Pesawat mendarat sekitar jam 11 siang waktu Hong Kong. Perjalanan dari Seoul makan waktu kurang lebih empat jam, dan Hong Kong satu jam lebih lambat dibanding Korea Selatan.
Begitu pintu pesawat dibuka, rasanya seperti pindah musim dalam sekejap.
Beberapa jam sebelumnya saya masih berada di Seoul dengan suhu sekitar -15 derajat. Sekarang saya turun di Hong Kong dengan suhu 14 derajat. Selisihnya hampir 30 derajat. Tubuh jelas perlu negosiasi dulu.
Saya masih memakai jas dan jaket tebal. Baru berjalan keluar gate beberapa menit saja, badan sudah langsung terasa gerah. Dari yang sebelumnya menahan dingin, mendadak harus menahan keringat.
Di pintu keluar, sopir jemputan sudah menunggu. Kalau di Korea mobil VIP-nya KIA, di Hong Kong yang menjemput kami Alphard. Entah kenapa, Alphard memang seperti punya status khusus sendiri di banyak kota Asia.
Di tengah perjalanan menuju kantor Ricoh Hong Kong, saya menghubungi Manager Office of Managing Director untuk memberi kabar bahwa kami sudah di jalan.
Setibanya di lobi kantor, CEO Ricoh Hong Kong sudah menunggu. Kami berempat lalu berjalan ke lift. Dan di situ saya kembali merasakan seperti apa efek “ikut rombongan orang penting”.
Biasanya kalau saya datang sendiri ke gedung kantor, ya antre lift seperti biasa. Kadang harus menunggu beberapa menit. Tapi karena kali ini saya datang bersama Oyama-san, CEO Global Ricoh, security sampai menahan satu lift khusus dari total enam lift yang ada di gedung itu.
Saya ikut masuk lift dengan gaya paling kalem yang bisa saya tampilkan, walaupun dalam hati mikir: wah, lumayan juga ya rasanya ikut numpang jadi tamu VIP, meski posisi saya sebenarnya cuma mengekor saja 😁
Sampai di lantai 20, di depan pintu masuk kantor semua direktur sudah berdiri menyambut. Setelah salaman, kami diarahkan ke ruang istirahat. Manager MD Office sudah menyiapkan sandwich, dan untuk saya sudah disiapkan menu vegetarian. Alhamdulillah, aman.

HARI PERTAMA
Kegiatan pertama setelah tiba di kantor adalah office tour. Kami diajak berkeliling di dua lantai kantor Ricoh Hong Kong sambil melihat berbagai contoh bagaimana AI sudah diimplementasikan di dalam product dan solution yang mereka pasarkan.
Bagian ini buat saya menarik sekali, karena yang diperlihatkan bukan sekadar konsep atau presentasi di atas slide, tapi contoh nyata penggunaan AI dalam pekerjaan sehari-hari.
Salah satu demo yang ditunjukkan adalah bagaimana mesin fotokopi bisa “disulap” menjadi mesin fotokopi cerdas. Dengan dukungan AI, mesin itu mampu mendeteksi jenis dokumen yang dipindai lalu otomatis menyimpannya ke folder yang sesuai. Kalau yang dipindai invoice, maka akan masuk ke folder Invoice. Kalau surat perjanjian, maka akan masuk ke folder Agreement Letters. Jadi bukan sekadar scan lalu selesai, tetapi scan sambil mengerti konteks dokumennya.
Staf juga memperlihatkan bagaimana AI membantu menghemat waktu kerja mereka, terutama untuk pekerjaan yang biasanya membutuhkan ketelitian tinggi dan cukup menyita waktu. Misalnya membaca daftar tagihan satu per satu lalu memindahkan datanya ke file Excel. Hal-hal yang dulu harus dikerjakan manual, sekarang cukup dengan scan dokumen, lalu setelah beberapa klik, datanya bisa tersaji dalam format Excel.
Tentu di awal tetap perlu kesabaran. AI-nya harus diajari dulu untuk mengenali pola dan struktur dokumen. Tapi setelah “mengerti”, pekerjaan itu benar-benar bisa dipercayakan ke AI, sementara manusia cukup berperan untuk mengecek akurasi hasilnya.
Melihat itu semua, saya jadi merasa bahwa transformasi digital memang paling mudah dipahami bukan saat kita bicara konsep besar, tapi saat kita melihat sendiri pekerjaan-pekerjaan kecil yang tadinya makan waktu, kini bisa selesai jauh lebih cepat.
Sore harinya dilanjutkan dengan sesi bersama Senior Management Ricoh Hong Kong. Acara dibuka oleh CEO lokal, lalu diteruskan oleh masing-masing Function Head. Ritmenya cukup padat, tapi pembahasannya juga kaya: bisnis, operasi, fungsi pendukung, sampai area-area transformasi.
Setelah meeting selesai, kami menuju restoran di kawasan tepi laut yang menghadap Victoria Harbour untuk makan malam.
Pemandangannya bagus. Air, lampu-lampu kota, gedung-gedung tinggi, semuanya seperti bekerja sama membangun suasana “ini Hong Kong”.
Panitia sudah mengatur agar menu saya diganti menjadi pescatarian. Jadi tetap aman tanpa daging. Hal seperti ini kecil, tapi buat saya terasa sekali sebagai bentuk perhatian.
Percakapan di meja makan juga menarik. Salah satu topiknya tentang turis Cina yang belakangan ini tidak sebanyak dulu datang ke Jepang, salah satunya karena faktor hubungan politik Jepang dan Cina. Tapi yang juga menarik, hampir semua senior management yang duduk di meja malam itu ternyata sering sekali berlibur ke Jepang.
Ada yang bilang suka ke Jepang untuk kuliner. Ada yang suka karena rapi. Ada juga yang bilang sambil tertawa bahwa dia rela ke Jepang hanya untuk membeli jam tangan, dan tidak mau beli di negara lain.
Saya hanya bisa mengangguk. Jepang memang punya daya tarik aneh seperti itu. Orang datang untuk satu hal, lalu pulang bawa tiga kantong.
Sehabis dinner, kami pulang ke hotel. Setelah check-in saya sempat ke luar dan membeli beberapa keperluan pribadi di toko kelontong dekat hotel sambil menikmati suasana malam di sekitar hotel Inter Continental Hong Kong ini.



HARI KEDUA
Setelah sholat subuh, saya keluar hotel untuk jalan kaki sebentar.
Saya menyusuri jalan di sepanjang garis pantai. Victoria Harbour terlihat di kejauhan. Udara pagi terasa segar dan sejuk, sekitar 10 derajat. Setelah beberapa hari menghadapi suhu minus, angka 10 derajat ini malah terasa seperti bonus.
Sepanjang jalur jogging di pinggir pantai, sudah cukup banyak orang beraktivitas. Ada yang lari, ada yang jalan cepat, ada juga yang hanya berdiri memandangi air sambil membawa kopi. Kota besar yang padat seperti Hong Kong ternyata tetap punya sudut-sudut yang memberi ruang napas.





Setelah jalan pagi, saya kembali ke hotel, sarapan, lalu bersiap ke kantor Ricoh Hong Kong.
Dan seperti yang kadang terjadi saat kita merasa “masih ada waktu”, saya malah nyaris telat.
Begitu sampai di pintu keluar hotel, Oyama-san dan asistennya ternyata sudah menunggu. Saya langsung mempercepat langkah sambil berusaha terlihat tetap tenang.
Hari itu Ricoh Hong Kong memang sengaja mengadakan Town Hall dan mengundang para karyawan untuk hadir langsung. Di luar dugaan, jumlah yang datang banyak sekali. Ruangannya terasa penuh, hidup, dan cukup berenergi.
Acara dimulai dengan perkenalan Oyama-san, asisten pribadinya, lalu saya yang ikut mendampingi. Setelah sambutan dari manajemen lokal, Oyama-san mulai memaparkan strategi bisnis Ricoh Group. Sebelum masuk ke strategi, beliau lebih dulu bercerita tentang perjalanan kariernya sampai akhirnya dipercaya menjadi CEO global.
Town Hall ditutup dengan sesi dialog bersama karyawan. Saya suka bagian ini. Presentasi memang penting, tapi justru dari pertanyaan-pertanyaan spontan biasanya kita bisa merasakan suasana organisasi yang sebenarnya.
Pagi itu juga diisi dengan meeting bersama tim Ricoh Asia Pacific Operations. Setelah meeting selesai, kami makan siang di restoran yang masih berada di gedung yang sama.
Salah seorang staf lokal duduk di sebelah saya dan otomatis berubah fungsi menjadi kurator menu dadakan. Dia memastikan saya hanya mengambil makanan yang tidak mengandung daging ataupun wine. Saya jadi berpikir, dalam perjalanan dinas seperti ini, kadang bantuan terbesar bukan hanya soal logistik besar, tapi justru orang yang dengan telaten membantu memilihkan makanan.
Setelah makan siang, kami menuju Cyberport. Tempat ini memang dikenal sebagai pusat pengembangan startup dan inovasi di Hong Kong. Ricoh Hong Kong membuka kantor kecil di fasilitas ini, sehingga lebih mudah menjalin kerja sama dengan startup-startup yang jumlahnya sangat banyak.

Saat itu dua CEO dari partner startup datang untuk mempresentasikan bisnis mereka. Anak-anak muda ini luar biasa. Usianya masih relatif muda, tapi cara bicara, cara menjelaskan model bisnis, dan cara menjawab pertanyaan terasa sangat matang.
Pengelola Cyberport juga tampak senang sekali dikunjungi oleh CEO Global Ricoh. Bahkan salah seorang board member sampai menyempatkan diri datang untuk menemui rombongan kami dan ikut mendampingi penjelasan. Kami menghabiskan sekitar dua jam di sana, tapi suasananya tidak terasa berat. Justru menarik karena diskusinya banyak berkisar pada AI, kolaborasi, dan bagaimana perusahaan besar bisa bergerak lebih lincah kalau mau membuka diri pada partner baru.
Sepulang dari Cyberport, kami langsung menuju Hong Kong bagian barat untuk makan malam. Tapi karena kami datang agak terlalu cepat, staf lokal yang menemani kami mengajak mampir dulu ke Victoria Prison.



Lokasinya berada di kawasan bekas peninggalan pemerintah Inggris semasa menguasai Hong Kong. Untuk mencapainya, kami harus berjalan menaiki cukup banyak anak tangga. Lumayan juga. Kalau siang itu saya sedang memegang kopi, mungkin sudah habis di tengah jalan.
Bangunannya sendiri masih bagus dan terawat. Kesan kolonialnya masih kuat. Dari beberapa sudut, suasananya terasa tenang. Tapi begitu ingat bahwa ini bekas penjara, tenangnya jadi terasa sedikit berbeda.
Setelah foto-foto dan berkeliling sebentar, kami lanjut ke restoran seafood Kai Sek.
Makan malam kali ini dihadiri mid-level management dan beberapa senior management. Staf lokal yang tadi mendampingi saya saat makan siang, Edward, kembali duduk di sebelah saya. Dan lagi-lagi beliau menjalankan tugas mulia sebagai kurator menu.


Walaupun temanya seafood, ternyata tetap ada beberapa menu yang menggunakan wine, daging babi, atau lemak babi. Edward dengan sabar mengecek satu per satu, lalu meminta pelayan mengganti menu jika ada yang tidak cocok untuk saya. Alhamdulillah, jadi tenang.
Makan malam itu juga ditemani tujuh botol wine dari koleksi pribadi salah satu senior management.
CEO Ricoh Hong Kong yang duduk di sebelah saya dengan rajin menjelaskan aroma dan karakter masing-masing wine sambil bercanda. Saya tentu tidak ikut minum, jadi posisi saya lebih banyak sebagai pendengar yang sopan dan sesekali manggut-manggut seperti mengerti.
Botol tertua malam itu katanya produksi tahun 1970. Ada juga champagne vintage 1988 yang disebut-sebut sebagai legendary year.
Saya tersenyum saja. Di meja itu, mungkin saya satu-satunya orang yang mendengar penjelasan wine jutaan rupiah per botol sambil minum air putih.
Tapi justru obrolan paling menarik malam itu bukan soal wine.
CEO Ricoh Hong Kong ternyata gemar membaca buku. Dari situ kami masuk ke pembahasan tentang 孫子兵法, The Art of War karya Sun Tzu. Saya membaca buku itu saat usia 20-an, tapi baru kali ini bisa mendiskusikannya dengan seseorang yang membaca versi Mandarinnya.
Jadinya menarik sekali. Rasanya bukan seperti ngobrol santai setelah makan malam, tapi seperti membedah isi buku dari sudut pandang yang berbeda.
Tanpa terasa, makan malam berlangsung sampai jam 9 malam.
Seperti tradisi Cina pada umumnya, owner chef datang ke meja kami dan beberapa kali bersulang sambil menjelaskan menu yang dihidangkan. Setelah selesai, kami kembali ke hotel.
HARI KETIGA
Hari terakhir saya tidak jalan pagi.


Setelah sarapan, saya langsung beres-beres barang karena harus check-out sebelum berangkat ke kantor. Kami meninggalkan hotel sesuai jadwal, dengan tujuan pertama gudang penyimpanan mesin dan spare part yang melayani pasar Asia Pasifik.
Saat sesi pembukaan, staf menjelaskan cukup banyak hal. Dan di situ saya baru tahu lagi dengan lebih jelas bahwa seluruh wilayah Hong Kong memang punya karakter perdagangan yang sangat unik. Barang bisa masuk dengan sangat bebas, tetapi ketika keluar menuju wilayah lain seperti Cina daratan, barulah berlaku berbagai pungutan dan ketentuan yang berbeda.
Mendengar penjelasan itu, saya langsung teringat kenapa Hong Kong sejak dulu punya posisi penting sekali sebagai hub perdagangan.
Setelah meninjau gudang pertama dan berfoto bersama staf, kami lanjut ke gudang lain yang khusus melayani pasar Hong Kong untuk berbagai produk: mesin, spare part, toner, dan consumable lainnya.
Selesai dari sana, kami langsung menuju Hong Kong Airport. Setelah check-in dan imigrasi, kami langsung masuk lounge.
Hari itu hari Jumat. Tapi karena sedang safar, sholat Jumat boleh diganti dengan dhuhur. Tadinya saya sempat ingin mencari prayer room terdekat, tetapi ternyata jaraknya sekitar 30 menit pulang-pergi. Akhirnya saya memutuskan sholat di dalam lounge saja, jamak qashar, dhuhur dan ashar.
Sekitar lima menit sebelum jam 15:00, staf khusus JAL datang menjemput kami. Kami berjalan menuju pesawat dengan pengawalan kaki, berhenti sebentar di meja pemeriksaan tiket, lalu langsung masuk pesawat. Waktu itu kabin masih kosong. Kami termasuk penumpang yang paling awal naik.
Sebelum lepas landas, seorang pramugari datang mengonfirmasi menu halal yang saya pesan. Ia juga bertanya apakah saya ingin dibukakan jalan saat tiba di Haneda supaya saya dan asisten Oyama-san bisa turun bersama Oyama-san.
Saya menolak dengan halus dan bilang kami turun seperti penumpang biasa saja.
Entah kenapa, setelah tiga hari ikut rombongan VIP, rasanya tetap lebih nyaman kembali ke mode normal.
Penerbangan tiba sekitar lima menit lebih lambat dari jadwal semula.
Setelah turun, kami saling mengucapkan otsukaresama deshita sebelum berpisah. Oyama-san keluar melalui jalur khusus dan langsung dijemput sopir.
Saya sendiri menunggu sekitar 10 menit sampai bus menuju Chiba datang.
Sembilan puluh menit kemudian, saya sudah duduk santai di sofa rumah.
Dan seperti biasa, setelah perjalanan dinas yang padat, ada rasa lega yang sederhana tapi menyenangkan: akhirnya pulang juga.