Tag Archive for bakso cak eko

PWEP Osaka 2010 Bersama Pak Rhenald Kasali

PWEP di penghujung tahun ini seyogyanya merupakan perhelatan akbar karena mengundang pembicara sekelas pak Rhenald Kasali dan timnya dari RKSE (Rhenald Kasali School of Enterpreneur). Sayang sekali karena kurangnya kordinasi di antara penyelenggara yaitu WGTT, Garuda Indonesia, KJRI, dan PPI Kobe, maka acara inti tanggal 27 November 2010 itu hanya dihadiri sekitar 80-an orang dengan komposisi kenshusei yang kurang dari 50-an orang. Padahal untuk acara serupa di akhir tahun yang lalu di Kyoto, peserta melebihi angka 200-an orang dengan komposisi mayoritas kenshusei. Faktor promosi juga tampaknya merupakan kelemahan terbesar pada acara PWEP kali ini. Teman2 kenshusei, saya yakin masih banyak yang belum kenal dengan sepak terjang pak Rhenald di tanah air, sehingga seharusnya perlu dilakukan promosi secara aktif untuk ‘menjual’ pak Rhenald. Selain itu, diadakannya acara diskusi di wisma KJRI pada malam sebelumnya juga bisa jadi merupakan penyebab berkurangnya peserta di hari H, sebab uraian di acara seminar sedikit banyak sama dengan uraian 3 tokoh pembicara yaitu pak Rhenald, cak Eko, dan cak Naryo. Saya melihat kebanyakan peserta jamuan dan diskusi di wisma KJRI tidak datang lagi pada seminar di hari selanjutnya, kecuali yang memang terlibat sebagai panitia. Saya sendiri sebenarnya sudah agak malas untuk datang ke hari-H, namun karena terlanjur janji, maka akhirnya saya datang juga ke tempat seminar di kantor kecamatan Higashi Sumiyoshi, Osaka.

Saya sengaja datang pada sesi siangnya karena hanya ingin mendengar makalah dari 3 pembicara utama. Ternyata perhitungan saya salah sebab pak Rhenald malah mengisi di sesi pagi. Untunglah kerugian itu tertutupi oleh presentasi yang menarik yang dibawakan oleh perwakilan Bank Indonesia di Tokyo. Presentasi itu kemudian disusul dengan uraian singkat pak Firman Wibowo yang menjabat sebagai GM BNI cabang Tokyo. Beliau sekalian berpamitan karena masa tugas beliau akan berakhir tahun ini dan harus kembali ke tanah air awal tahun.
Sehabis presentasi pak Firman, saya sibuk membaca beberapa pamflet dan tidak sadar tiba-tiba beliau duduk di kursi kosong di samping saya sambil menyapa saya dengan suaranya yang khas berwibawa. Kami berjabat tangan erat karena memang sudah cukup lama tidak bertemu. Beliau menyodorkan kartu nama beliau, “posisi baru” kata beliau ringan. Saya juga menyodorkan kartu nama karena terakhir ketemu beliau awal tahun ini di restoran Gonpachi Tokyo, waktu itu saya masih di divisi HRD, sementara sekarang saya ngepos di divisi Internal Control. Saya melirik kartu nama dan melihat posisi sebagai GM di bagian Treasuri BNI Pusat, sebuah jabatan yg sangat penting karena konon uang yg ada BNI semuanya dikelola di bagian itu. “Selamat pak”, kata saya sambil sekali lagi menyalami beliau. Kami ngobrol sejenak sampai akhirnya beliau kembali ke kursi beliau di deretan depan. Saya kembali asik membaca makalah presentasi pak Rhenald, cak Eko, dan cak Naryo.

Pak Rhenald, pak Sunaryo, dan pak Henky Eko adalah kombinasi 3 personal yang berbeda satu sama lain sehingga menciptakan suasana seminar PWEP yang dinamis. Pak Rhenald Kasali yang sudah beroleh gelar professor dan memperoleh gelar doktornya dari Harvard Business School adalah seorang edupreneur yang bukan hanya mengajar di salah satu universitas di Jakarta, tapi juga berhasil membangun beberapa lini bisnis. Pembahasan beliau tentang entrepreneur di sesi pagi, walaupun disajikan dalam makalah yang sepintas cukup berat, saya yakin cukup mudah dicerna karena penggunaan bahasa dan olahan kata pak Rhenald yang memang gampang dipahami. Saya sendiri karena tidak datang pagi maka tidak sempat menikmati uraian pak Rhenald ini.
Akademisi pak Rhenald ini diimbangi dengan materi tentang membangun bisnis yang dibawakan dengan bahasa yang sederhana oleh cak Eko, pemilik franchise Bakso Malang Kota Cak Eko. Sebagai seorang tamatan S2 di bidang teknik sipil, keputusan cak Eko banting setir ke dunia bisnis adalah hal yang mengagumkan. Jatuh bangunnya dalam menemukan bisnis yang tepat sangat menginspirasi saya pribadi.
Menurut cak Eko, ada 10 jenis bisnis yang dilakoninya sebelum akhirnya bertaut jodoh dengan bisnis bakso malang kotanya. Mulai dari bisnis pakaian jadi, MLM, mobil bekas, jahe gajah, hingga katering, dll. Kegigihannya dalam mencari bisnis yang tepat benar-benar patut diacungi jempol.
Dalam presentasinya cak Eko sempat mengutip beberapa video untuk menjelaskan ide2nya. Walaupun ada beberapa video yang kurang bisa dipahami benang merahnya dengan pesan yang ingin disampaikan, selera humor cak Eko yang tercermin di video2 itu cukup menggelitik, padahal pembawaannya sangat kalem dengan tatapan mata yang boleh dikata redup. Tapi begitu berbicara tentang perjalanan bisnisnya, mata itu tiba2 menyala dan terlihat garang. Mungkin segarang itulah ia membangun bisnis sehingga bisa sukses dengan gerai bakso sebanyak 135 yang tersebar di berbagai wilayah di pulau Jawa dan sekarang bahkan berusaha melebarkan sayap usahanya ke berbagai negara di Asia Tenggara.
Ketika menikmati uraian cak Eko ini, saya jadi tertawa sendiri karena pengalaman2 bisnis beliau banyak yang mirip atau malah sama dengan hal2 yang saya alami. Sejak kecil saya memang sudah mencari bisnis yabg tepat, mulai dari bisnis label nama sewaktu SMP dan SMA, hingga semasa kuliah di Bandung saya berbisnis jeans Bandung, sepatu/sendal Cibaduyut, kerajinan Blora/Jepara, MLM, jual beli mesin fax, jahe gajah, hingga semasa kenshusei saya berpenghasilan sampingan dengan berjualan kartu telpon internasional. Yang membedakan saya dengan cak Eko adalah pencarian beliau berujung pada bisnis yang berjodoh, sedangkan saya untuk saat ini sementara memilih jalan hidup sebagai profesional. Tapi saya menemukan ada banyak kesamaan di antara kami, misalnya di kata-kata favorit, pola pikirnya,dll. Prinsip-prinsip yang beliau pegang misalnya kegigihan, pantang menyerah, “visualisasi impian”, dll boleh dikata 100% sama dgn prinsip2 yg saya pegang selama ini sehingga mendengarkan beliau bercerita di depan hadirin membuat seakan saya sedang mendengar uraian yang dibawakan oleh saya sendiri dalam wujud yang berbeda.
Saya menduga bahwa buku-buku yang beliau baca kebanyakan sama dg buku-buku yg sudah saya lahap selama ini. Makanya kata2 dan prinsip2 yg kami pegang memiliki banyak kesamaan.
Setelah uraian cak Eko, materi dilanjutkan dengan meledak-ledak dan energik oleh pak Sunaryo, managing director PT. Media Energi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi dan memiliki sebuah pabrik pengolahan gas elpiji yang konon seharga lebih dari satu trilyun. Uraian cak Naryo, demikian panggilan pak Sunaryo, kurang lebih sama dengan cak Eko disusun dalam format yang kurang sistematis. Poin2 yang diekstrak dari pengalaman hidup beliau itu terkesan dikumpulkan begitu saja tanpa berusaha diolah ulang dalam kategori yang mudah dipahami sehingga beberapa poin kelihatan mengambang dan tidak jelas “story-nya”. Tapi terlepas dari kekurangan di materi itu, presentasi cak Naryo sangat menarik karena dibawakan dalam bahasa sederhana dan semangat yang edan.
Cak Naryo adalah lulusan ITS teknik kimia dan pernah menjalani hidup sebagai seorang pegawai biasa. Menurut cerita beliau, suatu hari perusahaannya bangkrut sehingga beliau kehilangan pekerjaan. Pada saat itulah, beliau mengambil keputusan besar dalam hidup. Bersama teman2 di kantor mereka sepakat untuk membuat perusahaan dengan meniru pola dan model perusahaan mereka sebelumnya yang sudah bangkrut. Dari situlah cerita tentang kewirausahaan pak Sunaryo dimulai.
Bisnis cak Naryo cukup beragam, mulai dari edukasi hingga kuliner. Beliau adalah pemegang master franchise BimBel Primagama dan beberapa institusi pendidikan lainnya. Selain itu beliau juga pernah membangun bisnis bersama Puspo Wardoyo pendiri restoran Ayam Goreng Solo yang terkenal itu, walaupun akhirnya terpaksa gulung tikar. Selama presentasi itu beliau menunjukkan beberapa usaha yang telah beliau buat dan gagal. Menurut cak Naryo, dari puluhan bisnis yang beliau lakoni 60% gagal dan hanya 40% yang berhasil.
Tapi nilai 40% itulah yang perlu dilihat, bukan kegagalan yang 60%.
Presentasi cak Naryo ditutup dengan kata-kata penuh semangat yang membuat peserta menjadi terbakar.
Seminar itu berakhir sekitar jam 6-an dan ditutup dgn foto bareng.

Peserta PWEP 2010 foto bersama

Bangun Impian Anda ! (Bahan Webinar sesi kedua 2010/11/06)

Artikel ini saya tulis sekitar beberapa tahun yang lalu ketika masih mahasiswa dan seringkali saya pakai ketika membawakan seminar motivasi buat teman-teman kenshusei (pemagang) di Jepang. Saya tidak ingat persis kapan saya menulisnya karena tidak menuliskan tanggal, bulan, dan tahun di naskah aslinya.
Mudah-mudahan bisa membawa manfaat dan membangkitkan motivasi buat pembaca, walaupun anda bukan kenshusei.
———————————————-
BANGUN IMPIAN ANDA !!

Tersebutlah kisah seorang pemuda, dia berasal dari daerah pinggiran sebuah kota kecil di Sulawesi Selatan. Pendidikannya hanya tamatan STM jurusan Listrik, sehingga di zaman sarjana sudah berserakan di mana-mana ini, tidak terlalu banyak peluang baginya untuk bersaing mendapatkan pekerjaan yang layak untuk hidup.

Tapi hal itu tidak membuatnya putus asa. Dia terus mencari dan mencari, hingga suatu ketika dia mendapatkan informasi tentang magang ke Jepang di Kantor Departemen Tenaga Kerja. Lalu dia mulai mengumpulkan informasi dan mempersiapkan diri menjalani tes awal. Latihan fisik berupa lari, push up, dan sit-up dia lakukan secara teratur sampai menjelang tes fisik yang sesungguhnya. Akhirnya waktunya pun tiba, tes magang mulai dia jalani satu persatu, dan berkat latihan yang teratur, tes fisik dia lalui walaupun dengan susah payah. Tapi nasib berkata lain, di tes kesehatan akhirnya dia dinyatakan gagal dan gugur begitu saja.
Namun dia tidak menyerah, dia bulatkan tekad, ditinggalkannya keluarga dan kota kelahirannya, dan mengikuti tes di propinsi lain. Tes kedua pun gagal dan kembali dia harus berkelana ke daerah lain yang masih asing baginya. Pada tes ketigalah dia dinyatakan lulus. Namun perjuangan belum selesai karena masih ada pembekalan daerah dan pelatihan bahasa 3 bulan yang menuntut kerja keras, disiplin yang ketat, PR yang bertumpuk, dan gemblengan fisik yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Tapi baginya semboyan nenek moyangnya sejak dahulu sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi! Saat itu, apapun harganya akan dia bayar dengan kerja keras, demi impian barunya.. KEJEPANG!! Dan dia berhasil mewujudkannya, sekarang dia sudah mulai memetik hasil dari kerja kerasnya, dia akhirnya bisa melihat negeri DORAEMON ini. Negeri tempat dimulainya impian-impiannya yang lebih besar di masa datang.

Sadarkah anda bahwa cerita di atas mirip-mirip dengan cerita kehidupan seseorang yang sepertinya anda kenal? Cobalah gali memori anda di masa lalu. Kalau anda tidak juga bisa mengingatnya, carilah cermin dan lihatlah pantulan wajah orang itu di dalam cermin. Ya, wajah itu adalah wajah anda, dan andalah orang itu! Seseorang yang dulu begitu bersemangat, penuh vitalitas, tahan banting, dan siap menghadapi apa saja demi impian anda.

Terlepas dari apa pun latar belakang anda, cerita tentang seorang kenshusei adalah cerita tentang seseorang yang ulet dan tabah demi sesuatu yang dikejarnya. Tidak perduli apakah anda lulusan Institut Teknologi Surabaya atau hanya tamatan SMEA. Tidak perduli apakah anda harus ikut tes sampai empat kali dan baru lulus di tes yang keempat, ataukah kebetulan Om anda adalah seorang petinggi di Depnaker Pusat hingga hanya dengan sekali tes tanpa susah payah anda bisa lulus. Tidak masalah apakah akhirnya anda di Jepang mendapat pekerjaan yang ringan sekali karena hanya bertugas memotong komponen elektronika sebesar biji jagung dan mengepaknya ke dalam kotak, ataukah pekerjaan anda adalah mengelas bagian bawah kapal laut hingga anda harus mengelas sambil nungging selama 8 jam sehari. Terlepas dari semua itu, anda adalah seorang pemenang! Karena satu waktu dalam hidup, anda pernah mempunyai impian, dan dengan kerja keras anda berhasil mewujudkannya! Tepuk tangan belumlah cukup untuk memberi selamat bagi anda, tapi cukup anda ingat, tatap mata yang basah dan lambaian tangan keluarga dan sanak saudara yang melepas anda pergi dahulu, sebenarnya jauh melebihi tepuk tangan khalayak seramai apa pun. Tatap mata dan lambaian tangan mereka yang tanpa kata-kata, sebenarnya adalah teriakan pemberi semangat yang seakan-akan ingin berteriak : tetaplah tegar, sang juara!!. Ya! Anda adalah sang juara bagi mereka, anda adalah pahlawan, anda adalah pahlawan ekonomi bagi sanak saudara, penyantun dana bagi pendidikan adik-adik anda, sumber kebanggan bagi orang tua dan teman-teman anda. Anda seorang JUARA!

Kalau hampir semua kenshusei dulunya adalah seseorang yang tangguh, ulet, tabah, dan bersemangat, lantas kenapa setelah di Jepang, banyak kenshusei yang semangatnya jadi melempem seperti api tersiram air? Tidak jarang kita dengar ada kenshusei yang minta pulang hanya karena rekan sekerjanya ??? selalu bertingkah yang menjengkelkan, atau tidak sedikit kenshusei yang lantas memilih lari dari perusahaan hanya karena selisih paham dengan atasannya di perusahaan. Atau mungkin anda pernah mendengar cerita tentang kenshusei yang akhirnya memilih jalan berliku menjadi ilegal akibat bujukan dan rayuan temannya yang kemudian ternyata tidak bertanggung jawab atas nasibnya. Kemana semangat dan ketabahan yang dulu begitu menggebu-gebu? Kemana prinsip teguh dan tekad bulat yang dulu ada? Mungkin, jawabannya adalah karena sebagian besar dari kita, kenshusei, telah mencapai impian, yaitu KE JEPANG. Sehingga kita merasa puas dan tak punya lagi sesuatu yang ingin dikejar. Tak ada lagi sesuatu yang sanggup memacu semangat dan memotivasi diri kita.

Hal ini mengakibatkan jiwa kita mudah lelah dan semangat gampang menurun. Belum lagi kenyataan-kenyataan yang kita hadapi sedikit banyak berbeda dengan harapan-harapan kita sebelum datang ke negeri sakura ini. Mungkin ada banyak dari kita yang mengira bahwa magang itu adalah kerja dengan dibimbing oleh orang lain terus menerus selama tiga tahun, atau hanya melakukan pekerjaan yang ringan-ringan dan sama sekali tidak dituntut tanggung jawab karena masih berstatus magang.
Bahkan ada di antara kita yang bahkan mengira bahwa magang ke Jepang adalah kerja di kantor dan berfungsi sebagaimana layaknya seorang office boy.

Tapi, ternyata setelah datang ke Jepang, pekerjaan yang harus anda lakukan adalah mengelas lempengan logam sebesar mobil truk, bekerja di bawah tekanan atasan yang bawel bukan main, diberi batasan jumlah minimal order yang harus selesai, dan bermacam-macam hal yang bisa membuat kita muak bukan main. Belum lagi tempat tinggal yang disediakan oleh perusahaan amat jauh dari kelayakan, dinding yang kotor, peralatan dapur yang tak memadai, atau bahkan malah banyak di antara kita yang hanya diberi sepetak kamar yang bersebelahan dengan gudang perusahaan. Jangankan kemewahan, kelayakan pun belum mencukupi.

Akan tetapi, sebenarnya semua hal-hal itu bukanlah alasan bagi kita untuk kehilangan semangat hidup dan vitalitas kerja. Kalau anda coba merenung, hidup ini bisa kita umpamakan seperti makan di restoran. Ada restoran yang pada saat anda memesan makanan, sebelum makan anda harus bayar dulu, namun ada juga yang mempersilakan anda makan dulu lalu bayar kemudian. Hidup pun seperti itu, ada masa untuk bersusah payah, ada masa untuk menikmati. Kalau anda rela membayar lebih dahulu maka anda akan bisa menikmati di masa datang. Kesempatan magang ini jika anda manfaatkan untuk membayar, maka di masa datang kesempatan untuk makan akan tercipta dengan sendirinya. Akan tetapi jika di masa magang yang hanya tiga tahun ini anda hanya makan terus menerus, maka di masa datang akan datang lagi saatnya anda harus bekerja keras, bahkan mungkin lebih keras dari pada yang anda lakukan di masa magang ini dengan hasil yang jauh lebih kecil.

Lantas kalau memang masa magang ini anda ingin manfaatkan dengan baik untuk membayar demi masa depan, kenapa tidak membuatnya menjadi sebuah masa yang indah dan penuh kenangan? Kenapa tidak menjalaninya dengan semangat tinggi dan vitalitas prima seperti dulu di waktu pembekalan 3 bulan? Kalau memang bisa, kenapa tidak? Toh, matahari tetap akan terbit di ufuk timur tanpa pernah perduli apakah anda loyo atau bersemangat. Musim akan terus berganti tanpa perduli apakah anda hidupnya sedih ataukah menyenangkan. Semuanya terserah anda! Hidup anda, apakah akan menyenangkan ataukah menyedihkan tergantung dari diri anda sendiri. Kenyataan dan lingkungan yang ada di sekeliling anda hanya faktor pendukung yang bersifat netral. Mungkin anda pernah mengalami pulang kerja sore-sore dan hujan turun agak deras, bagi anda hujan itu adalah sesuatu yang mengganggu karena menghalangi aktifitas anda, tapi tahukah anda bahwa bagi sepasang muda-mudi yang baru pulang sekolah bersama, hujan itu adalah anugerah yang luar biasa indah? Karena dengan alasan hujan itulah, mereka bisa berjalan sepayung berdua dan bergandengan tangan dengan mesra. Sambil sesekali mengusap wajah sang kekasih yang kecipratan air lalu bertanya dengan penuh kasih sayang, honey, daijobu na no? (sayang, nggak apa2?)

Hidup ini terserah bagaimana anda menilainya.

Sehubungan dengan masa magang, lantas bagaimana caranya supaya waktu tiga tahun itu bisa kita jalani dengan menyenangkan, penuh semangat hidup, dan vitalitas tinggi sebagaimana layaknya seorang pemuda?
Mari kita mencoba melihat sebuah kenyataan sehari-hari sebagai gambaran yang mudah-mudahan gampang kita cerna. Mungkin anda pernah memperhatikan semangat kerja anda yang seringkali naik turun. Pernahkan anda menyadari pada hari apa semangat kerja anda paling tinggi? Bisa diperkirakan jawaban yang paling banyak dia antara kita adalah hari kerja sehari sebelum libur, kalau misalnya hari libur anda sabtu dan minggu, maka kerja di penghujung hari Jumat adalah kerja yang biasanya anda lakukan dengan senang hati dan bersemangat. Kenapa? Karena hari libur yang menyenangkan sudah terbayang di benak anda. Santai-santai, nonton video, main ke game center, jalan-jalan ke mall dan shopping, dan segala hal yang ingin anda lakukan di hari libur. Jadi, karena anda punya target dan bayangan sesuatu yang sangat anda inginkan maka kerja menjadi sesuatu yang tidak menyusahkan. Demikian pula halnya dengan kerja selama tiga tahun ini. Kalau anda bisa membayangkan hasil yang akan anda nikmati setelah masa tiga tahun ini selesai, maka segala kesusahan dan jerih payah yang anda lakukan tidak akan terasa pahitnya. Kalau anda bisa memvisualisasikan sesuatu yang menyenangkan yang ingin anda kerjakan nanti, maka tiga tahun ini akan terasa cepat sekali.

Jadi yang paling penting adalah, buatlah sebuah tujuan atau target yang anda ingin capai setelah masa magang ini berakhir, bangunlah IMPIAN anda! Mengapa anda mesti membangun impian? Karena dengan impianlah anda akan tetap tegar, semangat hidup akan menyala, dan vitalitas kerja akan terbangun.

Ada sebuah cerita tentang kekuatan sebuah impian, sebagai berikut :

Ada seorang anak kecil yang badannya kecil dan kerempeng, dia ingin sekali pintar berenang sebagaimana teman-temannya yang lain. Maka dia menemui temannya yang pintar berenang dan minta diajari. Oleh temannya itu dia diberitahu sebuah cara yang sebenarnya tidak masuk akal, yaitu dia dianjurkan menelan anak katak (berudu) lalu melompat ke air yang dalam. Tapi karena begitu kuat keinginannya untuk bisa berenang, maka dilaksanakanlah anjuran guru-nya itu. Ditelannya berudu yang paling kecil lalu melompat ke air sungai yang dalam. Tentu saja dia megap-megap dan hampir tenggelam, dengan segala daya upaya untunglah dia berhasil sampai ke tepian. Dia lalu menemui guru-nya dan bertanya mengapa dia belum bisa berenang, padahal dia sudah menelan berudu dan melompat ke air yang dalam, guru-nya lantas berkilah kalau berudu yang ditelan itu terlalu kecil dan menganjurkan untuk menelan berudu yang lebih besar. Karena impiannya untuk bisa berenang begitu kuat, maka sang anak ini melaksanakan anjuran itu. Selama berminggu-minggu, setiap hari dia menelan berudu dan melompat ke air sungai. Bahkan karena hatinya yang begitu baik, sebelum menelan berudu dia meminum air sebanyak mungkin dengan tujuan supaya berudu yang ditelannya tidak terlalu menderita sebelum mati di dalam perutnya. Dan karena seringnya melompat ke air yang dalam, pada akhirnya dia benar-benar pandai berenang, bahkan sang guru yang merasa takjub karena sarannya berhasil menjadi penasaran karena anak itu malahan lebih pandai berenang dibandingkan dia sendiri. Itulah kekuatan sebuah impian! Dan tahukah anda, siapa anak yang begitu gigih mengejar impiannya itu? Puluhan tahun kemudian, kegigihannya mengejar impian dia terapkan dalam industri yang digelutinya sehingga dia berhasil membangun industri raksasa yang bukan saja merajai Jepang, bahkan merambah benua Amerika dan Eropa yang mengakibatkan puluhan industri mobil di Amerika dan Eropa menjerit karena kalah bersaing. Dialah SOICHIRO HONDA, pendiri HONDA MOTOR COMPANY!

Kalau anda punya impian, menabung bukanlah sesuatu yang berat, kerja tidak akan menyusahkan. Kalau anda punya impian, maka anda tak akan mempermasalahkan tantangan yang anda hadapi, anda tak akan perduli walaupun harus melihat wajah masam rekan kerja anda yang hanya bisa senyum sekali sebulan, pada saat gajian. Jika anda bisa membangun impian, maka cerewetnya kachou (manajer) di koujo (pabrik) tak akan menyerap kecerian dan vitalitas anda. Kalau anda punya impian maka anda akan berani menatap masa depan, menanggulangi segala hambatan, dan berdiri tegak sebagaimana layaknya seorang PEMENANG. Karena anda memang seorang PEMENANG! Bangunlah impian dan berjuanglah demi masa depan anda! Ganbatte Kudasai!!