Januari 2010

Ada banyak agenda penting setiap kali memasuki Januari. Selain perhitungan akumulasi cadangan dana buat bonus pegawai yg harus dilakukan setiap 3 bulan, aktifitas rekrut untuk pegawai baru di FY tahun depan, tahun ini juga ditambahi menu yg menantang yaitu menangani pelatihan bagi pegawai baru yg akan masuk awal April tahun ini. Untungnya rekrut tahun ini akan ditangani section lain sehingga saya mungkin tidak perlu kebagian dinas ke Tokyo. Sebagai gantinya, pelatihan pegawai baru yg biasanya ditangani section Manajemen Personalia dilimpahkan sepenuhnya ke section HR planning tempat saya berada. Dan sebagai orang terbaru di divisi HRD saya kebagian membuat summary dari kurikulum di tahun2 sebelumnya untuk dipakai membuat rancangan kurikulum, dan sekaligus memasukkan bahan-bahan baru yang dibutuhkan.
Sebenarnya tidak begitu sulit merancang materi apa saja yg perlu dimasukkan ke dalam kurikulum training pegawai baru. Selain saya bisa mencontoh isi dari kurikulum tahun sebelumnya, materi juga ndak akan njelimet, sebab masih seputar elemen2 yg diperlukan oleh seorang tamatan S1,S2, dan 工学高等学校(sejenis STM di Jepang) untuk memulai kerja. Hanya saja, tim kami mengusung tema kaizen dalam bidang edukasi pegawai, sehingga semua materi training harus saya bongkar dan uraikan satu2, melakukan kategorisasi, membuat ulang tujuan dari semua sesi seminar lalu mempresentasikannya di depan tim. Bagian2 yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun pun harus bisa kami jelaskan mengapa masih perlu dipertahankan, atau kalau dihapus, maka harus bisa menjelaskan dengan logis kenapa harus dihilangkan. Dan inilah bagian yang tersulit karena walaupun bertajuk “logis”, tetap saja ada perbedaan antara cara berpikir orang Jepang dan Indonesia, sehingga hal-hal yang menurut orang Indonesia secara umum adalah hal yg tak perlu dijelaskan, bagi mereka adalah hal yg perlu dijelaskan secara detail. Dan tentu saja, demikian pula sebaliknya.
Belum lagi istilah-istilah dalam dunia pendidikan untuk level bisnis yang banyak mengambil istilah Inggris tapi tidak mereka artikan sama dengan pengertian orang Indonesia. Contoh yang termudah, misalnya business manner. Semua anggota tim selain saya bersikeras bahwa business manner itu yang terpenting adalah hatinya, bukan bentuknya. Sementara saya sendiri memandang bahwa business manner itu adalah bentuk, bentuk itu adalah apresiasi dari etika (nilai moral atau akhlak) yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Artinya, mungkin saja ada orang yang business manner-nya bagus tapi sebenarnya etikanya belum bagus. Dan tentu saja ada pula orang yang sebenarnya beretika baik tapi business manner-nya belum bagus karena belum tahu bagaimana mengapresiasikan etika dalam manner yang sesuai dengan standar lokal. Anggota tim yg lain lebih mementingkan sisi etika dan nyaris mengesampingkan sisi manner, padahal untuk bisa menjadi business person yang baik, seseorang bukan hanya harus punya etika yang baik, etika yg bagus itu harus bisa terekspresikan juga dengan manner yang sesuai standar lokal, artinya kurikulum yg kami hasilkan harus berkomposisi fifty-fifty. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor usia dari anggota lain yg sudah melewati angka 40 sehingga sudah banyak makan asam garam dunia bisnis dan cenderung menganggap bahwa pegawai2 muda pun seharusnya sudah paham akan hal-hal yg mereka anggap sudah biasa. Suatu anggapan yg tidak tepat dan bisa menggiring kami ke arah yang tak benar ketika merancang kurikulum pendidikan. Dan untuk menyadarkan mereka akan hal itu terkadang saya terbentur pada kemampuan saya dalam berargumentasi dalam bahasa Jepang yang bisa membuat mereka sepaham dengan saya.

Duduk sebagai anggota tim dengan pola pemikiran yang kadang-kadang bertolak belakang dan hanya dilengkapi dengan beberapa tahun pengalaman di dunia bisnis Jepang sebenarnya sangat melelahkan secara psikis, tapi sekaligus menciptakan gelora tersendiri bagi saya karena menilik ke sejarah perusahaan ini, sayalah orang Indonesia pertama yg diberi kesempatan berpartisipasi dalam bidang ini. Gelora semangat itu juga sekaligus dilengkapi rasa khawatir karena hasil dari tim kami ini akan menjadi dasar bagi pembentukan ulang pola pendidikan bagi pegawai Mandom Jepang, dan mungkin akan dipakai hingga bertahun-tahun ke depan. Hal ini menempatkan kami pada posisi dengan tanggung jawab yang berat sekaligus menantang. Mudah-mudahan tim kami bisa mengemban amanah dengan baik.