Saya bangun jam 4 subuh. Istri sudah bangun sekitar setengah jam sebelumnya dan menyiapkan sarapan—atau lebih tepatnya, suasananya seperti sahur.
Setelah mandi, wudhu, dan cek barang bawaan + dokumen sekali lagi, saya pamit ke si anang dan istri. Si teteh dan dedek masih tidur di kamar masing-masing di lantai atas.
Di luar masih gelap. Subuh jam 05:40, sementara jam baru menunjukkan 4:50. Saya langsung berangkat ke stasiun, agak buru-buru tapi masih pakai mode “jangan berisik, orang rumah masih pada tidur”.
Saya naik kereta yang datang dua menit kemudian.
—-
Sesampainya di Terminal 3, saya langsung ke counter check-in. Di sana saya ketemu Harashima-san, personal assistant CEO Global Ricoh, Oyama-san. Beliau biasanya mendampingi Oyama-san kalau ada perjalanan dinas ke luar negeri. Umurnya kira-kira seumuran saya, dan pernah punya pengalaman kerja di Singapura dan UK.
Kami check-in bareng, lalu Harashima-san minta ke staf supaya kami berdua dapat akses ke lounge First Class karena sama-sama mendampingi Oyama-san. Perjalanan ini memang agak beda, karena saya akan ikut mendampingi Oyama-san untuk kunjungan ke Korea Selatan dan Hong Kong.
Setelah selesai check-in, saya persilakan Harashima-san masuk duluan karena saya mau sholat subuh dulu.
Prayer room ada di lantai 3, lantai yang sama. Saya selesai sholat pas matahari tinggal sebentar lagi terbit. Di musim dingin, subuh memang lebih “panjang”—sekitar jam 5:40, matahari terbit sekitar 6:30-an.
Setelah itu saya masuk area keberangkatan, lewat security, lalu auto gate (lumayan, paspor jadi nggak cepat penuh stempel). Karena boarding sudah mepet, rencana ke lounge batal. Saya langsung ke gate.
Menjelang jam 08:00, Oyama-san datang didampingi staf JAL. Sebagai CEO Global dengan jam terbang tinggi, status keanggotaannya adalah berada di level puncak. Dan memang kelihatan, JAL menyiapkan satu staf khusus yang membantu bawa tas, buka jalan, dan memastikan semuanya lancar.
Saya menyapa beliau, lalu kami bareng menuju gate 111. Saya ikut masuk tanpa antri. Boarding berjalan hampir persis sesuai rencana.
HARI PERTAMA
Alhamdulillah penerbangan lancar. Haneda ke Gimpo sekitar dua jam. Jam 10:30 kami mendarat. Angin dingin menerpa wajah, suhu -4 derajat celcius.
Asisten CEO Ricoh Korea sudah menunggu di pintu keluar, kami langsung naik mobil. Mobil VIP merek KIA ini bentuknya unik—mirip Alphard, tapi bagian atasnya seperti ada tambahan “kotak” memanjang. Belakangan saya baru tahu fungsinya untuk menambah tinggi kabin, jadi interior terasa lebih lega, plus ada efek pencahayaan yang bikin terang tapi nggak silau.
Perjalanan ke hotel sekitar 1,5 jam lebih karena macet. Di Seoul, macet—apalagi area Gangnam—memang seperti paket lengkap.



Kami menginap di Novotel Ambassador, di jalan Bogeun, distrik Gangnam. Ini Gangnam yang dulu sempat viral karena “Gangnam Style”, tapi sekarang yang saya rasakan ya… lampu merah dan antrian mobil.
Setelah check-in, kami menuju kantor Ricoh Korea yang jaraknya hanya beberapa ratus meter.


Di kantor, CEO Ricoh Korea sudah menunggu. Saya akhirnya bertemu langsung dengan salah satu team member saya: Direktur HR Ricoh Korea. Selama ini kami rutin ketemu di meeting virtual mingguan bareng semua Direktur HR APAC, tapi baru kali ini tatap muka.
Makan siang di restoran dekat kantor, lalu balik lagi untuk sesi dengan Senior Management (Direktur dan GM). Mereka memperkenalkan diri, menjelaskan target bisnis, tantangan, dan strategi. Semua dibahas—printing, digital solution, sampai supporting function seperti HR, finance, marketing.
Oyama-san banyak bertanya soal bisnis dan manajemen. Saya ikut masuk dari sisi HR: HRIS, pengembangan talenta, employer branding, dan hal-hal yang biasanya jadi “fondasi” tapi sering nggak kelihatan.
Satu hal yang terasa jelas: meski perusahaan sedang transformasi dari copy/printing ke digital solution, di APAC brand perception Ricoh masih kuat sebagai “copy machine company”. Jadi pekerjaan rumahnya bukan cuma transformasi internal, tapi juga soal persepsi pasar.
Setelah sesi Senior Management, lanjut sesi dengan level 2 (middle management). Kalau senior management cenderung lebih hati-hati, level 2 ini lebih hidup—lebih banyak energi, lebih terbuka, dan lebih berani bicara.
Malamnya kami makan di restoran seafood yang katanya terkenal dengan kepiting. Menurut CEO Ricoh Korea, pemilihan seafood ini juga supaya aman buat saya yang punya restriksi diet (hanya makan halal).


Dan memang enak: kepiting besar dimarinasi saus kecap asin, gurih.
Aturan “kurangi karbo malam-malam”… gagal 😅
Jam 19:30 kami sudah kembali ke hotel. Untuk jadwal dinas, ini termasuk cepat.
HARI KEDUA
Pagi hari, langit masih gelap walaupun sudah jam 6.
Hari ini agenda saya agak beda. Oyama-san akan mengunjungi salah satu customer besar, sementara saya minta supaya diatur sesi 1:1 dengan manajemen senior dan team HR.


Biasanya kalau dinas ke luar Jepang, saya suka jalan pagi sekitar hotel sambil foto-foto Pen-chan (boneka mini penguin milik si bungsu). Tapi pagi ini saya batal. Suhu -14 derajat. Anginnya menusuk. Jalan sebentar saja sudah cukup untuk sadar diri.
Saya mulai sesi 1:1 dari team HR, lalu lanjut Direktur Marketing, Sales, dan Services. Direktur Services terlalu semangat sampai “makan” jatah waktu Direktur Finance, jadi jadwal agak ketarik. Tapi kami harus selesai karena setelah itu harus pindah ke perusahaan satunya lagi.

Saya naik mobil Direktur HR ke kantor anak perusahaan. Setelah beberapa saat, Oyama-san dan asisten datang, lalu kami meeting dengan dua Wakil Direktur yang menjalankan bisnis layanan IT di Korea Selatan.

Diskusinya menarik, terutama soal kondisi digital solution termasuk yang terkait AI.
Malamnya kami makan bersama middle management Ricoh Korea. Oyama-san tampak menikmati dialog dengan mereka, rata-rata usia 40-an. Di Korea, karena wajib militer, banyak yang baru mulai kerja mendekati usia 30, jadi wajar kalau jenjang manajemennya terasa “lebih senior” dari sisi usia dibanding beberapa negara lain.
Karena menu utama malam itu BBQ (dan dagingnya tidak halal), saya memesan menu khusus untuk saya.

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel. Saya menaruh barang lalu keluar untuk belanja oleh-oleh pesanan anak-anak. Untungnya hotel terletak di dekat sekali dengan pusat perbelanjaan.



Saya mandi, lalu bereskan barang bawaan untuk persiapan besok pagi.
HARI KETIGA
Hari ketiga ini lebih cepat. Kami harus mengejar pesawat jam 10, jadi berangkat dari hotel jam 6:30. Padahal subuh jam 6:40-an, jadi begitu sampai bandara Incheon, setelah check-in saya langsung cari prayer room untuk sholat subuh. Lalu menuju lantai dua untuk sarapan Bibimbap halal di food court.




Setelah itu saya sempat beli caffe latte di kiosk kopi, duduk sebentar, lalu boarding sesuai jadwal jam 10:00.
Pesawat mendarat jam 13:00 waktu setempat, Hong Kong satu jam lebih lambat dibanding Seoul.
Dan selesai sudah tiga hari di Seoul—padat, banyak meeting, banyak diskusi, tapi juga banyak hal kecil yang bikin perjalanan terasa “hidup”.