Financial Planning Seminar

Saya tiba di kantor sambil menahan sakit perut yang melilit. Hari ini saya memang sengaja tidak ‘nyetor pagi’ karena waktu yg terlalu mepet, sebagai akibatnya sakit perut itu tak tertahankan setiba di kantor. Syukurlah saya masih sempat ke kamar belakang sebelum briefing pagi dimulai. Sehabis cek email, HP kantor di atas meja saya berbunyi, ternyata Takai-san yg menjadi panitia inti seminar hari ini kewalahan karena sound system di ruang seminar tdk berfungsi. Akhirnya saya bantu aktifkan dan kembali lagi ke lantai 9. Tapi baru 10 menitan saya mengetik laporan, HP saya kembali berbunyi dan kali ini Takai-san panik karena PC pembicara tidak bisa nyambung ke proyektor. Setelah utak-atik notebook dan PC controller akhirnya layar PowerPoint di notebook si sensei bisa juga muncul di layar raksasa. Takai-san mengucapkan terima kasih karena dia sebenarnya sudah cukup lama utak-atik tanpa hasil. Orang satu itu seperti kebanyakan orang Jepang yang saya kenal secara umum, rada gaptek dan seringkali kewalahan kalau harus melakukan setting komputer atau peralatan audio-video. Padahal Jepang sendiri terkenal sebagai pusatnya perkembangan alat elektronika 🙂
Sewaktu akan meninggalkan ruangan saya sempat tertarik oleh materi seminar yg ditaruh di atas setiap meja. Saya buka-buka lembar perlembar dan semakin saya baca semakin saya tertarik, akhirnya saya memutuskan untuk ikut seminar menjadi observer di bangku belakang, itulah enaknya kalau di HRD, kita bisa ikut seminar tanpa harus daftar2 dan mengikuti prosedur seperti pegawai lainnya. Padahal seminar kali ini sebenarnya cukup diminati dan perlu dilakukan seleksi karena peminat melebihi batas.
Saya bergegas kembali ke meja kerja, mengambil buku catatan dan peralatan tulis, dan meyakinkan ulang bahwa hari ini saya tidak punya jadwal penting yg harus selesai hari ini juga. Untunglah saya mengambil keputusan itu di ujung-ujung waktu, karena ternyata seminar financial planning itu sangat menarik diikuti.

Pada sesi pagi tema pertama yang bertajuk Life Planning dibawakan oleh seorang konsultan finansial bernama Mrs. Matsumoto. Materi yg dikupas seputar restrukturisasi pengeluaran rumah tangga.
Pada sesi ini banyak dibahas tentang jenis-jenis asuransi jiwa, dana pensiunan dari korporat, dan dana pensiunan publik yang programnya dijalankan oleh pemerintah. Sebagai orang asing yang tidak berniat hidup di Jepang seterusnya, asuransi jiwa di Jepang tidak begitu menarik perhatian saya, tapi penjelasan ttg perlunya asuransi jiwa itu menyadarkan saya bahwa selama bertahun-tahun ini saya tidak pernah
sekilaspun berpikir serius tentang asuransi. Padahal kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput dan pada situasi bagaimana kita akan meninggalkan keluarga kita. Persepsi saya terhadap asuransi jiwa ini cukup berubah setelah sesi pagi itu selesai.

Sesi siang dimulai setelah makan siang dan istirahat selama 45 menit. Pada sesi siang, materi dibawakan oleh direktur utama FP Consulting Osaka yang merupakan perusahaan pionir di bidang financial advisor di Osaka itu. Sebagai warga yang hidup di negara maju dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi, kebanyakan orang Jepang memang dulunya tidak begitu peduli dengan perencanaan keuangan yang melibatkan porto folio. Selain karena adanya program pensiunan nasional yang cukup untuk dijadikan sandaran di masa tua, kecenderungan deflasi yang terus berlanjut juga boleh dikata turut menyuburkan anggapan masyarakat Jepang bahwa dengan menabung saja sudah cukup untuk menunjang hidup di masa tua, toh nilai uang tidak begitu banyak berubah walaupun disimpan puluhan tahun.
Hal ini ditambah dengan program pemerintah Jepang di tahun 60-an di bawah arahan GHQ (General Head Quarter – Amerika) yang menganjurkan masyarakat untuk menabung, sangat berhasil mempengaruhi rakyat Jepang. Konon jumlah tabungan masyarakat Jepang berjumlah lebih dari 300 milyar yen atau sekitar 30 trilyun rupiah. Dan sekitar 30% dari jumlah itu tersimpan di laci2 rumah karena kalau disimpan di bank akan terkena pajak yg jumlahnya aduhai. Beberapa bulan lalu berita tentang disidangnya seorang nenek karena tidak membayar pajak sempat menjadi buah bibir. Si nenek dikenai pasal ttg mungkir bayar pajak gara2 di dinding2 rumahnya ditemukan tabungan uang tunai yg setelah dihitung berjumlah 6 milyar yen atau setara kurang lebih 600 milyar rupiah! Si nenek konon akhirnya harus rela 60% tabungannya disita oleh negara untuk membayar pajak dan denda pajak yang terhutang selama bertahun-tahun.
Karena alasan2 yg saya sebut di atas, investasi dalam bentuk portofolio bagi orang Jepang adalah hal yg belum terlalu diakrabi. Itulah sebabnya FP Consulting yang berdiri 2001 itu terbilang pionir karena memang sebelumnya belum ada perusahaan yg bergerak di bidang konsultan FP di Osaka, kota pusat perdagangan terbesar di Jepang.

Sesi siang itu lebih menarik karena instrukturnya membawakan materi dengan teknik investment game. Dengan latar belakang ekonomi Jepang selama 40 tahun terakhir, cukup mudah membaca kecenderungan perubahan suku bunga deposito, naik-turunnya saham, dan obligasi pemerintah yang di game itu hanya dibatasi pada dua, obligasi dalam negeri yaitu Jepang sendiri dan obligasi asing yang diwakili oleh Amerika Serikat. Saya yang ikutan di salah satu grup karena pesertanya tidak genap malah diminta oleh yang lain untuk menjadi juru bicara mengemukakan analisa investasi amatiran saya. Untungnya istilah-istilah ekonomi dan perbankan selama masa kuliah belum terlalu kabur jadi masih bisa saya uraikan dengan cukup lancar, walaupun sebelum memberi penjelasan saya sempat mengemukakan keberatan ditunjuk menjadi pembicara karena sayalah yang paling jelek bahasa Jepangnya di grup saya, malah paling jelek di seluruh ruangan itu karena sayalah satu-satunya orang non-Jepang di situ! Semuanya pada ngakak dengan selorohan di awal pembicaraan itu.
Grup saya berhasil mebukukan keuntungan lebih dari 150% dalam jangka 5 tahun berinvestasi. Lumayan juga buat amatiran seperti kami 🙂

Seminar itu berakhir jam 5 lewat dan para peserta yang berjumlah 30 orang itu terlihat cukup puas.