Tag Archive for pucelle

Ceremony New Office 2015

Hampir seminggu terakhir tidur tidak pernah lebih dari 4 jam dalam sehari. Pasalnya sebagai project sub leader di kantor saya, manager A&P pak Ade (sub leader) dan Direktur Sales Pak Ozaki (Project leader) harus mengkoordinasi team yang terdiri dari puluhan general manager, manager, dan staf lainnya untuk mensukseskan acara peresmian kantor pusat dan pabrik baru kami di Kawasan Industri MM2100 Cibitung.

Sebenarnya di acara ini kami menggunakan jasa EO dari sebuah agency iklan papan atas di Indonesia, akan tetapi bercermin pada pengalaman perusahaan ketika peresmian pabrik plastik di tahun 2007, kami tidak mau mengambil resiko. Kala itu kami juga menggunakan agency lain yg juga boleh dikata masuk papan atas di dunia iklan dan EO di Indonesia, tapi banyak masalah di mana-mana. Akhirnya pada gawean kali ini, trio Kami mau tidak mau turun langsung dalam banyak hal yang seharusnya dilakukan oleh agency sebagai bagian dari tanggung jawab mereka dalam manajemen acara.

Peresmian itu dihadiri oleh menteri perdagangan Bapak Rachmat Gobel yang alhamdulillah bersedia meluangkan waktunya di tengah kesibukan beliau setelah sehari sebelumnya mengikuti perhelatan besar keluarga presiden di Solo. Awalnya kami sempat menawarkan fasilitas helikopter untuk menjemput beliau dari bandara menuju Cibitung karena kekhawatiran kami terhadap macet. Tapi beliau dengan rendah hati menolak dan justru memilih usulan stafnya menggunakan pesawat komersial Low Cost Carrier dari Solo. Kami sempat benar-benar merasa bersalah menyebabkan seorang menteri menggunakan airways yang saya sendiri sudah kapok menggunakannya sejak 12 tahun yang lalu. Alhamdulillah Allah membukakan jalan karena akhirnya pihak kementerian bisa mengatur jadwal beliau sehingga malam itu juga beliau bisa pulang dan di pagi harinya kami bisa menjemput beliau di kediaman di daerah Kalibata.

Ketegangan mulai berasa di hari H minus 1 ketika matahari sudah mulai hilang tapi persiapan produksi belum seluruhnya beres. Sistem registrasi masih saya benahi lagi karena database yg berubah hingga di hari terakhir. Saya akhirnya turun tangan langsung oprek-oprek php dan mysql karena merasa khawatir akan timbul masalah kalau sistem registrasi 300-an tamu hanya ditangani dengan lembar excel buatan teman-teman IT. Butuh semalam untuk menyelesaikan sistem itu. Lembar Excel buatan team IT kami jadikan sebagai back up system kalau-kalau ada masalah.

Production list yang dijanjikan pihak EO tidak kunjung muncul, sementara kami team inti di lingkar 1 mulai gelisah. Untunglah team registrasi sigap membantu dengan ditambah staf dari marketing dan sales sehingga ID card bisa beres menjelang tengah malam.

Selagi sibuk itu, di stage, Rieke Caroline, news anchor Metro TV yang akan menjadi MC di acara ceremony ternyata sudah hadir sejakjam 8lewat. Akhirnya saya minta mereka mulai rehearsal dengan ditemani Pak Ade, sementara saya dan Pak Ozaki membantu menyelesaikan ID card peserta dan panitia. Sekitarjam 9:30saya bergabung dengan team yg sedang rehearsal.

IMG_2146

Rieke Caroline in rehearsal.

Rieke terlihat santai padahal mungkin masih capek sepulang siaran. Beberapa kali saya mengintervensi karena beberapa script belum sesuai dengan yg sudah kami sepakati dgn EO. Setiap kali saya minta maaf karena intervensi, Rieke cuma tersenyum dan malah acungkan jempol pertanda all right.Jam 10:30Rieke selesai dengan skenario yg sedikit berubah di sana-sini. Di bagian Voice Over yg menyambut menteri masuk ruangan, saya mengganti Rieke dan menyuruh staf EO melakukannya, kemudian VO itu sekaligus memperkenalkan Rieke sebagai MC sehingga pamor Rieke sebagai presenter bisa semakin mengkilap, hasilnya bagus.

Menjelangjam 12, meja reservasi belum beres, main gate belum selesai, back drop di ceremony venue masih on progress, dan sederet kerjaan lain yg masih tanda tanya. Tapi saya menenangkan pak Ozaki dan mengatakan bahwa di sinilah kehebatan orang Indonesia yg akan mampu menyelesaikan pekerjaan walaupun di akhir-akhir waktu. Saya mengajak pak Ade dan pak Ozaki untuk meninggalkan venue supaya mereka bisa konsentrasi dan tidak terganggu. Sekalian supaya kami bisa istirahat agar besok harinya bisa segar menjalankan acara. Saya menjabat tangan PIC production EO dan menatap tajam matanya “Jam 3, semua sudah selesai ya.Jam 3mas”. Si mas-nya menjawab agak ragu “iya pak, insya Allah”. Kami meninggalkan kantor menuju Prime Biz, hotel bintang 3 di daerah Cikarang yang ternyata cukup bagus jika dibandingkan business hotel sekelas di Jepang. Jam menunjukkanpukul 2lewat ketika saya nyungsep di balik selimut.

Jam 5morning call berbunyi dan dengan mata yg masih berat karena tidur kurang dari 3 jam saya menyingkap selimut dan menyegarkan badan di bawah siraman shower air panas. Kami meninggalkan hotel jam setengah enam lewat.

Setiba di kantor perasaan agak lega karena persiapan sudah terlihat rampung. Kami berbagi tugas, pak Ozaki dan pak Ade menuju ceremony venue mengecek kesiapan, saya mengecek ulang database, sistem registrasi dan mempersiapkan terjemahan speech pak Nishimura, CEO Mandom Corporation Japan yang berubah total semalam, satu malam sebelum acara dimulai. Sistem registrasi sudah OK, tapi butuh sekitar 30 menit untuk menyelesaikan terjemahan pidato berbahasa Jepang sebanyak hampir 2 lembar A4 itu.

Sambil ngetik saya sambil mengontak PIC yang standby di Fairmont Hotel, Borobudur Hotel, dan kediaman bapak Menteri. Rombongan Borobudur berangkatjam 6:30, Fairmont7:15, dan pak Rachmat7:50.

CEO Mandom Group Mr. Nsihimura

Karena para host adalah orang luar, mereka tidak mengenal CEO Mandom Group dan sempat mengarahkan untuk registrasi. Saya langsung ambil alih dan menunjukkan ruang SVVIP.

Menjelang jam 8 tamu mulai berdatangan. Beberapa kali saya menyemangati sambil menegor cewek-cewek cantik yang jadi host dan usher hari itu karena sempat meloloskan tamu tanpa disapa dan diarahkan ke meja registrasi. Akibatnya saya yang harus berlarian menyusul mereka sehingga konsentrasi saya mulai pecah. Padahal harusnya saya fokus di tamu Super VVIP.

Pengarahan ulang para host

Berkali-kali para host itu saya minta untuk bergerak menyambut tamu, bukan hanya diam mematung.

Melayani tamu

Melayani seorang tamu

Rombongan dari hotel borobudur tiba sehingga komposisi tamu yang hadir langsung membesar karena 1/6 tamu menginap di sana. Kondisi menjadi di luar kendali ketika tamu dari partner kami tiba. Kami sudah membagi rombongan mereka menjadi dua yaitu chairman dan CEO ke Super VVIP, sementara lainnya ke VIP. Tapi strategi itu mentah karena beberapa dari rombongan itu ngotot ikut chairman ke ruangan SVVIP dan itu berefek pada semua prosedur berikutnya, mulai dari korsase penanda tamu SVVIP hingga ke shuttle ke ceremony site yg letaknya agak jauh dari holding room. Saya langsung meminta ke bagian transport untuk menyiapkan mobil tambahan bagi Super VVIP melalui HT. Inipun menjadi sumber masalah karena belakangan saya baru tahu bahwa ternyata channel yg saya pakai hanya dimonitor oleh panitia ring 1, yaitu saya dan Pak Ade. Bagian transport tentu saja tidak melakukan apa-apa karena informasi tidak ada. Keadaan itu diperburuk dengan kepanikan bagian transport sehingga bukannya menjejerkan mobil di lobi depan, mereka malah membariskan mobil di pintu belakang, sebuah langkah fatal yang menyebabkan strategi shuttle untuk SVVIP menjadi mentah. Beruntunglah Bapak Menteri malah menolak naik mobil dan memilih jalan kaki sehingga permasalahan shuttle menjadi beres.

Acara kami dimulai jam 09:30an, telat 15 dari target semula.

Acara berjalan lancar, 2 kali saya muncul di stage bagian belakang karena harus menerjemahkan pidato CEO Mandom Jepang dan Managing Director kontraktor kami Kajima Corporation. Kami sebenarnya menggunakan 3 interpreter, dua Indonesia-Jepang, satu indonesia-english. Tapi interpreter bahasa Jepang dua-duanya orang Jepang sehingga saya memutuskan menangani sendiri terjemahan Jepang-Indonesia.

Managing Director Kajima

Mendampingi speech Mr. Koshijima, Managing Director dari Kajima Corporation.

CEO Mandom Group

Mendampingi Mr. Nishimura, CEO Mandom Group.

Setelah bagian terjemahan selesai saya kembali mengambil posisi dekat panggung karena masih ada beberapa hal yg harus saya dan pak Ade tangani. Acara tidak ada masalah hingga penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita selesai.

Prasasti signing

Penandatanganan prasasti oleh Pak Menteri

Pemotongan pita

Acara pemotongan pita.

 

Tamu Super VVIP

Bapak Menteri, Direksi, dan tamu VVIP lainnya berpose pada sesi foto.

 

Semua lancar-lancar saja hingga closing dan factory tour dimulai, dan di sinilah masalah terbesar muncul, saya ditelpon dan diberi tahu bahwa mobil catering yg membawa makan siang tertahan di tol karena ada kecelakaan yang menyebabkan kemacetan total dari arah Jakarta. Catering yang kami ambil adalah catering yang terbilang baru tapi memiliki nama karena konon sudah sering melayani hajatan-hajatan besar baik dari perusahaan-perusahaan besar maupun pejabat-pejabat tinggi. Tapi posisinya yang berada di Kemang memang hal yang kami tidak perhitungkan dengan matang karena ternyata itu menjadi penyebab semua masalah besar yang kami hadapi.

Setelah melepas beberapa rombongan dan kemudian setengah berlari menuju lunch room yang terletak lumayan jauh dari ceremony venue. Saya harus tiba sebelum rombongan factory tour pertama yaitu Bapak Menteri dan kementerian tiba di lunch room. Dan setibanya di sana saya langsung mencari PIC FnB, manajer A&P kami. Dan ternyata berita buruk itu benar adanya, mobil box catering yg membawa 300 porsi makan siang masih tertahan di pintu keluar tol padahal tamu-tamu mulai memasuki lunch room. Sambil menunggu catering datang, kami melanjutkan sesuai run down yaitu menunggu hingga semua tamu kembali dari factory tour dan acara potong tumpeng sementara Pak Menteri saya arahkan ke conference room agar media yang berjumlah 50an bisa meninggalkan ruangan lunch.

Ceremony (440)

Semua sudah sesuai rencana karena corporate secretary juga sudah standby di depan conference room siap menyambut Bapak Menteri yang hanya ditemani saya. Tapi saya terpaksa improvisasi karena dalam perjalanan menuju conference room Pak Rachmat malah berbelok ke show room tempat kami memajang produk-produk utama. Terpaksa saya yang menemani beliau, bukan corporate secretary Alia yang terjebak dan terhalang kelompok wartawan yang jumlahnya puluhan orang.

Pak Rachmat langsung menunjuk ke display Gatsby dan menunjuk ke Gatsby Pomade.

“Saya pakai yang ini” kata beliau.

“O ya pak? Makasih, ini salah satu produk andalan kami” saya sedikit berpromosi.

“Kalau yg ini laku juga?” Kata beliau menunjuk Gatsby Water Gloss.

“Itu produk dengan penjualan yang masuk kategori top dalam merek Gatsby. Bahkan ada 12 varian untuk produk ini dan yang kuning adalah yang paling laku” kata saya menjelaskan. Untung saja product knowledge saya cukup memadai untuk menjadi seorang sales karena selama 3 tahun di Management Planning saya memang hampir menghapal semua jenis produk andalan beserta angka penjualannya.

“Ini juga buat di Indonesia?” Tanya Pak Rachmat memegang Gatsby Moving Rubber yang berwarna biru.

“Kalau yang ini produk premium, kemasan kami buat di Indonesia, tapi isinya sementara masih buat hanya di Jepang karena proses produksi yang ekstra hati-hati dan bahan baku yang masih sulit di Indonesia” saya menjelaskan sambil menyobek shrink plastic produk karena beliau sangat ingin sekali melihat isinya.

Gatsby Moving Rubber

Antusiasme beliau mellihat isi produk kami.

“Saya suka ini” kata beliau

“Pegang dong produknya pak, hadap kamera pak” pinta wartawan yang bejibun jumlahnya.

Dan jadilah beliau berpose dengan produk kami. Sayang sekali saya berada posisi terjepit oleh puluhan wartawan sehingga tidak sempat mengeluarkan hape untuk foto.

Sekitar 15 menitan beliau melayani berbagai macam pertanyaan sampai akhirnya beliau merasa cukup dan menuju pintu keluar.

Gaya santai Bapak Menteri

Dengan santai beliau melayani pertanyaan-pertanyaan dari wartawan.

“Kalau sapi gimana pak? Kok malah nambah kuota?” Tanya seorang wartawan cewek di dekat pintu.

“Impor sapi kan dari dulu, kenapa sekarang nanya? Kamu ini nanya ngga pada tempatnya. Tanya dong yang berhubungan Mandom dan ekspor” pukas beliau.

Sementara itu asisten Rieke dari balik kaca bertanya dengan isyarat dan bahasa bibir yg artinya “selanjutnya bagaimana? Mbak Rieke nanya”

Saya memberi isyarat bahwa saya akan memandu pak Menteri ke lunch room dan minta beliau yang minta potong tumpeng.

Makanan dari catering belum tiba padahal jam sudah menunjukkan11:30, waktu sholat jumat sudah sangat mepet.

Saya akhirnya mengawal pak Menteri menuju ruang lunch lalu mendekati Rieke Caroline yang sudah standby dengan mic untuk mengarahkan acara. Saya jelaskan singkat bahwa pak Menteri yang akan potong tumpeng dan serahkan ke perwakilan Serikat Pekerja. Rieke dengan sigap mengarahkan acara sesuai tugasnya sebagai MC. Tapi lagi-lagi Pak Rachmat berimprovisasi, tumpeng yang dia potong beliau serahkan ke CEO Mandom Group dan Chairman partner distributor kami.

Tumpeng Pak Menteri

Pak Rachmat menyerahkan tumpeng kepada CEO Mandom Group.

Saya membisiki perwakilan SP yang ada dua orang.

“Bentar ya, sabar”.

Tumpeng untuk SPSI

Mr. Nishimura menyerahkan tumpeng ke perwakilan SPSI Mandom.

Akhirnya setelah pak Menteri makan tumpeng, saya meminta CEO Mandom Group Mr. Nishimura dan CEO baru kami Bapak Makmun untuk bersiap memotong tumpeng. Tumpeng dari Mr.Nishimura diserahkan ke Ketua SP, sementara tumpeng dari Pak Makmun ke Sekjen SP, selesai sudah prosesi utama. Dan alhamdulillah makanan dari catering juga akhirnya mulai loading in.

Saya mendekati pak Menteri yang melirik jam tangannya, dan berbisik.

“Makanan sebentar lagi siap pak, bagaimana apakah Bapak berkenan makan siang dulu atau mau sholat dulu?”

“Ngga, saya mau sholat di Panasonic Cawang, sudah cukup lama saya ngga kesana” jawab beliau sambil memberi isyarat kepada ajudan bahwa beliau siap berangkat.

Saya langsung mendekati duo CEO kami dan memberitahukan bahwa pak Menteri akan meninggalkan lokasi. Akhirnya kami berempat diikuti ajudan dan pengawal menuju lobi utama, di lobi Pak Heru ikut gabung, mobil beliau sudah standby depan lobi. Beliau menjabat tangan kami lalu naik mobil dan melambaikan tangan ketika meninggalkan lobi dengan dikawal voorijder yang sudah kami siapkan. Di belakangnya mobil pengawal dan ajudan mengiringi.

Hufh, saya menyeka keringat yang bercucuran di dahi dan mengucapkan terima kasih kepada Mr. Nishimura, Pak Makmun, dan Pak Heru lalu menuju ruangan lunch.

Para tamu sudah mulai makan siang, dan saya langsung setengah berlari menuju masjid di lantai 2 karena khatib jumat sudah mulai berceramah.

Satu sesi utama selesai, saya menghela nafas panjang.

 

Beberapa link berita :

http://economy.okezone.com/read/2015/06/12/320/1164311/mandom-indonesia-resmikan-pabrik-baru-di-cibitung

http://djpen.kemendag.go.id/app_frontend/accepted_rsses/view/557e436a-9938-4d5e-ac98-1855c0a83502

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/resmikan-pabrik-mandom-mendag-minta-tingkatkan-nilai-ekspor

Lunch Meeting With Vice Minister Mr. Alex SW Retraubun

Saya tiba agak kepagian di hotel Shangri-la karena di luar dugaan kondisi jalanan dari Sunter ke bilangan Thamrin-Sudirman tidak macet. Akhirnya untuk memanfaatkan waktu yang ada saya nongkrong di J.CO Donut di City Walk Sudirman sambil mengerjakan PR kantor yang sengaja saya bawa. Sebagai PIC di Management Planning, menu pekerjaan sehari-hari bukan hanya regular task seputar corporate planning dan budget management, hampir 75% waktu habis untuk mengurusi project based task yang tahun ini berjumlah 5 buah sekaligus. Agak kerepotan, tapi sangat challenging karena cakupannya sangat luas, mulai dari ranah management, product development, production, sampai marketing. Sambil menyeruput cafelatte panas saya mencoba mengkonsep beberapa hal.
Menjelang jam 11, saya akhirnya kembali meluncur menuju ke Shangri-la yang terletak hanya beberapa ratus meter dari City Walk dan tidak lama kemudian BBM dari CEO Mandom Indonesia masuk mengabarkan kalau beliau bersama CEO Mandom Japan sudah menunggu di caf hotel Shangri-la. Hari ini saya dengan bantuan KJRI Osaka (thanks to Bapak Ibnu Hadi dan mbak Wulan) mengatur lunch meeting antara CEO Mandom Group, CEO Mandom Indonesia, Wakil Menteri Perindustrian Bapak Alex SW. Retraubun, dan Direktur Kimia Hilir Kemenperin Ibu Toeti Rahajoe.
Saya memasuki lobi hotel agak tergesa karena tidak enak meminta dua CEO menunggu, walaupun jam belum menunjukkan pukul 11:15, waktu appointment saya dengan dua atasan saya itu. Setelah berbasa-basi sejenak, saya mengajak mereka untuk menunggu di dalam restoran, seperti kesepakatan yang saya buat dengan pak Alex melalui sekertarisnya. Kami akhirnya menuju lantai ground tempat restoran Jepang Nishimura terletak.
Setelah mengantar kedua CEO ke private room dengan dipandu staf restoran, saya menunggu di pintu masuk sambil membaca Koran Nikkei Shimbun yang tersedia di ruang tunggu, restoran masih sepi karena memang baru buka jam 11:30an, sementara kami tiba jam 11:15an, staf restoran tidak ada satupun yang menjaga di meja resepsionis. Tidak lama berselang seorang pria tinggi besar bersetelan batik warna cerah memasuki restoran, saya langsung berdiri dan menegor,
Pak Alex ya?.
Beliau langsung tersenyum dan menjawab sambil menjabat tangan saya erat.
Ya, pak Arif?.
Ya pak jawab saya sambil bertanya lagi Datangnya sendiri pak? Ibu Tuti ngga bareng?
Iya, Ibu Tuti menyusul, tapi tadi sudah berangkat bareng
Kalau begitu kita tunggu di dalam saja ya pak Ajak saya sambil mengarahkan ke dalam restoran.
Pak Nishimura, CEO Mandom Group, dan Pak Hibi, CEO Mandom Indonesia berdiri menyambut dan menjabat tangan pak Alex sambil tersenyum. CEO Mandom Indonesia yang badannya tinggi sekalipun terlihat biasa saja ketika berdampingan dengan Pak Alex yang perawakannya tinggi besar. Sebagai putra Maluku yang hidup dan besar di pulau Tayando, Maluku, pak Alex adalah success story yang patut diteladani. Kehidupannya yang keras di masa kecil yang diwarnai dengan segala usahanya mulai dari berjualan es dan kue-kue untuk menyambung sekolah, dipadu dengan pengalaman hidupnya di Inggris selama bertahun-tahun setelah memperoleh beasiswa belajar. Perpaduan ini menciptakan pribadi dan pembawaan yang unik. Logat Malukunya sangat kental ketika bercakap dalam bahasa Indonesia, tapi ketika berbahasa Inggris logat itu menjadi agak tersamar. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh dialek orang Inggris selama bermukim di New Castle dan menyelesaikan program S-2 dan doctorate-nya di sana.
Tidak lama berselang Ibu Toeti tiba di restoran bersama asistennya. Kami berenam akhirnya terlibat percakapan seru sembari menunggu makan siang yang sedang dipersiapkan. Walaupun di hadapan saya terhidang bento lezat dengan kombinasi menu lebih dari 12 jenis, saya tetap harus konsentrasi penuh karena menjembatani percakapan antara dua atasan saya dengan pak Wamen dan Ibu Direktur. CEO Mandom Indonesia yang sehari-hari lancar bercakap bahasa Indonesia, kali ini pun menggunakan bahasa Jepang. Mungkin beliau khawatir jika menggunakan kosakata yang tidak pantas untuk orang sekaliber pak Alex, sehingga mencari jalan aman dengan menggunakan bahasa Jepang.
Pak Alex dan Ibu Toeti sangat menyenangkan diajak bercakap-cakap. Mereka berdua tampaknya sudah mengerjakan PR karena tampaknya sudah memiliki informasi yang memadai tentang perusahaan kami, PT. Mandom Indonesia Tbk. Tapi yang mengagetkan, ternyata kementerian perindustrian hanya memiliki data kami yang diupdate terakhir kali sekitar 20 tahun yang lalu, sebelum kami go public di tahun 1993. Selidik punya selidik, ternyata Kemenperin hanya mengupdate data perusahaan kalau perusahaan tersebut pernah punya masalah dan mengontak Kemenperin, selain perusahaan seperti itu maka data yang tersedia hanya data di masa awal proses database di tahun 1990-an. Sebuah kelemahan Kemenperin di bidang IT yang berhasil ditutupi dengan manis oleh Ibu Toeti, karena penjelasan itu membuat kedua CEO kami bangga. Secara sederhana bisa dikatakan, data kami tidak diupdate, berarti selama dua puluh tahun terakhir Mandom Indonesia tidak pernah punya masalah yang cukup berarti sampai-sampai harus mengadu ke Kemenperin.
Selain masalah bisnis, industry, ekonomi, dan politik, pembicaraan juga melebar ke masalah yang bersifat pribadi. Ibu Toeti ternyata pernah menjalani pelatihan selama beberapa hari di Osaka Training Center dan sangat terkesan dengan Jepang. Beberapa kali pembicaraan sempat mengarah ke saya karena tampaknya pak Alex dan Ibu Toeti ingin tahu dengan status saya sebagai karyawan Mandom Corporation Jepang tapi ditugaskan di Indonesia, jadi ibaratnya ekspatriat di negeri sendiri dan juga ingin dengar tentang kehidupan di Jepang. Tapi karena main actor hari ini bukan saya, melainkan CEO kami berdua, maka pembicaraan saya arahkan kembali ke urusan bisnis. CEO Mandom Indonesia sempat melontarkan pertanyaan seputar pendapat pak Alex tentang pemilu di tahun 2014 dan hubungannya dengan dunia bisnis, pak Alex menjawab secara diplomatis dan berusaha meyakinkan bahwa siapa pun pemerintahnya, Indonesia akan selalu berusaha menjaga iklim usaha yang sehat dan membawa kemakmuran bagi semuanya. Satu hal yang menarik adalah ketika pak Alex kami pancing dengan pertanyaan seputar kenaikan UMP di daerah Jakarta, pak Alex menjawab dari sudut pandang Kementerian Perindustrian bahwa sebenarnya ini adalah langkah maju yang merupakan kesempatan bagus bagi Kemenperin untuk menstimulasi tumbuhnya industry di daerah. Dengan menaiknya UMP di Jakarta sampai sekitar 30%, maka perusahaan yang tidak mampu mengakomodasi itu akan dihadapkan pada beberapa pilihan, di antaranya yaitu memindahkan lokasi usahanya atau yang terburuk adalah gulung tikar. Seharusnya, menurut beliau, kepala-kepala daerah di luar Jakarta mengambil kesempatan ini dengan mempercantik iklim usaha di daerahnya sehingga pengusaha-pengusaha yang tak mampu bersaing di Jabodetabek mau memindahkan usahanya ke tempat mereka. Beliau menyayangkan bahwa beberapa daerah di luar Jakarta justru ikut-ikutan menuntut upah naik sehingga otomatis daerah itu kehilangan pesonanya sebagai tujuan investasi. Jika tidak memiliki infrastruktur sebagus Jabodetabek, seharusnya daerah menjadikan upah rendah sebagai daya tawar untuk menarik investor, tandas beliau.
Di akhir-akhir percakapan, persis seperti skenario yang sudah saya prediksi dan jelaskan kepada dua CEO kami, pak Alex menanyakan apa yang bisa Kemenperin lakukan untuk membantu bisnis Mandom di Indonesia. Seperti kebanyakan perusahaan Jepang lakukan ketika berhadapan dengan pemerintah Indonesia, kami meminta agar pembangunan infrastruktur terutama transportasi dan energy dipercepat. Hal ini sangat krusial karena merupakan unsure utama bagi dunia bisnis, terutama bagi perusahaan FMCG seperti Mandom Indonesia. Distribusi yang lancar adalah syarat mutlak kesuksesan bisnis kami. Seperti dugaan kami, sebagai pemangku jabatan di industry, Pak Alex hanya bisa menjanjikan akan melakukan konsolidasi dengan departemen terkait sehubungan permintaan kami itu, sekaligus juga menyebutkan bahwa pemerintah daerah Jabodetabek sedang berusaha memecahkan keruwetan masalah transportasi ini dengan berbagai cara, misalnya dengan MRT, walaupun memang baru di dalam wilayah Jakarta dan belum sampai di daerah Cibitung tempat pabrik dan kantor pusat kami yang baru sedang dibangun.
Di dalam pembicaraan kami, pak Alex juga mengingatkan kembali agar tidak lupa mengundang beliau pada saat peresmian pabrik dan kantor pusat baru kami di Cibitung nanti. Permintaan itu tentu saja kami tanggapi dengan senang hati dan berjanji akan mengontak jika sudah mendekati waktunya.
Jam nenunjukkan pukul 1 lewat ketika kami bersalaman saat akan berpisah, padahal appointment kami sebenarnya hanya 60 menit karena pak Alex harus menghadiri meeting di Kementerian. Pak Alex, ibu Toeti dan asistennya meninggalkan restoran terlebih dahulu sedangkan kami bertiga mengobrol sebentar di lobi hotel sebelum akhirnya meninggalkan hotel Shangri-la.