanya melihat tampak luarnya, orang mungkin tidak akan langsung mengira tempat ini istimewa. Tapi ramainya bukan main. Semua meja terisi. Beberapa keluarga tampak menunggu giliran. Untung kami sudah reservasi.

Mr. Aaron bertanya saya ingin makan apa. Saya jawab saja, “terserah”, karena memang tidak tahu harus pilih yang mana. Tapi akhirnya saya bilang saya penasaran ingin mencoba gyoza. Soalnya selama di Jepang, pilihan gyoza halal itu nyaris tidak ada. Kalaupun ada, harus cari dengan cukup niat.

Akhirnya beliau memesan salah satu signature dish mereka, semacam bakpia asin berisi daging sapi cincang. Bentuknya sederhana, tapi begitu digigit, kuah dagingnya langsung keluar. Rasanya enak sekali. Tipe makanan yang membuat orang langsung mengerti kenapa sebuah tempat bisa bertahan lama. Tapi makannya memang harus hati-hati. Salah gigit sedikit, kuah panasnya bisa muncrat ke baju.

Selain itu, beliau juga memesan kari daging sapi. Rasanya kaya, hangat, dan sangat berlapis. Berbeda dengan kari India yang biasa saya bayangkan. Kekentalannya bukan datang dari bawang bombai yang dimasak lama sampai hancur, tapi lebih dari kombinasi rempah yang kuat. Ada rasa jahe, ada rasa yang sedikit mengingatkan saya pada rendang, tapi dengan tekstur dan karakter yang tetap berbeda.

Kami menghabiskan sekitar satu jam di sana. Sambil makan, Mr. Aaron banyak bercerita tentang perjalanan kariernya dan bagaimana beliau ikut membangun Ricoh Hong Kong. Ia juga sempat bercerita tentang masa tugasnya di Taiwan. Saya suka momen seperti itu. Kadang percakapan paling menarik justru tidak terjadi di ruang meeting, tetapi di meja makan, saat orang bercerita tanpa slide dan tanpa agenda.

Setelah selesai, beliau mengantar saya kembali ke hotel.

Baru sesampai di kamar, saya sadar ada yang tidak beres.

iPhone kantor tidak ketemu.

Saya membongkar isi tas. Saya periksa koper. Saya cek kantong celana, kantong jaket, semua tempat yang secara teori mungkin menjadi lokasi persembunyian sebuah iPhone. Hasilnya nihil. Benda kecil itu tidak muncul di mana-mana.

Di titik itu saya mulai panik.

Masalahnya bukan semata-mata harga perangkat. Posisi saya adalah kepala Human Resources di Asia Pasifik. Dalam banyak kasus kehilangan laptop atau telepon kantor, justru orang akan datang melapor ke saya. Saya yang biasanya bicara tentang kehati-hatian, perlindungan data, dan prosedur pelaporan. Malam itu, ironisnya, saya sendiri yang sedang menjalankan prosedur itu.

Akhirnya saya membuka laptop dan membuat laporan kehilangan sesuai prosedur. Tapi saya beri catatan agar iPhone itu jangan diblokir dulu sampai ada konfirmasi lanjutan. Entah kenapa, insting saya mengatakan telepon itu kemungkinan besar jatuh di mobil jemputan dari bandara ke hotel.

Setelah itu saya berendam air panas, lalu tidur. Dan seperti sering terjadi kalau badan sudah terlalu lelah, tidur malam itu tetap pulas walaupun ada satu iPhone yang belum jelas nasibnya.

HARI PERTAMA

Pagi hari setelah sholat subuh, saya turun sarapan ke lantai dua. Alhamdulillah, hotel menyediakan beberapa menu bertanda halal. Dalam perjalanan dinas, kadang rasa tenang itu datang dari hal-hal kecil seperti ini.

Di restoran saya bertemu Manager L&D dan salah satu stafnya, anggota tim saya yang berbasis di Malaysia. Beberapa peserta training juga menyapa. Jadi pagi itu rasanya seperti mulai masuk mode kerja perlahan-lahan. Dari tamu hotel biasa, lalu berubah lagi menjadi orang kantor.

Jam 8.30 kami menuju kantor Ricoh Hong Kong.

Setelah sampai di gedung, kami naik ke lantai 20. Ricoh Hong Kong menata office mereka dengan sangat apik. Kantor ini sekaligus berfungsi sebagai showroom. Dan memang, kalau bicara office environment dan document management, Ricoh sudah seperti bermain di kandang sendiri.

Signage di kantor bahkan menampilkan nama saya dan menyambut kedatangan saya, bersama CEO Business Unit Digital Services yang kebetulan juga sedang datang ke Hong Kong minggu itu. Hal kecil seperti ini sebenarnya sederhana, tapi selalu memberi kesan hangat. Saya lalu menuju ruangan yang sudah disiapkan.

Tidak lama kemudian, Senior Director HR datang menyambut. Hal pertama yang saya minta bukan jadwal meeting, tapi bantuan untuk menelpon perusahaan jasa jemputan yang mengantar saya dari bandara ke hotel semalam.

Meeting marathon hari itu dimulai dari pagi. Sesi pertama bersama Managing Director, atau CEO Ricoh Hong Kong. Orangnya masih muda. Mungkin satu atau dua tahun di bawah saya. Tapi pembawaannya tenang dan berwibawa.

Saya memulai dengan pertanyaan tentang kondisi bisnis Hong Kong saat ini, struktur organisasi, dan arah bisnis Ricoh Hong Kong. Lalu percakapan masuk ke filosofi manajemen.

Tanpa ragu beliau menjelaskan langkah-langkah perubahan yang ia ambil sejak mengambil alih perusahaan di awal tahun. Salah satu bagian yang menurut saya menarik adalah ketika ia menjelaskan kenapa ia lebih memilih menggunakan OKR, bukan lagi BSC, walaupun tetap dikombinasikan dengan KPI. Alasan beliau sederhana: transformasi bisnis menuntut agility, sedangkan BSC terlalu lambat kalau organisasi sedang butuh bergerak cepat.

Buat saya, percakapan seperti ini selalu menarik. Karena dari pilihan framework saja, kita sebenarnya bisa melihat cara seorang pemimpin berpikir.

Sekitar 30 menit berjalan, beliau tiba-tiba berhenti bicara, lalu menuju sudut ruangan. Dari sebuah lemari kecil, ia mengeluarkan seperangkat cangkir dan teko dari tanah liat. Di situlah saya baru tahu bahwa beliau punya hobi membuat teh dan menyajikannya sendiri kepada tamu.

Kalau di Jepang, suasana seperti ini langsung mengingatkan pada 茶道, walaupun tentu versi Hong Kong ini terasa jauh lebih kasual dan tidak seresmi itu. Beliau mulai menyeduh teh dan melayani saya dengan serius, seperti saya tamu yang sangat penting. Saya tentu menikmati situasi itu. Tehnya tidak terlalu pekat, tapi aroma dan rasanya kuat. Ada sesuatu yang menenangkan dari minum teh yang dibuatkan langsung oleh CEO di tengah percakapan tentang transformasi bisnis.

Pas 60 menit, sesi kami selesai.

Begitu saya kembali ke ruangan, Direktur HR datang membawa kabar gembira. iPhone kantor saya ternyata ditemukan di mobil Alphard yang saya tumpangi kemarin.

Alhamdulillah.

Kadang satu kalimat sederhana seperti itu sudah cukup mengubah mood satu hari penuh.

Setelah itu meeting marathon benar-benar berjalan tanpa jeda berarti. Mulai dari Direktur Finance and Accounting, Direktur Services, Direktur bisnis Office Printing, sampai Direktur Digital Solutions. Ritmenya padat, tapi justru dari situ saya bisa melihat dengan lebih utuh bagaimana Ricoh Hong Kong bergerak, apa kekuatannya, dan area mana yang paling agresif mereka dorong.

Sekitar jam 5 sore saya kembali ke hotel. Rasanya menyenangkan juga karena malam itu tidak ada dinner resmi. Ada waktu bebas. Sesuatu yang dalam perjalanan dinas kadang justru terasa mewah.

Saya lalu mencari restoran halal di sekitar hotel dan menemukan satu tempat sekitar 500 meter dari lokasi saya menginap. Masakan Maroko, dengan cukup banyak pilihan menu daging. Saya sempat duduk di luar, lalu memesan pasta daging domba. Tapi karena ada meja kosong di dalam, saya pindah ke bagian indoor.

Makan malam itu terasa tenang sekali. Tidak ada kebutuhan untuk menjaga ritme percakapan formal, tidak ada urusan table manner level korporat, tidak ada kewajiban membaca suasana meja. Tinggal duduk, makan, dan menikmati sepi dengan damai.

Setelah selesai, saya berjalan kembali ke hotel sambil sempat memotret stadion Kai Tak yang berdiri persis di seberang hotel Dorsett tempat saya menginap. Lalu kembali ke kamar, berendam air panas, dan tidur.

HARI KEDUA

Saya bangun saat langit masih gelap. Setelah sholat subuh, saya mengenakan pakaian olahraga dan keluar untuk morning walk.

Rupanya semalam hujan turun. Udara pagi terasa basah dan jalanan di sekitar stadion Kai Tak masih menyimpan sisa-sisa hujan. Saya menyusuri pinggir kawasan stadion yang baru saja selesai dibangun itu. Karena penasaran, saya sempat mendekati pintu masuk. Tapi ternyata masih terkunci dan digembok. Mungkin saya memang kepagian.

Saya akhirnya kembali ke hotel, sarapan, lalu jam 8.30 bersama peserta training menuju kantor Ricoh Hong Kong.

Hari itu kembali diisi meeting marathon dengan beberapa direktur dan general manager yang memimpin fungsi-fungsi bisnis. Tim HR tentu juga masuk dalam jadwal.

Sementara itu, langit di luar semakin gelap. Cuaca benar-benar berubah. Menjelang siang sampai sore, Hong Kong dihantam hujan badai. Direktur HR bahkan mulai mengingatkan bahwa besok ada kemungkinan orang tidak bisa datang ke kantor kalau cuaca memburuk lebih jauh. Prosedur seperti ini memang wajar untuk memastikan keselamatan karyawan.

Pemerintah Hong Kong lalu mengeluarkan pemberitahuan resmi: RED LEVEL rainstorm.

Di titik itu, kami langsung mulai berpikir praktis. Manager L&D meminta arahan kalau besok tetap tidak memungkinkan datang ke kantor. Saya memintanya segera memesan ruang meeting di hotel dan mengatur agar sesi terakhir training dipindahkan ke sana. Dalam situasi seperti itu, yang paling penting bukan memaksakan rencana awal, tapi memastikan agenda tetap jalan tanpa membuat orang mengambil risiko yang tidak perlu.

Menjelang sore, Direktur HR datang ke ruangan saya sambil tersenyum simpul. Di tangannya ada iPhone kantor saya.

Rupanya driver yang kemarin menemukan telepon itu benar-benar datang sendiri untuk mengantarkannya ke kantor.

Saya langsung menulis email ke departemen IT, memberi tahu bahwa perangkatnya sudah kembali dan akses tidak perlu diblokir. Sekaligus saya juga memberi kabar ke atasan saya, CEO Ricoh Asia Pacific, bahwa iPhone sudah ditemukan dan tidak ada masalah dengan data security maupun security breach.

Jujur saja, rasa lega saat itu besar sekali.

Malam itu kegiatan ditutup dengan makan malam di restoran seberang gedung kantor. Saya menikmati menu ikan sea bass dan sayuran rebus. Setelah sehari penuh berhadapan dengan meeting, cuaca buruk, dan drama iPhone, makan malam sederhana seperti itu justru terasa pas.

HARI KETIGA

Saya bangun lagi saat di luar masih gelap. Setelah sholat subuh, awalnya saya berniat jalan pagi. Tapi hujan badai semalam rupanya masih menyisakan gerimis. Akhirnya saya mengubah rencana dan menuju gym yang terletak satu lantai di atas restoran.

Di sana saya bertemu salah satu peserta dari Ricoh Selandia Baru, Direktur Finance and Accounting, yang sedang menggunakan treadmill. Dunia korporat memang kadang lucu. Orang bisa bertemu lagi di ruang meeting, di restoran, lalu ketemu lagi di treadmill sebelum matahari benar-benar naik.

Setelah sekitar 20 menit di treadmill, saya turun ke restoran dan menikmati sarapan. Lengkap dengan secangkir caffe latte panas.

Jam 08.15 saya sudah berada di ruangan meeting di lantai satu hotel. Karena cuaca belum sepenuhnya bersahabat, sesi terakhir training hari itu memang dipindahkan ke hotel. Para peserta training dan para direktur dari Ricoh Hong Kong datang ke sana untuk membantu menjadi fasilitator dalam diskusi penutup, yang kali ini mengangkat tema keberhasilan Ricoh Hong Kong membangun bisnis berbasis IT dan AI.

Acara dibuka dengan sambutan yang saya bawakan. Setelah itu diskusi grup berjalan cukup dinamis. Ada banyak masukan yang bagus, dan energi pesertanya juga tetap terjaga walaupun venue-nya dadakan pindah dari kantor ke hotel. Buat saya, justru di situ menariknya. Kadang kalau sebuah program tetap bisa hidup walaupun setting berubah, berarti fondasinya memang cukup kuat.

Jam 11 acara selesai dan kami bubaran.

Saya bersama staf dari Malaysia langsung meluncur ke Kowloon Mosque untuk sholat Jumat. Khutbah pertama dibawakan dalam bahasa Inggris, lalu khutbah kedua dalam bahasa Urdu. Masjid penuh sesak oleh jamaah dari berbagai negara. Dari wajah-wajah dan bahasa yang terdengar di sekitar, saya menduga cukup banyak yang berasal dari kawasan Asia Selatan dan Asia Tengah: India, Pakistan, Bangladesh, dan sekitarnya.

Ada sesuatu yang selalu saya suka dari sholat Jumat di kota-kota internasional. Kita datang dari latar belakang berbeda, paspor berbeda, pekerjaan berbeda, tapi berdiri dalam saf yang sama. Hong Kong siang itu terasa sangat kosmopolitan, tapi di dalam masjid, semuanya kembali sederhana.

Setelah sholat, kami sempat mampir belanja oleh-oleh di toko Kenangan dekat masjid, lalu makan siang di restoran halal yang menyajikan masakan Timur Tengah. Saya memesan nasi mandhy, dan porsinya ternyata jumbo. Sangat jumbo.

Setelah itu kami kembali ke hotel karena sore harinya saya masih ada meeting online. Malamnya saya tidak makan lagi. Bukan karena disiplin, tapi karena jatah kenyang saya sepertinya sudah dipakai habis saat makan siang. Jadi malam itu selesai berendam, saya langsung tidur.

HARI KEEMPAT

Pagi hari setelah sholat subuh, saya kembali keluar sebentar menyusuri jalan sekitar stadion Kai Tak.

Udara sudah jauh lebih tenang. Hujan besar sudah lewat. Kota seperti sedang mengambil napas panjang setelah dua hari sebelumnya cukup keras diguyur air.

Saya kembali ke hotel, sarapan, lalu menyiapkan barang untuk check-out.

Setelah selesai, saya bergegas ke titik penjemputan untuk taksi online. Sekitar lima menit menunggu, mobil Uber datang. Semua terasa normal sampai di tengah perjalanan saya menerima pesan masuk.

Ternyata staf Ricoh Hong Kong sebenarnya sudah memesankan transportasi dari hotel ke bandara. Informasinya dikirim lewat email sehari sebelumnya. Masalahnya, sepanjang hari kemarin saya sama sekali tidak membuka laptop, jadi saya tidak tahu.

Saya langsung minta maaf ke staf lokal karena benar-benar tidak sadar.

Kadang dalam perjalanan dinas, justru hal-hal kecil seperti ini yang menunjukkan betapa banyak orang berusaha membantu agar semuanya berjalan mulus. Dan kadang, satu-satunya alasan kita tidak tahu adalah karena inbox sedang kalah cepat dari jadwal.

Saya meninggalkan Hong Kong dengan pesawat jam 2 siang itu.

Perjalanan kali ini terasa padat. Ada meeting yang berlapis-lapis, diskusi yang menarik, training yang tetap jalan walaupun cuaca berubah, makan malam halal yang menyenangkan, dan tentu saja satu episode kecil yang sempat membuat jantung bekerja lebih keras dari biasanya: iPhone kantor yang hilang lalu kembali.

Tapi mungkin memang itu salah satu hal yang saya suka dari perjalanan dinas.

Ia hampir tidak pernah hanya berisi agenda resmi.

Selalu ada cerita-cerita kecil di pinggirnya. Tentang orang-orang yang membantu, makanan yang tidak direncanakan tapi ternyata berkesan, kota yang menunjukkan wajahnya pelan-pelan, dan momen-momen kecil yang justru paling lama tinggal di ingatan.