Archive for February 2013

EN First Book Testimoni Pak Heru Santoso

Untuk yang kedua kalinya dalam seminggu berangkat kerja pakai setelan jas, sesuatu yang tidak begitu nyaman, walaupun kali ini minus dasi. Daripada under-dress, masih lebih baik saya over-dress, kalaupun terlalu over maka nanti tinggal menanggalkan setelan atas atau menggulung kemeja. Pengalaman under-dress waktu menemani Konjen Osaka pak Hadi minggu lalu masih membekas, waktu itu saya minus dasi, sementara semua peserta kunjungan yang terdiri dari anggota Kansai Keizai Renggo Kyokai (Asosiasi Konfederasi Ekonomi Kansai) memakai dasi, kecuali satu orang yang menggunakan batik. Maka kali ini saya mengantongi dasi walaupun sebenarnya yakin tidak akan terpakai, sebab makan malam kali ini adalah acara non-formal bersama pak Heru Santoso, Vice President PT Panasonic Manufacturing Indonesia, yang juga menjabat sebagai ketua di Komite International Relation Kadin pusat, chairman Asosiasi Pengusaha Mold & Dies, dan seabreg jabatan lain, termasuk wakil ketua persatuan alumni Jepang, PERSADA. Makan malam ini adalah rangkaian upaya kami mendapatkan testimoni untuk buku Enjinia Nusantara (EN) yang pertama “Bekerja Ala Jepang”, sekaligus memperkenalkan apa itu Enjinia Nusantara pada network yang ada di Indonesia. Bersama ketua EN, Abdi dari Daihatsu Japan. Kami janjian dengan pak Heru di restoran Jepang, Sumiya, Senayan STC.
Jam 7 lewat 2-3 menit ketika saya keluar dari lift menuju restoran saat sms dari pak Heru masuk dan memberitahu kalau beliau sudah ada di Sumiya. Sambil tidak enak hati karena membuat orang sekelas pak Heru menunggu, saya terburu-buru bergegas masuk ke dalam restoran. Kami berjabatan tangan dan saya meminta maaf karena telat.
Dengan setelan batik yang cerah dan senyum yang hangat pak Heru menyambut. Tidak banyak perubahan dibandingkan saat terakhir kami bertemu di Osaka sekitar 6 tahun yang lalu. Dengan gaya bahasa yang lugas dan tegas, beliau selalu menyenangkan ditemani berbincang. Belum lagi letupan-letupan semangat muda yang terpancar kuat di aura beliau, suatu ciri khas yang selalu saya temui pada orang-orang sukses seperti pak Heru ini.
Abdi menyusul beberapa saat kemudian, dan setelah beberapa menit berselang, seseorang yang diperkenalkan oleh pak Heru bernama Agung ikut bergabung. Agung yang seusia dengan saya adalah mantan penerima beasiswa Panasonic dan sekarang ini berdikari membangun usaha. Perusahaan Agung PT. Aozora Agung Perkasa adalah UKM binaan Panasonic Indonesia yang sedang naik daun dengan teknologi water treatment-nya dan konon sudah melayani beberapa perusahaan-perusahaan Jepang yang ekspansi ke Indonesia. Akhirnya kami berempat terlibat percakapan dan diskusi yang seru.
Ternyata pilihan kami meminta pak Heru untuk menulis testimoni sangat tepat. Selain kapasitas beliau sebagai alumni Jepang, Sekertaris Jenderal Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ), Wakil Ketua Persada, dan banyak hal lain yang berhubungan dengan Jepang, beliau sangat respon dengan visi misi organisasi profesional kami yang baru berumur jagung itu. Beliau banyak mengarahkan kami, bukan hanya pada implementasi ide-ide kami yang bertema kemandirian industri nasional, bahkan beliau juga menawarkan beberapa ide-ide untuk mengubungkan kami dengan network beliau yang sangat luas. Mulai dari kalangan akademis, bisnis, hingga pemerintahan.
Satu ide yang sangat menarik dari beliau adalah tentang pengadaan kontes gasing (Koma Taisen) yang akan dihadiri oleh perusahaan-perusahaan manufaktur Jepang. Hingga tahun lalu, kontes ini hanya diadakan di Jepang, tapi berkat lobi beliau akhirnya panitia bersedia memindahkan acara kegiatan ini ke Jakarta yang rencananya akan dirangkaikan dengan kegiatan pameran industri nasional Manufacturing Indonesia di Kemayoran November 2013. Sekilas, gasing bukan benda aneh dan boleh kata dianggap sepele, hanya sebagai mainan. Tapi hubungan benda ini dengan kemajuan industri menjadi jelas ketika beliau mengeluarkan jenis gasing yang dimainkan pada kontes itu. Gasing-gasing tersebut terbuat dari logam yang dalam proses pembuatannya membutuhkan mesin bubut jenis CNC. Industri jenis ini merupakan penopang kekuatan monozukuri (manufaktur) Jepang. Untuk bisa menjadi pemenang dalam kontes ini, gasing harus memiliki keseimbangan yang sempurna sekaligus memiliki berat yang cukup untuk menjatuhkan gasing lawan. Jika terlalu ringan maka akan mudah dijatuhkan lawan, tapi sebaliknya jika terlalu berat maka akan lamban berputar sehingga cepat berhenti. Untuk memperoleh keseimbangan yang paripurna itu, sebagus apapun mesin bubutnya, kalau manusianya tidak ahli maka hasilnya mungkin tidak sesuai harapan. Sebaliknya, walaupun manusianya ahli tapi mesinnya tidak bagus, maka akan sulit memperoleh hasil yang bagus karena bahan baku logam yang keras. Bisa menang dalam pertandingan gasing itu ibarat pengakuan tersendiri bagi sebuah perusahaan akan kesempurnaan mereka dalam memadukan teknologi manufaktur dan sekaligus kreatifitas SDM yang mereka miliki. Yang unik, menurut pak Heru peserta Koma Taisen ini bukan hanya melulu perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang bubut logam atau alat presisi, tapi perusahaan manufaktur yang bidangnya lain pun ikut meramaikan event ini. Melalui event ini, terjadi networking antara sesama pengusaha sehingga walaupun kalah dalam gasing, siapapun masih berkesempatan menang dalam networking karena bisa bertemu supplier, pelanggan, dan menambah relasi bisnis. Konsep event yang sangat menarik!
Selain Koma Taisen, pak Heru juga menawarkan chance untuk mendayagunakan Universitas Persada guna mewujudkan visi EN dalam memajukan industri nasional. Dengan kapasitas EN yang terdiri dari pemuda-pemudi Indonesia dengan latar belakang berbagai disiplin ilmu, mulai dari energy, engineering hingga bisnis dan manajemen, memang ada peluang kolaborasi yang bisa berujung pada penciptaan semacam inkubator bisnis bagi UKM-UKM baru di Indonesia. Walaupun belum ada konsep kongkrit dalam hal ini, tapi pemaparan visi semacam itu bagi kami adalah sesuatu yang sangat exciting karena membuka pintu-pintu ke arah langkah-langkah nyata untuk berbakti kepada bangsa, walaupun dalam skala yang sangat kecil.
Satu poin yang paling menarik dari diskusi kami adalah pemaparan gerakan monozukuri yang sedang diusung oleh pak Rahmat Gobel (baca di artikel Warta Ekonomi tentang pemikiran beliau). Budaya monozukuri ini memang budaya penopang utama keberhasilan industri Jepang merajai dunia elektronik, otomotif, mesin berat, dll. Visi pak Rahmat adalah menjadikan monozukuri ini sebagai bagian dari budaya di dalam industri di Indonesia, terutama di industri kecil dan menengah, karena dengan budaya semacam inilah sebuah industri kecil atau menengah bisa bertahan dalam ganasnya persaingan usaha. Jika pelaku-pelaku bisnis bisa bertahan hidup, berarti industri nasional pun akan sustainable. Sebuah pemikiran yang cukup sederhana secara konsep tapi pasti implementasinya tidak akan mudah. Sebab, pelaku-pelaku industri kita kebanyakan sudah ‘terbiasa’ memproduksi barang sekenanya, kualitas tidak stabil, dan minus kreatifitas alias lebih banyak nyontek. Kondisi ini dimafhumkan oleh perilaku konsumen yang memang belum banyak menuntut, kebanyakan orang Indonesia nrimo saja kalau produk-produk yang mereka beli ternyata rendah mutunya dan rusak dalam jangka waktu yang singkat. Sehingga kalau menurut saya pribadi, sebaiknya gerakan monozukuri ini dibarengi dengan edukasi pasar untuk selalu menuntut kualitas tinggi. Istilahnya, jangan mau beli produk murahan berkualitas bobrok, apalagi produk harga mahal dengan kualitas jelek. Jangan mau beli jam tangan harga 50 ribuan yg bakal rusak dalam 3 bulan, padahal kalau sabar dikit dan menabung bisa beli jam tangan seharga 200 ribuan dengan kualitas yang bisa bertahan hingga tahunan. Jangan mau beli seprei 40 ribuan yang begitu dipakai, luntur hingga berbekas di kasur dan kasurnya mesti dilaundry dengan biaya yang lebih besar. Lebih baik sabar dan nabung dikit supaya bisa beli yang harga sedikit lebih mahal tapi kualitas terjaga, dan lain-lainnya. Dengan karakter konsumen yang lebih cerdas, maka mau tak mau produsen yang ‘asal buat’ secara perlahan akan tersingkir jika tidak mau meningkatkan mutu dan memperbaiki layanan, seperti pada kasus mocin beberapa belas tahun yang lalu. Motor-motor Cina yang awal keluarnya laku bak kacang goreng akhirnya secara perlahan ditinggalkan konsumen karena mutu produk yang bobrok. Kondisi ini seharusnya diciptakan pada produk-produk jenis lain, supaya konsumen tidak dirugikan dan produsen-produsen kita lebih gigih dan tangguh dalam kompetisi industri, minimal di kandang sendiri. Jika pasar kita ngotot meminta produk berkualitas dan pengusaha-pengusaha kita memiliki semangat monozukuri maka secara perlahan akan tercipta sinergis yang akan membawa kondisi win-win pada semua pihak. Konsumen mendapatkan produk bermutu dan layanan yang unggul, sedangkan pengusaha kita memiliki level kompetisi yang tinggi. Tidak ada lagi catch phrase “Produk Kualitas Ekspor” karena produk yang bagus justru dijual untuk bangsanya sendiri, bukan kepada orang luar yang belum tentu respek dan bangga menggunakan produk-produk kita.
Satu lagi hal menarik yang disharing pak Heru adalah tentang gerakan monozukuri dengan berlabel halal, alias “halal monozukuri”. Konsep ini diusung pak Heru dengan menggandeng MUI untuk mengekspor standar halal Indonesia ke industri-industri di Jepang, terutama yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Konsep ini menjadi menarik karena pak Heru sendiri adalah non-muslim dan beliau hanya memandang masalah ini dari sudut pandang bisnis. Jika halalisasi ini berhasil, maka muslim di Jepang tidak akan susah payah karena bisa memperoleh makanan/minuman halal di restoran-restoran di Jepang, dan sebagai timbal baliknya dunia industri F&B Jepang akan banyak bergantung pada tenaga-tenaga ahli halal dari Indonesia, sehingga berpotensi membuka lapangan kerja dan peluang usaha baru. Dari segi momentum, gerakan halal monozukuri ini memang sangat tepat karena di Jepang sendiri beberapa perusahaan sudah mulai memproduksi manakan/minuman yang berstandar halal seperti Hikari Miso dengan produk halalnya berupa Shiro Koshi Miso, Aka Koshi Miso, Marumu Mutenka Miso, dan Rusutsu Resort di Hokkaido. Dari dunia usaha pun, tampaknya halalisasi ini mulai menarik untuk digeluti dan mulai bermunculan pemain-pemain baru seperti Malaysia Halal Corporation.
Percakapan kami berempat sangat seru dan menarik sehingga tanpa disadari jam menunjukkan pukul 9:30 malam. Kami akhirnya berpisah dan berjanji akan saling kontak lagi. What an exciting night!

EN First Book – Testimoni Pak Habibie

Biasanya saya paling malas pakai jas ke kantor, tapi rasa-rasanya tidak enak juga kalau hanya pakai kemeja biasa, sementara pakai batik pun terlalu mencolok sebab di kantor jarang ada yang pakai batik. Hari ini rencananya akan bertemu dengan Pak Taufiq, staf ahli, senior advisor Menteri UKM. Pertemuan ini guna menjelaskan tentang buku yang EN (Enjinia Busantara) akan rilis awal april 2013 (saya menulis satu bab tentang Hourensou). Buku yang membahas tentang aspek sosial, industri, dan bisnis di Jepang ini rencananya akan diberi testimoni oleh Pak Habibie (mantan presiden RI) yang dihubungkan dengan kami oleh pak Taufiq karena kedekatan beliau, baik sebagai pribadi maupun secara organisasi sebab pak Taufiq juga menjabat sebagai Sekertaris Jenderal ICMI Pusat.
Awalnya tempat disetting di hotel Mulia karena dekat ke tempat pak Taufiq, tapi karena ada beberapa rekan dari komunitas alumni Jepang ingin bergabung dan datangnya dari lokasi yang agak jauh maka tempat digeser ke TIS Tebet. Karena saya memperhitungkan jarak hotel Mulia, akhirnya saya sampai terlalu cepat. Tapi lebih baik menunggu daripada ditunggu, itulah salah satu prinsip shakaijin yang sudah lumrah di Jepang tapi tampaknya belum umum di negeri kita (kalau ingin tahu apa itu shakaijin, silakan baca buku kami nanti yang membahas tentang hal tersebut).
Menjelang jam yang disepakati pak Taufiq muncul dengan segala kebersahajaan beliau. Dengan setelan batik warna terang, senyum dan jabat tangan erat menyambut ketika saya dan Abdi (ketua EN) menyapa beliau. Abdi baru pertama kali bertemu langsung walaupun sudah kontak via email, sementara saya kalau tidak salah sudah 1-2 kali sewaktu di Jepang, dan terakhir sewaktu acara deklarasi IPTIJ Korwil Jabodetabek pada desember 2012 lalu. Pak Sigit dan Mas Ivan dari KAJI datang setelah beberapa lama berselang.
Pembicaraan tentang testimoni buku hanya berlangsung singkat karena pak Habibie memang sudah menyanggupi dan tinggal menunggu hasil saja. Kami akhirnya brainstorming tentang peran apa saja yang EN bisa lakukan sebagai komunitas profesional muda di Jepang. Brainstorming agak terganggu karena sering diselingi oleh diskusi yang membahas terlalu jauh. Padahal seharusnya kalau brainstorming, harus fokus dulu di idea generating, sebelum men-judge ide2 yang ada. Pembahasan ide-ide menjadi menarik dan meluas karena teman-teman dari KAJI menceritakan tentang kondisi terkini dunia industri Indonesia yang semakin hot karena kebanjiran UKM2 Jepang, sementara pak Taufiq menggambarkan visi-visi kementerian UKM yang menarik dan ditambahi dengan sharing ide-ide yang beliau terapkan di Ikopin Bandung. Saking serunya diskusi tak terasa jam menunjukkan pukul 10 malam. Kami akhirnya meninggalkan restoran Marenggo Bali itu jam 10 lewat. Mudah2an ada beberapa ide yang bisa kami wujudkan dari pembicaraan 2 jam tersebut.

After One Year

Tak terasa hampir setahun sejak penugasan ke Indonesia akhir maret tahun 2012 lalu. Awalnya dipenuhi ketidakpastian, khawatir, tapi sekaligus hope yang bercampur aduk begitu saja menciptakan sebuah harmoni tersendiri bagi kehidupan keluarga kami. Anak-anak sudah nyaris lupa tentang kehidupannya di Jepang, kecuali sekolah mereka, Kappa Sushi, dan mobil keluarga kami dulu. Walaupun saya selalu menggunakan bahasa Jepang ketika bercakap dengan mereka, sudah mulai timbul keengganan mereka untuk merespon dalam bahasa Jepang. Tampaknya mereka mulai masuk zona nyaman dengan bahasa ibunya, bahasa Indonesia. kalau saya tidak bersikeras tetap nihonggo, mereka mungkin sama sekali akan lupa.
Renovasi rumah juga alhamdulillah sudah hampir beres, tinggal kolam ikan, dan sepetak kebun mini yang belum selesai. Jika semuanya beres, maka kegiatan mingguan seperti di Itami dulu yaitu berkebun, akan dimulai lagi. Kali ini tampaknya akan lebih seru karena ditambahi dengan mengurus kolam ikan yang mungkin bisa memuat gurame hingga 20 ekor-an.
Secara perlahan reversed culture shock yang awalnya menghinggapi kami mulai memudar dan kami mulai bisa menerima kenyataan sehari-hari sebagai suatu budaya, walaupun tentu saja kami harus berjuang keras untuk selalu mengingatkan anak-anak tentang budaya-budaya buruk yang tak boleh mereka tiru. Sudah lebih dari sekali mereka bertanya kenapa pak sopir jemputan mereka kok membuang sampah ke jalan atau bahkan kehalaman rumah kami, sementara papa selalu mengantongi sampah dan membuangnya di kantong sampah di rumah. Saat berkendara pun kami harus kembali mengingatkan bahwa kita harus tetap sopan dan tertib walaupun sekeliling kita orang parkir di bawah tanda S, menyerobot di antrian tol, atau membunyikan klakson seperti orang marah-marah. Meskipun saya akhirnya memecahkan rekor 7 kali klakson selama 4 tahun nyetir di Jepang. Beberapa hari yang lalu jumlah klakson saya akhirnya menembus angka 8 kali selama setahun ini.
Tapi satu hal yang ternikmat selama setahun ini adalah saya tidak pernah lagi alpa sholat jumat. Dan saya juga tidak perlu pusing-pusing cari arah kiblat setiap kali mau sholat karena cukup singgah di pinggir jalan manapun selalu ada musholla atau masjid.
Setahun hampir berakhir yang berarti jatah kenikmatan ini tinggal 5 tahunan lagi. Apakah saya akan memilih seperti yang sekarang atau menjadi bosan dan kembali ke dunia asing yang ramah. Sebuah pertanyaan yang belum mampu saya jawab saat ini. Tapi setidaknya kondisi seperti ini sering menjadi perenungan yang mengingatkan saya untuk menyadari bahwa semua ini hanya sementara, bukan hanya keberadaan saya di negeri sendiri ini, tapi juga keberadaan saya di dunia ini. Pantas saja Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk bertindak laksana orang asing di dunia ini. Karena dengan demikianlah kita menjadi sadar bahwa hidup ini tidak selamanya dan akan ada kehidupan selanjutnya. Bagi yang berbekal cukup maka akan berbahagialah, dan celakalah bagi yang lalai, naudzubillahi min zalik.