Sebuah Fase Baru Kehidupan

Tanggal 2 Januari 2011 menjadi penanda baru bagi keluarga kami, Kurniawan Family, karena pada hari itu putra kami Adnan Putra Kurniawan, menjalani prosesi penting sebagai seorang lelaki, dikhitan pada usianya yang hampir genap 4 tahun.
Awalnya ada kebimbangan apakah akan melaksanakan prosesi itu di usia sedini itu ataukah akan menunggu hingga usia yang lebih. Tapi sebagai sarari-man (sebutan orang Jepang untuk pegawai swasta) di perusahaan multi nasional seperti Mandom, tidak ada jaminan bahwa di usia Adnan yang lebih tua misalnya periode SD, saya akan bertugas di Indonesia. Selalu ada kemungkinan di periode itu saya bertugas di negara lain selain Indonesia, sehingga secara otomatis teman-teman sepermainannya akan terdiri dari anak-anak non muslim yang kemungkinan besar tidak dikhitan. Dan ada kekhawatiran bahwa pada usia itu di diri putra kami akan timbul perasaan ekslusif yang bisa berkembang menjadi inferioritas sebagai orang asing yang tinggal jauh dari negerinya karena berbeda dari teman-temannya. Memang bisa saja ada argumentasi bahwa justru dengan perbedaannya itu, identitas diri anak kami sebagai seorang muslim akan semakin kuat. Tapi hal itu akan membutuhkan pemahaman mendalam yang memerlukan edukasi lebih aktif dari kami sebagai orang tua. Sejauh ini kami memang boleh dibilang cukup berhasil menanamkan identitas keislaman di diri anak-anak kami, baik dari hal yang berhubungan dengan halal-haram makanan maupun dalam hal2 yang berhubungan dengan larangan perayaan yang berbau religi seperti christmas ataupun kunjungan ke kuil dari pihak sekolah. Akan tetapi semua hal-hal itu tidak berhubungan secara fisik dengan anak-anak sehingga tidak begitu menimbulkan tentangan, lagipula usia mereka saat ini masih di bawah 7 tahun, sehingga ajaran yang kami sampaikan diterima secara mutlak. Tapi hal itu bisa saja berbeda dengan khitan yang berkonsekuensi perasaan sakit dan menderita pada diri anak, sehingga ada kemungkinan terjadi penolakan jika hal itu dilakukan di usia ketika sang anak sudah mulai bergaul lebih banyak keluar rumah dan bisa memperoleh informasi dari lingkungan sekitarnya. Atas pertimbangan itulah maka kami membulatkan tekad untuk melakukan sunat di usia Adnan menjelang 4 tahun. Sekaligus sebagai acara 2 tahunan kami menengok keluarga di Indonesia.

Tanggal 23 Desember kami tiba di Makassar dan tanggal 30 kami bertolak menuju Tasikmalaya. Acara perkhitanan kami adakan di Tasikmalaya dengan pertimbangan medis dan perasaan keluarga. Di Tasikmalaya sudah banyak tersedia klinik sunat yang menggunakan laser yang hasilnya lebih bagus dan cepat sembuh dibanding sunat konvensional, sementara di Makassar masih jarang yang ada. Selain itu, dari pihak istri, putra kami adalah cucu laki-laki kedua, cucu laki-laki pertama sudah dikhitan di keluarga nenek dari pihak seberang. Dari pihak saya sendiri dari 7 cucu, 5 orang adalah laki-laki. Dengan pertimbangan “pemerataan”, maka khitan di rumah nenek di Tasik kami rasa adalah pilihan yang lebih bijaksana buat keluarga kami.
Sang nenek, sebagaimana lazimnya seorang nenek, menginginkan acara yg cukup besar dan ramai. Namun sebagai orang tua, mendidik anak untuk hidup sederhana adalah sebuah prinsip dasar bagi kami sehingga kami minta agar acara disederhanakan. Akhirnya nenek Adnan merangkaikan acara khitanan ini dengan acara pengajian rutin di lingkungan situ dengan ditutup acara santap bersama.
Klinik tempat Adnan dikhitan terletak di lingkungan perumahan dekat Yogya Mitra Batik, kota Tasikmalaya. Tidak begitu susah ditemukan karena pertokoan Yogya menjadi tempat paling gampang ditandai.

Tanggal 2 Januari
Matahari masih belum sepenuhnya keluar ketika sehabis sholat shubuh rombongan kami meninggalkan rumah nenek, jadwal kami adalah sesi kedua, jam 5 shubuh, setelah sesi pertama jam 4 shubuh. Sang dokter tampaknya sudah terbiasa mulai bekerja dari subuh karena ruangan klinik sudah terbuka lebar dan sang dokter sudah siap sedia. Beliau membuka pintu dan langsung memanggil Adnan dengan isyarat. Hebatnya, Adnan ikut seperti terhipnotis dan langsung duduk di kursi. Saya yang tadinya khawatir dan ingin ikut memegang pada saat proses khitan jadi urung masuk ruangan karena sang dokter berbisik “engkeu abdi” (nanti saya). Saya keluar ruangan sambil melihat Adnan yg tampak duduk tenang di kursi pasien. Sepertinya sang dokter itu memiliki kemampuan hipnotis sehingga pasien yg kebanyakan anak-anak menurut begitu saja.

Saya bersama 2 orang paman Adnan duduk di ruang tunggu sambil ngobrol ngalur ngidul menghilangkan rasa gugup. Sekitar 25 tahun yg lalu saya juga pernah menjalani prosesi yang sama, tapi saat itu saya sudah duduk di kelas 3 SD dan sudah mengerti apa arti rasa sakit dan kenapa saya mesti menjalani hal itu. Diam-diam muncul perasaan bersalah karena memaksakan prosesi ini di usia anak kami yang masih begitu muda itu. Tapi saya kemudian mengingatkan diri bahwa keputusan ini kami ambil dengan berbagai pertimbangan dan ikhlas karena ingin mengikuti ajaran agama Allah. Insya Allah ini yang terbaik, batin saya.
Klinik itu mulai ramai karena pasien untuk sesi berikutnya mulai berdatangan. Sang dokter melayani satu pasien setiap satu jam.
Dua puluh-an menit kemudian pintu ruang operasi terbuka dan putra kesayangan kami, Adnan, berdiri terisak-isak menahan tangis. Di belakangnya berdiri sang dokter dengan senyum lebar sambil memuji Adnan karena berhasil sabar menahan rasa sakit. Perasaan terharu bercampur bangga menyesakkan dada saya. Saya peluk Adnan dan bopong dengan hati2 menuju mobil sambil menghibur “erai ne… Yappari papa no musuko da wa”. Adnan masih terisak-isak.

Kami tiba di rumah nenek disambut keluarga yang sudah mulai ngumpul. Rupanya pengaruh bius di selangkangan Adnan mulai berkurang sehingga rasa sakitnya mulai muncul. Adnan mulai menangis sambil berucap dalam bahasa Jepang “itai….chinchin ga itai…”. Beberapa anggota keluarga bingung hingga akhirnya saya jelaskan bahwa itu artinya “‘anunya’ sakit”. Beberapa orang mulai merubungi setelah Adnan saya rebahkan di atas kasur tipis di ruang tengah, saya jadi bingung karena mereka mulai menaruh amplop sambil berucap “sebagai pemberi semangat”. Beberapa saat baru saya tersadar bahwa itu sebagai pengganti amplop “kondangan” karena kami tidak melangsungkan pesta. Aisha dengan polos bertanya “nan de Adnan okane o morau no?” (kok Adnan dikasih uang?). Saya tersenyum dan berusaha menjelaskan “Minna Ade ni oiwai o suru, buji ni owatte yokatta” (semuanya pada ingin ucapin selamat ke Ade karena sudah selesai dengan lancar”). Aisha juga kemudian bertanya kenapa “chinchin” (alat kelamin laki-laki) Adnan diobati. Dengan bahasa semudah mungkin saya menjelaskan bahwa khitan adalah proses pengobatan kalau seorang laki-laki menjelang dewasa. Aisha menimpali “Aisha wa onna dakara iranai yo ne”. Saya mengangguk.

Menjelang siang rumah sudah mulai ramai oleh ibu-ibu peserta pengajian, Adnan yang tadinya tenang2 mulai kesakitan karena pengaruh obat biusnya mulai menghilang. Akhirnya Adnan saya bopong dari ruang tengah tempat pengajian ke bale-bale di ruang luar. Setiap kali rasa sakit itu muncul Adnan mengerang kesakitan. Yang membuat kami terharu sekaligus merasa lucu adalah Adnan mengerang dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Rupanya dia sudah cukup paham bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya selain ayah, bunda, dan kakaknya tidak bisa bercakap bahasa Jepang sehingga dia akan mengerang dalam bahasa Indonesia juga ketika rasa sakit itu menyerang dan di sekelilingnya ada orang lain. Bunda Adnan tampak khawatir dan sedih, tampak air mata membayang di kedua matanya menyaksikan perjuangan putra kami.

Tapi rupanya rasa sakit itu baru awal. Begitu malam tiba tampaknya rasa sakit itu semakin menjadi-jadi apalagi kalau luka hasil khitan itu tersentuh sarung. Semalaman kami tidur tidak tenang karena terjaga ketika Adnan mengerang.

Hari berikutnya saya mulai khawatir dan menimbang-nimbang apakah akan memperlambat kepulangan ke Jepang jika keadaan Adnan tidak berubah. Alhamdulillah kondisi itu mulai berubah menjelang malam karena lukanya sudah agak kering. Malam kedua kami mulai tidur dengan tenang.

Keesokan harinya saya meninggalkan Tasik bersama Ibu, kakak, dan adik menuju bandara Cengkareng. Saya terbang ke Bali dan sambung ke Osaka, sementara Ibu, kakak, dan adik pulang ke Makassar.