Nihao – Biz Trip Ke Taiwan

Berangkat subuh selalu punya sensasi sendiri. Jam 05:30 saya sudah harus keluar rumah, tapi sebelum itu saya harus membangunkan anak-anak—sekadar pamit dan mengingatkan mereka untuk salat Subuh. Ada momen-momen kecil seperti ini yang selalu membuat saya sadar bahwa perjalanan dinas, sepadat apa pun, tetap tidak lebih penting dari rutinitas pagi di rumah.

Menuju Haneda dan Drama Kecil di Gate

Perjalanan ke Terminal 2 Haneda berjalan lancar, tiba sekitar pukul 07:30. Antrian di mesin check-in seperti biasa panjang, tapi saya sudah paham bahwa paspor saya hampir pasti gagal check-in di mesin. Tanpa membuang waktu, saya langsung menuju counter.

Pukul 08:20 saya sudah duduk manis di gate 68 dan sempat membuka laptop untuk cek beberapa pekerjaan. Namun drama kecil muncul saat boarding. Dua obasan menyerobot antrian tepat di depan saya—bukan niat buruk, hanya salah paham karena antrian membentuk lengkungan. Karena hanya saya di belakang mereka, saya diamkan. Tapi ketika dua orang lagi ikut mengantri di belakang mereka, saya jelaskan pelan-pelan alurnya. Pada akhirnya saya persilakan mereka tetap di depan saya. Mereka bepergian rombongan, ramai khas emak-emak, rame dan riuh.

Pesawat berangkat tepat waktu. Menjelang mendarat, cabin attendant mengumumkan larangan mengambil foto dari udara selama berada di atas Taiwan. Ini pertama kalinya saya mendengar aturan seperti itu—dan saya sudah mengunjungi 17 negara sebelumnya. Mungkin karena sensitivitas fasilitas militer di sana.

Tiba di Taipei: Angin Kencang dan Urusan Urgent

Bandara Songshan berada tepat di tengah kota. Dari udara, perumahan dan gedung-gedung terlihat sangat dekat—mengingatkan saya pada bandara lama Kowloon di Hong Kong. Angin cukup kencang, pesawat sempat beberapa kali berayun.

Begitu ponsel saya menyala, masuk beberapa pesan WhatsApp dari tim Hong Kong, Direktur HR Ricoh Hong Kong. Rupanya ada masalah cukup urgent dengan sistem HR Asia Pasifik. Setiba di hotel, sebelum punya kesempatan check-in, saya titip koper di concierge, duduk di lobi, buka laptop, dan langsung menghubungi IT Manager di Malaysia. Hampir dua jam saya habiskan untuk memastikan masalahnya bisa diisolasi dan aman.

Pas check-in baru tahu kalau Taiwan memberlakukan kebijakan seperti Hong Kong, melarang hotel menyediakan amenity seperti sikat gigi, shaving kit, dan shower kit. Akhirnya saya menuju Family Mart di seberang hotel untuk berbelanja. Menariknya di Family Mart, ada banyak produk buatan Indonesia sepertti snack halal dan juga ada produk Mandom.

Sore hari, Direktur HR Ricoh Taiwan menjemput saya. Kami makan malam bersama Managing Director Ricoh Taiwan dan beliau. Awalnya mereka ingin membawa saya ke restoran Indonesia, tapi karena saya minta seafood, mereka mengganti rencana ke restoran Jepang. Kami mengobrol banyak tentang situasi bisnis di Taiwan—pembuka yang baik untuk rangkaian agenda besok.

HARI PERTAMA

Saya terbangun lebih cepat dari alarm: jam 04:30, padahal Subuh baru 05:05. Setelah salat, saya berjalan pagi menyusuri area sekitar hotel menuju pasar malam Raohe yang masih sepi. Di sana berdiri kuil Ciyou yang megah dan penuh warna—kontras tapi menarik.

Sarapan di lantai 17 terasa menyenangkan, ditemani jus buah dan cappuccino. Pukul 08:45 saya turun ke lobi. Direktur HR menjemput saya, dan kami menuju kantor yang berada di lantai 12 gedung yang sama dengan hotel.

Hari itu saya menjalani office tour oleh Managing Director, lalu maraton meeting dengan para direktur dan beberapa General Manager. Masing-masing sesi 50 menit. Mereka bercerita tentang ruang lingkup pekerjaan, perjalanan karier, dan bagaimana mereka mengembangkan talent di tim masing-masing. Beberapa terlihat sangat gugup. Saya perlambat kecepatan bicara saya, dan saya tekankan bahwa saya juga bukan native English speaker. Setelah itu biasanya mereka lebih tenang. Sebagian lainnya justru sangat fasih, lulusan universitas di luar negeri.

Malamnya, kami makan bersama jajaran direksi. Mereka mengecek dengan teliti menu makanan, memastikan tidak mengandung daging. Bahkan nasi goreng yang katanya “plain” pun mereka cicip dulu untuk memastikan aman sebelum mempersilakan saya makan. Saya cukup terharu. Ada jenis keramahan yang tidak perlu banyak kata, tapi terasa dalam.

HARI KEDUA

Hari kedua dimulai dengan kesalahan klasik: alarm tidak berbunyi. Saya bangun kesiangan. Setelah sarapan, saya bergegas menyiapkan barang untuk check-out. Pukul 08:30 Direktur HR Taiwan menelpon menanyakan apakah saya baik-baik saja. Saya agak bingung, sampai akhirnya beliau menjelaskan bahwa meeting hari itu mulai pukul 08:30—bukan 09:00 seperti yang saya pahami. Saya meminta maaf dan meminta reschedule ke jam 09:00.

Sesi hari ini fokus pada 1:1 meeting dengan para Manager dan tim HR. Beberapa manajer terlihat gugup saat berbicara dalam bahasa Inggris. Saya ulang lagi pesan yang sama: saya juga bukan native speaker, jadi tidak perlu tegang. Ini membuat suasana mencair.

Para manajer yang bertemu dengan saya adalah mereka yang bekerja di kantor pusat Taipei. Empat manajer dari kantor cabang tidak hadir karena lokasi yang cukup jauh—dari Kaohsiung di selatan sampai Taichung dan Tainan.

Sesi dilanjutkan dengan pertemuan bersama manajer sales, service, dan Production Printing. Lalu makan siang bersama tim HR di restoran seafood terdekat. Sore harinya, tim HR menyampaikan program kerja dan inisiatif mereka. Energi mereka terasa tulus dan semangat. Saya berikan banyak apresiasi—yang memang layak mereka terima.

Menjelang akhir, Managing Director dan Direktur HR kembali masuk untuk sesi wrap-up. Dari MD saya baru tahu bahwa beberapa manajer sebenarnya gugup karena belum pernah berinteraksi dengan manajemen regional. Tapi mereka bersyukur karena gaya komunikasi saya tidak mengintimidasi—bahkan kata MD, “mungkin terlalu sok akrab,” tapi itu membuat para manajer lebih nyaman. Saya tertawa mendengarnya.

Sebelum bertolak menuju Manila, Filipna, kami berfoto bersama. Setelah berpamitan dengan Direktur dan para Manager, saya menuju bandara.

Pesawat EVA Air yang saya naiki delay satu jam karena alasan operasional. Pertama kali naik EVA dan pengalaman perdana ini tidak terlalu menyenangkan. Pesawat mendarat sekitar jam 12 malam di bandara Ninoy Aquino, Manila.