Tag Archive for tokyo

Tokyo Beres!

Akhirnya rangkaian acara 新卒採用活動会社説明会 (semacam open house perusahaan untuk memperkenalkan perusahaan kepada calon2 sarjana untuk direkrut menjadi pegawai) di kantor Mandom Tokyo selesai. Total kegiatan selama 5 hari dari tanggal 23 s/d 27 Februari dihadiri lebih dari 700 orang peserta yang berdatangan dari universitas2 di Tokyo dan sekitarnya. Selama memeriksa hasil ujian tahap pertama peserta beberapa saya lihat berasal dari 東京大学 (Tokyo University), 日本大学 (University of Japan), 早稲田大学 (Waseda University), 慶応大学 (Keio University), yang menunjukkan bahwa di mata mahasiswa2 Jepang nama Mandom sudah cukup memiliki pamor untuk dipilih oleh calon2 sarjana dari universitas2 ternama itu. Fenomena ini ditunjang oleh kenyataan bahwa tahun ini ada banyak perusahaan2 besar yang justru gulung tikar atau minimal merumahkan karyawan2 mereka dan merekrut setengah dari jumlah tahunan, atau malah ada perusahaan yg sama sekali tidak melakukan rekrut sama sekali. Yang jelas, keadaan ini cukup menguntungkan bagi perusahaan2 yg keadaan ekonominya tidak terlalu goyah seperti Mandom.

Hidup 5 hari di hotel cukup melelahkan karena ruangan hotel yang tentu saja tidak seluas rumah sendiri dan ditambah dengan keadaan asing di sekitar kamar. Bangun pagi, makan pagi, berangkat ke kantor, lalu pulang lagi ke hotel. Untungnya di beberapa kesempatan saya bisa makan malam bersama teman2 seangkatan di kantor atau kenalan2 orang Indonesia di Tokyo. Hari pertama saya makan malam bertiga dengan teman satu angkatan yang salah satunya adalah putra big boss Mandom. Kami ngobrol cukup lama membahas kondisi kerja masing2, dan karena Ken juga sudah berumur cukup dewasa dan sudah berkeluarga maka obrolan lebih nyambung dibanding kalau bersama teman2 angkatan lain yg rata2 usianya 8 atau 9 sembilan tahun lebih muda. Ken hanya berusia sekitar 5 tahun lebih muda dari saya.

Malam kedua dinner ditraktir oleh pak Firman Wibowo, General Manager BNI cabang Tokyo yang dengan sangat baik hati menjemput bersama stafnya pak Wahyu ke stasiun Tokyo. Tadinya maksud saya mengajak makan malam itu hanya untuk sekedar bertukar kata karena sudah sekitar 6 bulan tidak bertemu beliau, dan sepemahaman saya seharusnya bayar masing-masing sesuai kebiasaan di Jepang, tapi pak Firman menyodorkan kartu kredit ke pelayan ketika akan membayar sehingga otomatis saya tidak bisa ikut urunan, padahal harga menu set di restoran Gonpachi itu cukup wah, bahkan bagi orang Jepang sekalipun. Restoran yang semakin terkenal setelah dipakai shooting film Kill Bill itu sangat ramai malam itu, kebanyakan tamunya adalah orang asing. Sambil menikmati masakan yg dikeluarkan secara bertahap, pak Firman bercerita tentang kampung BNI yang berhasil beliau bina selama masih di Indonesia. Kang Didi, sang ikon, kesuksesan di sebuah kampung di Cijambe Subang Jawa Barat itu konon hanya peternak ayam kecil2an yg kemudian menjejak tangga keberhasilan hingga akhirnya menjadi milyarder setelah mendapat tawaran untuk mensuplai sapi bunting ke Danone secara berkala. BNI-lah yang berdiri di belakang layar dengan menyokong dana dan memberi bimbingan manajemen sehingga seorang kang Didi bisa mengecap manisnya hasil usaha. Kesuksesan beliau dalam usaha kecil dan menengah inilah rupanya yg sangat memotivasi beliau untuk ikut aktif dalam pembinaan kenshusei2/trainee2 Indonesia di Jepang untuk mencetak pengusaha2 baru di tanah air. Beliau mempunyai visi yang sangat jelas dan tersusun sehingga sangat menarik untuk didengarkan.

Sebenarnya pada acara makan malam itu saya mengundang seorang wartawan Jawa Pos yg kebetulan berkunjung ke Tokyo untuk saya perkenalkan sepak terjang pak Firman di Jepang ini, tapi sayang sekali pak Ridwan, sang wartawan, molor jadwal kedatangannya sehingga tidak sempat datang.

Malam ketiga, makan malam rencanany hanya bertiga dengan asisten manajer, dan senior saya di HRD. Tapi kebetulan Manajer HRD datang ke Tokyo maka akhirnya kami berempat bersantap di sebuah 居酒屋 (semacam lapak tuak yg juga menghidangkan makan malam). Malam cukup larut ketika kami kembali ke hotel.

Hari terakhir, hujan disertai salju turun sejak pagi tapi ternyata jumlah peserta tidak berkurang. Seorang peserta dari Yamanashi datang terlambat karena bis yg ditumpanginya terhalang hujan salju yg rupanya cukup lebat. Untunglah kegiatan berlangsung dengan lancar sehingga beres pada jam normal. Saya bersama asisten manajer, Kawata-san, dengan buru2 menuju stasiun Tokyo untuk menunggu shinkansen yang berangkat jam 18:30 sore.

Jam sudah menunjukkan lebih dari angka sepuluh di malam hari ketika saya tiba di Itami. Alhamdulillah Tokyo beres!

Tokyo

I left home at 3 o’clock, our son Adnan cried and seemed not willing to let me go. I gave a kiss both to Aisha and Adnan, and of course my beloved wife, Dewi, and closed the door. I still could hear Adnan’s screaming from outside of the house when stepped out.

It took about an hour to reach Shin Osaka station and fortunately I still could catch shinkansen Nozomi No.32 at exactly 4:00 PM. The seat next to me was empty and some others are too. This weekend is not so crowded because no special events in february or march. I am sure shinkansen will not be this way on april or may in the golden week.

The bullet train took a brief stop at Kyoto, Nagoya, Shin Yokohama, Shinagawa before I stepped out of the train at 6:33 PM. Typical Japan, exactly on time! Very comfortable short trip.

This is my first Tokyo in 2009, the last time I came was 8 years ago, 2001 december when I paid a visit to a friend, Heri Kusendang and Yayat (where are you guys?). I remembered nothing about this most crowded city in Japan except the humid air and many foreigner faces even to compare to Kobe or Osaka.

Some India-looks-faces-people carefully watch my faces when I sat in bar counter in a family restaurant next to hotel I stay. They probably examine whether I am an India or not and finally conclude “I am not” because they quickly move out of the restaurant without saying any words. I  ordered a crab casserole (they say 蟹ドリア=”kani doria” in japanese) after confirmed that they don’t put any meats inside the meal. The staff seems to get used to foreigners’ special order which refrain from eating some ingridients although they probably do not understand why. I was once asked by a japanese colleague at work, “why don’t you eat pork? Is it because you treat pig as a holy animal?” I just smiled at that time and explained that we don’t consume pork because it is one of Islam’s rule. The reasons are still God’s secrets, but we do believe that there must be some reasons if it is forbidden to consume the meats.

I finished my dinner and stopped by Lawson’s buying coffee & milk for tomorrow, a morning without Dewi’s made coffe.

Tomorrow is company’s open house for this year’s recruitment. I hope we can get best candidates to work for Mandom Corporation and continue the tradition of our company.