Tag Archive for Mandom

Cebu Island, Autumn 2010

Paket liburan dari kantor tahun ini tersedia 11 paket dgn komposisi hampir setengah2 antara domestik dan luar negeri. Untuk luar negeri tersedia Cina 2 paket, Bali 1 paket, dan 2 paket ke Filipina. Untuk Filipina, destinasi terbagi dua yaitu tur Manila dan paket resort Cebu Island. Saya memilih Cebu karena sudah bisa membayangkan paket tur kota Manila yg kondisinya sangat mirip Jakarta dan saya yakin tidak akan menyenangkan bagi orang Indonesia seperti saya yg boleh dikata sudah pernah terbiasa dengan suasana seperti itu selama hidup di Jakarta satu tahun lebih. Cebu saya yakin akan menyenangkan karena hotelnya pun bukan hotel biasa, melainkan hotel resort dengan foto2 yg cukup eksotis di websitenya.
Paket resort sebenarnya 3 malam 4 hari dgn pemberangkatan hari sabtu dan kembali selasa malam. Akan tetapi karena sekolah Aisha mengadakan acara porseni pada hari sabtu tanggal 9, maka terpaksa saya meminta kepada perusahaan agen perjalanan agar membolehkan saya berangkat telat satu hari. Rombongan dari Mandom Group Japan yg memilih paket Cebu sebanyak 33 orang berangkat hari sabtu dgn Philippine Airlines, sementara saya akhirnya berangkat sendiri.
Sabtu pagi, saya meninggalkan rumah sekitar jam 6 pagi, menyetop taksi dan menuju bandara Itami. Saya akan naik bis dari bandara Itami ke bandara Kansai, Osaka. Bis yg saya tunggu berangkat persis jam 7, sesuai jadwal yg tertera di halte bis tadi. Dengan jadwal yg nyaris sempurna, saya tiba di Kansai International Airport jam 7:52, telat 2 menit.
Jam 8 lewat antrian sudah mulai terbentuk di jalur Philippines Airlines yang persis di samping Garuda Indonesia di gugus tengah. Garuda masih sepi dan belum terlihat petugas satupun, GA memang terbang 1 jam lebih lambat dibanding PAL (Philippines AirLines). Saya mendekati counter sekitar sepuluh menitan sebelum jam 9. Secara tak sengaja saya melayangkan pandangan ke arah antrian di counter Garuda dan melihat ibu Jully Siahaan, kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka. Beliau bersama suami antri di baris terdepan sehingga jarak dgn saya menjadi dekat. Kami sempat basa-basi ngobrol sebentar sebelum petugas memberi isyarat agar saya maju ke counter. Dengan cepat urusan check in beres dan segera saya menuju imigrasi lalu naik shuttle trem menuju gate tempat pesawat mangkal.
Sekitar setengah jam menunggu akhirnya boarding dimulai, alhamdulillah saya dapat seat di dekat jendela, padahal waktu check in saya kelupaan ngomong kalau ingin duduk dekat jendela. Alhamdulillah dapatnya sesuai keinginan.

Pesawat PAL yang lagi ngetem nunggu penumpang


Ini pertama kali saya menggunakan Philippines Airlines, tidak ada yang istimewa, interior dan pelayanannya pun seperti umumnya maskapai negara2 Asia Tenggara, senyuman Flight Attendant seminimal mungkin dan makanan sekedarnya. Untunglah penerbangan hanya 3 jam 50 menit sehingga rasa bosan tidak terlalu muncul. Sehabis nonton film “Eclipse” di layar TV di langit2 pesawat, saya sempat tertidur sebelum pesawat memasuki angkasa Manila dan mulai berguncang. Alhamdulillah pesawat mendarat dengan mulus di bandara Ninoy Aquino, Manila.
Saya bergegas keluar dari pesawat diantar ucapan terima kasih dalam bahasa Tagalog “salamat” (terima kasih) oleh kru pesawat. Mereka menggunakan bahasa sesuai penumpang, Nihonggo untuk orang Jepang, english untuk bule, dan tagalog untuk orang2 yg mereka anggap sebangsa. Seperti pengalaman waktu ke Thailand, saya dikira orang lokal dan diberi ucapan “salamat”. Saya membalas dalam bahasa yg sama dan segera keluar dari pintu pesawat, udara panas langsung menyambut.
Setelah mempelajari situasi dan memastikan informasi ke security bandara yang pakaiannya persis anggota satpam di Indonesia, saya antri di imigrasi untuk pindah jalur ke domestik. Lagi2 saya dikira Filipino dan disuruh masuk ke baris pemegang paspor Filipina, saya tersenyum dan menjawab “hinde si Filipino, ay Indonesian. Petugas memandang seakan tak percaya.
Di bea cukai hal yg sama terulang tapi kali ini petugas langsung bertanya sebelum meminta paspor, “filipino?”. “ay indonesian”, jawab saya dalam bahasa tagalog sepotong-potong. ” you look like philippine”, kata petugas itu. Saya hanya tersenyum dan menerima paspor saya yg cuma dilihat sekenanya lalu diserahkan kembali. Setengah berlari saya menuju terminal domestik yg terletak di gedung sebelah dan karena buru2nya saya tak melihat bahwa gerbang metal detektor dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, pada saat mau masuk barulah saya sadar setelah diberitahu oleh petugas wanita yg mesem2 sambil menegur dalam bahasa Tagalog, awalnya saya tak ngerti tapi setelah melihat ikon perempuan di atas gate, akhirnya saya tahu klo yg dimaksud adalah agar saya ke gerbang sebelah yg khusus laki-laki. Di gerbang laki-laki, petugas menunjuk ke kaki saya sambil berkata “sapatu &@:#|%#%”, saya hanya mengerti bagian “sapatu”nya lalu balas bertanya dalam bahasa Inggris. Rupanya maksud dia, sepatu juga harus dilepas dan dilewatkan ke scanner. “I am Indonesian, I don’t understand Tagalog”. Si petugas tertawa.
Pesawat yg saya tumpangi tiba di bandara Mactan dalam waktu sejam-an, saya langsung menyetop taksi dengan dibantu seorang penumpang yg tadinya duduk di sebelah saya selama di pesawat dari Manila. Beberapa menit kemudian saya disuguhi pemandangan di kanan kiri jalan yg persis seperti Indonesia. Jalanan rusak tak terurus, angkot dengan penumpang berdesak-desakan, genangan air bekas hujan, perumahan penduduk yang jauh dari kesan indah, dan segala atribut kemiskinan yg membayangi pulau Cebu yang digembar-gemborkan oleh pemerintah Filipin sebagai pulau wisata. Pemandangan itu terus berlanjut hingga akhirnya taksi berbelok memasuki sebuah kawasan yg berpagar tinggi dan dikelilingi hutan buatan yang rindang, itulah kompleks resort Maribago Blue Water yang ternyata memang nyaman dan asri sesuai gambaran di websitenya, berbeda sekali dengan suasana perkampungan di sekelilingnya.

Suasana Di Pulau Mactan, Filipina.


Maribago dibangun di sebuah wilayah pesisir seluas kurang lebih 5 hektar yang sebagian wilayahnya menghadap ke pantai. Wilayah resort dikelilingi oleh pagar tinggi berduri dan pohon bambu mini yang pasti akan menyulitkan bagi penyusup yg ingin memanjat pagar. Satu-satunya daerah terbuka adalah bagian sebelah timur yang menghadap ke laut lepas yang selalu dipatroli 24 jam untuk menjamin keamanan wisatawan. Jalan masuk satu-satunya di sebelah barat berpagar tinggi dan setiap pengunjung harus menyebut nama dan nomor kamar untuk memastikan bahwa mereka memang penghuni resort. Di dalam wilayah 5 hektar itu berdiri puluhan paviliun dengan jumlah kamar yg berbeda berdasarkan kelasnya, kamar yg saya tempati bersama Suzuki-kun sepertinya adalah jenis termurah karena memiliki banyak kamar. Di dekat pantai ada beberapa paviliun yang betul-betul seperti rumah sendiri. Yang unik di resort ini adalah semua bangunan beratapkan daun sejenis nipah yang disusun dengan rapi, mengingatkan saya pada rumah2 di Makassar 20-an tahun yang lalu.

Front Office Hotel


Saya tiba di kamar setelah dipandu oleh staf hotel dan mendapati Suzuki-kun sedang tidur, rupanya dia masih kecapekan setelah seharian berenang bersama teman-teman yang lain. Saya langsung sholat dhuhur dan ashar, jama’ qashar, setelah jalan2 singkat memperhatikan sekeliling hotel dan pantai, kemudian bergegas ganti pakaian. 5 menit kemudian saya sudah nyebur ke kolam renang di samping restoran.

Kamar Tempat Saya Nginap


Malamnya saya bersama teman2 satu angkatan berkeliling menikmati kota Cebu. Tujuan kami adalah Cebu Mall yang konon merupakan shopping center terbesar di Cebu. Mall itu berbentuk huruf U dengan taman yang asri di tengah2nya. Jumlah toko tidak terlalu banyak tapi lumayan untuk cari2 oleh2. Kami akhirnya berhenti di sebuah restoran dgn interior hijau menyala, memesan makanan dan menikmati dinner sambil bercakap-cakap. Salah seorang staf restoran mungkin karena penasaran akhirnya bertanya kepada saya “you are not philippine?”, saya tersenyum dan menjawab “neither japanese, I am Indonesian”. Staf itu kembali ke teman2nya di belakang konter dan terdengar ucapan “aaah…. Indonesia”, rupanya dari awal mereka penasaran dan mengira saya orang Filipina tapi mungkin ragu karena semua yg saya temani orang Jepang. Sehabis makan saya pulang ke hotel sendirian karena teman2 yg lain penasaran ingin mengunjungi diskotik, rupanya mereka penasaran seperti apa diskotik Filipina, apalagi di Jepang sendiri diskotik sudah sangat jarang ditemui.

Keesokan harinya kami bertujuh pagi-pagi sudah berkumpul di depan resepsionis hotel dan dalam beberapa menit kemudian sudah naik ke mobil minibus menuju pantai, hari itu rombongan saya akan menikmati paket wisata snorkeling dan makan siang di pulau kecil di tengah laut.

Lokasi dermaga tidak begitu jauh dari resort dan begitu turun dari mobil kami langsung menuju perahu kecil yang membawa kami ke perahu yang kami sewa seharian. Dengan biaya $80 perorang, tur ini terhitung murah karena sudah termasuk carter perahu seharian, perlengkapan snorkeling, dan makan siang yang cukup wah.

Pisss..... maksa nyelam meski pake baju pelampung


Pemandangan Yang Tidak Bisa Ditemui Di Negeri 4 Musim Seperti Jepang


Menu Makan Siang


Bergaya sejenak di dermaga menuju pulau kecil

Kami snorkeling di dua tempat sebelum makan siang di sebuah pulau yang dikelilingi oleh hamparan laut sedalam 1 meteran dengan paparan seluas beberapa kilometer. Menu makan siang terdiri dari kepiting, ikan, cumi, ayam, dan buah-buahan tropis yang betul2 memuaskan. Menu yg susah didapat kalau tinggal di Jepang.
Sehabis makan siang kami menyewa jetski dan bergantian menggunakannya. Sambil menunggu giliran kami snorkeling lagi di beberapa spot hingga akhirnya puas dan kembali ke darat. Matahari sudah condong ke barat ketika kami tiba kembali di hotel. Setelah menghangatkan badan di kolam renang, saya mandi dan sholat ashar lalu tertidur sejam-an.

Di acara makan malam terakhir, saya mengajak teman2 ke sebuah restoran yang berkonsep saung dan berada di dekat resort. Restoran itu adalah rekomendasi seorang teman kerja lain yg sudah berkunjung di malam sebelumnya, lokasinya sangat dekat karena ditempuh dengan jalan kaki kurang dari satu menit.

Ketika menu keluar, saya agak geli juga karena masakan2 yg ada sangat mirip dgn masakan2 Indonesia. Ada sup tulang sapi, ikan bakar bumbu kacang, dan tak ketinggalan menu yg seperti nasi goreng tapi mereka sebut chahan atau nasi goreng ala Cina. Tampaknya kebanyakan pengunjung restoran itu, sebagaimana halnya Maribago Resort, kebanyakan adalah orang Jepang sehingga menu mereka tertulis dalam bahasa Inggris dan Jepang. Pengunjung restoran di sekitar kami pun kebanyakan berbahasa Jepang. Sayang sekali, walaupun pelanggannya kebanyakan Jepang, pelayannya belum dididik untuk bisa melayani ala Jepang. Staf restoran yang melayani saung kami, satu kali pun tak pernah berhenti memperlihatkan wajah cemberutnya bahkan pada saat menerima uang, boro-boro mengucapkan terima kasih, gadis muda itu melengos dan bergegas pergi membawa nampan berisi uang tersebut.
Persis setelah makan selesai, tiba2 hujan mengguyur sehingga memaksa kami tinggal sejenak sampai akhirnya hujan berhenti. Untunglah resort dekat hingga tak perlu berbasah-basah walaupun mesti menggulung celana karena air setinggi betis menggenangi jalan di depan pintu gerbang resort. Malam itu tidur serasa nikmat karena hujan turun sambung menyambung hingga pagi.

Keesokan harinya kami meninggalkan hotel resort itu dan bertolak menuju Manila dan berganti pesawat menuju Kansai, pulang ke Jepang.

Sejarah Bangsaku dan Buletin Perusahaanku

Sudah lama sekali saya tidak menulis artikel yang diterbitkan di media yang dibaca oleh publik, selain yg tertuang di blog ini. Kali ini pun artikel yg saya tulis sebenarnya tidak diterbitkan di media yg benar2 publik karena wadah tempat artikel saya tampil itu hanya buletin internal perusahaan yang paling banter hanya akan dibaca oleh sekitar 2000 orang, yaitu pegawai Mandom Group di Jepang dan beberapa puluh ekspatriat yg dikirim ke negara lain. Tapi yang menantang kali ini adalah bahasa yang saya gunakan adalah bahasa Jepang dan tema yang saya angkat walaupun
hanya berupa laporan kegiatan, tapi berpotensi menimbulkan silang pendapat di antara pembaca jika saya tidak menggunakan ungkapan yang tepat karena kegiatan perusahaan yang saya ulas kali ini adalah tentang keikutsertaan Mandom Jepang dalam peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-65. Dan seperti yang umumnya rakyat Indonesia ketahui, kemerdekaan itu diproklamirkan saat terbebas dari Jepang, setelah Jepang kalah perang oleh sekutu dan Jepang harus menarik mundur pasukannya dari Indonesia.

Header Buletin

Header Buletin


Awalnya saya ingin menuliskan sedikit tentang latar belakang diperingatinya kemerdekaan RI dan hubungannya dengan Jepang. Tapi setelah mempertimbangkan pro-kontra pendapat tentang kemerdekaan negeri kita, akhirnya saya memutuskan untuk tidak membahas ttg hal itu. Pada saat itu saya mencoba mencari tahu dulu apakah orang2 Jepang tahu cerita perang jaman dulu atau tidak.
Sasaran interview saya yg pertama adalah manajer saya sendiri yang berusia sekitar 45 tahunan. Dan jawabannya sangat di luar dugaan karena ternyata si manajer itu tidak tahu bahwa negaranya pernah menjajah Indonesia. Dalam pengertian yg ia pelajari di bangku sekolah, Jepang pernah menduduki Indonesia tapi tidak pernah menjajah Indonesia. Dalam buku sejarah mereka, Jepang itu melakukan ?? (senryou) yg kalau diartikan kebahasa Indonesia adalah “menduduki”, bukan ???? (shokuminchika) atau menjadikan daerah kolonisasi atau menjajah.
Kami berdebat panjang lebar tentang masalah itu hingga akhirnya ia menunjukkan Wikipedia dalam bahasa Jepang yang ternyata setelah saya baca, isinya memang menuliskan bahwa Indonesia itu merdeka dari Belanda, bukan dari Jepang ( http://ja.wikipedia.org/wiki/%E3%82%A4%E3%83%B3%E3%83%89%E3%83%8D%E3%82%B7%E3%82%A2 ). Dan dijelaskan di wikipedia itu bahwa Jepang memang hanya menduduki Indonesia, bukan mengkolonisasi. Artikel Wikipedia berbahasa Jepang yang ditulis oleh orang Jepang itu diiyakan oleh staf lain sembari menambahkan bahwa kemerdekaan yg diproklamirkan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 itu belum diakui oleh Belanda kala itu sehingga otomatis belum bisa disebut merdeka. Menurut pemahaman mereka, Indonesia baru benar-benar merdeka setelah duduk di round table dan Belanda mengakui Republik Indonesia.
Sebagai orang Indonesia yang belajar sejarah bangsa sejak SD tentu saja saya bertahan dengan sejarah versi bangsa Indonesia, walaupun akhirnya berusaha menutup perdebatan itu karena merasa tak ada gunanya. Paling tidak saya sudah berusaha menunjukkan bahwa sejarah Indonesia versi Jepang itu tidak sama dengan yang diamini oleh bangsa Indonesia, terutama yang berhubungan dengan hari kemerdekaan dan penjajahan Jepang sebelumnya. Kalau menurut saya sendiri, Jepang disebut menjajah karena mendirikan perwakilan pemerintah di Indonesia. Sementara itu, ditariknya pasukan Jepang dari Indonesia di agustus 1945 menyebabkan kekosongan pemerintahan di Indonesia yg kemudian dimanfaatkan oleh pejuang RI untuk memproklamirkan kemerdekaan, sehingga otomatis kemerdekaan itu diambil dari Jepang. Tapi tidak demikian pendapat mereka.
Dari hasil tanya jawab itulah saya akhirnya memutuskan untuk tidak memasukkan kisah tentang kemerdekaan di dalam artikel yg saya tulis itu. Memulai sebuah perdebatan lama antara orang Indonesia yg berjumlah 2 orang vs 2000 orang Jepang di dalam perusahaan yg sama, saya rasa bukanlah hal yang bijaksana dan tidak membawa manfaat bagi siapapun.
Saya akhirnya menggambarkan bagaimana suasana peringatan hari ultah RI di Indonesia. Berkisah tentang panjat pinang, lomba kebersihan RT/RW, lomba makan kerupuk, dan tentu saja tentang upacara 17 agustus di kantor2 pemerintah atau sekolah. Sebuah suasana yang bagi orang Jepang saya yakin dianggap aneh karena pada hari ??? atau hari berdirinya negara Jepang tidak ada kegiatan resmi yg dilangsungkan.
Setelah paragraf yg berisi ilustrasi ttg suasana 17 agustus-an di tanah air, saya memfokuskan materi selanjutnya pada suasana peringatan ultah RI yang diadakan oleh KJRI Osaka di hotel Hyatt Regency, Osaka. Niat di balik tulisan itu adalah ingin menggambarkan bagaimana dua bangsa yang 65 tahun lalu berhadap-hadapan di medan perang dan saling membunuhi, kini rakyatnya bisa berdiri bersama dalam satu ruangan saling berjabat tangan dan bercerita tentang bagaimana mesranya hubungan kedua bangsa beberapa puluh tahun terakhir ini.
Konjen RI di Osaka pak Ibnu Hadi memulai sambutan sekaligus menggunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan satu persatu pimpinan atau perwakilan 13 perusahaan yang ikut serta mendukung acara itu. Presiden Direktur Mandom Group, Mr. Nishimura Motonobu, tanpa canggung mengambil posisi di panggung setelah nama beliau dipanggil. Di sebelah beliau berdiri pak Asa Perkasa, GM Garuda Indonesia cabang Osaka, seorang GM Garuda yang masih sangat muda tapi berwawasan luas dan seakan-akan tidak pernah kehabisan ide-ide cemerlang untuk mengembangkan pasar Garuda di Jepang. Selain Mandom dan Garuda, ada Panasonic, Mizuno (sports wear), Otsuka Holding (Pocari Sweat), Daihatsu, SK Foods, dan beberapa perusahaan lain.
Sambutan pak Konjen dilanjutkan dengan sambutan dari Dubes RI yang menyengajakan datang dari Tokyo, pak Yusuf Anwar. Beliau sekaligus memohon pamit kepada masyarakat Jepang sehubungan dengan berakhirnya masa tugas beliau dan harus kembali ke tanah air.
Dari pihak pemerintah Jepang, wakil gubernur propinsi Osaka, walikota Daerah Khusus Osaka, dan walikota Sakai City membawakan sambutannya masing-masing. Kimura Sakushi, wakil gubernur Osaka dengan semangat berkisah tentang hangatnya hubungan pemerintahannya dengan Indonesia. Beliau memaparkan tentang program Sister Province Osaka Prefecture dengan Jawa Timur dan serangkaian kegiatan yang mewarnai kerjasama itu, mulai dari sumbangan jembatan penyeberangan ke Jawa, program training Kadin Jawa Timur, dan juga ttg lawatan gubernur Jawa Timur tahun lalu dalam rangkaian kegiatan seminar dan promosi peluang bisnis di Jawa Timur. Sementara itu walikota Sakai City yang beroleh kesempatan menyampaikan pidatonya di sela-sela acara ramah
tamah menceritakan bagaimana seriusnya pemerintah kota di bawah pimpinannya menjalin kerjasama dalam berbagai bidang terutama bisnis dan budaya. Di kota yg beliau pimpin sejak tahun lalu memang semakin aktif menjalin kerjasama setelah tahun lalu beberapa SD di kota itu memperoleh pemberian alat musik tradisonal Indonesia, angklung. Sambutan walikota Sakai itu kemudian dilanjutkan dengan penampilan beberapa anak SD yang tampil memainkan beberapa lagu Indonesia dan Jepang dengan menggunakan angklung. Menarik sekali melihat mereka memainkan alat itu dengan lincah, padahal baru beberapa bulan mereka berlatih menggunakan alat tersebut.
Semua rentetan kegiatan itu saya beberkan secara berurutan dengan tidak lupa menampilkan beberapa foto selama acara.
Setelah selesai disetting, tulisan saya memenuhi 3 halaman dari total 8 halaman buletin Mandom.

Nasehat Allah, Kimia, dan Akuntansi

Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas (sebutannya SMA sebelum berubah nama menjadi SMU) tahun pertama saya sempat meninggalkan bangku sekolah beberapa hari dan harus menghabiskan waktu di bangsal rumah sakit karena menderita penyakit kuning. Menurut keterangan dokter kala itu, penyakit tersebut muncul karena daya tahan tubuh saya yang melemah akibat kecapaian.
Sebagai akibat dari sakit itu, saya kehilangan kesempatan belajar beberapa hari, padahal jadwal pelajaran pesantren yang kala itu menggunakan kurikulum triple berupa kurikulum sekolah umum, aliyah, dan pesantren sangat padat. Apalagi waktu itu saya baru saja duduk di bangku SMA sehingga ada beberapa pelajaran terutama kurikulum pendidikan umum adalah barang baru dan belum pernah saya temui di SMP. Untuk kurikulum pesantren dan aliyah, kebanyakan hanya versi lanjutan dari yang sebelumnya di bangku tsanawiyah atau kelas 1 s/d 3 (di pesantren kami sekolah 6 tahun, kelas 1 SMA itu disebut kelas 4).
Salah satu dari mata pelajaran brand new itu adalah kimia, sebuah mata pelajaran yang kemudian menjadi mata pelajaran yang tidak begitu menyenangkan karena tidak bisa saya pahami dengan baik sebagai akibat dari ketertinggalan saya selama berkali-kali kelas karena sakit.
Mata pelajaran kimia ini bahkan mengalahkan mata pelajaran matematika yang sebelumnya adalah pelajaran nomor satu unfavorit.

Kekurangan saya di Kimia ini sangat membekas di hati karena nilai raport saya untuk nilai kimia tidak pernah melewati angka 7, padahal matematika sendiri paling tidak, pernah menorehkan nilai 8.
Ketidakmampuan saya di mata pelajaran kimia itu akhirnya menumbuhkan rasa tidak senang terhadap hal-hal yang berbau kimia sehingga tentu saja kedokteran atau teknik kimia tidak pernah masuk dalam daftar target fakultas ketika akan melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, dan tentu saja MIPA dan fakultas yg berhubungan dgn matematika pun tidak masuk dalam daftar harapan. Ketika saya dinyatakan lulus di jurusan akuntansi Unversitas Hasanuddin dan diharuskan memilih karena juga lulus di STT Telkom, saya dengan bulat memilih STT Telkom. Selain karena beberapa alasan lainnya, “akuntansi identik dengan matematika” juga menjadi alasan kuat untuk itu. Dalam benak saya kala itu, di masa datang pekerjaan saya tidak akan berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan langsung dengan ilmu kimia atau matematika.

Tapi ternyata Allah menentukan lain karena sekarang ini saya malah bekerja di sebuah perusahaan yang dengan jelas mencantumkan jenis industrinya sebagai “perusahaan produk kimia (kosmetik dan produk medical quasi)”. Dan ketidaksukaan saya terhadap mata pelajaran kimia itu terbayang kembali ketika saya harus meracik bahan-bahan kimia untuk membuat bahan kosmetik atau ketika mencampur bahan-bahan itu untuk mengecek kualitas hasil produk di laboratorium QC kami di pabrik. Walaupun saya berada di pabrik hanya selama 6 bulan dan jenis pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu ngimia, karena hanya kebagian di bagian peracikan, finishing, dan quality control, tapi bagi saya hal itu sudah cukup spektakuler karena tidak pernah membayangkan bakalan pernah melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan hal yang dulunya tidak saya sukai.

Tapi ternyata bukan hanya kimia saja, matematika yang juga semula merupakan hal yang saya hindari pada pekerjaan, di divisi kali ini harus saya akrabi dengan akuntansi. Sebenarnya sebagai auditor intern, pekerjaan saya tidaklah serumit materi yang harus dikerjakan oleh auditor akunting, tapi pada salah satu bidang yang kami kerjakan yaitu audit operasional tetap saja saya harus memahami prinsip-prinsip dasar akuntansi dan pembukuan agar bisa melakukan pekerjaan dengan baik dan benar.

Saya jadi teringat sebuah ayat Qur’an yang dulu pernah dipelajari semasa mondok :
“dan mungkin kamu membenci sesuatu yang lebih baik bagi kamu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu yang lebih buruk bagi kamu; Allah mengetahui, dan kamu tidak mengetahui.” Al Baqarah ayat 216.
Yang intinya ingin mengingatkan kita bahwa ada hal-hal yang kita tidak sukai karena sesuatu alasan padahal hal itu adalah sesuatu yang baik bagi kita, dan berguna nantinya. Demikian pula sebaliknya, ada hal yang kita sukai dan kejar-kejar padahal hal itu akan membawa ketidakbaikan buat kita.
Walaupun asbabun nuzul (penyebab turunnya) ayat ini dilatarbelakangi peristiwa tentang orang-orang yang ditegur oleh Allah karena tidak mau berangkat ke medan perang membela agama Allah, tapi kutipan ayat ini rasa-rasanya mampu memberikan nasehat yang klop dengan keadaan yang saya hadapi sekarang. Ternyata ketidaksukaan saya terhadap kimia dan matematika bukan hal yang baik bagi saya karena keduanya sangat saya butuhkan dalam pekerjaan saya yang sekarang walaupun bukan pada level expert.

Dalam kehidupan ini memang ada banyak hal yang baru kita bisa mengerti setelah mengalaminya sendiri, walaupun hal itu mungkin sudah diperingatkan oleh orang tua, guru, atau orang sekitar kita. Tapi bagi anda yang masih muda dan masih memiliki kesempatan yang banyak untuk memilih dalam hidup, ingatlah nasehat Allah di atas ketika akan membenci atau tidak suka dengan sesuatu hal. Janganlah pernah membenci sesuatu berlebihan karena bisa saja hal itu adalah hal yang baik dan suatu hari kelak akan anda butuhkan.