Penerbangan saya mendarat hampir tengah malam di Bandara Ninoy Aquino. Jadwal aslinya 22:50, tapi pesawat terlambat lebih dari satu jam. Saat keluar dari arrival hall, saya mulai mencari sopir jemputan dari hotel, tetapi tak menemukan siapa pun. Rupanya karena keterlambatan pesawat, sopir itu menunggu di area parkir, bukan di pintu kedatangan. Barangkali ia khawatir saya sudah ke hotel.
Saya beranjak ke pintu VIP tempat jemputan hotel biasa menunggu. Seorang petugas security menghampiri saya, mungkin melihat wajah saya yang mulai bingung. HP saya hanya bisa data, tidak bisa menelepon, jadi saya meminjam bantuan beliau untuk menghubungi sopir. Lima menit, sepuluh menit, hingga akhirnya mobil datang tiga puluh menit kemudian.
Saya ucapkan terima kasih dan menyelipkan seratus peso ke tangan beliau—sekadar tanda terima kasih karena sudah memakai pulsa pribadinya untuk membantu orang asing seperti saya yang baru mendarat tengah malam.
Saya tiba di hotel sekitar jam 01:30. Badan sudah terlalu lelah untuk berpikir panjang. Hanya sempat mandi, ganti baju, dan langsung tertidur. Pagi harinya saya baru tersadar bahwa Manager hotel menaroh makanan ringan mirip seperti putu beserta tulisan tangan beliau mengucapkan selamat datang di hotel mereka.



Hari Pertama
Saya bangun kesiangan. Jam sudah lewat 06:30 dan langit Manila sudah terang benderang. Setelah sholat Subuh, saya turun ke lantai Ground untuk sarapan. Pilihannya cukup banyak, tapi sebagian tidak bisa saya konsumsi karena menggunakan bahan daging, akhirnya saya memilih menu ikan kering, telur omlet, sedikit salad, ikan goreng, dan sayuran berbumbu.

Pilihan kue cukup banyak dan banyak menggunakan bahan yang ada di Indonesia seperti singkong, labu, dan beras ketan.

Jam 08:25 telepon kamar berdering. Staf hotel memberi tahu bahwa sopir sudah menunggu untuk mengantar saya ke kantor Ricoh Filipina. Perjalanan sekitar 40 menit. Suasana Manila sepanjang jalan terasa seperti pulang kampung ke Indonesia—toko sari-sari, warung kecil, kesibukan pagi, kendaraan yang saling menyalip.

Di kantor Ricoh Filipina, Direktur HR menyambut saya di pintu masuk. Di dalam, Managing Director (MD) menunggu dan langsung mengajak saya office tour. Mereka dengan bangga memperlihatkan kantor baru yang menempati lantai 1 dan 2. Bagian depan kantor ditata rapi dengan beberapa MFP unggulan Ricoh. Di belakang kantor ada warehouse yang cukup besar, lengkap dengan pusat service dan gudang spareparts. Di beberapa sudut, pekerja masih lalu-lalang melakukan renovasi.

Di lobi utama mereka memasang foto saya besar-besar di layar, jadi risih juga melihat foto sendiri di tempat umum.

Sebelum ke ruang kerjanya, MD memperkenalkan saya ke graphic designer mereka. Di salah satu dinding ada mural besar bergambar Philippine eagle, burung elang pemakan monyet yang menjadi kebanggaan Filipina. Di ujung kiri dinding terlihat ilustrasi karabao, atau kerbau dalam bahasa kita—ikon lokal yang membuat ruangan terasa hidup.

Meeting dimulai. Tiga puluh menit pertama dengan MD, membahas kondisi bisnis di Filipina secara umum dan visinya yang penuh energi untuk masa depan. Setelah itu Direktur HR mempersilahkan saya menuju ke ruangan meeting di lantai 1. Meeting bergantian dengan direktur Customer Service, Finance & Accounting, Sales & SCM, dan terakhir HR beserta timnya. Saya menyampaikan mid-term strategy HR untuk APAC dan berdialog dengan tim HR Filipina.
Hari pertama ditutup dengan makan malam bersama direktur Finance yang mengantar dengan mobilnya. Dengan baik hati mereka memilih restoran di hotel tempat saya menginap, mempertimbangkan kemacetan Manila yang mirip Jakarta. Setelah selesai, saya langsung kembali ke kamar untuk istirahat, sementara mereka masih harus menempuh perjalanan satu jam menuju rumah masing-masing.
Hari Kedua
Alarm berbunyi dua kali sampai akhirnya saya benar-benar terbangun. Sarapan sebentar, kemudian kembali ke kamar untuk mempersiapkan barang. Hari ini saya harus check-out karena ini hari terakhir saya di Manila.
Menjelang jam delapan saya turun ke front office untuk check-out dan mengonfirmasi ulang transportasi ke kantor. Sopir yang sama seperti kemarin sudah menunggu. Begitu duduk di mobil saya langsung membuka laptop dan tethering ke HP. Sepanjang perjalanan saya mengikuti rapat bulanan, yang selesai tepat sebelum mobil memasuki area kantor Ricoh Filipina.
Setiba di kantor, saya kembali ke ruangan yang sudah disiapkan. Setengah jam kemudian rapat dwi-mingguan dimulai. Waktu saya sangat terbatas—hanya sempat 30 menit memeriksa email dan menindaklanjuti insiden IT di Hong Kong sebelum meeting berikutnya dimulai.
Hari ini saya dijadwalkan bertemu dua manajer: Finance dan SCM. Di sela-sela itu ada sesi wawancara kandidat untuk posisi Compensation & Benefit Manager yang sedang direkrut. Setelah itu, sekitar jam 15:00, semua meeting selesai. Direktur HR mengajak saya ke lantai dua untuk menyapa para peserta training sales.
Saya memberikan beberapa pesan sederhana—agar mereka mengikuti training dengan sungguh-sungguh dan menyerap semua ilmu dari instrukturnya. Kami berfoto bersama sebelum saya berpamitan.
Jam 15:30 saya sudah berada di mobil menuju bandara Ninoy Aquino. Proses check-in sangat lancar; antriannya hampir tidak ada karena mereka membuka lebih dari 40 counter. Jam 17:30 saya sudah duduk di lounge, tersambung dalam meeting bersama tim L&D Malaysia dan CEO Ricoh Global Service di Munich. Rapat selesai sesuai jadwal, dan barulah saya bisa menarik napas lega sambil menyeruput caffe latte.
Jam 21:00 pesawat Philippines Airlines PR535 lepas landas meninggalkan Manila menuju Jakarta.