Tag Archive for kosmetik

Lunch Meeting With Vice Minister Mr. Alex SW Retraubun

Saya tiba agak kepagian di hotel Shangri-la karena di luar dugaan kondisi jalanan dari Sunter ke bilangan Thamrin-Sudirman tidak macet. Akhirnya untuk memanfaatkan waktu yang ada saya nongkrong di J.CO Donut di City Walk Sudirman sambil mengerjakan PR kantor yang sengaja saya bawa. Sebagai PIC di Management Planning, menu pekerjaan sehari-hari bukan hanya regular task seputar corporate planning dan budget management, hampir 75% waktu habis untuk mengurusi project based task yang tahun ini berjumlah 5 buah sekaligus. Agak kerepotan, tapi sangat challenging karena cakupannya sangat luas, mulai dari ranah management, product development, production, sampai marketing. Sambil menyeruput cafelatte panas saya mencoba mengkonsep beberapa hal.
Menjelang jam 11, saya akhirnya kembali meluncur menuju ke Shangri-la yang terletak hanya beberapa ratus meter dari City Walk dan tidak lama kemudian BBM dari CEO Mandom Indonesia masuk mengabarkan kalau beliau bersama CEO Mandom Japan sudah menunggu di caf hotel Shangri-la. Hari ini saya dengan bantuan KJRI Osaka (thanks to Bapak Ibnu Hadi dan mbak Wulan) mengatur lunch meeting antara CEO Mandom Group, CEO Mandom Indonesia, Wakil Menteri Perindustrian Bapak Alex SW. Retraubun, dan Direktur Kimia Hilir Kemenperin Ibu Toeti Rahajoe.
Saya memasuki lobi hotel agak tergesa karena tidak enak meminta dua CEO menunggu, walaupun jam belum menunjukkan pukul 11:15, waktu appointment saya dengan dua atasan saya itu. Setelah berbasa-basi sejenak, saya mengajak mereka untuk menunggu di dalam restoran, seperti kesepakatan yang saya buat dengan pak Alex melalui sekertarisnya. Kami akhirnya menuju lantai ground tempat restoran Jepang Nishimura terletak.
Setelah mengantar kedua CEO ke private room dengan dipandu staf restoran, saya menunggu di pintu masuk sambil membaca Koran Nikkei Shimbun yang tersedia di ruang tunggu, restoran masih sepi karena memang baru buka jam 11:30an, sementara kami tiba jam 11:15an, staf restoran tidak ada satupun yang menjaga di meja resepsionis. Tidak lama berselang seorang pria tinggi besar bersetelan batik warna cerah memasuki restoran, saya langsung berdiri dan menegor,
Pak Alex ya?.
Beliau langsung tersenyum dan menjawab sambil menjabat tangan saya erat.
Ya, pak Arif?.
Ya pak jawab saya sambil bertanya lagi Datangnya sendiri pak? Ibu Tuti ngga bareng?
Iya, Ibu Tuti menyusul, tapi tadi sudah berangkat bareng
Kalau begitu kita tunggu di dalam saja ya pak Ajak saya sambil mengarahkan ke dalam restoran.
Pak Nishimura, CEO Mandom Group, dan Pak Hibi, CEO Mandom Indonesia berdiri menyambut dan menjabat tangan pak Alex sambil tersenyum. CEO Mandom Indonesia yang badannya tinggi sekalipun terlihat biasa saja ketika berdampingan dengan Pak Alex yang perawakannya tinggi besar. Sebagai putra Maluku yang hidup dan besar di pulau Tayando, Maluku, pak Alex adalah success story yang patut diteladani. Kehidupannya yang keras di masa kecil yang diwarnai dengan segala usahanya mulai dari berjualan es dan kue-kue untuk menyambung sekolah, dipadu dengan pengalaman hidupnya di Inggris selama bertahun-tahun setelah memperoleh beasiswa belajar. Perpaduan ini menciptakan pribadi dan pembawaan yang unik. Logat Malukunya sangat kental ketika bercakap dalam bahasa Indonesia, tapi ketika berbahasa Inggris logat itu menjadi agak tersamar. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh dialek orang Inggris selama bermukim di New Castle dan menyelesaikan program S-2 dan doctorate-nya di sana.
Tidak lama berselang Ibu Toeti tiba di restoran bersama asistennya. Kami berenam akhirnya terlibat percakapan seru sembari menunggu makan siang yang sedang dipersiapkan. Walaupun di hadapan saya terhidang bento lezat dengan kombinasi menu lebih dari 12 jenis, saya tetap harus konsentrasi penuh karena menjembatani percakapan antara dua atasan saya dengan pak Wamen dan Ibu Direktur. CEO Mandom Indonesia yang sehari-hari lancar bercakap bahasa Indonesia, kali ini pun menggunakan bahasa Jepang. Mungkin beliau khawatir jika menggunakan kosakata yang tidak pantas untuk orang sekaliber pak Alex, sehingga mencari jalan aman dengan menggunakan bahasa Jepang.
Pak Alex dan Ibu Toeti sangat menyenangkan diajak bercakap-cakap. Mereka berdua tampaknya sudah mengerjakan PR karena tampaknya sudah memiliki informasi yang memadai tentang perusahaan kami, PT. Mandom Indonesia Tbk. Tapi yang mengagetkan, ternyata kementerian perindustrian hanya memiliki data kami yang diupdate terakhir kali sekitar 20 tahun yang lalu, sebelum kami go public di tahun 1993. Selidik punya selidik, ternyata Kemenperin hanya mengupdate data perusahaan kalau perusahaan tersebut pernah punya masalah dan mengontak Kemenperin, selain perusahaan seperti itu maka data yang tersedia hanya data di masa awal proses database di tahun 1990-an. Sebuah kelemahan Kemenperin di bidang IT yang berhasil ditutupi dengan manis oleh Ibu Toeti, karena penjelasan itu membuat kedua CEO kami bangga. Secara sederhana bisa dikatakan, data kami tidak diupdate, berarti selama dua puluh tahun terakhir Mandom Indonesia tidak pernah punya masalah yang cukup berarti sampai-sampai harus mengadu ke Kemenperin.
Selain masalah bisnis, industry, ekonomi, dan politik, pembicaraan juga melebar ke masalah yang bersifat pribadi. Ibu Toeti ternyata pernah menjalani pelatihan selama beberapa hari di Osaka Training Center dan sangat terkesan dengan Jepang. Beberapa kali pembicaraan sempat mengarah ke saya karena tampaknya pak Alex dan Ibu Toeti ingin tahu dengan status saya sebagai karyawan Mandom Corporation Jepang tapi ditugaskan di Indonesia, jadi ibaratnya ekspatriat di negeri sendiri dan juga ingin dengar tentang kehidupan di Jepang. Tapi karena main actor hari ini bukan saya, melainkan CEO kami berdua, maka pembicaraan saya arahkan kembali ke urusan bisnis. CEO Mandom Indonesia sempat melontarkan pertanyaan seputar pendapat pak Alex tentang pemilu di tahun 2014 dan hubungannya dengan dunia bisnis, pak Alex menjawab secara diplomatis dan berusaha meyakinkan bahwa siapa pun pemerintahnya, Indonesia akan selalu berusaha menjaga iklim usaha yang sehat dan membawa kemakmuran bagi semuanya. Satu hal yang menarik adalah ketika pak Alex kami pancing dengan pertanyaan seputar kenaikan UMP di daerah Jakarta, pak Alex menjawab dari sudut pandang Kementerian Perindustrian bahwa sebenarnya ini adalah langkah maju yang merupakan kesempatan bagus bagi Kemenperin untuk menstimulasi tumbuhnya industry di daerah. Dengan menaiknya UMP di Jakarta sampai sekitar 30%, maka perusahaan yang tidak mampu mengakomodasi itu akan dihadapkan pada beberapa pilihan, di antaranya yaitu memindahkan lokasi usahanya atau yang terburuk adalah gulung tikar. Seharusnya, menurut beliau, kepala-kepala daerah di luar Jakarta mengambil kesempatan ini dengan mempercantik iklim usaha di daerahnya sehingga pengusaha-pengusaha yang tak mampu bersaing di Jabodetabek mau memindahkan usahanya ke tempat mereka. Beliau menyayangkan bahwa beberapa daerah di luar Jakarta justru ikut-ikutan menuntut upah naik sehingga otomatis daerah itu kehilangan pesonanya sebagai tujuan investasi. Jika tidak memiliki infrastruktur sebagus Jabodetabek, seharusnya daerah menjadikan upah rendah sebagai daya tawar untuk menarik investor, tandas beliau.
Di akhir-akhir percakapan, persis seperti skenario yang sudah saya prediksi dan jelaskan kepada dua CEO kami, pak Alex menanyakan apa yang bisa Kemenperin lakukan untuk membantu bisnis Mandom di Indonesia. Seperti kebanyakan perusahaan Jepang lakukan ketika berhadapan dengan pemerintah Indonesia, kami meminta agar pembangunan infrastruktur terutama transportasi dan energy dipercepat. Hal ini sangat krusial karena merupakan unsure utama bagi dunia bisnis, terutama bagi perusahaan FMCG seperti Mandom Indonesia. Distribusi yang lancar adalah syarat mutlak kesuksesan bisnis kami. Seperti dugaan kami, sebagai pemangku jabatan di industry, Pak Alex hanya bisa menjanjikan akan melakukan konsolidasi dengan departemen terkait sehubungan permintaan kami itu, sekaligus juga menyebutkan bahwa pemerintah daerah Jabodetabek sedang berusaha memecahkan keruwetan masalah transportasi ini dengan berbagai cara, misalnya dengan MRT, walaupun memang baru di dalam wilayah Jakarta dan belum sampai di daerah Cibitung tempat pabrik dan kantor pusat kami yang baru sedang dibangun.
Di dalam pembicaraan kami, pak Alex juga mengingatkan kembali agar tidak lupa mengundang beliau pada saat peresmian pabrik dan kantor pusat baru kami di Cibitung nanti. Permintaan itu tentu saja kami tanggapi dengan senang hati dan berjanji akan mengontak jika sudah mendekati waktunya.
Jam nenunjukkan pukul 1 lewat ketika kami bersalaman saat akan berpisah, padahal appointment kami sebenarnya hanya 60 menit karena pak Alex harus menghadiri meeting di Kementerian. Pak Alex, ibu Toeti dan asistennya meninggalkan restoran terlebih dahulu sedangkan kami bertiga mengobrol sebentar di lobi hotel sebelum akhirnya meninggalkan hotel Shangri-la.

METI, Asosiasi Pengusaha Kosmetik Jepang, dan Pak Jo Liat Tjiang

Siang-siang sebuah telpon dari nomor yang tak terdaftar di HP masuk, suara penelpon agak berat dan aksen pembicaranya tidak saya kenal. Ternyata yang menelpon adalah pak Jo Liat Tjiang, seorang profesional kawakan di bidang chemical dan cosmetics. Pak Jo selain menjabat sebagai Presiden Direktur PT.Soci Mas, beliau juga adalah Senior Managing Director di Sinarmas Group, sekaligus Vice President PT. Dian Tarunaguna, sole distributor Shiseido di Indonesia. Beliau menelpon karena bingung dengan sebuah permintaan yang datang dari Shiseido Jepang untuk melayani delegasi dari Jepang yang terdiri dari pejabat Departemen Perekonomian dan Perindustrian Jepang (METI) dan perwakilan dari Asosiasi Pengusaha Kosmetik Jepang. Permintaan tersebut tidak mencantumkan dengan jelas latar belakang, schedule, dan detail lain tentang kegiatan tersebut. Satu-satunya yang tertera di dokumen tersebut memberikan nomor HP saya yang menjelaskan bahwa Pak Jo bisa menghubungi saya untuk keterangan lebih lanjut. Saya sendiri jadi bingung karena dari METI saya hanya diminta untuk mengatur pertemuan secara internal dan mendampingi Vice President kami. Saya secara khusus tidak pernah diminta untuk memberikan penjelasan kepada Pak Jo atau memfollow up beliau untuk pertemuan itu.

Walaupun sama-sama bingung, kami akhirnya sepakat untuk bertemu menyatukan pendapat sebelum menghadapi delegasi Jepang. Saya bersama Vice President Mandom dan pak Jo akhirnya janjian ketemu di sebuah hotel di bilangan Sunter keesokan harinya.

Keesokan paginya saya bersama VP menuju coffee shop hotel tempat kami janjian. Ternyata Pak Jo sudah menunggu duluan. Kami berjabat tangan dan berbasa-basi sebentar. Pak Jo sudah berumur sekitar 70-an tapi badannya masih tegap dan masih sangat terlihat segar di usianya yang mulai senja. Padahal menurut beliau, beliau tidak terlalu memilih-milih makanan, bahkan cenderung menikmati apa saja yang ingin dinikmati. Tapi, menurut beliau, yang penting adalah menjaga kebiasaan makan pagi yang cukup. Pagi itu beliau menikmati sepiring bubur ayam yang di-base telur setengah matang.

Karena sayang kalau kesempatan emas ini lewat, maka saya banyak mengorek-ngorek wawasan keilmuan dan pengalaman beliau selama puluhan tahun malang melintang di dunia industri, terutama di Sinar Mas Group, grup usaha yang dibesarkan oleh Bapak Eka Cipta Wijaya. Beliau kemudian bercerita bagaimana sepak terjang bisnis beliau dengan orang asing terutama orang Jepang, mulai dari PT. Soci Mas yang beliau nakhodai, hingga PT. Dian Tarunaguna yang beliau kendalikan dalam kapasitas sebagai Vice President.

Yang mengagumkan dari Pak Jo adalah nasionalisme beliau yang sangat tinggi. Beliau berkali-kali menekankan bahwa sebagai orang Indonesia, kita harus berdaulat di negeri sendiri, terutama ketika menyangkut industri dan bisnis. Menurut beliau, perusahaan asing yang masuk dan menjalin kerjasama dengan pengusaha-pengusaha lokal, seharusnya sedari awal menempatkan partner-nya sebagai kawan yang berkedudukan sejajar. Beliau mengkritik pengusaha-pengusaha asing terutama pengusaha Jepang yang hanya menjadikan partner lokalnya sebagai pintu masuk untuk mencicipi pasar domestik Indonesia, yang kemudian nanti diberi “kompensasi secukupnya” dan diceraikan ketika bisnis mereka sudah mulai berakar di Indonesia. Pola pengembangan bisnis seperti ini memang kelihatannya hanya memperalat pengusaha-pengusaha lokal tanpa berniat membangun bisnis yang saling menguntungkan. Di Soci Mas, yang mereka lakukan malah sebaliknya. Menurut beliau, perusahaan tersebut tadinya adalah joint venture dengan pengusaha Jepang, yang kemudian diambil alih oleh Sinar Mas Group setelah pengusaha Jepang tersebut diberi “kompensasi secukupnya” lalu diceraikan. Walaupun saya tidak ada sangkut pautnya, mendengar kisah tersebut, saya merasa bangga karena Indonesia bisa punya grup usaha sebesar Sinar Mas yang mampu mengatur tamu asing di negeri kita ini. Sebuah hal yang biasanya malah terjadi sebaliknya.

Prinsip tentang kesetaraan asing-lokal itu dijadikan sebagai satu dari dua poin yang pak Jo sampaikan ketika kami akhirnya menghadapi delegasi METI Jepang dan Asossiasi Kosmetik Jepang sekitar sejam kemudian di kantor pusat Mandom di Sunter.Setelah mendengar pendapat pak Jo, utusan METI berjanji akan meneruskan poin tersebut kepada pihak-pihak yang terkait.
Poin yang satunya lagi adalah himbauan beliau kepada para pengusaha Jepang untuk meniru pengusaha-pengusaha Korea yang bisa membangun gurita bisnis di Indonesia dalam jangka waktu yang relatif singkat. Menurut beliau para pengusaha-pengusaha Korea ini bisa berhasil membangun bisnis di Indonesia dan mulai mengganggu eksistensi Jepang karena mereka berhasil melakukan asimilasi budaya dengan lokal karena menguasai bahasa asing, yaitu bahasa Inggris. Poin kedua ini memang menohok telak karena memang orang-orang Jepang kebanyakan lemah di dalam penguasaan bahasa Inggris. Utusan METI mengangguk-ngangguk dan tersenyum agak malu-malu.

Ketika delegasi Jepang meminta ide-ide dan informasi lagi, saya menambahkan tentang kegiatan monozukuri yang digawangi oleh Pak Rahmat Gobel dari Panasonic Indonesia. Termasuk menceritakan tentang beberapa kegiatan yang melibatkan JETRO dan JICA. Utusan METI menanggapi dengan dingin dan berpendapat bahwa kegiatan yang dilakukan JETRO tidak akan banyak membawa manfaat. Sempat bingung juga kenapa seorang utusan pemerintah Jepang justru tidak menanggap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kolega mereka di organisasi yang berbeda. Namun saya jadi ingat di sebuah artikel di internet tentang “persaingan” antara METI, Kemenlu, JETRO, dan JICA dalam program-program luar negeri mereka. Suatu hal yang disayangkan karena seandaianya disinergiskan, maka mungkin bisa memberi manfaat lebih besar.

Pertemuan itu berakhir sekitar jam 12:30 sementara pak Jo minta diri sejam lebih cepat karena memang sesi beliau selesai jam 11:30.