Archive for Perjalanan

Lunch Meeting With Vice Minister Mr. Alex SW Retraubun

Saya tiba agak kepagian di hotel Shangri-la karena di luar dugaan kondisi jalanan dari Sunter ke bilangan Thamrin-Sudirman tidak macet. Akhirnya untuk memanfaatkan waktu yang ada saya nongkrong di J.CO Donut di City Walk Sudirman sambil mengerjakan PR kantor yang sengaja saya bawa. Sebagai PIC di Management Planning, menu pekerjaan sehari-hari bukan hanya regular task seputar corporate planning dan budget management, hampir 75% waktu habis untuk mengurusi project based task yang tahun ini berjumlah 5 buah sekaligus. Agak kerepotan, tapi sangat challenging karena cakupannya sangat luas, mulai dari ranah management, product development, production, sampai marketing. Sambil menyeruput cafelatte panas saya mencoba mengkonsep beberapa hal.
Menjelang jam 11, saya akhirnya kembali meluncur menuju ke Shangri-la yang terletak hanya beberapa ratus meter dari City Walk dan tidak lama kemudian BBM dari CEO Mandom Indonesia masuk mengabarkan kalau beliau bersama CEO Mandom Japan sudah menunggu di caf hotel Shangri-la. Hari ini saya dengan bantuan KJRI Osaka (thanks to Bapak Ibnu Hadi dan mbak Wulan) mengatur lunch meeting antara CEO Mandom Group, CEO Mandom Indonesia, Wakil Menteri Perindustrian Bapak Alex SW. Retraubun, dan Direktur Kimia Hilir Kemenperin Ibu Toeti Rahajoe.
Saya memasuki lobi hotel agak tergesa karena tidak enak meminta dua CEO menunggu, walaupun jam belum menunjukkan pukul 11:15, waktu appointment saya dengan dua atasan saya itu. Setelah berbasa-basi sejenak, saya mengajak mereka untuk menunggu di dalam restoran, seperti kesepakatan yang saya buat dengan pak Alex melalui sekertarisnya. Kami akhirnya menuju lantai ground tempat restoran Jepang Nishimura terletak.
Setelah mengantar kedua CEO ke private room dengan dipandu staf restoran, saya menunggu di pintu masuk sambil membaca Koran Nikkei Shimbun yang tersedia di ruang tunggu, restoran masih sepi karena memang baru buka jam 11:30an, sementara kami tiba jam 11:15an, staf restoran tidak ada satupun yang menjaga di meja resepsionis. Tidak lama berselang seorang pria tinggi besar bersetelan batik warna cerah memasuki restoran, saya langsung berdiri dan menegor,
Pak Alex ya?.
Beliau langsung tersenyum dan menjawab sambil menjabat tangan saya erat.
Ya, pak Arif?.
Ya pak jawab saya sambil bertanya lagi Datangnya sendiri pak? Ibu Tuti ngga bareng?
Iya, Ibu Tuti menyusul, tapi tadi sudah berangkat bareng
Kalau begitu kita tunggu di dalam saja ya pak Ajak saya sambil mengarahkan ke dalam restoran.
Pak Nishimura, CEO Mandom Group, dan Pak Hibi, CEO Mandom Indonesia berdiri menyambut dan menjabat tangan pak Alex sambil tersenyum. CEO Mandom Indonesia yang badannya tinggi sekalipun terlihat biasa saja ketika berdampingan dengan Pak Alex yang perawakannya tinggi besar. Sebagai putra Maluku yang hidup dan besar di pulau Tayando, Maluku, pak Alex adalah success story yang patut diteladani. Kehidupannya yang keras di masa kecil yang diwarnai dengan segala usahanya mulai dari berjualan es dan kue-kue untuk menyambung sekolah, dipadu dengan pengalaman hidupnya di Inggris selama bertahun-tahun setelah memperoleh beasiswa belajar. Perpaduan ini menciptakan pribadi dan pembawaan yang unik. Logat Malukunya sangat kental ketika bercakap dalam bahasa Indonesia, tapi ketika berbahasa Inggris logat itu menjadi agak tersamar. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh dialek orang Inggris selama bermukim di New Castle dan menyelesaikan program S-2 dan doctorate-nya di sana.
Tidak lama berselang Ibu Toeti tiba di restoran bersama asistennya. Kami berenam akhirnya terlibat percakapan seru sembari menunggu makan siang yang sedang dipersiapkan. Walaupun di hadapan saya terhidang bento lezat dengan kombinasi menu lebih dari 12 jenis, saya tetap harus konsentrasi penuh karena menjembatani percakapan antara dua atasan saya dengan pak Wamen dan Ibu Direktur. CEO Mandom Indonesia yang sehari-hari lancar bercakap bahasa Indonesia, kali ini pun menggunakan bahasa Jepang. Mungkin beliau khawatir jika menggunakan kosakata yang tidak pantas untuk orang sekaliber pak Alex, sehingga mencari jalan aman dengan menggunakan bahasa Jepang.
Pak Alex dan Ibu Toeti sangat menyenangkan diajak bercakap-cakap. Mereka berdua tampaknya sudah mengerjakan PR karena tampaknya sudah memiliki informasi yang memadai tentang perusahaan kami, PT. Mandom Indonesia Tbk. Tapi yang mengagetkan, ternyata kementerian perindustrian hanya memiliki data kami yang diupdate terakhir kali sekitar 20 tahun yang lalu, sebelum kami go public di tahun 1993. Selidik punya selidik, ternyata Kemenperin hanya mengupdate data perusahaan kalau perusahaan tersebut pernah punya masalah dan mengontak Kemenperin, selain perusahaan seperti itu maka data yang tersedia hanya data di masa awal proses database di tahun 1990-an. Sebuah kelemahan Kemenperin di bidang IT yang berhasil ditutupi dengan manis oleh Ibu Toeti, karena penjelasan itu membuat kedua CEO kami bangga. Secara sederhana bisa dikatakan, data kami tidak diupdate, berarti selama dua puluh tahun terakhir Mandom Indonesia tidak pernah punya masalah yang cukup berarti sampai-sampai harus mengadu ke Kemenperin.
Selain masalah bisnis, industry, ekonomi, dan politik, pembicaraan juga melebar ke masalah yang bersifat pribadi. Ibu Toeti ternyata pernah menjalani pelatihan selama beberapa hari di Osaka Training Center dan sangat terkesan dengan Jepang. Beberapa kali pembicaraan sempat mengarah ke saya karena tampaknya pak Alex dan Ibu Toeti ingin tahu dengan status saya sebagai karyawan Mandom Corporation Jepang tapi ditugaskan di Indonesia, jadi ibaratnya ekspatriat di negeri sendiri dan juga ingin dengar tentang kehidupan di Jepang. Tapi karena main actor hari ini bukan saya, melainkan CEO kami berdua, maka pembicaraan saya arahkan kembali ke urusan bisnis. CEO Mandom Indonesia sempat melontarkan pertanyaan seputar pendapat pak Alex tentang pemilu di tahun 2014 dan hubungannya dengan dunia bisnis, pak Alex menjawab secara diplomatis dan berusaha meyakinkan bahwa siapa pun pemerintahnya, Indonesia akan selalu berusaha menjaga iklim usaha yang sehat dan membawa kemakmuran bagi semuanya. Satu hal yang menarik adalah ketika pak Alex kami pancing dengan pertanyaan seputar kenaikan UMP di daerah Jakarta, pak Alex menjawab dari sudut pandang Kementerian Perindustrian bahwa sebenarnya ini adalah langkah maju yang merupakan kesempatan bagus bagi Kemenperin untuk menstimulasi tumbuhnya industry di daerah. Dengan menaiknya UMP di Jakarta sampai sekitar 30%, maka perusahaan yang tidak mampu mengakomodasi itu akan dihadapkan pada beberapa pilihan, di antaranya yaitu memindahkan lokasi usahanya atau yang terburuk adalah gulung tikar. Seharusnya, menurut beliau, kepala-kepala daerah di luar Jakarta mengambil kesempatan ini dengan mempercantik iklim usaha di daerahnya sehingga pengusaha-pengusaha yang tak mampu bersaing di Jabodetabek mau memindahkan usahanya ke tempat mereka. Beliau menyayangkan bahwa beberapa daerah di luar Jakarta justru ikut-ikutan menuntut upah naik sehingga otomatis daerah itu kehilangan pesonanya sebagai tujuan investasi. Jika tidak memiliki infrastruktur sebagus Jabodetabek, seharusnya daerah menjadikan upah rendah sebagai daya tawar untuk menarik investor, tandas beliau.
Di akhir-akhir percakapan, persis seperti skenario yang sudah saya prediksi dan jelaskan kepada dua CEO kami, pak Alex menanyakan apa yang bisa Kemenperin lakukan untuk membantu bisnis Mandom di Indonesia. Seperti kebanyakan perusahaan Jepang lakukan ketika berhadapan dengan pemerintah Indonesia, kami meminta agar pembangunan infrastruktur terutama transportasi dan energy dipercepat. Hal ini sangat krusial karena merupakan unsure utama bagi dunia bisnis, terutama bagi perusahaan FMCG seperti Mandom Indonesia. Distribusi yang lancar adalah syarat mutlak kesuksesan bisnis kami. Seperti dugaan kami, sebagai pemangku jabatan di industry, Pak Alex hanya bisa menjanjikan akan melakukan konsolidasi dengan departemen terkait sehubungan permintaan kami itu, sekaligus juga menyebutkan bahwa pemerintah daerah Jabodetabek sedang berusaha memecahkan keruwetan masalah transportasi ini dengan berbagai cara, misalnya dengan MRT, walaupun memang baru di dalam wilayah Jakarta dan belum sampai di daerah Cibitung tempat pabrik dan kantor pusat kami yang baru sedang dibangun.
Di dalam pembicaraan kami, pak Alex juga mengingatkan kembali agar tidak lupa mengundang beliau pada saat peresmian pabrik dan kantor pusat baru kami di Cibitung nanti. Permintaan itu tentu saja kami tanggapi dengan senang hati dan berjanji akan mengontak jika sudah mendekati waktunya.
Jam nenunjukkan pukul 1 lewat ketika kami bersalaman saat akan berpisah, padahal appointment kami sebenarnya hanya 60 menit karena pak Alex harus menghadiri meeting di Kementerian. Pak Alex, ibu Toeti dan asistennya meninggalkan restoran terlebih dahulu sedangkan kami bertiga mengobrol sebentar di lobi hotel sebelum akhirnya meninggalkan hotel Shangri-la.

Assignment to Indonesia

Bermula dari sekitar bulan September ketika manajer HRD memanggil saya dan menanyakan kebulatan keinginan saya untuk ditugaskan ke Indonesia. Keinginan itu memang saya utarakan kepada atasan dengan berbagai pertimbangan, di antaranya adalah pendidikan anak, step-up di dalam karir, dan keinginan untuk berbuat lebih banyak bagi masyarakat di negara sendiri. Saking kuatnya keinginan pulang itu sampai-sampai sempat terpikir untuk pindah perusahaan. Dan waktu itu ada beberapa tawaran yang mendekat, mulai dari tawaran sebuah posisi di sebuah perusahaan trading dalam grup perusahaan otomotif, perusahaan pengelola kawasan industri di tanah air, hingga yang unik yaitu pinangan menjadi talent hunter di sebuah perusahaan di multinasional di Tokyo. Tapi akhirnya tawaran-tawaran itu saya kesampingkan karena perusahaan memberi lampu hijau atas permintaan saya untuk ditugaskan ke Indonesia.
Anak pertama kami Aisha tahun depan akan menyelesaikan TK-nya, untuk jaga-jaga maka kami daftarkan langsung ke SD yang kebetulan satu kompleks dengan TK. Alhamdulillah hasil test masuk Aisha cukup meyakinkan guru-guru di SD dan dia langsung dapat jatah bangku di sekolah tersebut, padahal ada beberapa anak orang Jepang yang terpaksa harus mencari sekolah lain karena tidak diterima. Alhamdulillah, berkat bimbingan ibunya, anak kami memang sudah lancar membaca hiragana-katakana dan berhitung dalam bahasa Jepang, bahkan di TK kadang-kadang diminta menggantikan guru membacakan buku cerita bagi teman-temannya yang lain karena kebanyakan dari teman-temannya belum bisa membaca.
Anak kedua kami Adnan juga sudah diterima di TK tempat kakaknya sekolah dan secara regular mulai masuk pada tahap pengenalan sekolah. Hal ini juga patut kami syukuri karena persaingan memperoleh bangku di TK juga cukup ketat mengingat TK Minami Itami tersebut cukup diminati karena terletak di dekat daerah pemukiman penduduk. Keuntungan kami yang tinggal di lokasi berjarak 5 menit dari sekolah menyebabkan kami bisa berada pada urutan 10 besar pertama yang mendaftar. Jika Adnan masuk ke TK Minami Itami, maka sepanjang sejarah TK itu ia akan menjadi murid orang asing kedua setelah kakaknya Aisha. Lokasi TK yang jauh dari universitas dan kompleks industry menyebabkan sangat minimnya jumlah orang asing di daerah tempat kami tinggal itu.
Sebagai mantan staf HRD, saya cukup paham proses penempatan staf di luar Jepang, sehingga ketika mendekati awal tahun 2013 SK belum turun, saya mulai gelisah karena didera ketidakpastian padahal tawaran dari perusahaan lain sudah saya kesampingkan. Tapi saya berusaha bersabar karena percaya dengan integritas manajer HRD yang juga dulunya atasan saya. Belakangan baru saya tahu bahwa terjadi tarik ulur dengan beberapa pihak menyangkut fasilitas, treatment, dan bidang pekerjaan yang akan saya tangani. Rupanya GM, atasan saya di Internal Audit khawatir kalau pekerjaan yang menyangkut internal audit Mandom Indonesia akan terbengkalai kalau saya tidak ada lagi di Mandom Japan sehingga beliau memberikan saya izin penempatan di Indonesia dengan syarat pekerjaan itu harus saya boyong ke Indonesia. Sebuah permintaan yang kedengaran lucu karena saya harus memegang Management Planning tapi juga harus bertanggung jawab atas internal audit Mandom Indonesia. Akhirnya saya jelaskan bahwa pekerjaan yang sehubungan dengan Mandom Indonesia sudah saya buatkan sistemnya dan sudah saya tata dokumennya sehingga staf yang akan ambil alih di belakang saya akan bisa mem-follow up. Adapun di Indonesia, saya janji akan tetap pantau walaupun tentunya tidak bisa saya campuri terlalu dalam karena ada PIC yang menangani bidang tersebut. Sebagai buntut dari permintaan GM tersebut, di SK penugasan saya, bidang internal control termasuk salah satu bidang yang harus saya tangani sebagai representative Mandom pusat dan diminta mendampingi manajer local.
Satu hal lagi yang menjadi permasalahan cukup serius yaitu treatment dan fasilitas perusahaan. Pihak HRD kantor pusat selalu berpegang pada data fasilitas manajer local yang mungkin diupdate sekitar 20 tahunan lalu sehingga ketika membandingkan fasilitas ekspatriat kami yang sekarang merasa khawatir jika terjadi ketidakenakan secara social. Berulangkali saya kemukakan bahwa fasilitas-fasilitas bagi seorang manajer di Indonesia sudah tidak separah 10-20 tahunan lalu sambil berusaha menggunakan penjelasan yang bersifat logis dan mengusik rasa keadilan mereka. Satu hal yang mendatangkan respek saya terhadap perusahaan, adalah keteguhan pemangku jabatan dalam memegang prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan tanpa memandang ras manusia sehingga akhirnya secara garis besar, benefit dan compensation yang perusahaan setujui tidak jauh berbeda dengan yang diterima oleh rekan-rekan Jepang. Prinsip No Loss No Gain diterapkan secara ketat, yaitu sebuah prinsip yang menjamin bahwa tidak akan ada kerugian atau keuntungan khusus ketika bekerja di luar Jepang dibandingkan ketika bekerja di dalam negeri Jepang. Tentunya sebagai non-Japanese ada beberapa fasilitas yang terkait dengan ke-Jepang-an yang tidak bisa saya peroleh, seperti misalnya fasilitas pulang gratis ke Jepang dalam setahun, atau fasilitas memasukkan anak ke Jakarta Japanese School. Karena orang tua hidup di Makassar, bukannya di Jepang, tentu saja akan terlihat aneh juga kalau saya mesti ngotot minta fasilitas pulang gratis ke Jepang. Adapun dgn Japanese School, kalaupun diberi maka akan saya tolak karena salah satu tujuan pulang ke Indonesia adalah agar anak bisa mendapatkan pendidikan agama Islam, sebuah mata pelajaran yang tak akan ditemui di Japanese School. Itulah sebabnya saya lebih memilih mendaftarkan anak di Al Azhar, walaupun perusahaan menanggung meskipun di International School yang biayanya bisa sekitar puluhan kali lipat dari sekolah swasta biasa semacam Al Azhar.
Memasuki februari 2012 akhirnya SK internal turun secara resmi dan persiapan kepindahan dimulai. Rumah kontrakan yang sudah kami huni sejak 2008 sedikit demi sedikit mulai kami bersihkan dan rapikan dan mengembalikannya ke kondisi semula ketika kami pertama masuk. Lahan kosong kecil di samping rumah yang biasa saya tanami kangkung, cabe, pare, ketimun, dll, sedikit demi sedikit mulai kami bersihkan. Setelah 4 tahun menjadi objek hobi berkebun, tanah yang tadinya kuning kemerahan dan miskin unsur hara, sudah agak kecoklatan karena sering saya pupuk dengan kotoran sapi. Bahkan selain musim dingin kadang-kadang saya menemui cacing tanah, pertanda tanah itu mulai subur. Pagar kayu yang saya buat sendiri juga terpaksa saya lepas dan saya buang sedikit demi sedikit pada hari pembuangan sampah besar. Inilah enaknya hidup di negara yang teratur, ada aturan main yang jelas sehingga kita cuma perlu mengikuti aturan dan kebutuhan kita bisa terpenuhi.
Sekitar awal februari pemberitahuan dari Al Azhar datang dan Alhamdulillah anak kami Aisha dan Adnan berhasil lulus tes masuk, padahal awalnya kami sempat khawatir sebab bahasa Indonesia mereka masih sangat kurang karena hanya dipraktekkan di rumah bersama Ibunya. Tidak sia-sia usaha Ibunya pulang mengantar mereka untuk mengikuti tes masuk di Indonesia beberapa minggu sebelumnya. Tidak kebayang seandainya mereka gagal masuk, maka pilihan satu-satunya mungkin terpaksa harus masuk international school.
Memasuki bulan maret, proses pembuangan barang-barang yang tak akan kami kirim ke Indonesia semakin intens, mengingat waktu bermukim yang semakin sedikit karena kami harus meninggalkan Jepang di awal April. Beberapa barang-barang yang masih berharga seperti kipas angin, cooler, AC, rice cooker, lemari kayu, sofa, dll akhirnya kami tawarkan gratis di http://anaknegeri.com. Beberapa barang yang tak ada peminatnya terpaksa kami buang dengan merogoh kantong cukup dalam. Threadmill yang baru saya pakai sekitar setahunan terpaksa kami buang dengan biaya yang hampir setara 1/4 harga barangnya. TV 32 inchi pemberian seorang kenalan Jepang juga akhirnya kami buang dengan biaya yang cukup besar. Di Jepang, pada prinsipnya, barang/sampah yang membutuhkan biaya pengolahan yang mahal memang dibebani biaya pembuangan yang tinggi. Terutama TV, kulkas, dan AC. Kulkas yang kami beli baru akhirnya kami bawa pulang bersama 2 buah AC yang tidak diminati oleh seorang teman pun. Sebagai negara 4 musim, sebenarnya AC adalah perabot penting karena bisa berfungsi sebagai pendingin di musim panas dan penghangat di musim dingin, tapi karena biaya pemasangan yang sangat mahal maka orang cenderung membeli AC baru daripada menerima AC bekas yang gratis. Harga pemasangan AC bisa sekitar 20.000-25.000 yen, padahal untuk AC baru di saat promo, bisa turun hingga 40.000 yen dan sudah termasuk biaya pemasangan. Sekitar dua minggu sebelum kepulangan, petugas dari Nippon Express datang dengan truk besar dan mulai melakukan packing. Kerja mereka sangat professional dan tangkas, semua barang-barang yang kami labeli bawa, mereka bungkus dengan rapi menggunakan kertas khusus lalu memasukkannya ke dalam kardus. Selama proses pengepakan anak-anak sementara saya ungsikan bersama ibunya ke mall. Menjelang jam 3 sore pekerjaan mereka beres dan isi rumah kami sudah tersusun dalam 105 kardus besar ukuran 70-90cm untuk sea freight dan 10 kardus untuk pengiriman udara. Begitu mereka pergi, rumah mungil tempat kami menikmati hidup selama di Itami nyaris kosong melompong, yang tersisa hanya futon (kasur tipis) dan sofa yang akan kami buang terpisah.
Setelah akhirnya hari H-nya tiba, rumah kami sudah bersih dan siap dipindahtangankan ke orang lain. Seminggu terakhir di Jepang kami nikmati di hotel sebelum bertolak meninggalkan tanah Sakura tempat saya menghabiskan 12 tahun dari 36 tahun usia saya di tahun 2012.

Sebuah Fase Baru Kehidupan

Tanggal 2 Januari 2011 menjadi penanda baru bagi keluarga kami, Kurniawan Family, karena pada hari itu putra kami Adnan Putra Kurniawan, menjalani prosesi penting sebagai seorang lelaki, dikhitan pada usianya yang hampir genap 4 tahun.
Awalnya ada kebimbangan apakah akan melaksanakan prosesi itu di usia sedini itu ataukah akan menunggu hingga usia yang lebih. Tapi sebagai sarari-man (sebutan orang Jepang untuk pegawai swasta) di perusahaan multi nasional seperti Mandom, tidak ada jaminan bahwa di usia Adnan yang lebih tua misalnya periode SD, saya akan bertugas di Indonesia. Selalu ada kemungkinan di periode itu saya bertugas di negara lain selain Indonesia, sehingga secara otomatis teman-teman sepermainannya akan terdiri dari anak-anak non muslim yang kemungkinan besar tidak dikhitan. Dan ada kekhawatiran bahwa pada usia itu di diri putra kami akan timbul perasaan ekslusif yang bisa berkembang menjadi inferioritas sebagai orang asing yang tinggal jauh dari negerinya karena berbeda dari teman-temannya. Memang bisa saja ada argumentasi bahwa justru dengan perbedaannya itu, identitas diri anak kami sebagai seorang muslim akan semakin kuat. Tapi hal itu akan membutuhkan pemahaman mendalam yang memerlukan edukasi lebih aktif dari kami sebagai orang tua. Sejauh ini kami memang boleh dibilang cukup berhasil menanamkan identitas keislaman di diri anak-anak kami, baik dari hal yang berhubungan dengan halal-haram makanan maupun dalam hal2 yang berhubungan dengan larangan perayaan yang berbau religi seperti christmas ataupun kunjungan ke kuil dari pihak sekolah. Akan tetapi semua hal-hal itu tidak berhubungan secara fisik dengan anak-anak sehingga tidak begitu menimbulkan tentangan, lagipula usia mereka saat ini masih di bawah 7 tahun, sehingga ajaran yang kami sampaikan diterima secara mutlak. Tapi hal itu bisa saja berbeda dengan khitan yang berkonsekuensi perasaan sakit dan menderita pada diri anak, sehingga ada kemungkinan terjadi penolakan jika hal itu dilakukan di usia ketika sang anak sudah mulai bergaul lebih banyak keluar rumah dan bisa memperoleh informasi dari lingkungan sekitarnya. Atas pertimbangan itulah maka kami membulatkan tekad untuk melakukan sunat di usia Adnan menjelang 4 tahun. Sekaligus sebagai acara 2 tahunan kami menengok keluarga di Indonesia.

Tanggal 23 Desember kami tiba di Makassar dan tanggal 30 kami bertolak menuju Tasikmalaya. Acara perkhitanan kami adakan di Tasikmalaya dengan pertimbangan medis dan perasaan keluarga. Di Tasikmalaya sudah banyak tersedia klinik sunat yang menggunakan laser yang hasilnya lebih bagus dan cepat sembuh dibanding sunat konvensional, sementara di Makassar masih jarang yang ada. Selain itu, dari pihak istri, putra kami adalah cucu laki-laki kedua, cucu laki-laki pertama sudah dikhitan di keluarga nenek dari pihak seberang. Dari pihak saya sendiri dari 7 cucu, 5 orang adalah laki-laki. Dengan pertimbangan “pemerataan”, maka khitan di rumah nenek di Tasik kami rasa adalah pilihan yang lebih bijaksana buat keluarga kami.
Sang nenek, sebagaimana lazimnya seorang nenek, menginginkan acara yg cukup besar dan ramai. Namun sebagai orang tua, mendidik anak untuk hidup sederhana adalah sebuah prinsip dasar bagi kami sehingga kami minta agar acara disederhanakan. Akhirnya nenek Adnan merangkaikan acara khitanan ini dengan acara pengajian rutin di lingkungan situ dengan ditutup acara santap bersama.
Klinik tempat Adnan dikhitan terletak di lingkungan perumahan dekat Yogya Mitra Batik, kota Tasikmalaya. Tidak begitu susah ditemukan karena pertokoan Yogya menjadi tempat paling gampang ditandai.

Tanggal 2 Januari
Matahari masih belum sepenuhnya keluar ketika sehabis sholat shubuh rombongan kami meninggalkan rumah nenek, jadwal kami adalah sesi kedua, jam 5 shubuh, setelah sesi pertama jam 4 shubuh. Sang dokter tampaknya sudah terbiasa mulai bekerja dari subuh karena ruangan klinik sudah terbuka lebar dan sang dokter sudah siap sedia. Beliau membuka pintu dan langsung memanggil Adnan dengan isyarat. Hebatnya, Adnan ikut seperti terhipnotis dan langsung duduk di kursi. Saya yang tadinya khawatir dan ingin ikut memegang pada saat proses khitan jadi urung masuk ruangan karena sang dokter berbisik “engkeu abdi” (nanti saya). Saya keluar ruangan sambil melihat Adnan yg tampak duduk tenang di kursi pasien. Sepertinya sang dokter itu memiliki kemampuan hipnotis sehingga pasien yg kebanyakan anak-anak menurut begitu saja.

Saya bersama 2 orang paman Adnan duduk di ruang tunggu sambil ngobrol ngalur ngidul menghilangkan rasa gugup. Sekitar 25 tahun yg lalu saya juga pernah menjalani prosesi yang sama, tapi saat itu saya sudah duduk di kelas 3 SD dan sudah mengerti apa arti rasa sakit dan kenapa saya mesti menjalani hal itu. Diam-diam muncul perasaan bersalah karena memaksakan prosesi ini di usia anak kami yang masih begitu muda itu. Tapi saya kemudian mengingatkan diri bahwa keputusan ini kami ambil dengan berbagai pertimbangan dan ikhlas karena ingin mengikuti ajaran agama Allah. Insya Allah ini yang terbaik, batin saya.
Klinik itu mulai ramai karena pasien untuk sesi berikutnya mulai berdatangan. Sang dokter melayani satu pasien setiap satu jam.
Dua puluh-an menit kemudian pintu ruang operasi terbuka dan putra kesayangan kami, Adnan, berdiri terisak-isak menahan tangis. Di belakangnya berdiri sang dokter dengan senyum lebar sambil memuji Adnan karena berhasil sabar menahan rasa sakit. Perasaan terharu bercampur bangga menyesakkan dada saya. Saya peluk Adnan dan bopong dengan hati2 menuju mobil sambil menghibur “erai ne… Yappari papa no musuko da wa”. Adnan masih terisak-isak.

Kami tiba di rumah nenek disambut keluarga yang sudah mulai ngumpul. Rupanya pengaruh bius di selangkangan Adnan mulai berkurang sehingga rasa sakitnya mulai muncul. Adnan mulai menangis sambil berucap dalam bahasa Jepang “itai….chinchin ga itai…”. Beberapa anggota keluarga bingung hingga akhirnya saya jelaskan bahwa itu artinya “‘anunya’ sakit”. Beberapa orang mulai merubungi setelah Adnan saya rebahkan di atas kasur tipis di ruang tengah, saya jadi bingung karena mereka mulai menaruh amplop sambil berucap “sebagai pemberi semangat”. Beberapa saat baru saya tersadar bahwa itu sebagai pengganti amplop “kondangan” karena kami tidak melangsungkan pesta. Aisha dengan polos bertanya “nan de Adnan okane o morau no?” (kok Adnan dikasih uang?). Saya tersenyum dan berusaha menjelaskan “Minna Ade ni oiwai o suru, buji ni owatte yokatta” (semuanya pada ingin ucapin selamat ke Ade karena sudah selesai dengan lancar”). Aisha juga kemudian bertanya kenapa “chinchin” (alat kelamin laki-laki) Adnan diobati. Dengan bahasa semudah mungkin saya menjelaskan bahwa khitan adalah proses pengobatan kalau seorang laki-laki menjelang dewasa. Aisha menimpali “Aisha wa onna dakara iranai yo ne”. Saya mengangguk.

Menjelang siang rumah sudah mulai ramai oleh ibu-ibu peserta pengajian, Adnan yang tadinya tenang2 mulai kesakitan karena pengaruh obat biusnya mulai menghilang. Akhirnya Adnan saya bopong dari ruang tengah tempat pengajian ke bale-bale di ruang luar. Setiap kali rasa sakit itu muncul Adnan mengerang kesakitan. Yang membuat kami terharu sekaligus merasa lucu adalah Adnan mengerang dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Rupanya dia sudah cukup paham bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya selain ayah, bunda, dan kakaknya tidak bisa bercakap bahasa Jepang sehingga dia akan mengerang dalam bahasa Indonesia juga ketika rasa sakit itu menyerang dan di sekelilingnya ada orang lain. Bunda Adnan tampak khawatir dan sedih, tampak air mata membayang di kedua matanya menyaksikan perjuangan putra kami.

Tapi rupanya rasa sakit itu baru awal. Begitu malam tiba tampaknya rasa sakit itu semakin menjadi-jadi apalagi kalau luka hasil khitan itu tersentuh sarung. Semalaman kami tidur tidak tenang karena terjaga ketika Adnan mengerang.

Hari berikutnya saya mulai khawatir dan menimbang-nimbang apakah akan memperlambat kepulangan ke Jepang jika keadaan Adnan tidak berubah. Alhamdulillah kondisi itu mulai berubah menjelang malam karena lukanya sudah agak kering. Malam kedua kami mulai tidur dengan tenang.

Keesokan harinya saya meninggalkan Tasik bersama Ibu, kakak, dan adik menuju bandara Cengkareng. Saya terbang ke Bali dan sambung ke Osaka, sementara Ibu, kakak, dan adik pulang ke Makassar.