Saya akhirnya melakukan perjalanan ke Munchen (Munich), Jerman yang menjadi kunjungan pertama saya ke daratan Eropa (sebelumnya saya pernah ke Turki pada 2017, tapi rasa ke-Eropa-annya berbeda). Rasa antusias dan sedikit gugup bercampur menjadi satu.

Hari 1: Kedatangan dan Kesan Pertama
Setelah mendarat di Flughafen Munchen (Munich Airport), saya keluar dari terminal dan sedikit bingung menentukan ke mana harus menuju selanjutnya. Namun akhirnya saya menuju ke konter tiket yang tersedia, membeli tiket kereta pulang-pergi dari bandara ke stasiun pusat kota (Munchen Hauptbahnhof) menggunakan kereta S-Bahn. Bahasa Inggris stafnya kental dengan aksen Jerman, agak susah dimengerti.
Saya memutuskan untuk naik kereta S-Bahn dari bandara ke pusat kota. Ini karena menurut panduan, kereta S1 dan S8 menghubungkan bandara ke pusat kota dengan interval cukup sering.

Selama perjalanan kereta melalui jalur dengan pemandangan pinggiran Munchen: area suburb, ladang-tanaman, suasana yang berbeda dari yang saya bayangkan untuk “kota besar Eropa”.
Di perjalanan saya terus mengamati display di dalam kereta agar tidak terlewat turun di Munchen Hauptbahnhof.
Setibanya di stasiun, saya menarik koper, berjalan keluar stasiun. Ada beberapa tangga pendek — kalau cuma ransel bukan masalah besar, tapi dengan koper ~20 kg terasa memberatkan. Untungnya saat itu musim gugur, cuaca cukup dingin dan saya tidak banyak keringat.
Sesampainya di hotel Motel One Munchen Center saya melakukan check-in. Setelah menaruh barang di kamar, Saya kemudian keluar hotel menjelajah pusat kota Munchen secara singkat. Hari masih aore dan kebetulan hari Minggu, banyak toko tutup. Saya mencoba cari tempat makan vegetarian atau halal tapi akhirnya menyerah dan membeli beberapa snack vegetarian saja. Untung saya membawa cup noodle halal dari Jepang sebagai backup, makan malam dengan mie instan.
Kesan saya, meskipun Munchen atau dikenal juga dengan nama Munich, adalah kota besar, saya merasa bahwa skala dan suasananya tidak se-“padat” atau “megah” seperti Tokyo di Jepang, shopping center pun terasa lebih kecil dibandingkan di Tokyo.

Hari 2: Memulai Agenda Bisnis
Pagi hari kedua, saya bangun saat suasana masih gelap di luar. Setelah sholat subuh, saya berjalan kaki melemaskan otot-otot kaki yang masih pegal setelah naik pesawat 14 jam di hari sebelumnya. Sehabia itu pulang kerja hotel untuk menikmati sarapan pagi di lobi. Tidak ada nasi, apalagi miso soup. Hanya ada roti keras, pretzel, smoked salmon, telor, cereal, dan sayuran. Untungnya semua makanan diberi daftar bahan baku dan tanda vegetarian kalau tidak mengandung daging dan dairy. Saya memilih roti vegetarian, ikan panggang, salmon, dan salad. Caffe Lattenya lumayan enak karena menggunakan machine yang menggiling biji kopi saat kita sudah menetapkan pilihan.

Setelah bersiap, saya meraih tas kerja dan serenteng oleh-oleh, Tokyo Banana, dan menuju ke kantor Global HR TDK Corporation di Rosenheimer Straße, hanya 2 menit jalan kaki dari hotel. Saya datang agak cepat, hanya ada beberapa karyawan, salah seorang mengenali saya karena memang kami sudah sering bertemu di rapat mingguan virtual.
Sebagai HR Assistant Manager untuk Organisasi Global Sales & Marketing di TDK Corporation, saya diperkenalkan dengan kolega di team Eropa: rekan dari Milano (Italia) Direktur HRD TDK Italia, seorang lagi Data Scientist dari Dusseldorf (Jerman), mereka datang ke Munich hanya untuk menemui saya secara fisik. Suasana meeting kasual dan ramah, menarik melihat dinamika tim global. Anggota team lainnya menetap dan bekerja di Munich, tapi kebangsaan mereka sangat beragam, mulai Spanyol, Italia, Yunani, Jepang, dan Jerman.
Agenda hari ini termasuk overview tentang sistem manajemen talenta (Talent Management System / TMS) yang akan saya ambil alih sebagai global admin untuk Sales & Marketing. Banyak materi teknis dan strategis yang disampaikan.
Hari itu ditutup dengan acara makan malam di restoran Turki. Mereka sengaja memilih restoran ini karena mereka tahu bahwa saya muslim dan tidak makan daging kecuali yang halal. Alhamdulillah.

Hari 3: Mendalami Sistem TMS
Hari ketiga fokus pada sesi mendalam bersama tim TMS: bagaimana struktur sistem, bagaimana integrasi global Sales & Marketing, apa data yang saya perlu kuasai, dan bagaimana peran saya sebagai administrator global akan berjalan. Saya merasa mulai memahami besarnya tanggung-jawab saya karena organisasi Sales & Marketing TDK bertanggung jawab atas porsi penjualan global yang besar. Rekan dari Italia
Meski padat, saya masih sempat jalan-jalan ke pusat kota Munich, sendirian menyusuri jalan dengan menaiki tram. Berkeliling di supermarket yang tutup di hari ahad kemaren.


Hari 4: Strategy HR
Pagi hari keempat saya menghadiri meeting tertutup bersama Keller-san (CHRO & Head of Global HR) yang menjelaskan strategi HR jangka pendek dan jangka panjang. Pertemuan ini memperjelas posisi saya: bukan sekadar admin sistem, tapi bertanggung jawab agar fungsi HR & TMS mendukung performa dari organisasi Sales & Marketing TDK di seluruh dunia.
Saat makan siang, Manager mengajak saya ke tempat yang menarik, restoran Jepang! Akhirnya setelah 4 hari bertemu lagi dengan nasi putih dan sashimi, alhamdulillah.

Hari 5: Bertolak Kembali Ke Tokyo
Kemudian sekitar jam 9 pagi saya menuju bandara bersama manajer saya, Umino-san (orang Jepang yang berdomisili di Munchen). Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan bimbingannya. Setelah berbelanja oleh-oleh di toko Bayern Munchen di bandara, saya menuju gate keberangkatan,
Dengan sedikit perasaan puas dan siap kembali ke Jepang, saya naik penerbangan pulang ke Tokyo.

Refleksi & Beberapa Catatan
・Sistem kereta di Munchen sangat efisien: dari bandara ke pusat kota dengan kereta S-Bahn (lines S1 atau S8) hanya sekitar 40 menit.
・Tiket harus dibeli sebelum naik. Masuk ke stasiun bebas, namun jika naik kereta tanpa bayar bisa didenda berat. Saya merasakan keunikan dari sistem kepercayaan + kontrol cek acak yang ada di sana.
・Musim gugur di Munchen sangat menyenangkan: dingin cukup agar nyaman bagi saya yang tinggal di Jepang, dan lanskap ladang & suburb yang dilalui kereta sangat berbeda dari yang saya bayangkan untuk Eropa modern.
・Hari Minggu banyak toko tutup: sebagai wisatawan atau traveller bisnis, perlu disiapkan makanan alternatif (seperti saya yang bawa snack halal).
・Hotel Motel One sebagai pilihan bisnis memberikan kenyamanan dasar: lokasi dekat pusat, sarapan dengan roti saja (bagi saya yang terbiasa nasi, ini menjadi catatan kecil!).