Archive for February 2010

Seminar Tentang Tenaga Kerja Asing di Jepang

Jam sudah menunjukkan pukul 13 lewat ketika saya dan manajer atasan saya di HRD meninggalkan gedung kantor pusat Mandom di bilangan Central Ward Osaka. Kami menggunakan subway dan meluncur menuju pusat kota Osaka. Hari ini saya harus tampil membawakan materi di seminar yang diadakan oleh pemerintah daerah tk I prefektur Osaka. Seminar itu merupakan rangkaian dari proyek Pemda Osaka menstimulasi perusahaan2 di daerah prefektur Osaka untuk berkiprah secara global. Sebagai langkah awal globalisasi Pemda Osaka memandang bahwa dengan memasukkan unsur tenaga kerja asing diharapkan bisa menyuntikkan darah baru dan membawa perspektif yang lebih mengglobal dalam kegiatan bisnisnya, sekaligus sebagai jalan keluar dari permasalahan kekurangan generasi muda. Sebagai negara dengan huruf non alfabet, yang menyebabkan penetrasi bahasa asing sangat susah, dan memiliki sejarah pernah menutup diri dari dunia luar, Jepang memang mulai merasa masyarakatnya terlalu konservatif dan ketinggalan oleh dunia global, itulah sebabnya pemerintah merasa sudah perlu untuk turun tangan mengakselerasi proses globalisasi, terutama di dunia bisnis. Selama ini walaupun UKM2 Jepang banyak yg sudah mempekerjakan orang asing, tapi biasanya hanya di bidang pekerjaan blue collar. Padahal setiap tahunnya ada ribuan mahasiswa asing yg menamatkan pendidikannya di universitas-universitas Jepang dan sebenarnya memiliki kemampuan dan bisa dijadikan sebagai lokomotif usaha di UKM2 Jepang. Terutama dari negara tetangga yaitu Cina, negara yg menyumbangkan mahasiswa asing terbanyak bagi Jepang.
Di sesi pertama, pembicaranya adalah seorang utusan dari Departemen Perindustrian Jepang di wilayah Kansai. Seorang wanita separuh baya bernama Murakami Keiko, yang dengan mantap membawakan makalahnya berupa laporan perkembangan proyek itu disertai contoh2 perusahaan di wilayah Kansai yg sudah sukses dalam globalisasi HRDnya. Dari sekian banyak perusahaan itu, Panasonic dan P&G menjadi sorotan utama Mrs Murakami dengan program mereka yg saat ini tercatat sudah mempekerjakan orang asing sekitar 200 orang. P&G malah disebutkan memiliki pegawai 200-an orang dan itu berasal dari 23 negara berbeda. Sebuah skala yg sangat jauh dibandingkan Mandom yg saat ini hanya mempekerjakan 5 orang asing dari 3 negara yaitu Indonesia, Cina, dan Filipina. Sebuah tantangan yg menarik bagi saya pribadi 🙂 Bukan masalah angka orang asingnya tapi skala bisnisnya yang bisa membawa mereka pada angka 200 orang di antara 4000 pegawai di seluruh Jepang.
Saya tampil di sesi kedua membawakan makalah dengan tema utama berupa pengalaman saya mencari kerja di Jepang dan pandangan2 saya sebagai orang asing terhadap perusahaan Jepang.
Materi saya bagi menjadi 6 chapter dan saya bawakan dengan powerpoint. Bab awal saya memperkenalkan perusahaan saya Mandom Corporation setelah sebelumnya berusaha mencairkan suasana dengan melemparkan guyonan ke hadirin dan tampaknya cukup sukses karena kebanyakan peserta tertawa hingga terlihat giginya.
Di akhir pengenalan perusahaan saya memutarkan iklan dari produk andalan kami, Gatsby. Seri Iklan yg sudah muncul di TV sejak tahun lalu itu sudah populer karena begitu wajah komedian Jepang, Iwao muncul, beberapa orang tanpa sadar bergumam “aa, shitteru” (aa, tahu). Ending iklan yg dibuat lucu sempat membuat beberapa orang tersenyum.
Pada bagian kedua saya menuturkan CV saya berupa riwayat hidup, pendidikan, dan pengalaman kerja. Dalam bab itu tidak lupa saya mempromosikan Sulawesi dgn potensi hasil alam seperti kopi, coklat, cengkeh, kelapa sawit, udang, cakalang, dsb. Materi yg sebenarnya melenceng dari materi utama, tapi saya pura2 tidak sadar dan menggunakan 1-2 menit untuk memberi gambaran potensi investasi di Sulawesi. Siapa tahu di antara perwakilan perusahaan itu ada yg perusahaannya bergerak di bidang hasil olah bumi dan tertarik dengan Sulawesi. Setelah 1-2 menit kemudian, saya masuk ke materi selanjutnya dan memaparkan bagaimana saya memilih universitas, kriteria yg saya tetapkan, dan hasil akhir berupa diterimanya saya di University of Hyogo 6 tahun yg lalu.
Di bagian selanjutnya saya memaparkan kenapa saya memilih berkarir di Jepang dan kriteria apa yg saya tetapkan ketika memilih perusahaan hingga akhirnya saya memilih Mandom sebagai tempat berkarya untuk masyarakat.
Di bagian akhir saya memaparkan pandangan sebagai orang asing terhadap kondisi kerja di perusahaan Jepang dan apa2 saja yg biasanya orang asing harapkan dari perusahaan2 Jepang.
Saya menutup presentasi saya dengan menampilkan kata お互い sebagai kunci untuk sukses berinteraksi dengan lingkungan yg multi kultural. Saya berusaha membuat peserta untuk melihat bahwa sebenarnya kanji 互 (taga) itu disusun dari dua huruf ユ (yu -> baca : You). Yang satu, di bawah menghadap ke kanan dan satunya lagi di atas dalam posisi terbalik. Dengan posisi saling melengkapi itulah huruf itu bisa terbentuk. Untuk bisa membangun komunitas sosial yang bisa お互い atau memiliki kemampuan untuk tenggang rasa, kedua belah pihak harus mampu melihat sudut pandang dari posisi YOU dulu, atau dari posisi lawan bicara. Tapi itu saja tidak cukup karena untuk melengkapi kanji 互 pihak yg satupun harus mengambil posisi yg sama walaupun dalam arah yang berbeda. Artinya pihak yang kedua pun harus melihat dari sudut pandang YOU. Jika kedua pihak mampu melihat dari sudutpandang YOU, pada akhirnya akan terbangun dua kepentingan yaitu ME dan YOU. Tapi yg paling penting adalah kita harus memulainya dari diri sendiri dulu sebelum meminta lawan bicara kita melakukan hal yang sama. Jika kita memulai maka akan tercipta fenomena yang disebut 鏡法則 atau hukum cermin, yaitu lawan bicara kita akan bertindak sama dgn tindakan kita.
Materi saya tutup dengan mengucapkan terima kasih.

Where Are All American Engineers?

Eike Batista (famous Brazilian enterpreuner) : in the last 20 years American has been focusing too much in finance & banking. The best students went to banks or law firms. They should have been driving electric cars now, but they don’t. Where are all the engineers?….
Arif : make me wonder, what about Indonesians, where do our best students go for work? What is our education strategy? I mean WE, not government. ‘coz we need all Indonesians participation to build our country, not only government.

Financial Planning Seminar

Saya tiba di kantor sambil menahan sakit perut yang melilit. Hari ini saya memang sengaja tidak ‘nyetor pagi’ karena waktu yg terlalu mepet, sebagai akibatnya sakit perut itu tak tertahankan setiba di kantor. Syukurlah saya masih sempat ke kamar belakang sebelum briefing pagi dimulai. Sehabis cek email, HP kantor di atas meja saya berbunyi, ternyata Takai-san yg menjadi panitia inti seminar hari ini kewalahan karena sound system di ruang seminar tdk berfungsi. Akhirnya saya bantu aktifkan dan kembali lagi ke lantai 9. Tapi baru 10 menitan saya mengetik laporan, HP saya kembali berbunyi dan kali ini Takai-san panik karena PC pembicara tidak bisa nyambung ke proyektor. Setelah utak-atik notebook dan PC controller akhirnya layar PowerPoint di notebook si sensei bisa juga muncul di layar raksasa. Takai-san mengucapkan terima kasih karena dia sebenarnya sudah cukup lama utak-atik tanpa hasil. Orang satu itu seperti kebanyakan orang Jepang yang saya kenal secara umum, rada gaptek dan seringkali kewalahan kalau harus melakukan setting komputer atau peralatan audio-video. Padahal Jepang sendiri terkenal sebagai pusatnya perkembangan alat elektronika 🙂
Sewaktu akan meninggalkan ruangan saya sempat tertarik oleh materi seminar yg ditaruh di atas setiap meja. Saya buka-buka lembar perlembar dan semakin saya baca semakin saya tertarik, akhirnya saya memutuskan untuk ikut seminar menjadi observer di bangku belakang, itulah enaknya kalau di HRD, kita bisa ikut seminar tanpa harus daftar2 dan mengikuti prosedur seperti pegawai lainnya. Padahal seminar kali ini sebenarnya cukup diminati dan perlu dilakukan seleksi karena peminat melebihi batas.
Saya bergegas kembali ke meja kerja, mengambil buku catatan dan peralatan tulis, dan meyakinkan ulang bahwa hari ini saya tidak punya jadwal penting yg harus selesai hari ini juga. Untunglah saya mengambil keputusan itu di ujung-ujung waktu, karena ternyata seminar financial planning itu sangat menarik diikuti.

Pada sesi pagi tema pertama yang bertajuk Life Planning dibawakan oleh seorang konsultan finansial bernama Mrs. Matsumoto. Materi yg dikupas seputar restrukturisasi pengeluaran rumah tangga.
Pada sesi ini banyak dibahas tentang jenis-jenis asuransi jiwa, dana pensiunan dari korporat, dan dana pensiunan publik yang programnya dijalankan oleh pemerintah. Sebagai orang asing yang tidak berniat hidup di Jepang seterusnya, asuransi jiwa di Jepang tidak begitu menarik perhatian saya, tapi penjelasan ttg perlunya asuransi jiwa itu menyadarkan saya bahwa selama bertahun-tahun ini saya tidak pernah
sekilaspun berpikir serius tentang asuransi. Padahal kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput dan pada situasi bagaimana kita akan meninggalkan keluarga kita. Persepsi saya terhadap asuransi jiwa ini cukup berubah setelah sesi pagi itu selesai.

Sesi siang dimulai setelah makan siang dan istirahat selama 45 menit. Pada sesi siang, materi dibawakan oleh direktur utama FP Consulting Osaka yang merupakan perusahaan pionir di bidang financial advisor di Osaka itu. Sebagai warga yang hidup di negara maju dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi, kebanyakan orang Jepang memang dulunya tidak begitu peduli dengan perencanaan keuangan yang melibatkan porto folio. Selain karena adanya program pensiunan nasional yang cukup untuk dijadikan sandaran di masa tua, kecenderungan deflasi yang terus berlanjut juga boleh dikata turut menyuburkan anggapan masyarakat Jepang bahwa dengan menabung saja sudah cukup untuk menunjang hidup di masa tua, toh nilai uang tidak begitu banyak berubah walaupun disimpan puluhan tahun.
Hal ini ditambah dengan program pemerintah Jepang di tahun 60-an di bawah arahan GHQ (General Head Quarter – Amerika) yang menganjurkan masyarakat untuk menabung, sangat berhasil mempengaruhi rakyat Jepang. Konon jumlah tabungan masyarakat Jepang berjumlah lebih dari 300 milyar yen atau sekitar 30 trilyun rupiah. Dan sekitar 30% dari jumlah itu tersimpan di laci2 rumah karena kalau disimpan di bank akan terkena pajak yg jumlahnya aduhai. Beberapa bulan lalu berita tentang disidangnya seorang nenek karena tidak membayar pajak sempat menjadi buah bibir. Si nenek dikenai pasal ttg mungkir bayar pajak gara2 di dinding2 rumahnya ditemukan tabungan uang tunai yg setelah dihitung berjumlah 6 milyar yen atau setara kurang lebih 600 milyar rupiah! Si nenek konon akhirnya harus rela 60% tabungannya disita oleh negara untuk membayar pajak dan denda pajak yang terhutang selama bertahun-tahun.
Karena alasan2 yg saya sebut di atas, investasi dalam bentuk portofolio bagi orang Jepang adalah hal yg belum terlalu diakrabi. Itulah sebabnya FP Consulting yang berdiri 2001 itu terbilang pionir karena memang sebelumnya belum ada perusahaan yg bergerak di bidang konsultan FP di Osaka, kota pusat perdagangan terbesar di Jepang.

Sesi siang itu lebih menarik karena instrukturnya membawakan materi dengan teknik investment game. Dengan latar belakang ekonomi Jepang selama 40 tahun terakhir, cukup mudah membaca kecenderungan perubahan suku bunga deposito, naik-turunnya saham, dan obligasi pemerintah yang di game itu hanya dibatasi pada dua, obligasi dalam negeri yaitu Jepang sendiri dan obligasi asing yang diwakili oleh Amerika Serikat. Saya yang ikutan di salah satu grup karena pesertanya tidak genap malah diminta oleh yang lain untuk menjadi juru bicara mengemukakan analisa investasi amatiran saya. Untungnya istilah-istilah ekonomi dan perbankan selama masa kuliah belum terlalu kabur jadi masih bisa saya uraikan dengan cukup lancar, walaupun sebelum memberi penjelasan saya sempat mengemukakan keberatan ditunjuk menjadi pembicara karena sayalah yang paling jelek bahasa Jepangnya di grup saya, malah paling jelek di seluruh ruangan itu karena sayalah satu-satunya orang non-Jepang di situ! Semuanya pada ngakak dengan selorohan di awal pembicaraan itu.
Grup saya berhasil mebukukan keuntungan lebih dari 150% dalam jangka 5 tahun berinvestasi. Lumayan juga buat amatiran seperti kami 🙂

Seminar itu berakhir jam 5 lewat dan para peserta yang berjumlah 30 orang itu terlihat cukup puas.