Jaman masih kuliah dulu, saat kumpul-kumpul dengan sesama mahasiswa Indonesia, percakapan kadang-kadang membahas tentang jenis beasiswa yang diterima, seberapa nominalnya, bagaimana persaingannya, dan lain-lain. Saat itu di Kobe, kebanyakan mahasiswa Indonesia adalah penerima beasiswa monbukagakusho alias kemendiknas Jepang, cuma 1-2 orang yang penerima beasiswa yayasan swasta. Dan di masa itu LPDP belum ada karena saya tamat kuliah 2008, sementara LPDP mulai mengirim mahasiswa ke luar Indonesia di tahun 2013.
Di tahun pertama, saya seringkali minder ketika membahas beasiswa karena di antara puluhan mahasiswa itu hanya saya yang mengandalkan “beasiswa IMM Japan”, alias tabungan semasa magang dengan program IMM Jepang, dan selebihnya bermodalkan otot dan otak untuk mengais yen demi yen untuk bertahan hidup, dengan dibantu oleh tunjangan belajar dari pemerintah daerah setempat.
Rekan saya yang lain adalah putra putri terbaik bangsa yang dipilih pemerintah Jepang untuk dibiayai kuliahnya dengan uang pajak rakyat Jepang.
Setamat kuliah, mereka semua pulang ke tanah air dan mengabdikan ilmu dan pelayanannya untuk negara Republik Indonesia. Mayoritas dari mereka sudah jadi “orang”, beberapa sudah jadi guru besar di UGM (kalau teman-teman saya ini pasti ijazahnya asli karena bisa jadi guru besar), jadi dirjen, pejabat strategis di BUMN, dan tak terhitung yang jadi peneliti dan dosen di berbagai universitas di seluruh pelosok negeri.
Setelah masuk tahun kedua, barulah saya memperoleh beasiswa, tapi bukan dari pemerintah manapun, melainkan dari yayasan swasta bernama Nishimura Foundation (NISF), yang dibangun oleh pendiri Mandom Corporation, keluarga Nishimura. Beasiswa ini tidak mewajibkan penerimanya untuk kembali ke tanah air masing-masing, bahkan sama sekali tidak mewajibkan alumninya untuk bekerja di Mandom Group. Saya bahkan penerima beasiswa NISF yang pertama kali diterima sebagai pegawai di Mandom Corporation di tahun 2008, walaupun mereka sudah membiayai ratusan mahasiswa asing di Jepang sejak belasan tahun sebelum saya menerima kemurahan hati mereka.
Dulu saya kadang merasa iri dengan rekan-rekan yang dibiayai kuliahnya dengan beasiswa negara. Jika hanya “hidup normal”, mereka tak perlu begadang semalaman di akhir pekan untuk kerja part time di pinggir jalan besar, tidak perlu berkeringat menggotong semen dan besi rangka di bawah terik matahari musim panas, bermandi keringat di pabrik percetakan, dll demi membiayai kuliah mereka.
Tapi di kemudian hari saya justru bersyukur karena ketidakmampuan saya untuk memenangkan persaingan demi mendapat beasiswa itu memberi saya kebebasan untuk memilih jalan hidup bermukim di negara asing tanpa perlu merasa bersalah. Saya tak perlu khawatir dihantui kewajiban pengabdian karena menyelesaikan kuliah dengan menggunakan uang pajak negara, apalagi uang pajak rakyat negara saya sendiri.
Semua pilihan ada konsekuensinya. Dan orang yang berintegritas adalah yang memenuhi kewajibannya setelah menikmati haknya.
Saya selalu kagum dengan kawan-kawan mahasiswa penerima beasiswa yang dengan patuh kembali ke tanah air dan mengabdikan diri dan ilmunya sebagai 恩返し atau balas budi kepada pemberi dana biaya kuliah mereka, padahal mereka pasti harus menepis godaan berat untuk berkarir di negara tempat mereka studi.
Bagi yang masih kuliah dengan dibiayai oleh uang pajak rakyat, pulanglah ke tanah air untuk mengabdi sesuai kesepakatan awal. Kalaupun memilih untuk menetap di negara lain, maka pastikan bahwa kita sudah memenuhi kewajiban dari pemberi dana pendidikan.
Apapun pilihan anda, pastikan anda tidak posting foto paspor anak sambil naroh caption yang bikin netizen Indonesia gundah gulana, karena netizen Indonesia terkenal ganas. Jangankan sesama warga +62, akun orang korsel aja mereka labrak dan porak porandakan karena mencoba mengusik kedamaian jagat maya ![]()