Peluang Yang Terlewatkan

Di antara sederetan tugas yg menjadi tanggung jawab saya di HRD tahun ini adalah menyediakan layanan langganan majalah sebagai sumber informasi dan ilmu bagi staf kami yang berjumlah lebih dari 1000 orang termasuk yang ekspatriat dan tersebar di 8 lokasi di Asia. Ketika mempelajari berkas-berkas yg dipergunakan oleh pendahulu saya, saya menemukan bahwa persentase dari jumlah majalah yang bersifat global dan berbahasa Inggris yg dimasukkan dalam daftar program ini kurang dari 10 persen. Padahal daerah jelajah produk yg kami produksi sudah mencakupi hampir semua benua Asia, bahkan mulai memasuki benua Afrika, semenanjung Arab, dan Rusia, sehingga memperkaya wawasan tentang pasar, teknologi, budaya, dll yg bersifat global seharusnya sudah merupakan kewajiban.

Terdorong oleh keinginan untuk mengisi kekosongan sumber informasi di kategori itu, sekaligus mencoba mengangkat reputasi media massa tanah air, saya memutuskan untuk memasukkan minimal 1 majalah berbahasa Inggris dari Indonesia.

Sebagai langkah awal saya mencoba mengumpulkan data majalah apa saja yg menyediakan versi hard cover dalam bahasa Inggris.
Dari hasil riset singkat itu majalah Tempo menempati peringkat teratas di daftar saya. Setelah berkonsultasi dengan manajer, akhirnya saya memasukkan Tempo sebagai salah satu calon dari kategori majalah berbahasa Inggris dan memiliki isi yg fokus pada Asia, terutama Indonesia, manajer tampaknya tidak begitu senang kalau mengkhususkan Indonesia saja tapi saya ngotot sehingga akhirnya beliau mengiyakan dengan syarat saya bisa memberi alasan yg tepat kenapa harus Tempo yg masuk di daftar atas.

Langkah selanjutnya adalah mengontak pihak sirkulasi Tempo dan mencari tahu apakah mereka punya agen di negeri Oshin ini, atau kalau tidak maka saya berencana berlangganan langsung via pos. Saya mencoba mengirim email kepada alamat email yg tercantum di website mereka, hasilnya email saya dibounced, tapi di situ tertulis alamat email yg katanya bisa dihubungi. Saya menduga itu adalah salah satu teknik webmaster situs Tempo untuk mengurangi spam mail. Dengan sabar saya mengirim ulang permohonan langganan ke alamat yg tersebut di email otomatis itu. Tapi sampai menunggu berhari-hari tidak juga ada jawaban. Akhirnya saya menyalin isi email itu dan mengirimkannya via fax yg menurut info di website adalah no.fax bagian sirkulasi. Saya mencantumkan alamat email, no telpon, dan fax dengan berharap bisa dikontak segera, entah itu dengan cara apa. Berhari-hari saya menunggu, tak juga kunjung datang jawaban.
Karena tak kunjung dijawab, akhirnya saya mengangkat telpon dan menghubungi nomor telpon bagian sirkulasi yg tercantum di website Tempo, lagi-lagi saya kecele karena ternyata saya hanya diberi nomor lain dan diminta menelpon ulang. Dengan telaten saya mengikuti instruksi dan menelpon ke nomor yg diberikan, dan akhirnya saya disambungkan dengan bagian sirkulasi. Dengan cepat saya menjelaskan siapa saya dan apa maksud saya menghubungi mereka, staf Tempo meminta nama, nama perusahaan, nomor telpon, fax, dan alamat email saya padahal kami belum memiliki perjanjian apa-apa, pembicaraan baru pada tahap penjajakan. Waktu itu saya merasa bahwa staf itu seakan-akan tidak percaya dengan identitas saya ataukah sangat sungguh-sungguh akan memproses penawaran saya, karena berkali-kali mengecek kebenaran data yg saya sebutkan via telpon. Saya kemudian meminta nomor fax yang benar-benar dipakai oleh pihak sirkulasi majalah Tempo dan berjanji akan kirim detail penawaran via fax.
Saya menepati janji hari itu juga, fax yg sebelumnya saya kirim dan tidak ketahuan rimbanya, saya salin ulang dan kirimkan sekali lagi.

Hasilnya, hampir dua bulan sudah berlalu dan hingga hari ini tidak satupun kontak dari pihak Tempo.

Program langganan majalah itu akhirnya saya jalankan setelah mengeluarkan Tempo dari daftar potensial saya dan dua minggu lalu informasi sudah saya sebar ke lebih dari 1000 pegawai Mandom di Jepang dan puluhan ekspatriat kami yg tersebar di berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia.

Seandainya Tempo merespon penawaran kami dengan baik maka bisa saya pastikan bahwa majalah itu akan bersanding bersama Newsweek dan Businessweek di deretan majalah berbahasa Inggris di seribuan pamflet yg tersebar di benua Asia itu, karena keputusan dipilihnya sebuah media hampir 100% ditentukan oleh saya. Mungkin memang peminatnya tidak akan banyak, karena jumlah pegawai kami yg melek Inggris dan berminat langganan majalah saya taksir tidak akan mencapai jumlah 3 digit, tapi paling tidak Tempo bisa menjadikan hal itu sebagai bahan jualan, coba bayangkan frase di bawah ini :

TEMPO ENGLISH, BACAAN RESMI DI PERUSAHAAN JEPANG

Tapi peluang itu lenyap begitu saja karena kurangnya respon yang baik terhadap penawaran pelanggan. Sayang memang, tapi apa boleh buat, semua sudah lalu. Kesempatan itu sudah dilewatkan dan mungkin tidak akan terulang lagi karena besar kemungkinan tahun depan pengelola program ini akan kembali dikelola oleh orang Jepang, seperti sejak belasan tahun yang lalu.
Di mata orang Jepang, Tempo belum tentu sebesar dan sehebat di mata orang Indonesia seperti saya.

———————————————-

Dalam hidup ini seringkali kita melewatkan sebuah peluang yg mengetuk pintu rumah kita, peluang yang terlihat kecil tapi sebenarnya bisa saja menyimpan potensi yang besar.

Apakah anda tidak melewatkan peluang yang potensial belakangan ini? Mari membuka mata dan hati kita selalu.