Tag Archive for bekerja ala jepang

EN First Book – Testimoni Pak Firman Wibowo

Terakhir kali saya ketemu langsung dengan pak Firman sekitar April tahun lalu ketika saya baru kembali ke Indonesia dan diajak pak Firman makan malam di Nishimura Restaurant yang ada di lantai basement hotel Shangrila Jakarta. Pak Firman sangat senang dengan teppan-yaki di restoran Jepang tersebut sehingga saya hampir yakin bahwa kali ini ketika diajak makan malam dan mengobrol langsung tentang EN, lokasinya pasti Nishimura Restaurant. Perkiraan saya tidak meleset ketika akhirnya pak Firman konfirmasi kalau kami akan akan ketemuan di restoran tersebut. Malam itu seperti 2 pertemuan sebelumnya, saya bersama Abdi, ketua EN yang kebetulan sedang berada di Indonesia karena dinas dari kantor.
Pak Firman agak telat karena hari itu sehabis mengisi acara pelatihan untuk petinggi-petinggi BNI dari daerah. Akhirnya saya dan Abdi duluan nongkrong di private room yang sudah dipesan pak Firman. Tapi hanya beberapa menit, akhirnya pak Firman datang dengan senyum lebar dan menjabat tangan kami. Saya memperkenalkan Abdi kepada pak Firman dan kami mulai terlibat percakapan seru sambil ditemani koki yang mulai memasak di teppan di depan kami. Nyaris setahun tak bertemu, pak Firman masih tetap kelihatan segar dan enerjik. Aura positif dan semangat yang selalu menggebu-gebu terpancar kuat dari diri pak Firman. Dalam beberapa kali pertemuan dengan orang-orang sukses, aura berwibawa memang selalu terpancar, baik itu pada pejabat pemerintahan seperti pak Hidayat (Menteri Perindustrian), pak Taufiq (Senior Adviser Menteri UKM), maupun pada enterpreneur atau profesional seperti pak Heru dan pak Firman ini. Tapi hanya profesional atau enterpreneur yang memancarkan aura antusiasme tinggi seperti yang terpancar dari diri pak Firman.

Ketika kami mulai membahas tentang buku yang kami beri judul “Bekerja Ala Jepang” dan kami tulis keroyokan, pak Firman menyambut dengan antusias. Beliau juga sepaham dengan kami bahwa untuk bisa memajukan industri, maka terlebih dahulu kita perlu menyuburkan nilai-nilai baik yang dianut oleh pelaku-pelaku industri. Kalau dalam ungkapan terkenal di dunia HRD di Jepang, “monozukuri no mae, mazu wa hito zukuri desu” (sebelum bicara tentang manufaktur, maka terlebih dahulu harus bicara tentang penciptaan SDM yang unggul). Ungkapan ini kemudian diperdalam maknanya dari sudut pandang seorang profesional oleh pak Firman dalam bahasa yang sangat mengena di kalimat testimoni yang beliau tulis untuk buku kami. Saya tidak akan menuliskan golden sentence itu di artikel ini karena kalimat itu copyrightnya ada di beliau dan harus diterbitkan dulu supaya bisa terlindungi haknya. Jika ingin tahu, silakan nanti beli buku kami (promosi dikit …. hehehehe).

Awalnya kami hanya berniat meminta testimoni dari pak Firman, tapi beliau kemudian juga menawarkan sponsorship dan membuka kesempatan untuk mendayagunakan buku tersebut dengan membagikannya pada acara-acara Kampung BNI, termasuk acara gerakan monozukuri yang digawangi Panasonic dan didukung penuh oleh BNI. Beliau bahkan menawarkan penggunaan ballroom Shangrila untuk peluncuran buku kami. Sebagai kepala divisi di BNI, beliau memang memiliki akses luas untuk menghubungkan BNI dengan kegiatan-kegiatan yang bisa selaras misi BNI, apalagi pada saat tukar kartu nama tahun lalu, saya lihat beliau menjabat sebagai Senior Vice President BNI. Pak Firman juga dengan antusias menceritakan tentang program kemitraan Kampoeng BNI yang sudah berjumlah 20 buah dan tersebar di seluruh Indonesia. Program kemitraan yang bertujuan mendayagunakan potensi kampung-kampung binaan BNI dan menumbuhkan enterpreuner-enterpreneur baru itu sangat sejalan dengan misi EN dalam memandirikan industri nasional. Mungkin karena kesamaan misi itulah sehingga obrolan kami jadi menarik sehingga tanpa terasa jam menunjukkan pukul 21 malam.

Kami mengucapkan terima kasih, berjabat tangan dan berpisah di lobi hotel.

EN First Book – Testimoni Pak Heru Santoso

Untuk yang kedua kalinya dalam seminggu berangkat kerja pakai setelan jas, sesuatu yang tidak begitu nyaman, walaupun kali ini minus dasi. Daripada under-dress, masih lebih baik saya over-dress, kalaupun terlalu over maka nanti tinggal menanggalkan setelan atas atau menggulung kemeja. Pengalaman under-dress waktu menemani Konjen Osaka pak Hadi minggu lalu masih membekas, waktu itu saya minus dasi, sementara semua peserta kunjungan yang terdiri dari anggota Kansai Keizai Renggo Kyokai (Asosiasi Konfederasi Ekonomi Kansai) memakai dasi, kecuali satu orang yang menggunakan batik. Maka kali ini saya mengantongi dasi walaupun sebenarnya yakin tidak akan terpakai, sebab makan malam kali ini adalah acara non-formal bersama pak Heru Santoso, Vice President PT Panasonic Manufacturing Indonesia, yang juga menjabat sebagai ketua di Komite International Relation Kadin pusat, chairman Asosiasi Pengusaha Mold & Dies, dan seabreg jabatan lain, termasuk wakil ketua persatuan alumni Jepang, PERSADA. Makan malam ini adalah rangkaian upaya kami mendapatkan testimoni untuk buku Enjinia Nusantara (EN) yang pertama “Bekerja Ala Jepang”, sekaligus memperkenalkan apa itu Enjinia Nusantara pada network yang ada di Indonesia. Bersama ketua EN, Abdi dari Daihatsu Japan. Kami janjian dengan pak Heru di restoran Jepang, Sumiya, Senayan STC.
Jam 7 lewat 2-3 menit ketika saya keluar dari lift menuju restoran saat sms dari pak Heru masuk dan memberitahu kalau beliau sudah ada di Sumiya. Sambil tidak enak hati karena membuat orang sekelas pak Heru menunggu, saya terburu-buru bergegas masuk ke dalam restoran. Kami berjabatan tangan dan saya meminta maaf karena telat.
Dengan setelan batik yang cerah dan senyum yang hangat pak Heru menyambut. Tidak banyak perubahan dibandingkan saat terakhir kami bertemu di Osaka sekitar 6 tahun yang lalu. Dengan gaya bahasa yang lugas dan tegas, beliau selalu menyenangkan ditemani berbincang. Belum lagi letupan-letupan semangat muda yang terpancar kuat di aura beliau, suatu ciri khas yang selalu saya temui pada orang-orang sukses seperti pak Heru ini.
Abdi menyusul beberapa saat kemudian, dan setelah beberapa menit berselang, seseorang yang diperkenalkan oleh pak Heru bernama Agung ikut bergabung. Agung yang seusia dengan saya adalah mantan penerima beasiswa Panasonic dan sekarang ini berdikari membangun usaha. Perusahaan Agung PT. Aozora Agung Perkasa adalah UKM binaan Panasonic Indonesia yang sedang naik daun dengan teknologi water treatment-nya dan konon sudah melayani beberapa perusahaan-perusahaan Jepang yang ekspansi ke Indonesia. Akhirnya kami berempat terlibat percakapan dan diskusi yang seru.
Ternyata pilihan kami meminta pak Heru untuk menulis testimoni sangat tepat. Selain kapasitas beliau sebagai alumni Jepang, Sekertaris Jenderal Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ), Wakil Ketua Persada, dan banyak hal lain yang berhubungan dengan Jepang, beliau sangat respon dengan visi misi organisasi profesional kami yang baru berumur jagung itu. Beliau banyak mengarahkan kami, bukan hanya pada implementasi ide-ide kami yang bertema kemandirian industri nasional, bahkan beliau juga menawarkan beberapa ide-ide untuk mengubungkan kami dengan network beliau yang sangat luas. Mulai dari kalangan akademis, bisnis, hingga pemerintahan.
Satu ide yang sangat menarik dari beliau adalah tentang pengadaan kontes gasing (Koma Taisen) yang akan dihadiri oleh perusahaan-perusahaan manufaktur Jepang. Hingga tahun lalu, kontes ini hanya diadakan di Jepang, tapi berkat lobi beliau akhirnya panitia bersedia memindahkan acara kegiatan ini ke Jakarta yang rencananya akan dirangkaikan dengan kegiatan pameran industri nasional Manufacturing Indonesia di Kemayoran November 2013. Sekilas, gasing bukan benda aneh dan boleh kata dianggap sepele, hanya sebagai mainan. Tapi hubungan benda ini dengan kemajuan industri menjadi jelas ketika beliau mengeluarkan jenis gasing yang dimainkan pada kontes itu. Gasing-gasing tersebut terbuat dari logam yang dalam proses pembuatannya membutuhkan mesin bubut jenis CNC. Industri jenis ini merupakan penopang kekuatan monozukuri (manufaktur) Jepang. Untuk bisa menjadi pemenang dalam kontes ini, gasing harus memiliki keseimbangan yang sempurna sekaligus memiliki berat yang cukup untuk menjatuhkan gasing lawan. Jika terlalu ringan maka akan mudah dijatuhkan lawan, tapi sebaliknya jika terlalu berat maka akan lamban berputar sehingga cepat berhenti. Untuk memperoleh keseimbangan yang paripurna itu, sebagus apapun mesin bubutnya, kalau manusianya tidak ahli maka hasilnya mungkin tidak sesuai harapan. Sebaliknya, walaupun manusianya ahli tapi mesinnya tidak bagus, maka akan sulit memperoleh hasil yang bagus karena bahan baku logam yang keras. Bisa menang dalam pertandingan gasing itu ibarat pengakuan tersendiri bagi sebuah perusahaan akan kesempurnaan mereka dalam memadukan teknologi manufaktur dan sekaligus kreatifitas SDM yang mereka miliki. Yang unik, menurut pak Heru peserta Koma Taisen ini bukan hanya melulu perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang bubut logam atau alat presisi, tapi perusahaan manufaktur yang bidangnya lain pun ikut meramaikan event ini. Melalui event ini, terjadi networking antara sesama pengusaha sehingga walaupun kalah dalam gasing, siapapun masih berkesempatan menang dalam networking karena bisa bertemu supplier, pelanggan, dan menambah relasi bisnis. Konsep event yang sangat menarik!
Selain Koma Taisen, pak Heru juga menawarkan chance untuk mendayagunakan Universitas Persada guna mewujudkan visi EN dalam memajukan industri nasional. Dengan kapasitas EN yang terdiri dari pemuda-pemudi Indonesia dengan latar belakang berbagai disiplin ilmu, mulai dari energy, engineering hingga bisnis dan manajemen, memang ada peluang kolaborasi yang bisa berujung pada penciptaan semacam inkubator bisnis bagi UKM-UKM baru di Indonesia. Walaupun belum ada konsep kongkrit dalam hal ini, tapi pemaparan visi semacam itu bagi kami adalah sesuatu yang sangat exciting karena membuka pintu-pintu ke arah langkah-langkah nyata untuk berbakti kepada bangsa, walaupun dalam skala yang sangat kecil.
Satu poin yang paling menarik dari diskusi kami adalah pemaparan gerakan monozukuri yang sedang diusung oleh pak Rahmat Gobel (baca di artikel Warta Ekonomi tentang pemikiran beliau). Budaya monozukuri ini memang budaya penopang utama keberhasilan industri Jepang merajai dunia elektronik, otomotif, mesin berat, dll. Visi pak Rahmat adalah menjadikan monozukuri ini sebagai bagian dari budaya di dalam industri di Indonesia, terutama di industri kecil dan menengah, karena dengan budaya semacam inilah sebuah industri kecil atau menengah bisa bertahan dalam ganasnya persaingan usaha. Jika pelaku-pelaku bisnis bisa bertahan hidup, berarti industri nasional pun akan sustainable. Sebuah pemikiran yang cukup sederhana secara konsep tapi pasti implementasinya tidak akan mudah. Sebab, pelaku-pelaku industri kita kebanyakan sudah ‘terbiasa’ memproduksi barang sekenanya, kualitas tidak stabil, dan minus kreatifitas alias lebih banyak nyontek. Kondisi ini dimafhumkan oleh perilaku konsumen yang memang belum banyak menuntut, kebanyakan orang Indonesia nrimo saja kalau produk-produk yang mereka beli ternyata rendah mutunya dan rusak dalam jangka waktu yang singkat. Sehingga kalau menurut saya pribadi, sebaiknya gerakan monozukuri ini dibarengi dengan edukasi pasar untuk selalu menuntut kualitas tinggi. Istilahnya, jangan mau beli produk murahan berkualitas bobrok, apalagi produk harga mahal dengan kualitas jelek. Jangan mau beli jam tangan harga 50 ribuan yg bakal rusak dalam 3 bulan, padahal kalau sabar dikit dan menabung bisa beli jam tangan seharga 200 ribuan dengan kualitas yang bisa bertahan hingga tahunan. Jangan mau beli seprei 40 ribuan yang begitu dipakai, luntur hingga berbekas di kasur dan kasurnya mesti dilaundry dengan biaya yang lebih besar. Lebih baik sabar dan nabung dikit supaya bisa beli yang harga sedikit lebih mahal tapi kualitas terjaga, dan lain-lainnya. Dengan karakter konsumen yang lebih cerdas, maka mau tak mau produsen yang ‘asal buat’ secara perlahan akan tersingkir jika tidak mau meningkatkan mutu dan memperbaiki layanan, seperti pada kasus mocin beberapa belas tahun yang lalu. Motor-motor Cina yang awal keluarnya laku bak kacang goreng akhirnya secara perlahan ditinggalkan konsumen karena mutu produk yang bobrok. Kondisi ini seharusnya diciptakan pada produk-produk jenis lain, supaya konsumen tidak dirugikan dan produsen-produsen kita lebih gigih dan tangguh dalam kompetisi industri, minimal di kandang sendiri. Jika pasar kita ngotot meminta produk berkualitas dan pengusaha-pengusaha kita memiliki semangat monozukuri maka secara perlahan akan tercipta sinergis yang akan membawa kondisi win-win pada semua pihak. Konsumen mendapatkan produk bermutu dan layanan yang unggul, sedangkan pengusaha kita memiliki level kompetisi yang tinggi. Tidak ada lagi catch phrase “Produk Kualitas Ekspor” karena produk yang bagus justru dijual untuk bangsanya sendiri, bukan kepada orang luar yang belum tentu respek dan bangga menggunakan produk-produk kita.
Satu lagi hal menarik yang disharing pak Heru adalah tentang gerakan monozukuri dengan berlabel halal, alias “halal monozukuri”. Konsep ini diusung pak Heru dengan menggandeng MUI untuk mengekspor standar halal Indonesia ke industri-industri di Jepang, terutama yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Konsep ini menjadi menarik karena pak Heru sendiri adalah non-muslim dan beliau hanya memandang masalah ini dari sudut pandang bisnis. Jika halalisasi ini berhasil, maka muslim di Jepang tidak akan susah payah karena bisa memperoleh makanan/minuman halal di restoran-restoran di Jepang, dan sebagai timbal baliknya dunia industri F&B Jepang akan banyak bergantung pada tenaga-tenaga ahli halal dari Indonesia, sehingga berpotensi membuka lapangan kerja dan peluang usaha baru. Dari segi momentum, gerakan halal monozukuri ini memang sangat tepat karena di Jepang sendiri beberapa perusahaan sudah mulai memproduksi manakan/minuman yang berstandar halal seperti Hikari Miso dengan produk halalnya berupa Shiro Koshi Miso, Aka Koshi Miso, Marumu Mutenka Miso, dan Rusutsu Resort di Hokkaido. Dari dunia usaha pun, tampaknya halalisasi ini mulai menarik untuk digeluti dan mulai bermunculan pemain-pemain baru seperti Malaysia Halal Corporation.
Percakapan kami berempat sangat seru dan menarik sehingga tanpa disadari jam menunjukkan pukul 9:30 malam. Kami akhirnya berpisah dan berjanji akan saling kontak lagi. What an exciting night!

Assignment to Indonesia

Bermula dari sekitar bulan September ketika manajer HRD memanggil saya dan menanyakan kebulatan keinginan saya untuk ditugaskan ke Indonesia. Keinginan itu memang saya utarakan kepada atasan dengan berbagai pertimbangan, di antaranya adalah pendidikan anak, step-up di dalam karir, dan keinginan untuk berbuat lebih banyak bagi masyarakat di negara sendiri. Saking kuatnya keinginan pulang itu sampai-sampai sempat terpikir untuk pindah perusahaan. Dan waktu itu ada beberapa tawaran yang mendekat, mulai dari tawaran sebuah posisi di sebuah perusahaan trading dalam grup perusahaan otomotif, perusahaan pengelola kawasan industri di tanah air, hingga yang unik yaitu pinangan menjadi talent hunter di sebuah perusahaan di multinasional di Tokyo. Tapi akhirnya tawaran-tawaran itu saya kesampingkan karena perusahaan memberi lampu hijau atas permintaan saya untuk ditugaskan ke Indonesia.
Anak pertama kami Aisha tahun depan akan menyelesaikan TK-nya, untuk jaga-jaga maka kami daftarkan langsung ke SD yang kebetulan satu kompleks dengan TK. Alhamdulillah hasil test masuk Aisha cukup meyakinkan guru-guru di SD dan dia langsung dapat jatah bangku di sekolah tersebut, padahal ada beberapa anak orang Jepang yang terpaksa harus mencari sekolah lain karena tidak diterima. Alhamdulillah, berkat bimbingan ibunya, anak kami memang sudah lancar membaca hiragana-katakana dan berhitung dalam bahasa Jepang, bahkan di TK kadang-kadang diminta menggantikan guru membacakan buku cerita bagi teman-temannya yang lain karena kebanyakan dari teman-temannya belum bisa membaca.
Anak kedua kami Adnan juga sudah diterima di TK tempat kakaknya sekolah dan secara regular mulai masuk pada tahap pengenalan sekolah. Hal ini juga patut kami syukuri karena persaingan memperoleh bangku di TK juga cukup ketat mengingat TK Minami Itami tersebut cukup diminati karena terletak di dekat daerah pemukiman penduduk. Keuntungan kami yang tinggal di lokasi berjarak 5 menit dari sekolah menyebabkan kami bisa berada pada urutan 10 besar pertama yang mendaftar. Jika Adnan masuk ke TK Minami Itami, maka sepanjang sejarah TK itu ia akan menjadi murid orang asing kedua setelah kakaknya Aisha. Lokasi TK yang jauh dari universitas dan kompleks industry menyebabkan sangat minimnya jumlah orang asing di daerah tempat kami tinggal itu.
Sebagai mantan staf HRD, saya cukup paham proses penempatan staf di luar Jepang, sehingga ketika mendekati awal tahun 2013 SK belum turun, saya mulai gelisah karena didera ketidakpastian padahal tawaran dari perusahaan lain sudah saya kesampingkan. Tapi saya berusaha bersabar karena percaya dengan integritas manajer HRD yang juga dulunya atasan saya. Belakangan baru saya tahu bahwa terjadi tarik ulur dengan beberapa pihak menyangkut fasilitas, treatment, dan bidang pekerjaan yang akan saya tangani. Rupanya GM, atasan saya di Internal Audit khawatir kalau pekerjaan yang menyangkut internal audit Mandom Indonesia akan terbengkalai kalau saya tidak ada lagi di Mandom Japan sehingga beliau memberikan saya izin penempatan di Indonesia dengan syarat pekerjaan itu harus saya boyong ke Indonesia. Sebuah permintaan yang kedengaran lucu karena saya harus memegang Management Planning tapi juga harus bertanggung jawab atas internal audit Mandom Indonesia. Akhirnya saya jelaskan bahwa pekerjaan yang sehubungan dengan Mandom Indonesia sudah saya buatkan sistemnya dan sudah saya tata dokumennya sehingga staf yang akan ambil alih di belakang saya akan bisa mem-follow up. Adapun di Indonesia, saya janji akan tetap pantau walaupun tentunya tidak bisa saya campuri terlalu dalam karena ada PIC yang menangani bidang tersebut. Sebagai buntut dari permintaan GM tersebut, di SK penugasan saya, bidang internal control termasuk salah satu bidang yang harus saya tangani sebagai representative Mandom pusat dan diminta mendampingi manajer local.
Satu hal lagi yang menjadi permasalahan cukup serius yaitu treatment dan fasilitas perusahaan. Pihak HRD kantor pusat selalu berpegang pada data fasilitas manajer local yang mungkin diupdate sekitar 20 tahunan lalu sehingga ketika membandingkan fasilitas ekspatriat kami yang sekarang merasa khawatir jika terjadi ketidakenakan secara social. Berulangkali saya kemukakan bahwa fasilitas-fasilitas bagi seorang manajer di Indonesia sudah tidak separah 10-20 tahunan lalu sambil berusaha menggunakan penjelasan yang bersifat logis dan mengusik rasa keadilan mereka. Satu hal yang mendatangkan respek saya terhadap perusahaan, adalah keteguhan pemangku jabatan dalam memegang prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan tanpa memandang ras manusia sehingga akhirnya secara garis besar, benefit dan compensation yang perusahaan setujui tidak jauh berbeda dengan yang diterima oleh rekan-rekan Jepang. Prinsip “No Loss No Gain” diterapkan secara ketat, yaitu sebuah prinsip yang menjamin bahwa tidak akan ada kerugian atau keuntungan khusus ketika bekerja di luar Jepang dibandingkan ketika bekerja di dalam negeri Jepang. Tentunya sebagai non-Japanese ada beberapa fasilitas yang terkait dengan ke-Jepang-an yang tidak bisa saya peroleh, seperti misalnya fasilitas pulang gratis ke Jepang dalam setahun, atau fasilitas memasukkan anak ke Jakarta Japanese School. Karena orang tua hidup di Makassar, bukannya di Jepang, tentu saja akan terlihat aneh juga kalau saya mesti ngotot minta fasilitas pulang gratis ke Jepang. Adapun dgn Japanese School, kalaupun diberi maka akan saya tolak karena salah satu tujuan pulang ke Indonesia adalah agar anak bisa mendapatkan pendidikan agama Islam, sebuah mata pelajaran yang tak akan ditemui di Japanese School. Itulah sebabnya saya lebih memilih mendaftarkan anak di Al Azhar, walaupun perusahaan menanggung meskipun di International School yang biayanya bisa sekitar puluhan kali lipat dari sekolah swasta biasa semacam Al Azhar.
Memasuki februari 2012 akhirnya SK internal turun secara resmi dan persiapan kepindahan dimulai. Rumah kontrakan yang sudah kami huni sejak 2008 sedikit demi sedikit mulai kami bersihkan dan rapikan dan mengembalikannya ke kondisi semula ketika kami pertama masuk. Lahan kosong kecil di samping rumah yang biasa saya tanami kangkung, cabe, pare, ketimun, dll, sedikit demi sedikit mulai kami bersihkan. Setelah 4 tahun menjadi objek hobi berkebun, tanah yang tadinya kuning kemerahan dan miskin unsur hara, sudah agak kecoklatan karena sering saya pupuk dengan kotoran sapi. Bahkan selain musim dingin kadang-kadang saya menemui cacing tanah, pertanda tanah itu mulai subur. Pagar kayu yang saya buat sendiri juga terpaksa saya lepas dan saya buang sedikit demi sedikit pada hari pembuangan sampah besar. Inilah enaknya hidup di negara yang teratur, ada aturan main yang jelas sehingga kita cuma perlu mengikuti aturan dan kebutuhan kita bisa terpenuhi.
Sekitar awal februari pemberitahuan dari Al Azhar datang dan Alhamdulillah anak kami Aisha dan Adnan berhasil lulus tes masuk, padahal awalnya kami sempat khawatir sebab bahasa Indonesia mereka masih sangat kurang karena hanya dipraktekkan di rumah bersama Ibunya. Tidak sia-sia usaha Ibunya pulang mengantar mereka untuk mengikuti tes masuk di Indonesia beberapa minggu sebelumnya. Tidak kebayang seandainya mereka gagal masuk, maka pilihan satu-satunya mungkin terpaksa harus masuk international school.
Memasuki bulan maret, proses pembuangan barang-barang yang tak akan kami kirim ke Indonesia semakin intens, mengingat waktu bermukim yang semakin sedikit karena kami harus meninggalkan Jepang di awal April. Beberapa barang-barang yang masih berharga seperti kipas angin, cooler, AC, rice cooker, lemari kayu, sofa, dll akhirnya kami tawarkan gratis di http://anaknegeri.com. Beberapa barang yang tak ada peminatnya terpaksa kami buang dengan merogoh kantong cukup dalam. Threadmill yang baru saya pakai sekitar setahunan terpaksa kami buang dengan biaya yang hampir setara 1/4 harga barangnya. TV 32 inchi pemberian seorang kenalan Jepang juga akhirnya kami buang dengan biaya yang cukup besar. Di Jepang, pada prinsipnya, barang/sampah yang membutuhkan biaya pengolahan yang mahal memang dibebani biaya pembuangan yang tinggi. Terutama TV, kulkas, dan AC. Kulkas yang kami beli baru akhirnya kami bawa pulang bersama 2 buah AC yang tidak diminati oleh seorang teman pun. Sebagai negara 4 musim, sebenarnya AC adalah perabot penting karena bisa berfungsi sebagai pendingin di musim panas dan penghangat di musim dingin, tapi karena biaya pemasangan yang sangat mahal maka orang cenderung membeli AC baru daripada menerima AC bekas yang gratis. Harga pemasangan AC bisa sekitar 20.000-25.000 yen, padahal untuk AC baru di saat promo, bisa turun hingga 40.000 yen dan sudah termasuk biaya pemasangan. Sekitar dua minggu sebelum kepulangan, petugas dari Nippon Express datang dengan truk besar dan mulai melakukan packing. Kerja mereka sangat professional dan tangkas, semua barang-barang yang kami labeli “bawa”, mereka bungkus dengan rapi menggunakan kertas khusus lalu memasukkannya ke dalam kardus. Selama proses pengepakan anak-anak sementara saya ungsikan bersama ibunya ke mall. Menjelang jam 3 sore pekerjaan mereka beres dan isi rumah kami sudah tersusun dalam 105 kardus besar ukuran 70-90cm untuk sea freight dan 10 kardus untuk pengiriman udara. Begitu mereka pergi, rumah mungil tempat kami menikmati hidup selama di Itami nyaris kosong melompong, yang tersisa hanya futon (kasur tipis) dan sofa yang akan kami buang terpisah.
Setelah akhirnya hari H-nya tiba, rumah kami sudah bersih dan siap dipindahtangankan ke orang lain. Seminggu terakhir di Jepang kami nikmati di hotel sebelum bertolak meninggalkan tanah Sakura tempat saya menghabiskan 12 tahun dari 36 tahun usia saya di tahun 2012.