Tag Archive for PWEP

PWEP Osaka 2010 Bersama Pak Rhenald Kasali

PWEP di penghujung tahun ini seyogyanya merupakan perhelatan akbar karena mengundang pembicara sekelas pak Rhenald Kasali dan timnya dari RKSE (Rhenald Kasali School of Enterpreneur). Sayang sekali karena kurangnya kordinasi di antara penyelenggara yaitu WGTT, Garuda Indonesia, KJRI, dan PPI Kobe, maka acara inti tanggal 27 November 2010 itu hanya dihadiri sekitar 80-an orang dengan komposisi kenshusei yang kurang dari 50-an orang. Padahal untuk acara serupa di akhir tahun yang lalu di Kyoto, peserta melebihi angka 200-an orang dengan komposisi mayoritas kenshusei. Faktor promosi juga tampaknya merupakan kelemahan terbesar pada acara PWEP kali ini. Teman2 kenshusei, saya yakin masih banyak yang belum kenal dengan sepak terjang pak Rhenald di tanah air, sehingga seharusnya perlu dilakukan promosi secara aktif untuk ‘menjual’ pak Rhenald. Selain itu, diadakannya acara diskusi di wisma KJRI pada malam sebelumnya juga bisa jadi merupakan penyebab berkurangnya peserta di hari H, sebab uraian di acara seminar sedikit banyak sama dengan uraian 3 tokoh pembicara yaitu pak Rhenald, cak Eko, dan cak Naryo. Saya melihat kebanyakan peserta jamuan dan diskusi di wisma KJRI tidak datang lagi pada seminar di hari selanjutnya, kecuali yang memang terlibat sebagai panitia. Saya sendiri sebenarnya sudah agak malas untuk datang ke hari-H, namun karena terlanjur janji, maka akhirnya saya datang juga ke tempat seminar di kantor kecamatan Higashi Sumiyoshi, Osaka.

Saya sengaja datang pada sesi siangnya karena hanya ingin mendengar makalah dari 3 pembicara utama. Ternyata perhitungan saya salah sebab pak Rhenald malah mengisi di sesi pagi. Untunglah kerugian itu tertutupi oleh presentasi yang menarik yang dibawakan oleh perwakilan Bank Indonesia di Tokyo. Presentasi itu kemudian disusul dengan uraian singkat pak Firman Wibowo yang menjabat sebagai GM BNI cabang Tokyo. Beliau sekalian berpamitan karena masa tugas beliau akan berakhir tahun ini dan harus kembali ke tanah air awal tahun.
Sehabis presentasi pak Firman, saya sibuk membaca beberapa pamflet dan tidak sadar tiba-tiba beliau duduk di kursi kosong di samping saya sambil menyapa saya dengan suaranya yang khas berwibawa. Kami berjabat tangan erat karena memang sudah cukup lama tidak bertemu. Beliau menyodorkan kartu nama beliau, “posisi baru” kata beliau ringan. Saya juga menyodorkan kartu nama karena terakhir ketemu beliau awal tahun ini di restoran Gonpachi Tokyo, waktu itu saya masih di divisi HRD, sementara sekarang saya ngepos di divisi Internal Control. Saya melirik kartu nama dan melihat posisi sebagai GM di bagian Treasuri BNI Pusat, sebuah jabatan yg sangat penting karena konon uang yg ada BNI semuanya dikelola di bagian itu. “Selamat pak”, kata saya sambil sekali lagi menyalami beliau. Kami ngobrol sejenak sampai akhirnya beliau kembali ke kursi beliau di deretan depan. Saya kembali asik membaca makalah presentasi pak Rhenald, cak Eko, dan cak Naryo.

Pak Rhenald, pak Sunaryo, dan pak Henky Eko adalah kombinasi 3 personal yang berbeda satu sama lain sehingga menciptakan suasana seminar PWEP yang dinamis. Pak Rhenald Kasali yang sudah beroleh gelar professor dan memperoleh gelar doktornya dari Harvard Business School adalah seorang edupreneur yang bukan hanya mengajar di salah satu universitas di Jakarta, tapi juga berhasil membangun beberapa lini bisnis. Pembahasan beliau tentang entrepreneur di sesi pagi, walaupun disajikan dalam makalah yang sepintas cukup berat, saya yakin cukup mudah dicerna karena penggunaan bahasa dan olahan kata pak Rhenald yang memang gampang dipahami. Saya sendiri karena tidak datang pagi maka tidak sempat menikmati uraian pak Rhenald ini.
Akademisi pak Rhenald ini diimbangi dengan materi tentang membangun bisnis yang dibawakan dengan bahasa yang sederhana oleh cak Eko, pemilik franchise Bakso Malang Kota Cak Eko. Sebagai seorang tamatan S2 di bidang teknik sipil, keputusan cak Eko banting setir ke dunia bisnis adalah hal yang mengagumkan. Jatuh bangunnya dalam menemukan bisnis yang tepat sangat menginspirasi saya pribadi.
Menurut cak Eko, ada 10 jenis bisnis yang dilakoninya sebelum akhirnya bertaut jodoh dengan bisnis bakso malang kotanya. Mulai dari bisnis pakaian jadi, MLM, mobil bekas, jahe gajah, hingga katering, dll. Kegigihannya dalam mencari bisnis yang tepat benar-benar patut diacungi jempol.
Dalam presentasinya cak Eko sempat mengutip beberapa video untuk menjelaskan ide2nya. Walaupun ada beberapa video yang kurang bisa dipahami benang merahnya dengan pesan yang ingin disampaikan, selera humor cak Eko yang tercermin di video2 itu cukup menggelitik, padahal pembawaannya sangat kalem dengan tatapan mata yang boleh dikata redup. Tapi begitu berbicara tentang perjalanan bisnisnya, mata itu tiba2 menyala dan terlihat garang. Mungkin segarang itulah ia membangun bisnis sehingga bisa sukses dengan gerai bakso sebanyak 135 yang tersebar di berbagai wilayah di pulau Jawa dan sekarang bahkan berusaha melebarkan sayap usahanya ke berbagai negara di Asia Tenggara.
Ketika menikmati uraian cak Eko ini, saya jadi tertawa sendiri karena pengalaman2 bisnis beliau banyak yang mirip atau malah sama dengan hal2 yang saya alami. Sejak kecil saya memang sudah mencari bisnis yabg tepat, mulai dari bisnis label nama sewaktu SMP dan SMA, hingga semasa kuliah di Bandung saya berbisnis jeans Bandung, sepatu/sendal Cibaduyut, kerajinan Blora/Jepara, MLM, jual beli mesin fax, jahe gajah, hingga semasa kenshusei saya berpenghasilan sampingan dengan berjualan kartu telpon internasional. Yang membedakan saya dengan cak Eko adalah pencarian beliau berujung pada bisnis yang berjodoh, sedangkan saya untuk saat ini sementara memilih jalan hidup sebagai profesional. Tapi saya menemukan ada banyak kesamaan di antara kami, misalnya di kata-kata favorit, pola pikirnya,dll. Prinsip-prinsip yang beliau pegang misalnya kegigihan, pantang menyerah, “visualisasi impian”, dll boleh dikata 100% sama dgn prinsip2 yg saya pegang selama ini sehingga mendengarkan beliau bercerita di depan hadirin membuat seakan saya sedang mendengar uraian yang dibawakan oleh saya sendiri dalam wujud yang berbeda.
Saya menduga bahwa buku-buku yang beliau baca kebanyakan sama dg buku-buku yg sudah saya lahap selama ini. Makanya kata2 dan prinsip2 yg kami pegang memiliki banyak kesamaan.
Setelah uraian cak Eko, materi dilanjutkan dengan meledak-ledak dan energik oleh pak Sunaryo, managing director PT. Media Energi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi dan memiliki sebuah pabrik pengolahan gas elpiji yang konon seharga lebih dari satu trilyun. Uraian cak Naryo, demikian panggilan pak Sunaryo, kurang lebih sama dengan cak Eko disusun dalam format yang kurang sistematis. Poin2 yang diekstrak dari pengalaman hidup beliau itu terkesan dikumpulkan begitu saja tanpa berusaha diolah ulang dalam kategori yang mudah dipahami sehingga beberapa poin kelihatan mengambang dan tidak jelas “story-nya”. Tapi terlepas dari kekurangan di materi itu, presentasi cak Naryo sangat menarik karena dibawakan dalam bahasa sederhana dan semangat yang edan.
Cak Naryo adalah lulusan ITS teknik kimia dan pernah menjalani hidup sebagai seorang pegawai biasa. Menurut cerita beliau, suatu hari perusahaannya bangkrut sehingga beliau kehilangan pekerjaan. Pada saat itulah, beliau mengambil keputusan besar dalam hidup. Bersama teman2 di kantor mereka sepakat untuk membuat perusahaan dengan meniru pola dan model perusahaan mereka sebelumnya yang sudah bangkrut. Dari situlah cerita tentang kewirausahaan pak Sunaryo dimulai.
Bisnis cak Naryo cukup beragam, mulai dari edukasi hingga kuliner. Beliau adalah pemegang master franchise BimBel Primagama dan beberapa institusi pendidikan lainnya. Selain itu beliau juga pernah membangun bisnis bersama Puspo Wardoyo pendiri restoran Ayam Goreng Solo yang terkenal itu, walaupun akhirnya terpaksa gulung tikar. Selama presentasi itu beliau menunjukkan beberapa usaha yang telah beliau buat dan gagal. Menurut cak Naryo, dari puluhan bisnis yang beliau lakoni 60% gagal dan hanya 40% yang berhasil.
Tapi nilai 40% itulah yang perlu dilihat, bukan kegagalan yang 60%.
Presentasi cak Naryo ditutup dengan kata-kata penuh semangat yang membuat peserta menjadi terbakar.
Seminar itu berakhir sekitar jam 6-an dan ditutup dgn foto bareng.

Peserta PWEP 2010 foto bersama

PWEP Okayama, 2 Agustus 2009

Seminggu sebelum acara, General Manager WGTT, mas Dodik kirim email, jumlah peserta PWEP (Pelatihan Kewirausahaan & Edukasi Perbankan) yang akan diadakan di Okayama City kali ini membludak hingga mencapai 150-an orang padahal prediksi awal hanya sekitar 120-an. Sebagai akibatnya lokasi seminar terpaksa dipindahkan ke universitas Okayama yg dengan baik hati meminjamkan sebuah ruangan dengan kapasitas 150-an orang. Entah IMM Japan cabang Hiroshima berhasil mempromosikan kegiatan ini dengan baik ataukah informasi dari mulut ke mulut tentang kegiatan WGTT ini sudah menyebar sehingga semakin banyak teman2 kenshusei yang terpacu untuk belajar demi mengubah masa depannya. Saya sangat senang dengan peningkatan ini.
Email itu hanya sempat saya baca di kantor pada waktu istirahat sehingga tidak sempat saya cetak, karena tentu saja saya tidak akan mencetak pamflet seminar di kantor yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan seminar itu, walaupun sebenarnya perusahaan boleh dikata diuntungkan dengan tampilnya saya sebagai salah satu presenter di seminar2 WGTT karena saya selalu menyelipkan klip iklan TV di dalam slide materi saya. Iklan gratis buat Mandom 🙂

Karena tidak sempat mencetak peta lokasi baru itulah akhirnya saya kebingungan ketika mencari tempat seminar. Turun dari shinkansen saya naik taksi menuju kampus Okayama University yang ternyata terbagi menjadi beberapa blok dengan dipisahkan jalan besar. Sopir taksi yang tampaknya juga tidak begitu hapal sangat khawatir saya bakalan tersesat dan dengan berat hati meninggalkan saya di depan gedung peringatan 50 tahun universitas itu. Saya menelpon mas Dodik dan akhirnya seorang panitia lokal mas Rizal datang menjemput saya.

Stasiun JR Okayama dari arah belakang

Stasiun JR Okayama dari arah belakang

Saya memasuki ruangan ketika pak Riza, GM Garuda cabang Nagoya sedang presentasi tentang pengetahuan dasar marketing. Di deretan depan duduk pak Firman dari BNI, Mr.Kajiwara dari IMM Okayama, pak Arief Hartawan dari BI, dan pak Ngurah konsul ekonomi dari KJRI. Semua peserta sedang asyik menyimak materi yang dibawakan dengan sangat menarik oleh pak Riza. Ketika sedang asyik menyimak presentasi itu tiba2 seorang peserta seminar mendekat dan menyalami saya, karena tidak ngeh maka saya menyebut nama dan memperkenalkan diri, pada saat itu ybs tertawa ringan dan saat itulah baru saya teringat akan cara tertawa khas itu, tawa seorang teman yang berjuang bersama di rekrut kenshusei di Kendari 10 tahun yg lalu. Tawa itu tidak akan saya lupa karena teman saya yg bernama Taufik itu adalah teman dekat saya selama proses rekrut, pelatihan, hingga berangkat di Jepang. Selama di Cevest beliau menjadi ketua kelas sehingga interaksi kami semakin banyak sebab saya kebetulan ditunjuk menjadi ketua angkatan sehingga setiap saat harus selalu mengkordinasi 4 kelas di angkatan saya itu, dan orang yg terbanyak menemui saya tentu saja ketua di masing-masing kelas.

Karena pak Riza masih presentasi saya memberi isyarat kepada Taufik bahwa nanti cerita akan kami lanjutkan. 

Suasana seminar

Suasana seminar

Sehabis makan siang dan sholat dhuhur sesi siang dilanjutkan dengan dibuka oleh materi pak Arief Hartawan dari BI Tokyo. Sang ekonom satu ini tampak tenang dan santai membawakan materi yang menyerap perhatian peserta karena digabungkan dengan klip2 video hasil wawancara dengan beberapa pengusaha di tanah air, termasuk YDBA (Astra) dan beberapa pengusaha binaan Dompet Dhuafa.

Sehabis pak Arief akhirnya giliran saya tiba. Materi yg telah saya siapkan dgn power point itu saya setting di laptop NEC kecil saya, tapi karena harus menggunakan remote pointer saya agak kewalahan juga. Akhirnya waktu persiapan memakan sekitar 5 menit dan konsentrasi saya buyar sebelum mulai. Presentasi yg saya bawakan tidak semulus ketika di Hiroshima.

Presentasi saya bawakan dalam waktu 1 jam, sekitar 15 menit molor dari waktu yg saya miliki. Walaupun kurang puas dengan hasilnya tapi alhamdulillah bisa beres hingga akhir.

Sehabis acara, Taufik menjemput saya dan 20 menit-an kemudian kami duduk di Mister Donut depan stasiun JR & Shinkansen Okayama. Kami bertukar cerita tentang masa lalu dan saling bercakap tentang keluarga masing-masing. Taufik yang beristrikan orang Jepang sudah memiliki 1 putra dan tampaknya sudah mulai hidup mapan dengan posisi sebagai leader di tempat kerja, sebuah posisi yang tidak mudah dipercayakan kepada orang asing di perusahaan2 UKM di Jepang. Memang tidak mudah menikah dan membangun keluarga dengan orang yg tidak sebangsa dan sekultur tapi saya yakin Taufik pasti bisa karena sedari dulu dia memang orang yang excellent dalam bergaul. Luwes dan punya sopan santun. Obrolan kami akhirnya terpotong karena saya harus mengejar shinkansen jam 7:23.

Saya akhirnya meninggalkan Okayama dengan shinkansen yang melaju dengan ringan dan membawa saya tiba di Shin Kobe dalam 34 menit padahal jarak yg ditempuh sejauh 143 km, yang berarti kami melaju dengan kecepatan sekitar 250km/jam.

Sampai jumpa di PWEP Kyoto, 4 Oktober 2009!

PWEP Kumamoto

Aisha dan Adnan masih terlelap ketika saya meninggalkan rumah. Cuaca pagi itu cerah dan udara segar menyambut wajah saya ketika berjalan menuju stasiun kereta Hankyu. Celingak-celinguk mencari taksi yg biasanya mangkal di depan stasiun tapi ndak nemu juga, tampaknya di liburan golden week seperti ini mereka juga enggan narik. Akhirnya saya naik kereta dan berhenti di stasiun Itami yg merupakan ujung rel lalu melompat ke jok taksi yg mangkal di depan pintu keluar.

“空港お願いします (tolong antar ke airport)” kata saya.

Si sopir mengulang ucapan saya dan memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Sebuah kebiasaan orang Jepang yg disebut 復唱 (fukushou) atau mengulangi perkataan lawan bicara untuk memastikan kebenaran informasi. Good habbit!

Saya tiba sebelum jam 7, sementara pesawat JEX2383 yg akan saya tumpangi akan berangkat jam 07:45. Karena waktu masih lama akhirnya saya memasuki restoran Jepang dan memesan satu set menu makan pagi ala Jepang, mereka menyebutnya 朝の膳 (anugrah pagi(?)). Saya mengecek tiket yg telah saya ambil di mesin tiket otomatis. Sebelumnya tiket itu saya pesan melalui internet sehingga prosedur tiketing sangat mudah dan cepat karena dilayani oleh mesin, tidak mesti ngantri dan dilayani staf. Pesawat berangkat persis jam 07:45 sesuai jadwal yg tertera di tiket, tanpa keterlambatan dengan alasan operasional, schedule berubah, atau segala macam alasan yg sudah hampir umum dilontarkan oleh perusahaan2 penerbangan di tanah air kita, bahkan oleh maskapai yg katanya terbaik di Indonesia 🙂

Lapisan awan cukup tebal menggantung di atas pulau Kyuushu sehingga pesawat agak goncang sesaat sebelum mendarat. Alhamdulillah kami mendarat persis sesuai jadwal dan saya keluar dari pintu gerbang Kumamoto AirPort jam 09:05, lagi2 persis perkiraan semula. Saya jadi beranda-andai, kapan perjalanan udara bisa tepat waktu seperti ini di Indonesia.

Bandara Kumamoto

Bandara Kumamoto

Saya bergegas mencari bis menuju pusat kota Kumamoto dan sempat bertanya ke seorang staf bandara yg memberikan penjelasan dengan ramah dan mudah dimengerti. Sejurus kemudian saya sudah di atas bis, dan beberapa menit setelah bis melaju saya tertidur.

Saya terbangun beberapa menit sebelum bis sampai di halte yg saya tuju, 水道町 (suido chou). Cukup mudah menebak posisi gedung seminar PWEP (Pelatihan Kewirausahaan dan Edukasi Perbankan) Kumamoto ini karena menurut informasi dari ketua panitia pak Marlo ( Warung Indonesia Kumamoto ), lokasinya persis di depan hotel Toyoko-Inn tempat saya akan menginap. Saya bergegas menuju lantai 9 di gedung bertanda Tsuruya itu. Lokasi seminar kali ini cukup wah karena menempati gedung yg di bawahnya toko2 merek ternama seperti Prada dan Chanel mangkal. Louis Vuitton menempati gedung sebelahnya dengan papan namanya yg khas.

Sudah hampir jam 10 ketika saya keluar dari lift dan memperhatikan tempat seminar yg baru terisi kurang dari setengah kursi yg tersedia. Sepertinya teman2 kenshusei masih menggunakan kebiasaan di Indonesia, jam karet.

Setelah singgah di WC saya masuk ke ruangan dan bersalaman dengan panitia termasuk pak Marlo. Saya menempati kursi di belakang pak Rahmad Hidayat dari BNI Tokyo dan Uchida-san dari IMM cabang Kyushu. Di sebelah saya duduk pak Marlo dan pak Wahyudiono, seorang lulusan Doktor dan peneliti di Kumamoto University. Acara dimulai beberapa saat setelah saya duduk.

Materi PWEP kali ini tidak begitu banyak berbeda dengan PWEP Kansai tahun lalu. Penyampaian materi yg sebenarnya terlalu berat untuk kalangan kenshusei itu belum bisa diramu dan disajikan dengan ringan oleh beberapa pemateri sehingga peserta terlihat cepat bosan. Bagi kalangan akademik atau yg pernah menyicip bangku kuliah, angka2 yg tertera di layar OHP itu mungkin bisa dipakai sebagai alat analisa perencanaan bisnis, tapi bagi kenshusei yg kebanyakan adalah tamatan SMA dan STM, nilai2 seperti GDP, GNP, dll itu hanya angka2 yg membuat puyeng. Bagi mereka, informasi yg mereka butuhkan adalah model bisnis, informasi peluang bisnis, contoh penyiapan usaha, dan ilmu2 praktis lainnya. Hal ini yg belum banyak disadari oleh pemateri walaupun sudah berkali-kali PWEP diadakan. Para peserta sebenarnya tidak mau tahu seperti apa itu fungsi perbankan, atau bagaimana bank bisa membuat keuntungan. Yang mereka butuhkan adalah informasi bagaimana mereka bisa meminjam di bank kalau usahanya nanti memasuki tahap pertumbuhan progresif sehingga butuh sokongan dana pihak ketiga. Yang mereka ingin tahu adalah bagaimana caranya agar mereka bisa menjadi pengusaha yg memperoleh pendampingan dari bank, dll.

Acara diselingin dengan makan siang dan sholat Dhuhur. Siangnya diisi dengan sesi dari KBRI Tokyo dan success story yang sedianya dibawakan oleh pak Eka Suwarna seorang pengusaha karet alam dengan menggunakan media teleconference, tapi karena alasan kesehatan akhirnya beliau tak bisa hadir walaupun via internet dan materi yg beliau persiapkan dengan apik dibawakan oleh pak Irwan, seorang mahasiswa yg juga merupakan kawan seperjuangan beliau di ITB dulu. Pak Irwan tampaknya betul2 memahami lika-liku bisnis pak Eka dan juga tahu seluk beluk kehidupan pribadinya karena dengan menarik bisa membawakan materi tersebut. Peserta tampaknya masih ingin tahu lebih banyak tapi tidak bisa bertanya lebih banyak karena pak Eka tidak bisa dikontak saat itu. Seharusnya PWEP diisi dengan lebih banyak materi seperti success story ini, karena selain memberikan motivasi juga bisa memberikan contoh bagaimana sebuah kesuksesan itu ditapak melalui jalan-jalan yg berliku. Mudah2an PWEP chapter selanjutnya bisa berisi lebih banyak materi yg seperti ini.

Saya membawakan materi molor 5 menit dari jadwal semula. Sambil agak deg-degan saya memulai dengan perkenalan diri berupa data2 pribadi dan slide foto2 selama kuliah dan setelah masuk bekerja di Mandom Corporation Jepang. Setelah bagian perkenalan selesai, saya memutar sebuah iklan TV dari Gatsby untuk memperkenalkan perusahaan kami. Lumayan buat promosi Mandom 🙂

Dengan tempo yg agak cepat saya membawakan dua materi sekaligus yaitu “MELANJUTKAN PENDIDIKAN DI JEPANG” dan “PENGETAHUAN DASAR TENTANG ASURANSI PENSIUNAN DI JEPANG”. Rupanya kedua materi ini cukup menarik perhatian teman2 kenshusei karena mereka mengikuti dengan antusias dan banyak menjawab ketika saya melemparkan pertanyaan kepada mereka. Materi saya tuntaskan kurang lebih sejam sesuai perhitungan semula.

Sehabis acara seminar pun ada banyak pertanyaan yg saya terima, baik seputar tips & trik untuk kuliah di Jepang bagi kenshusei, ataupun tentang pengembalian iuran pokok asuransi nenkin bagi kenshusei setelah pulang ke Indonesia.

Setelah seminar saya langsung check-in hotel dan membaringkan tubuh sekitar sejaman sebelum sholat Magrib dan keluar cari makan. Saya menyusuri kompleks pertokoan dan menemukan warung makan waralaba kesukaan saya, YayoiKen, dan menikmati menu favorit 鯖塩焼き定食 (menu reguler ikan mackerel bakar pakai garam).

Saba Shio Yaki

Saba Shio Yaki

Sehabis makan malam itu saya menghabiskan waktu beberapa selang di sebuah toko buku yg saya temukan di dekat situ sebelum pak Marlo menelpon dan memberitahu kalau sudah menuju hotel untuk menjemput saya. Malam itu kami berencana bertandang ke tempat kenshusei yg tergabung di dalam FUMIKU (Forum Ukhuwah Masyarakat Indonesia di Kumamoto)  dan menjadi panitia inti PWEP kali ini, Ali dkk.

Perjalanan cukup jauh dan memakan waktu beberapa puluh menit hingga akhirnya tiba di sebuah pabrik yg terletak di sebelah rel kereta. Kediaman kenshusei itu terletak di lantai 2, sementara lantai satu adalah tempat bekerja mereka. Kami ngobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya saya dan pak Marlo minta diri karena sudah kemalaman. Saya tiba di hotel lewat jam setengah dua belas malam.

Keesokan harinya, saya terbangun setelah telpon yg saya set menjadi alarm berbunyi. Setelah sholat dan mandi saya mengambil barang bawaan dan menuju ke lantai 1. Sehabis menikmati sepotong onigiri dan semangkok sop miso, saya langsung menuju bandara Kumamoto.

JAL, lagi ngetem nunggu penumpang

JAL, lagi ngetem nunggu penumpang

Pesawat berangkat sesuai jadwal. Tas saya menjadi dua karena yg satunya berisi sebuah boneka Miffy untuk Aisha, mobil-mobilan untuk Adnan, dan dua bungkus penganan ringan khas Kumamoto untuk Dewi. Pesawat mendarat di Itami Airport sekitar 50 menit kemudian.