Archive for Kenshusei

PWEP Kumamoto

Aisha dan Adnan masih terlelap ketika saya meninggalkan rumah. Cuaca pagi itu cerah dan udara segar menyambut wajah saya ketika berjalan menuju stasiun kereta Hankyu. Celingak-celinguk mencari taksi yg biasanya mangkal di depan stasiun tapi ndak nemu juga, tampaknya di liburan golden week seperti ini mereka juga enggan narik. Akhirnya saya naik kereta dan berhenti di stasiun Itami yg merupakan ujung rel lalu melompat ke jok taksi yg mangkal di depan pintu keluar.

“空港お願いします (tolong antar ke airport)” kata saya.

Si sopir mengulang ucapan saya dan memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Sebuah kebiasaan orang Jepang yg disebut 復唱 (fukushou) atau mengulangi perkataan lawan bicara untuk memastikan kebenaran informasi. Good habbit!

Saya tiba sebelum jam 7, sementara pesawat JEX2383 yg akan saya tumpangi akan berangkat jam 07:45. Karena waktu masih lama akhirnya saya memasuki restoran Jepang dan memesan satu set menu makan pagi ala Jepang, mereka menyebutnya 朝の膳 (anugrah pagi(?)). Saya mengecek tiket yg telah saya ambil di mesin tiket otomatis. Sebelumnya tiket itu saya pesan melalui internet sehingga prosedur tiketing sangat mudah dan cepat karena dilayani oleh mesin, tidak mesti ngantri dan dilayani staf. Pesawat berangkat persis jam 07:45 sesuai jadwal yg tertera di tiket, tanpa keterlambatan dengan alasan operasional, schedule berubah, atau segala macam alasan yg sudah hampir umum dilontarkan oleh perusahaan2 penerbangan di tanah air kita, bahkan oleh maskapai yg katanya terbaik di Indonesia 🙂

Lapisan awan cukup tebal menggantung di atas pulau Kyuushu sehingga pesawat agak goncang sesaat sebelum mendarat. Alhamdulillah kami mendarat persis sesuai jadwal dan saya keluar dari pintu gerbang Kumamoto AirPort jam 09:05, lagi2 persis perkiraan semula. Saya jadi beranda-andai, kapan perjalanan udara bisa tepat waktu seperti ini di Indonesia.

Bandara Kumamoto

Bandara Kumamoto

Saya bergegas mencari bis menuju pusat kota Kumamoto dan sempat bertanya ke seorang staf bandara yg memberikan penjelasan dengan ramah dan mudah dimengerti. Sejurus kemudian saya sudah di atas bis, dan beberapa menit setelah bis melaju saya tertidur.

Saya terbangun beberapa menit sebelum bis sampai di halte yg saya tuju, 水道町 (suido chou). Cukup mudah menebak posisi gedung seminar PWEP (Pelatihan Kewirausahaan dan Edukasi Perbankan) Kumamoto ini karena menurut informasi dari ketua panitia pak Marlo ( Warung Indonesia Kumamoto ), lokasinya persis di depan hotel Toyoko-Inn tempat saya akan menginap. Saya bergegas menuju lantai 9 di gedung bertanda Tsuruya itu. Lokasi seminar kali ini cukup wah karena menempati gedung yg di bawahnya toko2 merek ternama seperti Prada dan Chanel mangkal. Louis Vuitton menempati gedung sebelahnya dengan papan namanya yg khas.

Sudah hampir jam 10 ketika saya keluar dari lift dan memperhatikan tempat seminar yg baru terisi kurang dari setengah kursi yg tersedia. Sepertinya teman2 kenshusei masih menggunakan kebiasaan di Indonesia, jam karet.

Setelah singgah di WC saya masuk ke ruangan dan bersalaman dengan panitia termasuk pak Marlo. Saya menempati kursi di belakang pak Rahmad Hidayat dari BNI Tokyo dan Uchida-san dari IMM cabang Kyushu. Di sebelah saya duduk pak Marlo dan pak Wahyudiono, seorang lulusan Doktor dan peneliti di Kumamoto University. Acara dimulai beberapa saat setelah saya duduk.

Materi PWEP kali ini tidak begitu banyak berbeda dengan PWEP Kansai tahun lalu. Penyampaian materi yg sebenarnya terlalu berat untuk kalangan kenshusei itu belum bisa diramu dan disajikan dengan ringan oleh beberapa pemateri sehingga peserta terlihat cepat bosan. Bagi kalangan akademik atau yg pernah menyicip bangku kuliah, angka2 yg tertera di layar OHP itu mungkin bisa dipakai sebagai alat analisa perencanaan bisnis, tapi bagi kenshusei yg kebanyakan adalah tamatan SMA dan STM, nilai2 seperti GDP, GNP, dll itu hanya angka2 yg membuat puyeng. Bagi mereka, informasi yg mereka butuhkan adalah model bisnis, informasi peluang bisnis, contoh penyiapan usaha, dan ilmu2 praktis lainnya. Hal ini yg belum banyak disadari oleh pemateri walaupun sudah berkali-kali PWEP diadakan. Para peserta sebenarnya tidak mau tahu seperti apa itu fungsi perbankan, atau bagaimana bank bisa membuat keuntungan. Yang mereka butuhkan adalah informasi bagaimana mereka bisa meminjam di bank kalau usahanya nanti memasuki tahap pertumbuhan progresif sehingga butuh sokongan dana pihak ketiga. Yang mereka ingin tahu adalah bagaimana caranya agar mereka bisa menjadi pengusaha yg memperoleh pendampingan dari bank, dll.

Acara diselingin dengan makan siang dan sholat Dhuhur. Siangnya diisi dengan sesi dari KBRI Tokyo dan success story yang sedianya dibawakan oleh pak Eka Suwarna seorang pengusaha karet alam dengan menggunakan media teleconference, tapi karena alasan kesehatan akhirnya beliau tak bisa hadir walaupun via internet dan materi yg beliau persiapkan dengan apik dibawakan oleh pak Irwan, seorang mahasiswa yg juga merupakan kawan seperjuangan beliau di ITB dulu. Pak Irwan tampaknya betul2 memahami lika-liku bisnis pak Eka dan juga tahu seluk beluk kehidupan pribadinya karena dengan menarik bisa membawakan materi tersebut. Peserta tampaknya masih ingin tahu lebih banyak tapi tidak bisa bertanya lebih banyak karena pak Eka tidak bisa dikontak saat itu. Seharusnya PWEP diisi dengan lebih banyak materi seperti success story ini, karena selain memberikan motivasi juga bisa memberikan contoh bagaimana sebuah kesuksesan itu ditapak melalui jalan-jalan yg berliku. Mudah2an PWEP chapter selanjutnya bisa berisi lebih banyak materi yg seperti ini.

Saya membawakan materi molor 5 menit dari jadwal semula. Sambil agak deg-degan saya memulai dengan perkenalan diri berupa data2 pribadi dan slide foto2 selama kuliah dan setelah masuk bekerja di Mandom Corporation Jepang. Setelah bagian perkenalan selesai, saya memutar sebuah iklan TV dari Gatsby untuk memperkenalkan perusahaan kami. Lumayan buat promosi Mandom 🙂

Dengan tempo yg agak cepat saya membawakan dua materi sekaligus yaitu “MELANJUTKAN PENDIDIKAN DI JEPANG” dan “PENGETAHUAN DASAR TENTANG ASURANSI PENSIUNAN DI JEPANG”. Rupanya kedua materi ini cukup menarik perhatian teman2 kenshusei karena mereka mengikuti dengan antusias dan banyak menjawab ketika saya melemparkan pertanyaan kepada mereka. Materi saya tuntaskan kurang lebih sejam sesuai perhitungan semula.

Sehabis acara seminar pun ada banyak pertanyaan yg saya terima, baik seputar tips & trik untuk kuliah di Jepang bagi kenshusei, ataupun tentang pengembalian iuran pokok asuransi nenkin bagi kenshusei setelah pulang ke Indonesia.

Setelah seminar saya langsung check-in hotel dan membaringkan tubuh sekitar sejaman sebelum sholat Magrib dan keluar cari makan. Saya menyusuri kompleks pertokoan dan menemukan warung makan waralaba kesukaan saya, YayoiKen, dan menikmati menu favorit 鯖塩焼き定食 (menu reguler ikan mackerel bakar pakai garam).

Saba Shio Yaki

Saba Shio Yaki

Sehabis makan malam itu saya menghabiskan waktu beberapa selang di sebuah toko buku yg saya temukan di dekat situ sebelum pak Marlo menelpon dan memberitahu kalau sudah menuju hotel untuk menjemput saya. Malam itu kami berencana bertandang ke tempat kenshusei yg tergabung di dalam FUMIKU (Forum Ukhuwah Masyarakat Indonesia di Kumamoto)  dan menjadi panitia inti PWEP kali ini, Ali dkk.

Perjalanan cukup jauh dan memakan waktu beberapa puluh menit hingga akhirnya tiba di sebuah pabrik yg terletak di sebelah rel kereta. Kediaman kenshusei itu terletak di lantai 2, sementara lantai satu adalah tempat bekerja mereka. Kami ngobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya saya dan pak Marlo minta diri karena sudah kemalaman. Saya tiba di hotel lewat jam setengah dua belas malam.

Keesokan harinya, saya terbangun setelah telpon yg saya set menjadi alarm berbunyi. Setelah sholat dan mandi saya mengambil barang bawaan dan menuju ke lantai 1. Sehabis menikmati sepotong onigiri dan semangkok sop miso, saya langsung menuju bandara Kumamoto.

JAL, lagi ngetem nunggu penumpang

JAL, lagi ngetem nunggu penumpang

Pesawat berangkat sesuai jadwal. Tas saya menjadi dua karena yg satunya berisi sebuah boneka Miffy untuk Aisha, mobil-mobilan untuk Adnan, dan dua bungkus penganan ringan khas Kumamoto untuk Dewi. Pesawat mendarat di Itami Airport sekitar 50 menit kemudian.

Yang Tertunda

Tak terasa sudah lebih dari satu tahun kami tinggal di perumahan Pemda yang dipinjamkan oleh KCCC (Kobe Cross Culture Center) ini. Dan tak terasa pula sudah hampir kami akan pindahan ke daerah Himeji. Insya Allah kalau tak ada aral melintang, maka februari tahun depan kami akan bermukim di kota Himeji.

Sehabis lebaran saya coba beres2 dokumen2 nenkin yang sudah lama sambil mengerjakan aktivasi ulang beberapa layar panel pajaknenkin.com setelah pemindahan server akhir bulan lalu. Di antara layar2 kontrol itu ada sebuah layar yang menampilkan data teman2 mantan kenshusei yang mengajukan aplikasi, beres prosesnya, tapi rekeningnya bermasalah sehingga dana tak bisa kami transfer, kami menyebutnya REKENING BERMASALAH.

Teman2 yg rekeningnya bermasalah itu ada yang sudah sampai 3 atau lebih kami kirimi surat via pos. Di antaranya ada yang setiap kali dikirim suratnya kembali lagi, ada juga yang setiap kali dikirim tak kembali tapi tak juga ada jawaban. Suatu hari ketika berbincang dengan adik saya yang menangani administrasi di Makassar, Nurul, saya melemparkan spekulasi bahwa jangan2 ada di antara orang2 yg rekeningnya bermasalah itu sudah tidak ada lagi di dunia ini alias telah mendahului kita. Spekulasi itu saya ambil karena memang ada beberapa orang di antara deretan nama2 itu yang beralamatkan daerah2 bencana di Jawa Tengah ketika gempa merenggut nyawa banyak manusia di sekitar Yogya tahun 2005 lalu. Dan jika memang pemilik dana itu betul sudah meninggal dunia, maka adalah kewajiban kami untuk mencari keluargnya. Bahkan bila harus mengeluarkan biaya transportasi yang mungkin lebih besar dari dana itu sendiri.

Menangani rekening bermasalah ini jauh lebih sulit daripada aplikasi yang lancar dan aktif rekeningnya karena sangat berpotensi moral hazard. Itulah sebabnya kami mengambil kebijakan untuk tidak mengumumkannya secara terbuka dan melacaknya dengan cara kami sendiri. Tahun2 lalu, biasanya saya pulang ke Indonesia dan melakukan pelacakan langsung dengan jaringan yang kami miliki. Tapi tahun ini berhubung Allah belum memberikan keluangan waktu, maka terpaksa proses pelacakan hanya bisa kami lakukan dari Jepang dengan keleluasaan yang sangat terbatas. Mudah2an insya Allah tahun depan di musim panas saya bisa minta cuti dan menyempatkan diri menyelesaikan beberapa dari amanah yang tertunda itu.

Mmmhhh….. mengingat mati selalu menakutkan. Dan lebih menakutkan lagi kalau saya sudah harus “kembali” padahal ada beban amanah yang belum tertunai. Naudzu billahi min dzalik ya Rabbiy.

50 juta orang

Akhirnya hari ini di TV Fuji muncul iklan yang berisi permohonan maaf dari departemen kesejahteraan sosial Jepang. Iklan itu meminta maaf atas kekisruhan yang timbul akibat raibnya catatan pensiunan warga negara Jepang sejumlah lebih dari 50 juta orang. Di iklan itu juga pemerintah berjanji untuk mengusut tuntas masalah itu dan meyakinkan warga negara bahwa dana pensiunan mereka kelak di hari tua tetap ada.

Iklan ini sebenarnya sudah terlalu terlambat setelah kasak kusuk permasalahan ini merebak beberapa bulan silam. Bermula dari ditemukannya kejanggalan pada pembayaran pensiunan beberapa orang senior citizen, lantas kemudian membuat orang2 setengah baya menjadi khawatir akan kasus yg sama terjadi pada mereka di masa datang sehingga mereka mengecek dan mendapatkan hasil yang meragukan, hingga akhirnya terbuka secara besar2an system fault pada database pemerintah.
Pada umumnya kesalahan sistem terjadi pada saat migrasi data besar2an dari sistem kartu manual ke sistem database komputer di era tahun 80-90an. Ada berbagai macam sebab tapi pada dasarnya bisa dimasukkan pada satu kategori besar, DATA INPUT ERROR.
Di antara kesalahan itu ada yg salah memilih kanji yang benar, alamat, nomor nenkin, atau tahun pembayaran.
Di satu sisi, permasalahan ini menunjukkan kelemahan sistem komputerisasi ketika operatornya tidak terlatih baik. Tapi di sisi lain, permasalahan ini sekaligus menunjukkan kekuatan sistem komputerisasi, karena tidak mungkin mengetahui adanya kesalahan data dengan cepat seperti sekarang ini kalau tidak ada sistem komputerisasi yang mumpuni seperti sekarang. Apakah anda bisa membayangkan mengecek data 50 juta orang dalam jangka waktu beberapa bulan? Boleh dikata mustahil.
Jadi, kalau ada pilihan antara manual dan komputerisasi, saya yakin kita akan tetap memilih komputerisasi.

Jepang yang dikenal sebagai negara maju sebenarnya tidaklah semaju bayangan orang Indonesia dalam dunia per-IT-an, setidaknya itulah kesimpulan pribadi saya setelah beberapa hari belakangan berkelana mengikuti seminar2 ttg isi dalam perusahaan2, khususnya yg menyangkut administrasi data.
Tidak sedikit perusahaan2 yg mengaku gudangnya ahli IT, mempekerjakan orang2 yg latar belakangnya sama sekali bukan dari IT. Pendidikan IT pegawai2 mereka kebanyakan diperoleh dari pelatihan2 setelah masuk kerja, bukan dari universitas2 tempat mereka tamat.

Saya tidak mengatakan bahwa mereka kurang cakap dalam IT. Tapi memberikan pelatihan bahasa C kepada orang yang pernah belajar bahasa itu beberapa tahun semasa kuliah tentu akan lebih mudah ketimbang orang yang selama 4 tahun belajar tentang sejarah hidup Sakamoto Ryoma 🙂
Saya yakin kalau dihitung persentase mahasiswa2 ilmu komputer per total mahasiswa, maka angka di Indonesia akan lebih tinggi dibanding di Jepang. Walaupun saya tidak berani mengatakan bahwa persentase kualitasnya sama.

Dengan terus terangnya pemerintah Jepang akan kekacauan data pensiunan yg mereka miliki ini, mungkin akan timbul beberapa efek pada program nenkin. Pada saat tidak ada masalah pun ada banyak kalangan muda yg menolak masuk program itu, apalagi sekarang dengan kekacauan ini, akan ada lebih banyak warga negara yg memilih untuk tidak masuk nenkin.
Akan halnya orang asing, khususnya kenshusei asal Indonesia, kekisruhan permasalahan database pemerintah ini bisa berakibat pada melambatnya proses pengembalian iuran pokok nenkin, dan tentu saja pada proses pengembalian pajak nenkin mereka. Selama satu terakhir ini saja tercatat pelambatan proses pengembalian iuran pokok yang semula rata-rata 3 bulan menjadi rata-rata 5-6 bulan. Pengembalian pajak nenkin yg di tahun 2004-an, ketika kami pertama kali mengelola layanan Suzuki Office+Kurniawan A&S, hanya memakan waktu 50 hari-an, sekarang ini bisa melar hingga berbulan-bulan. Bahkan di catatan kami ada sekitar aplikasi yang masih ditahan oleh kantor pajak daerah lebih dari 6 bulan dengan alasan data yang tidak cocok atau tidak lengkap.
Entah data tidak cocok, atau jangan2 seperti data orang2 Jepang itu, RAIB alias HILANG 🙁

Mudah2an saja untuk orang asing seperti kita, data tidak ada yg hilang, sebab semua kenshusei yg masuk program nenkin ini sudah menggunakan sistem komputerisasi sejak awal, amin.

Kalau sistem database di Suzuki+Kurniawan ( http://pajaknenkin.com ) gimana? Tenang aja, sistem database kami sejak semula sudah digital dan online sehingga insya Allah bebas resiko error pada saat digitalisasi 🙂