Archive for March 2013

METI, Asosiasi Pengusaha Kosmetik Jepang, dan Pak Jo Liat Tjiang

Siang-siang sebuah telpon dari nomor yang tak terdaftar di HP masuk, suara penelpon agak berat dan aksen pembicaranya tidak saya kenal. Ternyata yang menelpon adalah pak Jo Liat Tjiang, seorang profesional kawakan di bidang chemical dan cosmetics. Pak Jo selain menjabat sebagai Presiden Direktur PT.Soci Mas, beliau juga adalah Senior Managing Director di Sinarmas Group, sekaligus Vice President PT. Dian Tarunaguna, sole distributor Shiseido di Indonesia. Beliau menelpon karena bingung dengan sebuah permintaan yang datang dari Shiseido Jepang untuk melayani delegasi dari Jepang yang terdiri dari pejabat Departemen Perekonomian dan Perindustrian Jepang (METI) dan perwakilan dari Asosiasi Pengusaha Kosmetik Jepang. Permintaan tersebut tidak mencantumkan dengan jelas latar belakang, schedule, dan detail lain tentang kegiatan tersebut. Satu-satunya yang tertera di dokumen tersebut memberikan nomor HP saya yang menjelaskan bahwa Pak Jo bisa menghubungi saya untuk keterangan lebih lanjut. Saya sendiri jadi bingung karena dari METI saya hanya diminta untuk mengatur pertemuan secara internal dan mendampingi Vice President kami. Saya secara khusus tidak pernah diminta untuk memberikan penjelasan kepada Pak Jo atau memfollow up beliau untuk pertemuan itu.

Walaupun sama-sama bingung, kami akhirnya sepakat untuk bertemu menyatukan pendapat sebelum menghadapi delegasi Jepang. Saya bersama Vice President Mandom dan pak Jo akhirnya janjian ketemu di sebuah hotel di bilangan Sunter keesokan harinya.

Keesokan paginya saya bersama VP menuju coffee shop hotel tempat kami janjian. Ternyata Pak Jo sudah menunggu duluan. Kami berjabat tangan dan berbasa-basi sebentar. Pak Jo sudah berumur sekitar 70-an tapi badannya masih tegap dan masih sangat terlihat segar di usianya yang mulai senja. Padahal menurut beliau, beliau tidak terlalu memilih-milih makanan, bahkan cenderung menikmati apa saja yang ingin dinikmati. Tapi, menurut beliau, yang penting adalah menjaga kebiasaan makan pagi yang cukup. Pagi itu beliau menikmati sepiring bubur ayam yang di-base telur setengah matang.

Karena sayang kalau kesempatan emas ini lewat, maka saya banyak mengorek-ngorek wawasan keilmuan dan pengalaman beliau selama puluhan tahun malang melintang di dunia industri, terutama di Sinar Mas Group, grup usaha yang dibesarkan oleh Bapak Eka Cipta Wijaya. Beliau kemudian bercerita bagaimana sepak terjang bisnis beliau dengan orang asing terutama orang Jepang, mulai dari PT. Soci Mas yang beliau nakhodai, hingga PT. Dian Tarunaguna yang beliau kendalikan dalam kapasitas sebagai Vice President.

Yang mengagumkan dari Pak Jo adalah nasionalisme beliau yang sangat tinggi. Beliau berkali-kali menekankan bahwa sebagai orang Indonesia, kita harus berdaulat di negeri sendiri, terutama ketika menyangkut industri dan bisnis. Menurut beliau, perusahaan asing yang masuk dan menjalin kerjasama dengan pengusaha-pengusaha lokal, seharusnya sedari awal menempatkan partner-nya sebagai kawan yang berkedudukan sejajar. Beliau mengkritik pengusaha-pengusaha asing terutama pengusaha Jepang yang hanya menjadikan partner lokalnya sebagai pintu masuk untuk mencicipi pasar domestik Indonesia, yang kemudian nanti diberi “kompensasi secukupnya” dan diceraikan ketika bisnis mereka sudah mulai berakar di Indonesia. Pola pengembangan bisnis seperti ini memang kelihatannya hanya memperalat pengusaha-pengusaha lokal tanpa berniat membangun bisnis yang saling menguntungkan. Di Soci Mas, yang mereka lakukan malah sebaliknya. Menurut beliau, perusahaan tersebut tadinya adalah joint venture dengan pengusaha Jepang, yang kemudian diambil alih oleh Sinar Mas Group setelah pengusaha Jepang tersebut diberi “kompensasi secukupnya” lalu diceraikan. Walaupun saya tidak ada sangkut pautnya, mendengar kisah tersebut, saya merasa bangga karena Indonesia bisa punya grup usaha sebesar Sinar Mas yang mampu mengatur tamu asing di negeri kita ini. Sebuah hal yang biasanya malah terjadi sebaliknya.

Prinsip tentang kesetaraan asing-lokal itu dijadikan sebagai satu dari dua poin yang pak Jo sampaikan ketika kami akhirnya menghadapi delegasi METI Jepang dan Asossiasi Kosmetik Jepang sekitar sejam kemudian di kantor pusat Mandom di Sunter.Setelah mendengar pendapat pak Jo, utusan METI berjanji akan meneruskan poin tersebut kepada pihak-pihak yang terkait.
Poin yang satunya lagi adalah himbauan beliau kepada para pengusaha Jepang untuk meniru pengusaha-pengusaha Korea yang bisa membangun gurita bisnis di Indonesia dalam jangka waktu yang relatif singkat. Menurut beliau para pengusaha-pengusaha Korea ini bisa berhasil membangun bisnis di Indonesia dan mulai mengganggu eksistensi Jepang karena mereka berhasil melakukan asimilasi budaya dengan lokal karena menguasai bahasa asing, yaitu bahasa Inggris. Poin kedua ini memang menohok telak karena memang orang-orang Jepang kebanyakan lemah di dalam penguasaan bahasa Inggris. Utusan METI mengangguk-ngangguk dan tersenyum agak malu-malu.

Ketika delegasi Jepang meminta ide-ide dan informasi lagi, saya menambahkan tentang kegiatan monozukuri yang digawangi oleh Pak Rahmat Gobel dari Panasonic Indonesia. Termasuk menceritakan tentang beberapa kegiatan yang melibatkan JETRO dan JICA. Utusan METI menanggapi dengan dingin dan berpendapat bahwa kegiatan yang dilakukan JETRO tidak akan banyak membawa manfaat. Sempat bingung juga kenapa seorang utusan pemerintah Jepang justru tidak menanggap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kolega mereka di organisasi yang berbeda. Namun saya jadi ingat di sebuah artikel di internet tentang “persaingan” antara METI, Kemenlu, JETRO, dan JICA dalam program-program luar negeri mereka. Suatu hal yang disayangkan karena seandaianya disinergiskan, maka mungkin bisa memberi manfaat lebih besar.

Pertemuan itu berakhir sekitar jam 12:30 sementara pak Jo minta diri sejam lebih cepat karena memang sesi beliau selesai jam 11:30.

EN First Book – Testimoni Pak Firman Wibowo

Terakhir kali saya ketemu langsung dengan pak Firman sekitar April tahun lalu ketika saya baru kembali ke Indonesia dan diajak pak Firman makan malam di Nishimura Restaurant yang ada di lantai basement hotel Shangrila Jakarta. Pak Firman sangat senang dengan teppan-yaki di restoran Jepang tersebut sehingga saya hampir yakin bahwa kali ini ketika diajak makan malam dan mengobrol langsung tentang EN, lokasinya pasti Nishimura Restaurant. Perkiraan saya tidak meleset ketika akhirnya pak Firman konfirmasi kalau kami akan akan ketemuan di restoran tersebut. Malam itu seperti 2 pertemuan sebelumnya, saya bersama Abdi, ketua EN yang kebetulan sedang berada di Indonesia karena dinas dari kantor.
Pak Firman agak telat karena hari itu sehabis mengisi acara pelatihan untuk petinggi-petinggi BNI dari daerah. Akhirnya saya dan Abdi duluan nongkrong di private room yang sudah dipesan pak Firman. Tapi hanya beberapa menit, akhirnya pak Firman datang dengan senyum lebar dan menjabat tangan kami. Saya memperkenalkan Abdi kepada pak Firman dan kami mulai terlibat percakapan seru sambil ditemani koki yang mulai memasak di teppan di depan kami. Nyaris setahun tak bertemu, pak Firman masih tetap kelihatan segar dan enerjik. Aura positif dan semangat yang selalu menggebu-gebu terpancar kuat dari diri pak Firman. Dalam beberapa kali pertemuan dengan orang-orang sukses, aura berwibawa memang selalu terpancar, baik itu pada pejabat pemerintahan seperti pak Hidayat (Menteri Perindustrian), pak Taufiq (Senior Adviser Menteri UKM), maupun pada enterpreneur atau profesional seperti pak Heru dan pak Firman ini. Tapi hanya profesional atau enterpreneur yang memancarkan aura antusiasme tinggi seperti yang terpancar dari diri pak Firman.

Ketika kami mulai membahas tentang buku yang kami beri judul “Bekerja Ala Jepang” dan kami tulis keroyokan, pak Firman menyambut dengan antusias. Beliau juga sepaham dengan kami bahwa untuk bisa memajukan industri, maka terlebih dahulu kita perlu menyuburkan nilai-nilai baik yang dianut oleh pelaku-pelaku industri. Kalau dalam ungkapan terkenal di dunia HRD di Jepang, “monozukuri no mae, mazu wa hito zukuri desu” (sebelum bicara tentang manufaktur, maka terlebih dahulu harus bicara tentang penciptaan SDM yang unggul). Ungkapan ini kemudian diperdalam maknanya dari sudut pandang seorang profesional oleh pak Firman dalam bahasa yang sangat mengena di kalimat testimoni yang beliau tulis untuk buku kami. Saya tidak akan menuliskan golden sentence itu di artikel ini karena kalimat itu copyrightnya ada di beliau dan harus diterbitkan dulu supaya bisa terlindungi haknya. Jika ingin tahu, silakan nanti beli buku kami (promosi dikit …. hehehehe).

Awalnya kami hanya berniat meminta testimoni dari pak Firman, tapi beliau kemudian juga menawarkan sponsorship dan membuka kesempatan untuk mendayagunakan buku tersebut dengan membagikannya pada acara-acara Kampung BNI, termasuk acara gerakan monozukuri yang digawangi Panasonic dan didukung penuh oleh BNI. Beliau bahkan menawarkan penggunaan ballroom Shangrila untuk peluncuran buku kami. Sebagai kepala divisi di BNI, beliau memang memiliki akses luas untuk menghubungkan BNI dengan kegiatan-kegiatan yang bisa selaras misi BNI, apalagi pada saat tukar kartu nama tahun lalu, saya lihat beliau menjabat sebagai Senior Vice President BNI. Pak Firman juga dengan antusias menceritakan tentang program kemitraan Kampoeng BNI yang sudah berjumlah 20 buah dan tersebar di seluruh Indonesia. Program kemitraan yang bertujuan mendayagunakan potensi kampung-kampung binaan BNI dan menumbuhkan enterpreuner-enterpreneur baru itu sangat sejalan dengan misi EN dalam memandirikan industri nasional. Mungkin karena kesamaan misi itulah sehingga obrolan kami jadi menarik sehingga tanpa terasa jam menunjukkan pukul 21 malam.

Kami mengucapkan terima kasih, berjabat tangan dan berpisah di lobi hotel.