Archive for Tentang Jepang

Misoka no Yoru Malam Tahun Baru

Seperti dulu, sebelum liburan akhir tahun, pertanyaan terbanyak dari teman kantor adalah “pulang ke Indonesia ngga?”
Jawaban saya tahun ini adalah “tidak”. Salah satu pertimbangan adalah harga tiket yg melangit di liburan akhir tahun begini dibanding saat liburan biasa. Harga tiket buat pulang sekeluarga berlima bisa 2-3 kali lipat biaya yg kami habiskan jika berlibur di Jepang. Sebenarnya selain itu, ada satu lagi yang membuat saya lebih betah menghabiskan liburan akhir tahun di negeri ini, yaitu karena malam akhir tahun di sini biasanya tidak banyak berbeda dengan malam biasa, malam yg tetap tenteram tanpa letupan petasan yg memekakkan telinga mengganggu istirahat di malam hari. Selama 5 tahun ketika ditugaskan di Indonesia, saban tahun kami melewatkan malam tahun baru dengan perasaan tidak nyaman karena terganggu oleh suara petasan yang seperti diledakkan di lokasi sangat dekat dengan rumah. Dan yang paling menjengkelkan adalah karena yang punya kelakuan itu bukan hanya anak-anak kecil yang memang belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga harus dimaklumi, tidak jarang yang menjadi pelaku utama bermain petasan ini adalah orang tua usia 40 tahunan yang seharusnya justru menjadi orang yang melarang anaknya. Bahkan lebih parahnya lagi, terkadang petugas keamanan di kompleks rumah kami ikutan membakar petasan dan bermain di tengah malam pada malam tahun baru seperti ini. Sudah sering sekali saya bersitegang dengan mereka karena masih bermain lewat dari jam tengah malam.

Di sini, orang Jepang biasanya melewati malam tahun baru dengan tenteram. Sebagian melaksanakan hatsu mode, semacam doa di kuil di awal tahun untuk memohon berkah di tahun berikutnya. Kuil biasanya mendapatkan penghasilan terbesar dalam setahun pada malam tahun baru ini, karena untuk masuk kuil kita harus membayar tiket masuk, dan belum lagi saat berdoa disyaratkan memasukkan uang ke kotak yang disediakan dan besarnya tidak ada aturan, sehingga konon banyak juga yang memasukkan hingga 10,000 yen. Makanya jangan heran kalau menjelang tahun baru, kereta, billboard, dan TV dihiasi iklan kuil yg mempromosikan hatsu mode. Semakin banyak yg datang berdoa maka semakin penuh pundi-pundi uang pemilik atau pengelola kuil.

Selain ke kuil, orang Jepang juga memiliki kebiasaan beragam berdasarkan daerah dan petuah dari nenek moyang atau rahib dari sekte agama mereka. Yang paling umum adalah menyantap satu set makanan super mahal yg disebut osechi ryori. Harga osechi ryori sangat beragam, mulai dari ribuan yen sampai 100ribuan yen atau senilai belasan juta rupiah untuk satu set yang habis oleh berlima atau berenam. Bahkan sebuah Department Store ternama di Jepang yang bernama Takashimaya (berita di naver.jp) pernah menghebohkan karena menjual osechi ryori seharga 18,9 juta yen atau kurang lebih 2 milyar rupiah. Walaupun setelah diteliti ternyata yang membuatnya mahal bukan hanya karena makanannya, namun karena kotaknya yang terbuat dari emas murni.

Selain itu ada juga toshi koshi soba atau hidangan mie soba di akhir tahun yg dipercaya merupakan doa agar bisa terhindar dari mala petaka di tahun mendatang. Bagi kita yang muslim hal ini tentunya kita sebut musyrik karena mempercayai kekuatan selain Tuhan. Tapi bagi orang Jepang, hal-hal semacam itulah yang mereka anggap sebagai bagian dari agama. Dari jenis ikan, biasanya di malam tahun baru ikan kakap menjadi pilihan utama. Jika membaca beberapa tulisan di blog atau chiebukuro (wikipedia ala Jepang), ikan kakap atau dalam bahasa Jepang disebut ikan TAI diminati karena tahun baru adalah malam yang medeTAI atau perlu dirayakan. Jika menyimak acara-acara TV yang biasanya membahas tentang kebiasaan-kebiasaan ala daerah, masih banyak budaya atau kebiasaan unik yang dilakukan di daerah-daerah di seluruh Jepang. Tapi satu hal yang sama dari kebiasaan mereka adalah, malam tahun baru adalah malam yang perlu dirayakan dan dinikmati dengan cara yang tenang dan tidak menganggu orang lain.

Kisah Sebuah Payung, Too Good To Be True

Hari ini sesuai perkiraan cuaca, hujan mengguyur kota Osaka sejak pagi buta. Saya berangkat kerja agak santai dan meninggalkan rumah sekitar jam 07:40an diantar oleh istri dan anak hingga ke depan pintu.
Tangan kanan memegang payung dan tangan kiri memegang lunch box, tas kerja berukuran kecil menggelayut di pundak.
Setelah menunggu beberapa menit, kereta Ekspres Hanshin jurusan Umeda datang, dan seperti biasa saya harus berdiri berdesakan. Namun karena cuma 9 menit dan juga para penumpang lain selalu tertib dan diam, maka perjalanan selalu nyaman. Dan seperti sudah dikomando, pada jam sibuk seperti ini, penumpang kereta biasanya menghindari parfum yg bisa menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang lain. Karena belum tentu parfum yg kita sukai, di hidung orang tercium nyaman.
Saya mendapat tempat berdiri di dekat ujung tempat duduk, sehingga bisa menyandarkan payung di besi, dan menaruh lunch box di rak atas kepala sehingga bisa berdiri bebas tanpa menenteng barang. Namun, dari situlah semuanya bermula.
Karena keenakan tidak membawa barang, pada saat turun dari kereta di stasiun terakhir Osaka, saya hanya mengambil lunch box dan tas kerja dan melupakan payung yg saya beli dgn harga 700an yen atau sekitar Rp.80,000an itu. Saya baru tersadar ketika keluar dari pintu cek tiket dan sudah terlalu jauh dari posisi kereta.

Karena melihat arus manusia yg harus saya lawan jika nekat kembali ambil payung, saya memutuskan untuk melupakannya dan membeli payung baru di Lawson di stasiun Umeda. Hujan masih membasahi jalan ketika saya berjalan dari stasiun ke kantor.

Sepulang kerja, iseng-iseng saya mencoba singgah di ワスレモノセンター atau Lost & Found yg ada di stasiun Hanshin Umeda. Kepada petugas, saya jelaskan bahwa saya ketinggalan payung di kereta tadi pagi dan menyebutkan cirinya ada plester coklat.
Petugas masuk ke ruang gudang dan keluar sambil menyeret tempat payung berbentuk bulat yg berisi puluhan payung. Payung saya menancap di tengah-tengah, dan saya langsung bisa mengenalinya dari plester coklat di gagangnya.
Petugas stasiun menyerahkan tag yg harus saya isi dgn nama, alamat, dan no.tlp sbg bukti bhw saya yg mengambil batang tersebut. Setelah menerima payung, saya bergegas kembali ke arah stasiun.

Harga payung itu kurang lebih sama dgn satu porsi makan siang, tapi tetap dianggap penting sehingga dikumpulkan oleh pihak pengelola kereta.

Pagi itu hujan turun cukup deras, dan pasti ada saja penumpang yg lupa bawa payung sehingga pasti tergoda untuk membawa dan menggunakannya. Tapi semua orang itu bersedia mengikuti kata hatinya dan menomorsatukan kejujuran, tidak mengambil barang yang bukan miliknya.

Ini memang hanya cerita tentang sebuah payung yang ketinggalan di kereta di suatu pagi di Osaka, dan kembali ke pemiliknya dalam keadaan utuh. Tapi payung itu juga telah menjadi bukti tentang tingginya nilai kejujuran sebuah bangsa bernama Jepang. Sebuah nilai moral yang selalu kita impikan menjadi bagian dari bangsa kita, Indonesia. Mungkin di suatu hari nanti.

Mengenal Bahan Makanan di Jepang – Daftar Bahan Wajib Cantum

Standar kualitas produksi di Jepang sangat ketat, apalagi yang berhubungan dengan makanan. Dalam アレルギー物質を含む食品に関する表示Q&A (Q&A Tentang Pencantuman Bahan Alergi Pada Makanan) yang dikeluarkan oleh 厚生労働省医薬食品局食品安全部基準審査課 (Bagian Inspeksi Standar Keamanan Makanan Departemen Tenaga Kerja Dan Kesejahteraan Dirjen Obat dan Makanan — semacam BPOM di Indonesia), ada beberapa jenis tata cara pencantuman bahan makanan.

Yang diedarkan dengan Surat Keputusan Menteri dan wajib dicantumkanada 7 jenis yaitu :

卵・乳・小麦・えび・かに・そば・落花生 (Telur, Susu, Gandum, Udang, Kepiting, Mie Soba, Kacang tanah)

Selain itu ada 18 bahan yang sangat dianjurkan untuk dicantumkan dalam kemasan yaitu :

あわび、いか、いくら、オレン ジ、キウイフルーツ、牛肉、くるみ、さけ、さば、大豆、鶏肉、バナナ、豚肉、まつたけ、も も、やまいも、りんご、ゼラチン

Kerang Avalon, Cumi, Telur Salmon, Orange, Buah Kiwi, Daging Sapi, Kurumi (semacam kenari), Salmon, Ikan Mackerel, Kedelai, Daging Ayam, Pisang, Daging Babi, Jamur Matsutake, Buah Momo (Peach), Ubi Yamaimo (yang berlendir, bahan pembuat soba), Apel, dan Gelatin.

Setelah itu dikeluarkan lagi tambahan dua bahan yaitu : カシューナッツ・ごま cashew nut, dan wijen.

Bagi kita muslim hal ini sangat membantu untuk bisa mendeteksi apakah sebuah produk bisa kita konsumsi atau tidak.

Mudah-mudahan dalam tahun-tahun mendatang bahan lain seperti alkohol, asam amino, dll bisa dimasukkan juga.

Sumber : http://www.caa.go.jp/foods/pdf/syokuhin12.pdf