Beberapa waktu terakhir saya harus menerima satu kabar yang rasanya campur aduk.
Salah satu manager saya di cabang Malaysia memutuskan pindah ke perusahaan lain. Ia mendapat tawaran posisi yang lebih tinggi, dengan paket kompensasi yang tentu juga lebih menarik. Sebagai atasan, tentu ada rasa sedih. Apalagi ketika orang yang pergi itu adalah orang yang kita percaya, yang sudah paham ritme kerja, dan yang selama ini ikut memegang banyak hal penting.
Tapi di saat yang sama, saya juga ikut senang.
Kalau dipikir-pikir, berarti selama bekerja di Ricoh, ia memang bertumbuh menjadi profesional yang lebih matang. Bertumbuh sampai akhirnya dianggap layak untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi di tempat lain. Dalam dunia kerja, kadang itu juga bagian dari keberhasilan. Bukan keberhasilan yang selalu menyenangkan, memang. Tapi tetap keberhasilan.
Setelah proses screening awal dilakukan bersama tim lokal dan tim Singapura, akhirnya tersisa dua kandidat terakhir. Karena posisi ini nantinya akan direct report ke saya, saya merasa tidak perlu ambil risiko. Untuk peran seperti ini, CV dan interview online saja rasanya belum cukup. Ada hal-hal tertentu yang lebih mudah dibaca saat kita duduk langsung berhadapan dengan seseorang.
Akhirnya saya memutuskan datang sendiri ke Malaysia untuk melakukan wawancara final.
HARI PERTAMA
Pesawat saya berangkat jam 9.45 pagi. Artinya saya harus sudah berada di bandara sekitar jam 7.
Karena sedang Ramadan, ritme pagi tentu sedikit berbeda. Setelah sahur, saya bersiap-siap, mandi, lalu mengecek ulang barang bawaan. Koper kecil yang saya bawa sebenarnya sudah cukup rapi sejak malam sebelumnya, tapi entah kenapa menjelang berangkat saya tetap merasa perlu membuka lagi, menambah ini-itu, lalu menutupnya kembali. Kebiasaan yang mungkin tidak efisien, tapi selalu saya lakukan.
Sebelum keluar rumah, saya mencium istri dan pamit kepada anak-anak. Setelah itu saya menyeret koper kecil menuju stasiun.
Saya tiba sesuai target dan langsung naik kereta menuju Narita. Di pemberhentian terakhir, saya berganti kereta menuju bandara. Jam baru menunjukkan pukul 5.52 pagi, tapi gerbong sudah cukup penuh oleh orang-orang dengan bawaan tas besar. Ada yang tampak seperti akan berlibur, ada yang jelas sedang menuju perjalanan bisnis, dan ada juga yang wajahnya masih membawa sisa kantuk.
Satu deret kursi panjang terlihat agak kosong. Penyebabnya segera jelas.
Di sana ada seorang wisatawan asal Tiongkok yang tertidur sambil mendengkur cukup keras. Tampaknya ia mabuk berat. Posisi tidurnya melintang dengan santai, seperti gerbong kereta itu ruang tamunya sendiri. Praktis ia mengambil jatah duduk untuk empat atau lima orang sekaligus. Beberapa penumpang lain melirik dengan wajah kesal, tapi tidak ada yang benar-benar menegur.
Tidak lama kemudian, seorang pria lain yang tampaknya temannya datang menghampiri. Ia mencoba membangunkan si pemabuk itu dan mendudukkannya dengan susah payah. Bukan tugas yang ringan, karena badannya tinggi besar, mungkin sekitar 190 cm. Setelah perjuangan beberapa menit yang cukup dramatis, mereka akhirnya turun di stasiun berikutnya. Si mabuk turun sambil sempoyongan, sementara temannya tampak seperti orang yang menyesali banyak keputusan hidup sekaligus.
Kereta sampai tepat jam 6.37.
Saya segera check-in, lalu menuju area keberangkatan. Setelah lolos pemeriksaan, saya sempat membeli beberapa oleh-oleh, lalu berjalan ke lounge. Karena sedang puasa, tentu saya tidak menyentuh hidangan apa pun. Akhirnya saya malah sibuk membuka laptop dan mengecek email. Kadang lounge dalam kondisi puasa memang berubah fungsi. Bukan tempat makan, melainkan kantor sementara dengan sofa yang lebih empuk.
Menjelang waktu boarding, saya bergegas menuju Gate 73.
Alhamdulillah, kursi yang saya incar ternyata memberi bonus kecil: kursi di sebelah saya kosong. Dalam penerbangan beberapa jam, ruang kosong seperti itu kadang terasa lebih mewah daripada fasilitas lain apa pun. Saya bisa sedikit selonjoran, mengatur posisi, lalu tidak lama kemudian tertidur.
Kurang lebih hampir empat jam saya tidur.
Saat terbangun, saya langsung menunaikan sholat dhuhur dan ashar dengan jamak qashar. Ada ketenangan tersendiri dalam momen seperti itu. Di tengah perjalanan lintas negara, di kabin pesawat, kita tetap mencari cara untuk menjaga ritme yang paling dasar.
Pesawat mendarat sekitar pukul 16.50.
Begitu turun, saya langsung menuju imigrasi. Karena kali ini hanya membawa koper kecil dan tas laptop, saya tidak perlu menunggu bagasi. Setelah urusan masuk selesai, saya menuju pintu kedatangan dan memesan taksi bandara. Waktu berbuka masih sekitar dua jam lagi, jadi saya tinggal duduk tenang menunggu mobil datang.
Ternyata pengemudinya perempuan.
Awalnya ia menyetir dengan tenang. Tapi setelah keluar dari area bandara dan mulai masuk kemacetan, ritmenya berubah. Ia beberapa kali menelepon dan berbicara dengan suara keras, seperti orang yang sedang sendirian di ruang keluarga, bukan sedang membawa penumpang. Saya sempat berpikir untuk menegur, tapi membayangkan potensi debat saat badan lelah dan perut kosong membuat saya mengurungkan niat. Akhirnya saya memilih diam saja dan melihat keluar jendela.
Menjelang waktu berbuka, saya sampai di hotel.
Lucunya, saat saya sedang proses check-in, azan berkumandang. Di momen yang pas sekali itu, staf hotel menyodorkan sebotol air mineral. Sederhana, tapi terasa menenangkan. Dalam perjalanan dinas saat puasa, hal-hal kecil seperti itu bisa langsung mengubah suasana hati.
Setelah selesai check-in, saya menaruh barang di kamar lalu langsung turun lagi menuju Utropolis Mall di lantai satu, tempat Nasi Kandar Al Ali berada. Malam itu saya berbuka puasa di sana.
Alhamdulillah, rasanya pas.
Setelah seharian bergerak dari rumah ke stasiun, kereta ke bandara, pesawat, imigrasi, lalu hotel, sepiring nasi kandar saat berbuka terasa seperti jawaban yang sangat masuk akal. Tidak perlu penjelasan filosofis apa-apa. Cukup makan, minum, dan membiarkan tubuh kembali merasa normal.
Selesai makan, saya bergegas kembali ke hotel. Malam itu sebenarnya saya berniat ke masjid terdekat untuk sholat tarawih. Setelah siap, saya turun ke front office dan menunjukkan peta Google Maps sambil bertanya arah. Ternyata masjid terdekat berjarak sekitar 20 menit jalan kaki.
Di titik itu saya menyerah.
Bukan karena tidak mau, tapi saya menimbang tenaga dan kondisi badan setelah perjalanan seharian. Akhirnya saya kembali ke kamar dan sholat sendiri. Kadang keputusan paling realistis memang bukan yang paling heroik, tapi yang paling sesuai dengan keadaan.
HARI KEDUA
Alarm berbunyi jam 4.30 pagi.
Saya bersiap menuju restoran untuk sahur. Hari itu waktu subuh sekitar jam 6.12, dan pihak hotel menyediakan sahur dari jam 5 sampai jam 6. Saat saya datang, baru ada satu orang di restoran. Suasananya tenang sekali. Tapi begitu saya selesai mengambil nasi dan lauk, satu per satu tamu hotel lain mulai berdatangan. Rupanya kami semua punya pola yang sama: datang sedikit mepet, makan dengan tenang, lalu buru-buru mengejar waktu.
Sebelum jam 6, saya menutup sahur dengan cappuccino hangat dan segelas infused water.
Setelah sholat subuh, saya membuka laptop, mengecek email, lalu mandi. Jam 8 pagi saya sudah mulai rapat proyek secara online karena Jepang satu jam lebih cepat. Di Tokyo saat itu sudah jam 9. Jadi walaupun secara fisik saya berada di Malaysia, ritme kerja tetap mengikuti dua zona waktu sekaligus.
Selesai rapat, saya menyiapkan tas dan berjalan menuju kantor yang jaraknya hanya sekitar tiga menit dari hotel.
Sebelum kandidat pertama datang, saya sempat 1:1 lebih dulu dengan manager HR. Kami menyamakan ekspektasi, membahas beberapa poin penting, lalu menyiapkan alur interview. Jam 10 tepat saya memasuki ruangan dan melihat kandidat pertama sudah duduk di sana dengan wajah yang sedikit tegang.
Saya menyapanya, berbasa-basi sebentar, lalu wawancara dimulai.
Bahasa Inggrisnya lancar. Ia juga mengatakan bisa berbahasa Mandarin selain Melayu. Untuk peran regional, kemampuan bahasa seperti itu tentu menjadi nilai tambah. Tapi seperti biasa, saya tidak terlalu cepat terkesan oleh hal-hal yang ada di permukaan. Yang lebih penting adalah cara berpikirnya, cara menyusun prioritas, dan bagaimana ia membaca persoalan organisasi.
Setelah sekitar satu jam wawancara lisan, saya menyodorkan case study yang saya siapkan sendiri. Tujuannya sederhana: saya ingin melihat bagaimana ia memecahkan masalah dan membangun framework proyek, bukan hanya mendengar jawaban yang sudah rapi disiapkan sebelumnya.
Jam 12 lewat 10 menit, dua sesi itu selesai. Saya mengucapkan terima kasih, lalu memanggil staf untuk mempersilakan kandidat pulang.
Sekitar jam 12.30, saya bersama dua staf lokal menuju Masjid An-Nur Temasya Glenmarie untuk sholat Jumat.
Begitu kami duduk, seorang ustaz mulai menyampaikan ceramah. Awalnya saya kira pengantar singkat. Ternyata ini sesi pembuka yang berlangsung hampir satu jam, karena sholat Jumat hari itu memang baru dimulai sekitar jam 13.26. Perlahan-lahan jamaah bertambah banyak. Dan seperti yang sering terjadi dalam suasana siang, perut kenyang menunggu, ruangan sejuk, dan suara ceramah yang stabil, beberapa orang mulai mengangguk-angguk. Bukan karena mereka sangat tersentuh, melainkan karena kantuk datang tanpa permisi.
Karena khawatir sholat Jumat selesai lewat dari jam 2 siang, saya sempat mengirim pesan ke Managing Director yang tadinya berencana meeting 1:1 dengan saya. Perkiraan saya ternyata benar. Ceramah selesai tepat sekitar jam 13.26, lalu khutbah dimulai setelah itu. Khutbahnya sendiri versi normal, sekitar 20 menit. Sholat selesai lewat sedikit dari jam 2.
Kami tiba kembali di kantor sekitar pukul 14.30.
Wawancara kandidat kedua dijadwalkan mulai jam 15.00. Tapi sampai lima menit sebelumnya saya masih harus memberi instruksi kepada staf di Tokyo, karena pada saat yang sama kami juga sedang mempersiapkan pesta perpisahan seorang ekspatriat dari Amerika. Dunia HR memang kadang seperti itu. Kita sedang fokus pada satu agenda penting, lalu agenda penting lain masuk dari pintu samping.
Akhirnya interview baru dimulai sekitar jam 15.05, setelah saya meminta maaf karena sedikit terlambat.
Kandidat kedua punya skill set yang berbeda. Ia memiliki pengalaman sebagai PMO dan pernah bekerja di beberapa perusahaan multinasional, termasuk perusahaan perabot rumah tangga asal Swedia yang namanya cukup dikenal. Pengalamannya terlihat rapi, dan cara bicaranya juga sistematis. Dibanding kandidat pertama, ia memberi impresi yang berbeda. Bukan soal siapa yang lebih baik secara mutlak, tapi lebih ke tipe kekuatan yang mereka bawa masing-masing.
Wawancara selesai sekitar jam 17.10.
Setelah itu saya langsung bergegas ke ruangan Managing Director untuk 1:1. Kami membahas beberapa isu terkait talent dan organisasi. Baru sekitar jam 17.30, GM HR sudah menunggu di ruangan depan. Kami lanjutkan lagi beberapa hal yang belum sempat tuntas di meeting pagi.
Jam 18.30 kami menuju restoran di hotel tempat saya menginap. Enam staf HR lainnya sudah duduk rapi di deretan meja yang telah direservasi. Restoran itu ramai sekali. Ratusan orang tampak bersiap menikmati hidangan berbuka puasa dengan konsep makan sepuasnya.
Azan berkumandang pukul 19.27.
Sambil bercakap-cakap dengan yang lain, kami menikmati beragam hidangan. Ada kambing panggang, sate ayam, aneka es, kue-kue, dan puluhan menu lain yang membuat orang merasa harus mengambil banyak hanya karena semua terlihat menarik. Tarifnya 198 ringgit per orang, atau kira-kira sekitar 900 ribu rupiah. Bukan angka yang kecil. Tapi melihat variasi menu dan kualitas hidangannya, rasanya memang sepadan.
Menjelang jam 9 malam mereka semua pamit. Saya kembali ke kamar, sholat isya, lalu langsung tidur. Malam itu saya tidak tarawih. Saya memilih tidur lebih cepat dengan rencana bangun lebih awal untuk sholat malam sebagai gantinya.
Kadang di perjalanan dinas, menjaga ibadah juga menjadi urusan mengatur ritme, bukan sekadar idealisme. Kita menyesuaikan diri dengan kondisi, tenaga, dan jadwal, sambil tetap berusaha menjaga yang paling penting.
HARI KETIGA
Saya terbangun oleh alarm sekitar satu setengah jam sebelum subuh.
Setelah sholat, saya turun ke restoran lantai satu dan menikmati sahur, lagi-lagi dengan segelas cappuccino yang entah kenapa terasa selalu cocok di jam segini. Selepas sholat subuh, saya istirahat sebentar sebelum mulai packing.
Hari itu saya sengaja mengambil late check-out karena pesawat kembali ke Jepang baru berangkat jam 10 malam.
Setelah dhuhur, saya berjalan ke mini market lokal dekat hotel untuk membeli oleh-oleh sederhana bagi orang rumah. Tidak ada agenda besar. Hanya hal-hal kecil yang justru sering paling berguna: mi instan halal, beberapa camilan, dan sambal sachet buatan Indonesia yang langsung masuk ke keranjang tanpa banyak pertimbangan.
Kembali ke hotel, saya menyelesaikan packing dan check-out sekitar jam 3 sore. Setelah proses selesai, saya memesan Grab menuju Kuala Lumpur International Airport.
Karena hanya membawa satu koper kecil, saya sudah check-in online lewat aplikasi dan berharap semuanya akan cepat. Ternyata harapan itu terlalu optimistis.
Antrian di bandara panjang dan agak amburadul. Pembatas antriannya disusun tanpa terlalu memikirkan aliran penumpang, sehingga dari satu titik semuanya seperti menumpuk tanpa bentuk yang jelas. Padahal jumlah penumpangnya sendiri sebenarnya tidak terlalu banyak. Tapi prosesnya lambat. Petugas terlihat santai sekali. Banyak counter yang kosong, dan di beberapa titik hanya satu kursi yang diisi dari dua kursi yang tersedia.
Yang lebih menarik, di belakang mereka ada booth untuk mengawasi para petugas yang bekerja. Booth ini justru penuh sesak. Ada yang sampai diisi empat orang. Saya sempat berpikir, antrian mungkin akan jauh lebih cepat berkurang kalau sebagian dari mereka turun tangan membantu, bukan hanya mengawasi orang lain bekerja lambat.
Butuh lebih dari satu setengah jam sampai semuanya beres.
Setelah lewat imigrasi, saya menuju terminal dua tempat lounge berada. Sesampainya di lounge, saya membuka laptop dan mulai bekerja lagi. Waktu berbuka masih dua jam, jadi tidak ada banyak hal lain yang bisa dilakukan selain bekerja.
Jam 19.30 akhirnya saya berbuka puasa dengan beberapa kue dan roti, lalu dilanjutkan nasi dan lauk. Sekitar jam 20.30 saya menuju surau untuk sholat magrib dan jamak isya. Setelah itu saya berjalan ke kedai kopi terdekat, memesan cokelat panas, lalu kembali membuka laptop.
Menjelang jam 10 malam, saya menuju Burger King, memesan hamburger untuk dibungkus, lalu berjalan ke Gate C22.
Pesawat berangkat tepat sesuai waktu yang tertera di boarding pass.
Begitu duduk, kantuk langsung datang. Saya memasang alarm jam 3.30 lalu tidur. Tapi saya baru benar-benar terbangun jam 3.40. Alarmnya rupanya bergetar terlalu sopan sampai saya tidak merasakannya. Saya segera melahap hamburger bekal, minum jus dan air putih, lalu pergi ke toilet untuk berwudhu.
Setelah sholat, saya membuka penutup jendela pesawat.
Di luar, cakrawala mulai menunjukkan garis tipis cahaya. Tanda bahwa fajar sebentar lagi datang.
Pemandangan seperti itu selalu punya efek yang sama pada saya. Entah sudah berapa kali melihatnya dari pesawat, tetap saja ada rasa hening yang sulit dijelaskan. Di satu sisi kita sedang bergerak cepat menyeberangi negara. Di sisi lain, langit pagi tetap datang dengan cara yang sama tenangnya.
Pesawat mendarat sekitar pukul 6.25, kira-kira 20 menit lebih cepat dari jadwal.
Dua jam kemudian, saya sudah tiduran di sofa rumah setelah mandi dan ganti baju.
Perjalanan kali ini memang singkat. Hanya tiga hari. Tapi isinya cukup padat. Ada dua wawancara penting yang akan menentukan siapa orang berikutnya yang nanti memegang peran krusial di Malaysia. Ada rapat-rapat yang tetap harus berjalan lintas negara. Ada buka puasa di hotel, sahur yang tenang, masjid di tengah jadwal yang padat, dan ada juga drama kecil tentang bandara, antrian, serta sopir taksi yang terlalu aktif menelepon.
Tapi mungkin memang begitu bentuk asli perjalanan dinas.
Ia hampir tidak pernah hanya soal agenda utama. Selalu ada cerita-cerita kecil di pinggirnya. Tentang orang yang datang lalu pergi dalam organisasi. Tentang kandidat yang kita nilai bukan hanya dari jawabannya, tapi dari cara ia berpikir. Tentang tenaga yang harus diatur selama puasa. Tentang makanan yang terasa jauh lebih nikmat karena datang di waktu yang tepat. Dan tentang rumah, yang selalu terasa sedikit lebih berharga setelah kita meninggalkannya barang dua atau tiga malam saja.