Archive for Mandom

Lunch Meeting With Vice Minister Mr. Alex SW Retraubun

Saya tiba agak kepagian di hotel Shangri-la karena di luar dugaan kondisi jalanan dari Sunter ke bilangan Thamrin-Sudirman tidak macet. Akhirnya untuk memanfaatkan waktu yang ada saya nongkrong di J.CO Donut di City Walk Sudirman sambil mengerjakan PR kantor yang sengaja saya bawa. Sebagai PIC di Management Planning, menu pekerjaan sehari-hari bukan hanya regular task seputar corporate planning dan budget management, hampir 75% waktu habis untuk mengurusi project based task yang tahun ini berjumlah 5 buah sekaligus. Agak kerepotan, tapi sangat challenging karena cakupannya sangat luas, mulai dari ranah management, product development, production, sampai marketing. Sambil menyeruput cafelatte panas saya mencoba mengkonsep beberapa hal.
Menjelang jam 11, saya akhirnya kembali meluncur menuju ke Shangri-la yang terletak hanya beberapa ratus meter dari City Walk dan tidak lama kemudian BBM dari CEO Mandom Indonesia masuk mengabarkan kalau beliau bersama CEO Mandom Japan sudah menunggu di caf hotel Shangri-la. Hari ini saya dengan bantuan KJRI Osaka (thanks to Bapak Ibnu Hadi dan mbak Wulan) mengatur lunch meeting antara CEO Mandom Group, CEO Mandom Indonesia, Wakil Menteri Perindustrian Bapak Alex SW. Retraubun, dan Direktur Kimia Hilir Kemenperin Ibu Toeti Rahajoe.
Saya memasuki lobi hotel agak tergesa karena tidak enak meminta dua CEO menunggu, walaupun jam belum menunjukkan pukul 11:15, waktu appointment saya dengan dua atasan saya itu. Setelah berbasa-basi sejenak, saya mengajak mereka untuk menunggu di dalam restoran, seperti kesepakatan yang saya buat dengan pak Alex melalui sekertarisnya. Kami akhirnya menuju lantai ground tempat restoran Jepang Nishimura terletak.
Setelah mengantar kedua CEO ke private room dengan dipandu staf restoran, saya menunggu di pintu masuk sambil membaca Koran Nikkei Shimbun yang tersedia di ruang tunggu, restoran masih sepi karena memang baru buka jam 11:30an, sementara kami tiba jam 11:15an, staf restoran tidak ada satupun yang menjaga di meja resepsionis. Tidak lama berselang seorang pria tinggi besar bersetelan batik warna cerah memasuki restoran, saya langsung berdiri dan menegor,
Pak Alex ya?.
Beliau langsung tersenyum dan menjawab sambil menjabat tangan saya erat.
Ya, pak Arif?.
Ya pak jawab saya sambil bertanya lagi Datangnya sendiri pak? Ibu Tuti ngga bareng?
Iya, Ibu Tuti menyusul, tapi tadi sudah berangkat bareng
Kalau begitu kita tunggu di dalam saja ya pak Ajak saya sambil mengarahkan ke dalam restoran.
Pak Nishimura, CEO Mandom Group, dan Pak Hibi, CEO Mandom Indonesia berdiri menyambut dan menjabat tangan pak Alex sambil tersenyum. CEO Mandom Indonesia yang badannya tinggi sekalipun terlihat biasa saja ketika berdampingan dengan Pak Alex yang perawakannya tinggi besar. Sebagai putra Maluku yang hidup dan besar di pulau Tayando, Maluku, pak Alex adalah success story yang patut diteladani. Kehidupannya yang keras di masa kecil yang diwarnai dengan segala usahanya mulai dari berjualan es dan kue-kue untuk menyambung sekolah, dipadu dengan pengalaman hidupnya di Inggris selama bertahun-tahun setelah memperoleh beasiswa belajar. Perpaduan ini menciptakan pribadi dan pembawaan yang unik. Logat Malukunya sangat kental ketika bercakap dalam bahasa Indonesia, tapi ketika berbahasa Inggris logat itu menjadi agak tersamar. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh dialek orang Inggris selama bermukim di New Castle dan menyelesaikan program S-2 dan doctorate-nya di sana.
Tidak lama berselang Ibu Toeti tiba di restoran bersama asistennya. Kami berenam akhirnya terlibat percakapan seru sembari menunggu makan siang yang sedang dipersiapkan. Walaupun di hadapan saya terhidang bento lezat dengan kombinasi menu lebih dari 12 jenis, saya tetap harus konsentrasi penuh karena menjembatani percakapan antara dua atasan saya dengan pak Wamen dan Ibu Direktur. CEO Mandom Indonesia yang sehari-hari lancar bercakap bahasa Indonesia, kali ini pun menggunakan bahasa Jepang. Mungkin beliau khawatir jika menggunakan kosakata yang tidak pantas untuk orang sekaliber pak Alex, sehingga mencari jalan aman dengan menggunakan bahasa Jepang.
Pak Alex dan Ibu Toeti sangat menyenangkan diajak bercakap-cakap. Mereka berdua tampaknya sudah mengerjakan PR karena tampaknya sudah memiliki informasi yang memadai tentang perusahaan kami, PT. Mandom Indonesia Tbk. Tapi yang mengagetkan, ternyata kementerian perindustrian hanya memiliki data kami yang diupdate terakhir kali sekitar 20 tahun yang lalu, sebelum kami go public di tahun 1993. Selidik punya selidik, ternyata Kemenperin hanya mengupdate data perusahaan kalau perusahaan tersebut pernah punya masalah dan mengontak Kemenperin, selain perusahaan seperti itu maka data yang tersedia hanya data di masa awal proses database di tahun 1990-an. Sebuah kelemahan Kemenperin di bidang IT yang berhasil ditutupi dengan manis oleh Ibu Toeti, karena penjelasan itu membuat kedua CEO kami bangga. Secara sederhana bisa dikatakan, data kami tidak diupdate, berarti selama dua puluh tahun terakhir Mandom Indonesia tidak pernah punya masalah yang cukup berarti sampai-sampai harus mengadu ke Kemenperin.
Selain masalah bisnis, industry, ekonomi, dan politik, pembicaraan juga melebar ke masalah yang bersifat pribadi. Ibu Toeti ternyata pernah menjalani pelatihan selama beberapa hari di Osaka Training Center dan sangat terkesan dengan Jepang. Beberapa kali pembicaraan sempat mengarah ke saya karena tampaknya pak Alex dan Ibu Toeti ingin tahu dengan status saya sebagai karyawan Mandom Corporation Jepang tapi ditugaskan di Indonesia, jadi ibaratnya ekspatriat di negeri sendiri dan juga ingin dengar tentang kehidupan di Jepang. Tapi karena main actor hari ini bukan saya, melainkan CEO kami berdua, maka pembicaraan saya arahkan kembali ke urusan bisnis. CEO Mandom Indonesia sempat melontarkan pertanyaan seputar pendapat pak Alex tentang pemilu di tahun 2014 dan hubungannya dengan dunia bisnis, pak Alex menjawab secara diplomatis dan berusaha meyakinkan bahwa siapa pun pemerintahnya, Indonesia akan selalu berusaha menjaga iklim usaha yang sehat dan membawa kemakmuran bagi semuanya. Satu hal yang menarik adalah ketika pak Alex kami pancing dengan pertanyaan seputar kenaikan UMP di daerah Jakarta, pak Alex menjawab dari sudut pandang Kementerian Perindustrian bahwa sebenarnya ini adalah langkah maju yang merupakan kesempatan bagus bagi Kemenperin untuk menstimulasi tumbuhnya industry di daerah. Dengan menaiknya UMP di Jakarta sampai sekitar 30%, maka perusahaan yang tidak mampu mengakomodasi itu akan dihadapkan pada beberapa pilihan, di antaranya yaitu memindahkan lokasi usahanya atau yang terburuk adalah gulung tikar. Seharusnya, menurut beliau, kepala-kepala daerah di luar Jakarta mengambil kesempatan ini dengan mempercantik iklim usaha di daerahnya sehingga pengusaha-pengusaha yang tak mampu bersaing di Jabodetabek mau memindahkan usahanya ke tempat mereka. Beliau menyayangkan bahwa beberapa daerah di luar Jakarta justru ikut-ikutan menuntut upah naik sehingga otomatis daerah itu kehilangan pesonanya sebagai tujuan investasi. Jika tidak memiliki infrastruktur sebagus Jabodetabek, seharusnya daerah menjadikan upah rendah sebagai daya tawar untuk menarik investor, tandas beliau.
Di akhir-akhir percakapan, persis seperti skenario yang sudah saya prediksi dan jelaskan kepada dua CEO kami, pak Alex menanyakan apa yang bisa Kemenperin lakukan untuk membantu bisnis Mandom di Indonesia. Seperti kebanyakan perusahaan Jepang lakukan ketika berhadapan dengan pemerintah Indonesia, kami meminta agar pembangunan infrastruktur terutama transportasi dan energy dipercepat. Hal ini sangat krusial karena merupakan unsure utama bagi dunia bisnis, terutama bagi perusahaan FMCG seperti Mandom Indonesia. Distribusi yang lancar adalah syarat mutlak kesuksesan bisnis kami. Seperti dugaan kami, sebagai pemangku jabatan di industry, Pak Alex hanya bisa menjanjikan akan melakukan konsolidasi dengan departemen terkait sehubungan permintaan kami itu, sekaligus juga menyebutkan bahwa pemerintah daerah Jabodetabek sedang berusaha memecahkan keruwetan masalah transportasi ini dengan berbagai cara, misalnya dengan MRT, walaupun memang baru di dalam wilayah Jakarta dan belum sampai di daerah Cibitung tempat pabrik dan kantor pusat kami yang baru sedang dibangun.
Di dalam pembicaraan kami, pak Alex juga mengingatkan kembali agar tidak lupa mengundang beliau pada saat peresmian pabrik dan kantor pusat baru kami di Cibitung nanti. Permintaan itu tentu saja kami tanggapi dengan senang hati dan berjanji akan mengontak jika sudah mendekati waktunya.
Jam nenunjukkan pukul 1 lewat ketika kami bersalaman saat akan berpisah, padahal appointment kami sebenarnya hanya 60 menit karena pak Alex harus menghadiri meeting di Kementerian. Pak Alex, ibu Toeti dan asistennya meninggalkan restoran terlebih dahulu sedangkan kami bertiga mengobrol sebentar di lobi hotel sebelum akhirnya meninggalkan hotel Shangri-la.

Sejarah Bangsaku dan Buletin Perusahaanku

Sudah lama sekali saya tidak menulis artikel yang diterbitkan di media yang dibaca oleh publik, selain yg tertuang di blog ini. Kali ini pun artikel yg saya tulis sebenarnya tidak diterbitkan di media yg benar2 publik karena wadah tempat artikel saya tampil itu hanya buletin internal perusahaan yang paling banter hanya akan dibaca oleh sekitar 2000 orang, yaitu pegawai Mandom Group di Jepang dan beberapa puluh ekspatriat yg dikirim ke negara lain. Tapi yang menantang kali ini adalah bahasa yang saya gunakan adalah bahasa Jepang dan tema yang saya angkat walaupun
hanya berupa laporan kegiatan, tapi berpotensi menimbulkan silang pendapat di antara pembaca jika saya tidak menggunakan ungkapan yang tepat karena kegiatan perusahaan yang saya ulas kali ini adalah tentang keikutsertaan Mandom Jepang dalam peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-65. Dan seperti yang umumnya rakyat Indonesia ketahui, kemerdekaan itu diproklamirkan saat terbebas dari Jepang, setelah Jepang kalah perang oleh sekutu dan Jepang harus menarik mundur pasukannya dari Indonesia.

Header Buletin

Header Buletin


Awalnya saya ingin menuliskan sedikit tentang latar belakang diperingatinya kemerdekaan RI dan hubungannya dengan Jepang. Tapi setelah mempertimbangkan pro-kontra pendapat tentang kemerdekaan negeri kita, akhirnya saya memutuskan untuk tidak membahas ttg hal itu. Pada saat itu saya mencoba mencari tahu dulu apakah orang2 Jepang tahu cerita perang jaman dulu atau tidak.
Sasaran interview saya yg pertama adalah manajer saya sendiri yang berusia sekitar 45 tahunan. Dan jawabannya sangat di luar dugaan karena ternyata si manajer itu tidak tahu bahwa negaranya pernah menjajah Indonesia. Dalam pengertian yg ia pelajari di bangku sekolah, Jepang pernah menduduki Indonesia tapi tidak pernah menjajah Indonesia. Dalam buku sejarah mereka, Jepang itu melakukan ?? (senryou) yg kalau diartikan kebahasa Indonesia adalah “menduduki”, bukan ???? (shokuminchika) atau menjadikan daerah kolonisasi atau menjajah.
Kami berdebat panjang lebar tentang masalah itu hingga akhirnya ia menunjukkan Wikipedia dalam bahasa Jepang yang ternyata setelah saya baca, isinya memang menuliskan bahwa Indonesia itu merdeka dari Belanda, bukan dari Jepang ( http://ja.wikipedia.org/wiki/%E3%82%A4%E3%83%B3%E3%83%89%E3%83%8D%E3%82%B7%E3%82%A2 ). Dan dijelaskan di wikipedia itu bahwa Jepang memang hanya menduduki Indonesia, bukan mengkolonisasi. Artikel Wikipedia berbahasa Jepang yang ditulis oleh orang Jepang itu diiyakan oleh staf lain sembari menambahkan bahwa kemerdekaan yg diproklamirkan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 itu belum diakui oleh Belanda kala itu sehingga otomatis belum bisa disebut merdeka. Menurut pemahaman mereka, Indonesia baru benar-benar merdeka setelah duduk di round table dan Belanda mengakui Republik Indonesia.
Sebagai orang Indonesia yang belajar sejarah bangsa sejak SD tentu saja saya bertahan dengan sejarah versi bangsa Indonesia, walaupun akhirnya berusaha menutup perdebatan itu karena merasa tak ada gunanya. Paling tidak saya sudah berusaha menunjukkan bahwa sejarah Indonesia versi Jepang itu tidak sama dengan yang diamini oleh bangsa Indonesia, terutama yang berhubungan dengan hari kemerdekaan dan penjajahan Jepang sebelumnya. Kalau menurut saya sendiri, Jepang disebut menjajah karena mendirikan perwakilan pemerintah di Indonesia. Sementara itu, ditariknya pasukan Jepang dari Indonesia di agustus 1945 menyebabkan kekosongan pemerintahan di Indonesia yg kemudian dimanfaatkan oleh pejuang RI untuk memproklamirkan kemerdekaan, sehingga otomatis kemerdekaan itu diambil dari Jepang. Tapi tidak demikian pendapat mereka.
Dari hasil tanya jawab itulah saya akhirnya memutuskan untuk tidak memasukkan kisah tentang kemerdekaan di dalam artikel yg saya tulis itu. Memulai sebuah perdebatan lama antara orang Indonesia yg berjumlah 2 orang vs 2000 orang Jepang di dalam perusahaan yg sama, saya rasa bukanlah hal yang bijaksana dan tidak membawa manfaat bagi siapapun.
Saya akhirnya menggambarkan bagaimana suasana peringatan hari ultah RI di Indonesia. Berkisah tentang panjat pinang, lomba kebersihan RT/RW, lomba makan kerupuk, dan tentu saja tentang upacara 17 agustus di kantor2 pemerintah atau sekolah. Sebuah suasana yang bagi orang Jepang saya yakin dianggap aneh karena pada hari ??? atau hari berdirinya negara Jepang tidak ada kegiatan resmi yg dilangsungkan.
Setelah paragraf yg berisi ilustrasi ttg suasana 17 agustus-an di tanah air, saya memfokuskan materi selanjutnya pada suasana peringatan ultah RI yang diadakan oleh KJRI Osaka di hotel Hyatt Regency, Osaka. Niat di balik tulisan itu adalah ingin menggambarkan bagaimana dua bangsa yang 65 tahun lalu berhadap-hadapan di medan perang dan saling membunuhi, kini rakyatnya bisa berdiri bersama dalam satu ruangan saling berjabat tangan dan bercerita tentang bagaimana mesranya hubungan kedua bangsa beberapa puluh tahun terakhir ini.
Konjen RI di Osaka pak Ibnu Hadi memulai sambutan sekaligus menggunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan satu persatu pimpinan atau perwakilan 13 perusahaan yang ikut serta mendukung acara itu. Presiden Direktur Mandom Group, Mr. Nishimura Motonobu, tanpa canggung mengambil posisi di panggung setelah nama beliau dipanggil. Di sebelah beliau berdiri pak Asa Perkasa, GM Garuda Indonesia cabang Osaka, seorang GM Garuda yang masih sangat muda tapi berwawasan luas dan seakan-akan tidak pernah kehabisan ide-ide cemerlang untuk mengembangkan pasar Garuda di Jepang. Selain Mandom dan Garuda, ada Panasonic, Mizuno (sports wear), Otsuka Holding (Pocari Sweat), Daihatsu, SK Foods, dan beberapa perusahaan lain.
Sambutan pak Konjen dilanjutkan dengan sambutan dari Dubes RI yang menyengajakan datang dari Tokyo, pak Yusuf Anwar. Beliau sekaligus memohon pamit kepada masyarakat Jepang sehubungan dengan berakhirnya masa tugas beliau dan harus kembali ke tanah air.
Dari pihak pemerintah Jepang, wakil gubernur propinsi Osaka, walikota Daerah Khusus Osaka, dan walikota Sakai City membawakan sambutannya masing-masing. Kimura Sakushi, wakil gubernur Osaka dengan semangat berkisah tentang hangatnya hubungan pemerintahannya dengan Indonesia. Beliau memaparkan tentang program Sister Province Osaka Prefecture dengan Jawa Timur dan serangkaian kegiatan yang mewarnai kerjasama itu, mulai dari sumbangan jembatan penyeberangan ke Jawa, program training Kadin Jawa Timur, dan juga ttg lawatan gubernur Jawa Timur tahun lalu dalam rangkaian kegiatan seminar dan promosi peluang bisnis di Jawa Timur. Sementara itu walikota Sakai City yang beroleh kesempatan menyampaikan pidatonya di sela-sela acara ramah
tamah menceritakan bagaimana seriusnya pemerintah kota di bawah pimpinannya menjalin kerjasama dalam berbagai bidang terutama bisnis dan budaya. Di kota yg beliau pimpin sejak tahun lalu memang semakin aktif menjalin kerjasama setelah tahun lalu beberapa SD di kota itu memperoleh pemberian alat musik tradisonal Indonesia, angklung. Sambutan walikota Sakai itu kemudian dilanjutkan dengan penampilan beberapa anak SD yang tampil memainkan beberapa lagu Indonesia dan Jepang dengan menggunakan angklung. Menarik sekali melihat mereka memainkan alat itu dengan lincah, padahal baru beberapa bulan mereka berlatih menggunakan alat tersebut.
Semua rentetan kegiatan itu saya beberkan secara berurutan dengan tidak lupa menampilkan beberapa foto selama acara.
Setelah selesai disetting, tulisan saya memenuhi 3 halaman dari total 8 halaman buletin Mandom.

Musim Semi, HRD, dan Internal Control Division

Cuaca mulai agak stabil dipertengahn Juni ini dibanding bulan April yang tak menentu, kadang2 suhu udara meninggi hingga 20 derajat, tapi beberapa hari berikutnya kembali turun hingga di bawah 10 derajat. Hujan pun mulai sering turun sehingga payung mulai masuk ke tas kerja. Di kantor, tak terasa dua bulan lebih sudah saya menempati pos baru di divisi Internal Control setelah 1 tahun setengah di divisi HRD (Human Resources Division). Walaupun belum cukup 3 bulan berada di divisi baru ini, tapi selama10 mingguan melakukan persiapan tugas audit dan kontrol intern ini, ada banyak bidang yang bisa saya mengerti berkat penugasan selama satu tahun setengah di HRD. Terutama di bidang edukasi pegawai, struktur organisasi dan fungsi2 departemen dalam perusahaan, peraturan2, dan koneksi yang luas mulai dari level teratas top-two Mandom, hingga level terbawah. Suatu hal yang mungkin tak akan bisa saya peroleh hanya dalam satu tahun setengah jika tidak ditempatkan di HRD.

Di divisi baru, tugas sebagai internal control auditor sangat menantang karena membutuhkan pengetahuan yang luas dan mencakup seluruh aktifitas bisnis perusahaan induk Mandom Jepang dan Mandom Indonesia. Untuk Mandom Jepang saya kebagian beberapa bidang auditsementara untuk Mandom Indonesia tercakup hampir semua kecuali satu bidang saja. Sangat menantang karena untuk bisa melakukan tugas dengan baik saya dituntut untuk bisa memahami kedua perusahaan yang beroperasi dalam budaya, lingkungan, peraturan, dan hal2 lain yang kebanyakan berbeda karena Mandom pusat beroperasi dalam wilayah hukum Jepang sementara Mandom Indonesia di dalam wilayah Republik Indonesia. Sebagai konsekuensinya saya kudu bolak-balik memeriksa Hukum Perusahaan di Jepang, UU No.40 Tahun 2007 Ttg Perseroan, website Depkum Jepang, dan tentu saja website departemen2 terkait di Indonesia. Kalau sudah gini, baru betul2 terasa manfaat teknologi internet yang memungkinkan saya browsing pasal2 hukum di kedua negara dengan sangat mudah dan cepat, walaupun kadang2 otak serasa lelah karena harus switching dari bahasa Indonesia ke hurufkanji, bahasanya Doraemon. Jadi ingat bagaimana leletnya internet sewaktu pertamakali mencoba di komputer teman di kos-an belakang kampus STT Telkom, Bandung. Kala itu di tahun 1995-an, kecepatan modem yang paling canggih kalau tidak salah adalah 14.4KBps dan windows baru pada versi 3.x. Untuk bisamelihat satu halaman website butuh waktu beberapa menit sehingga memungkinkan untuk bisa buat teh sambil nunggu fully downloaded.Membandingkan dengan speedkoneksi di kantor yang berkisar 100MBps kadang2 membuat saya tersenyum sendiri kalau mengingat masa awal2 internet dulu. Tidak terbayang kalau saya harus mengerjakan tugas sekarang ini dengan bermodalkan internet koneksi 14.4KBps, bisa-bisa saya harus lembur setiap di hari di kantor hanya untuk mengunggah peraturan2 perusahaan dari situs pemerintah di Indonesia.

Dalam proses persiapan tugas audit dan pengendalian intern ini saya banyak membandingkan kebiasaan bekerja orang Jepang dan orang Indonesia. Dalam banyak bidang saya menemukan bahwa memang orang Jepang secara alami selalu berpikir secara terstruktur dan logis. Sebagai hasilnya, produk2 pemikiran mereka pun tersusun secara logis dan mudah dirunut secara struktural.

Mari kita ambil satu contoh yang sederhana yaitu cara pembuatan peraturan (materi yang saya sampaikan di bawah ini adaah hal yang bersifat umum, bukan mengacu pada komparatif Mandom Jepang dan Mandom Indonesia, tapi lebih kepada situasi umum di perusahaan Jepang dan di perusahaan Indonesia).

Ketika merancang sebuah peraturan, orang Jepang secara alami akan membuat kategori2 sebelum mulai menentukan isi dari peraturan itu sendiri. Biasanya mereka akan mulai dari yang besar seperti misalnya memisahkan “SISTEM” dan “OPERASIONAL”.Peraturan yang akan mengatur tentang “sistem” akan dirancang untuk bersifat luwes dan umum sehingga tidak memerlukan perubahan yang mendasar walaupun terjadi perubahanpada tingkat operasional. Untuk yang bersifat luas ini orang Jepang menyebutnya kitei.

Sementara yangcakupannya lebih kecil lagidirancang lebih detail dan biasanya dipisah-pisahkan pada jenis aktifitas di lapangan yang biasanya mereka sebut kisoku. Untuk peraturan jenis ini, keluwesannya lebih rendah tapi tetap tidak berbentuk buku manual. Sehingga kalaupun ada perubahan di cara pekerjaan di lapangan, biasanyaisi peraturan ini tidak perlu direvisi.

Untuk aturan yang lebih rendah dibanding kisoku barulah biasanya dibuat manual atau dalam bahasa Jepangnya disebut ????? (sagyou tejunsho). Dan biasanya manual ini hanya bersifat petunjuk sehingga tidak dikategorikan sebagai bagian dari peraturan itu sendiri karena materinya bisa saja diubah oleh pelaksana di lapangan asalkan tidak keluar dari ketentuan atau peraturan yang berada di atasnya (umumnya perubahan yang ada harus tetap dilaporkan atau dimintakan persetujuan dari atasan langsung).

Sementara itu, kita di Indonesia sudah sangat terbiasa dengan model “satu jilid” yang artinya peraturan semua digabung bersama ketentuan dan buku manual. Dari segi kepraktisan, cara2 yang umum ada di Indonesia ini memang lebih praktis karena untuk mencari tinjauan hukum atas sebuah permasalahan kita hanya perlu membuka satu buku peraturan. Akan tetapi kepraktisan itu harus dibayar mahal dengan ketidakluwesan sehingga peraturan yang ada harus selalu dirubah setiap kali adadinamika walaupun hanya terjadi di level operasional. Sebuah keharusan yang umumnya harus dibayar mahal karena akhirnya praktek di lapangan menjadi berbeda yang disebabkan oleh ketidakmampuan peraturan mengadaptasi perubahan-perubahan kecil yang terjadi di tataran operasional. Pada gilirannya, ketidakpatuhanpraktek operasional terhadap peraturan yang kaku ini akan menyebabkan ketidakacuhan terhadap alat hukum di dalam sebuah entitas. Sebuah endless loop yang akhirnya bisa membawa petaka bagi entitas tersebut.

Pola berpikir terstruktur yang tercermin dalam buat-membuat peraturan ini bisa dijumpai dalam banyak lingkungan kerja perusahaan Jepang. Padahal sebenarnya mereka itu hanya menjalankan teori-teori sederhana yang sudah banyak orang Indonesia tahu seperti konsep PDCA (Plan Do Check Action), Kaizen, 5W2H, dan sebagainya. Kalau masalah teori, kita tidak kalah, tapi masalah praktek, inilah kelebihan mereka. Saya jadi teringat sebuah kata2 yang seringkali saya ingatkan kepada diri saya sendiri, ”It’s not about knowing everything, it’s about doing everything you know”.