Tag Archive for alhamdulillah

Cebu Island, Autumn 2010

Paket liburan dari kantor tahun ini tersedia 11 paket dgn komposisi hampir setengah2 antara domestik dan luar negeri. Untuk luar negeri tersedia Cina 2 paket, Bali 1 paket, dan 2 paket ke Filipina. Untuk Filipina, destinasi terbagi dua yaitu tur Manila dan paket resort Cebu Island. Saya memilih Cebu karena sudah bisa membayangkan paket tur kota Manila yg kondisinya sangat mirip Jakarta dan saya yakin tidak akan menyenangkan bagi orang Indonesia seperti saya yg boleh dikata sudah pernah terbiasa dengan suasana seperti itu selama hidup di Jakarta satu tahun lebih. Cebu saya yakin akan menyenangkan karena hotelnya pun bukan hotel biasa, melainkan hotel resort dengan foto2 yg cukup eksotis di websitenya.
Paket resort sebenarnya 3 malam 4 hari dgn pemberangkatan hari sabtu dan kembali selasa malam. Akan tetapi karena sekolah Aisha mengadakan acara porseni pada hari sabtu tanggal 9, maka terpaksa saya meminta kepada perusahaan agen perjalanan agar membolehkan saya berangkat telat satu hari. Rombongan dari Mandom Group Japan yg memilih paket Cebu sebanyak 33 orang berangkat hari sabtu dgn Philippine Airlines, sementara saya akhirnya berangkat sendiri.
Sabtu pagi, saya meninggalkan rumah sekitar jam 6 pagi, menyetop taksi dan menuju bandara Itami. Saya akan naik bis dari bandara Itami ke bandara Kansai, Osaka. Bis yg saya tunggu berangkat persis jam 7, sesuai jadwal yg tertera di halte bis tadi. Dengan jadwal yg nyaris sempurna, saya tiba di Kansai International Airport jam 7:52, telat 2 menit.
Jam 8 lewat antrian sudah mulai terbentuk di jalur Philippines Airlines yang persis di samping Garuda Indonesia di gugus tengah. Garuda masih sepi dan belum terlihat petugas satupun, GA memang terbang 1 jam lebih lambat dibanding PAL (Philippines AirLines). Saya mendekati counter sekitar sepuluh menitan sebelum jam 9. Secara tak sengaja saya melayangkan pandangan ke arah antrian di counter Garuda dan melihat ibu Jully Siahaan, kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka. Beliau bersama suami antri di baris terdepan sehingga jarak dgn saya menjadi dekat. Kami sempat basa-basi ngobrol sebentar sebelum petugas memberi isyarat agar saya maju ke counter. Dengan cepat urusan check in beres dan segera saya menuju imigrasi lalu naik shuttle trem menuju gate tempat pesawat mangkal.
Sekitar setengah jam menunggu akhirnya boarding dimulai, alhamdulillah saya dapat seat di dekat jendela, padahal waktu check in saya kelupaan ngomong kalau ingin duduk dekat jendela. Alhamdulillah dapatnya sesuai keinginan.

Pesawat PAL yang lagi ngetem nunggu penumpang


Ini pertama kali saya menggunakan Philippines Airlines, tidak ada yang istimewa, interior dan pelayanannya pun seperti umumnya maskapai negara2 Asia Tenggara, senyuman Flight Attendant seminimal mungkin dan makanan sekedarnya. Untunglah penerbangan hanya 3 jam 50 menit sehingga rasa bosan tidak terlalu muncul. Sehabis nonton film “Eclipse” di layar TV di langit2 pesawat, saya sempat tertidur sebelum pesawat memasuki angkasa Manila dan mulai berguncang. Alhamdulillah pesawat mendarat dengan mulus di bandara Ninoy Aquino, Manila.
Saya bergegas keluar dari pesawat diantar ucapan terima kasih dalam bahasa Tagalog “salamat” (terima kasih) oleh kru pesawat. Mereka menggunakan bahasa sesuai penumpang, Nihonggo untuk orang Jepang, english untuk bule, dan tagalog untuk orang2 yg mereka anggap sebangsa. Seperti pengalaman waktu ke Thailand, saya dikira orang lokal dan diberi ucapan “salamat”. Saya membalas dalam bahasa yg sama dan segera keluar dari pintu pesawat, udara panas langsung menyambut.
Setelah mempelajari situasi dan memastikan informasi ke security bandara yang pakaiannya persis anggota satpam di Indonesia, saya antri di imigrasi untuk pindah jalur ke domestik. Lagi2 saya dikira Filipino dan disuruh masuk ke baris pemegang paspor Filipina, saya tersenyum dan menjawab “hinde si Filipino, ay Indonesian. Petugas memandang seakan tak percaya.
Di bea cukai hal yg sama terulang tapi kali ini petugas langsung bertanya sebelum meminta paspor, “filipino?”. “ay indonesian”, jawab saya dalam bahasa tagalog sepotong-potong. ” you look like philippine”, kata petugas itu. Saya hanya tersenyum dan menerima paspor saya yg cuma dilihat sekenanya lalu diserahkan kembali. Setengah berlari saya menuju terminal domestik yg terletak di gedung sebelah dan karena buru2nya saya tak melihat bahwa gerbang metal detektor dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, pada saat mau masuk barulah saya sadar setelah diberitahu oleh petugas wanita yg mesem2 sambil menegur dalam bahasa Tagalog, awalnya saya tak ngerti tapi setelah melihat ikon perempuan di atas gate, akhirnya saya tahu klo yg dimaksud adalah agar saya ke gerbang sebelah yg khusus laki-laki. Di gerbang laki-laki, petugas menunjuk ke kaki saya sambil berkata “sapatu &@:#|%#%”, saya hanya mengerti bagian “sapatu”nya lalu balas bertanya dalam bahasa Inggris. Rupanya maksud dia, sepatu juga harus dilepas dan dilewatkan ke scanner. “I am Indonesian, I don’t understand Tagalog”. Si petugas tertawa.
Pesawat yg saya tumpangi tiba di bandara Mactan dalam waktu sejam-an, saya langsung menyetop taksi dengan dibantu seorang penumpang yg tadinya duduk di sebelah saya selama di pesawat dari Manila. Beberapa menit kemudian saya disuguhi pemandangan di kanan kiri jalan yg persis seperti Indonesia. Jalanan rusak tak terurus, angkot dengan penumpang berdesak-desakan, genangan air bekas hujan, perumahan penduduk yang jauh dari kesan indah, dan segala atribut kemiskinan yg membayangi pulau Cebu yang digembar-gemborkan oleh pemerintah Filipin sebagai pulau wisata. Pemandangan itu terus berlanjut hingga akhirnya taksi berbelok memasuki sebuah kawasan yg berpagar tinggi dan dikelilingi hutan buatan yang rindang, itulah kompleks resort Maribago Blue Water yang ternyata memang nyaman dan asri sesuai gambaran di websitenya, berbeda sekali dengan suasana perkampungan di sekelilingnya.

Suasana Di Pulau Mactan, Filipina.


Maribago dibangun di sebuah wilayah pesisir seluas kurang lebih 5 hektar yang sebagian wilayahnya menghadap ke pantai. Wilayah resort dikelilingi oleh pagar tinggi berduri dan pohon bambu mini yang pasti akan menyulitkan bagi penyusup yg ingin memanjat pagar. Satu-satunya daerah terbuka adalah bagian sebelah timur yang menghadap ke laut lepas yang selalu dipatroli 24 jam untuk menjamin keamanan wisatawan. Jalan masuk satu-satunya di sebelah barat berpagar tinggi dan setiap pengunjung harus menyebut nama dan nomor kamar untuk memastikan bahwa mereka memang penghuni resort. Di dalam wilayah 5 hektar itu berdiri puluhan paviliun dengan jumlah kamar yg berbeda berdasarkan kelasnya, kamar yg saya tempati bersama Suzuki-kun sepertinya adalah jenis termurah karena memiliki banyak kamar. Di dekat pantai ada beberapa paviliun yang betul-betul seperti rumah sendiri. Yang unik di resort ini adalah semua bangunan beratapkan daun sejenis nipah yang disusun dengan rapi, mengingatkan saya pada rumah2 di Makassar 20-an tahun yang lalu.

Front Office Hotel


Saya tiba di kamar setelah dipandu oleh staf hotel dan mendapati Suzuki-kun sedang tidur, rupanya dia masih kecapekan setelah seharian berenang bersama teman-teman yang lain. Saya langsung sholat dhuhur dan ashar, jama’ qashar, setelah jalan2 singkat memperhatikan sekeliling hotel dan pantai, kemudian bergegas ganti pakaian. 5 menit kemudian saya sudah nyebur ke kolam renang di samping restoran.

Kamar Tempat Saya Nginap


Malamnya saya bersama teman2 satu angkatan berkeliling menikmati kota Cebu. Tujuan kami adalah Cebu Mall yang konon merupakan shopping center terbesar di Cebu. Mall itu berbentuk huruf U dengan taman yang asri di tengah2nya. Jumlah toko tidak terlalu banyak tapi lumayan untuk cari2 oleh2. Kami akhirnya berhenti di sebuah restoran dgn interior hijau menyala, memesan makanan dan menikmati dinner sambil bercakap-cakap. Salah seorang staf restoran mungkin karena penasaran akhirnya bertanya kepada saya “you are not philippine?”, saya tersenyum dan menjawab “neither japanese, I am Indonesian”. Staf itu kembali ke teman2nya di belakang konter dan terdengar ucapan “aaah…. Indonesia”, rupanya dari awal mereka penasaran dan mengira saya orang Filipina tapi mungkin ragu karena semua yg saya temani orang Jepang. Sehabis makan saya pulang ke hotel sendirian karena teman2 yg lain penasaran ingin mengunjungi diskotik, rupanya mereka penasaran seperti apa diskotik Filipina, apalagi di Jepang sendiri diskotik sudah sangat jarang ditemui.

Keesokan harinya kami bertujuh pagi-pagi sudah berkumpul di depan resepsionis hotel dan dalam beberapa menit kemudian sudah naik ke mobil minibus menuju pantai, hari itu rombongan saya akan menikmati paket wisata snorkeling dan makan siang di pulau kecil di tengah laut.

Lokasi dermaga tidak begitu jauh dari resort dan begitu turun dari mobil kami langsung menuju perahu kecil yang membawa kami ke perahu yang kami sewa seharian. Dengan biaya $80 perorang, tur ini terhitung murah karena sudah termasuk carter perahu seharian, perlengkapan snorkeling, dan makan siang yang cukup wah.

Pisss..... maksa nyelam meski pake baju pelampung


Pemandangan Yang Tidak Bisa Ditemui Di Negeri 4 Musim Seperti Jepang


Menu Makan Siang


Bergaya sejenak di dermaga menuju pulau kecil

Kami snorkeling di dua tempat sebelum makan siang di sebuah pulau yang dikelilingi oleh hamparan laut sedalam 1 meteran dengan paparan seluas beberapa kilometer. Menu makan siang terdiri dari kepiting, ikan, cumi, ayam, dan buah-buahan tropis yang betul2 memuaskan. Menu yg susah didapat kalau tinggal di Jepang.
Sehabis makan siang kami menyewa jetski dan bergantian menggunakannya. Sambil menunggu giliran kami snorkeling lagi di beberapa spot hingga akhirnya puas dan kembali ke darat. Matahari sudah condong ke barat ketika kami tiba kembali di hotel. Setelah menghangatkan badan di kolam renang, saya mandi dan sholat ashar lalu tertidur sejam-an.

Di acara makan malam terakhir, saya mengajak teman2 ke sebuah restoran yang berkonsep saung dan berada di dekat resort. Restoran itu adalah rekomendasi seorang teman kerja lain yg sudah berkunjung di malam sebelumnya, lokasinya sangat dekat karena ditempuh dengan jalan kaki kurang dari satu menit.

Ketika menu keluar, saya agak geli juga karena masakan2 yg ada sangat mirip dgn masakan2 Indonesia. Ada sup tulang sapi, ikan bakar bumbu kacang, dan tak ketinggalan menu yg seperti nasi goreng tapi mereka sebut chahan atau nasi goreng ala Cina. Tampaknya kebanyakan pengunjung restoran itu, sebagaimana halnya Maribago Resort, kebanyakan adalah orang Jepang sehingga menu mereka tertulis dalam bahasa Inggris dan Jepang. Pengunjung restoran di sekitar kami pun kebanyakan berbahasa Jepang. Sayang sekali, walaupun pelanggannya kebanyakan Jepang, pelayannya belum dididik untuk bisa melayani ala Jepang. Staf restoran yang melayani saung kami, satu kali pun tak pernah berhenti memperlihatkan wajah cemberutnya bahkan pada saat menerima uang, boro-boro mengucapkan terima kasih, gadis muda itu melengos dan bergegas pergi membawa nampan berisi uang tersebut.
Persis setelah makan selesai, tiba2 hujan mengguyur sehingga memaksa kami tinggal sejenak sampai akhirnya hujan berhenti. Untunglah resort dekat hingga tak perlu berbasah-basah walaupun mesti menggulung celana karena air setinggi betis menggenangi jalan di depan pintu gerbang resort. Malam itu tidur serasa nikmat karena hujan turun sambung menyambung hingga pagi.

Keesokan harinya kami meninggalkan hotel resort itu dan bertolak menuju Manila dan berganti pesawat menuju Kansai, pulang ke Jepang.

Mensiasati Perasaan Bersyukur

“Belajarlah dari orang Cina, mereka tidak akan menggunakan semua harta melebihi kemampuan. Kalaupun mereka sanggup membeli mobil mewah maka mereka hanya akan membeli mobil biasa, kalau mereka hanya sanggup beli mobil biasa maka mereka hanya beli motor, kalau mereka sanggup beli motor maka mereka tetap sabar dan memakai sepeda, kalaupun sanggup beli sepeda mereka tak akan beli sepeda, mereka akan jalan kaki dan menyisihkan uang yg mereka punya untuk persiapan di saat2 kritis.”
Itu adalah nasihat ayah saya sejak saya masih kecil, dan nasehat itu bukan sekedar kata, melainkan beliau praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau selalu berusaha untuk tidak membelanjakan uang di luar kemampuan finansial beliau.
Tentu saja tidak semua orang Cina bersikap bijak seperti kata Bapak saya itu, tapi memang harus diakui bahwa ada banyak dari mereka yang mampu menahan diri untuk tidak mengkonsumsi barang2 melebihi kemampuan ekonomi sendiri sehingga mereka masih mampu bertahan ketika tiba masa sulit.
Nasihat Ayah itulah yg saya ingat ketika setahun yg lalu saya ditawari pinjaman tanpa bunga oleh perusahaan untuk membeli mobil. Waktu itu uang yg saya pegang hanya cukup untuk membeli mobil bekas yg butut, tapi kalau ditambahi dengan pinjaman dari perusahaan maka akan cukup untuk membeli mobil yg cukup layak. Saya memilih bersabar, menolak pinjaman dan merasa puas dengan mobil bekas yg berhasil saya beli dengan uang sendiri dan dengan harga yg murah. Mobil Minica versi Pj keluaran Mitsubishi 15 tahun yg kami beli itu sebenarnya masih berbodi mulus tapi karena memang sudah tua maka mesinnya tidak tahan diajak jalan jauh. Pada musim dingin kami kadang2 harus sabar menahan dingin kalau melaju di jalan tol karena kalau AC pemanas dinyalakan mesin berbunyi aneh sehingga agak mengkhawatirkan kalau2 tiba2 mogok di jalan. Dan karena bodinya yg kecil maka kalau kami sekeluarga naik, penuh sesaklah si kecil itu.
Tapi saya sangat bersyukur dengan keputusan pembelian mobil tersebut, selain BBMnya yg bisa hemat hingga sekitar 25km/liter, bodinya yg kecil memudahkan saya yg memang baru megang SIM setahun ini untuk belajar nyetir lebih lancar. Dan justru karena saat membeli mobil pertama kali kami memulai dengan mobil kecil, murah, dan tanpa fitur2 istimewa seperti itu maka kami bisa mengerti apa arti sedikit kemewahan dan bersyukur kepada Allah SWT atas kenyamanan yg ada di mobil kami yg sekarang. Seandainya  setahun yg lalu itu saya menerima pinjaman perusahaan dan membeli mobil yg setaraf dgn yg baru saja kami beli minggu lalu maka mungkin kami akan susah mengerti bagaimana nikmatnya berkendara tanpa perlu khawatir dengan mesin yg overheat, kursi yg empuk, layar TV ekstra di kursi belakang, kamera penuntun parkir, sonar pendeteksi sekeliling, navigator dengan perintah suara, dan sederet fitur yg tersedia di Toyota Ipsum versi 240u itu. Mungkin bagi orang Jepang, mobil bekas berumur 8 tahun yg baru kami beli itu hanya mobil biasa dengan kelengkapan standar mobil keluarga karena fitur2 yg ada memang sudah lazim ada di mobil2 minivan keluarga di sini, tapi bagi yg sebelumnya memakai mobil dgn kelengkapan minim maka peningkatan itu adalah suatu kemewahan yg luar biasa dan tentu saja sangat kami syukuri.
Dalam hidup ini seringkali kita lupa bersyukur dan tidak menganggap rejeki yg kita nikmati saat ini adalah keluarbiasaan hanya karena kita memperolehnya dengan sedikit mudah sehingga cenderung menganggap semua itu adalah hal yang lumrah dan biasa, padahal semua itu adalah kemurahan luar biasa dari Allah SWT.
Jika anda punya pilihan untuk menikmati sesuatu, janganlah langsung memilih tingkat tertinggi dari pilihan yg ada. Cobalah mulai dari tingkat yg bawah, sehingga ketika anda berada pada tingkat yg lebih tinggi anda bisa mengerti bahwa masih ada banyak orang yg hanya diberi nikmat kurang dari apa yg anda nikmati saat ini. Anda bisa mengerti karena anda pernah mengalami tingkatan kenikmatan itu.
“Undzur ilaa man aspala minkum wa laa tandzur ila man huwa fawqakum fahuwa ajdaru an laa tazdaruu ni’matallahi alaekum ”
(Lihatlah kepada orang yg (keadaannya) kurang dari kamu, jangan melihat kepada orang yg di atas kamu karena yg demikian itu akan membuatmu tidak mensyukuri nikmat Allah atasmu)

Mitsubishi Minica

Mobil kami yg dulu, Mitsubishi Minica Pj