Archive for June 2009

PWEP Hiroshima, Juni 2009

Pagi sekitar jam 9 saya sudah berdiri di pinggir platform kereta yg dioperasikan oleh Hanshin-Hankyu Group, Osaka, untuk jalur Itami. Agak deg-degan juga melihat jarum jam, karena saya harus tiba di stasiun Shinkansen di daerah Shin Kobe sebelum jam 09:59. Untunglah tidak lama kereta kemudian datang, persis sesuai jadwal yg tertera di berbagai tempat di stasiun itu. Saya memilih berdiri karena dalam 5 menit kemudian saya masih harus ganti kereta ke jalur Osaka-Kobe. Begitu turun dari jalur Itami, kereta jalur Kobe sudah menunggu sehingga hanya dalam hitungan detik saya sudah berganti jalur menuju Sannomiya, Kobe.
Perjalanan yg sebenarnya hanya memakan waktu setengah jam-an itu terasa lama karena saya sudah ingin cepat sampai. Kereta agak sepi, beberapa penumpang selain saya memakai jas kerja sehingga saya tidak begitu merasa aneh sendiri. Di Jepang memang ada banyak perusahaan yang hari liburnya bukan sabtu minggu, tapi digilir secara teratur kepada setiap staf sehingga perusahaan tidak pernah tutup, contoh paling banyak adalah industri jasa dan transportasi.
Setelah sampai di Sannomiya, saya bergegas menuju stasiun subway yg terletak sekitar 20 meteran di bawah permukaan tanah, cukup senang juga karena bisa melihat lagi suasana stasiun itu setelah lebih dari setahun tidak pernah menggunakan kereta jalur ini. Semasa kuliah, hampir setiap hari saya menggunakan stasiun ini karena subway inilah jalur kereta yg lewat paling dekat dengan kampus universitas Hyogo. Subway merapat di depan saya persis sesuai jadwal.
Saya tiba di stasiun ShinKobe sekitar 20 menit sebelum keberangkatan, boleh dikata tidak berbeda dengan simulasi jadwal yang saya buat di internet. Inilah enaknya kalau orang-orang bekerja secara teratur dan disiplin, pengguna jasa yaitu kita sangat dimudahkan.
Karena masih ada waktu maka saya masih sempat membuka laptop dan mengedit beberapa tempat di materi presentasi yang akan saya bawakan hari ini di Hiroshima. Tugas saya hari ini adalah membangkitkan motivasi teman2 kenshusei agar mau berubah untuk masa depan yg lebih baik. Pada seminar yang diberi nama PWEP Hiroshima (Pelatihan keWirausahaan dan Edukasi Perbankan) kali ini, saya diberi waktu 45 menit pada jam-jam ketika peserta mulai jenuh karena seharian dicegoki berbagai materi tentang wirausaha dan pengetahuan dasar perbankan. Saya memang meminta waktu pada jam-jam itu agar materi lain bisa disampaikan pada saat peserta masih segar, sementara materi yg saya sampaikan dimaksudkan untuk membangunkan mereka. Kalau saya berhasil menarik perhatian mereka maka kesan terakhir terhadap PWEP akan baik, tapi sebaliknya kalau gagal maka mereka akan tidur dan mungkin akan bangun tanpa mengingat nama saya sekalipun. Pertaruhan yg cukup memberi stimulasi agar saya bisa membawakan materi dgn baik.

Shinkansen seri Nozomi

Shinkansen seri Nozomi

Saya tiba di stasiun Higashi Hiroshima selewat jam 12 siang, perjalanan dengan shinkansen memakan waktu sejam lebih, sementara ganti kereta ke jalur lokal hingga di stasiun tujuan justru memakan waktu yg hampir sama padahal jarak yg ditempuh mungkin hanya sepersepuluhnya.

Stasiun Higashi Hiroshima

Stasiun Higashi Hiroshima

Saya tiba di lokasi ketika seminar sudah masuk di bagian tanya-jawab untuk sesi 1. Di depan, duduk pak Arief Hartawan dari BI Tokyo, pak Firman Wibowo dan pak Wahyu dari BNI Tokyo, dan mbak Nelfa yang mewakili WGTT, mereka masih sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan peserta seminar yg cukup antusias.
Setelah makan siang dan istirahat, acara dilanjutkan dengan presentasi mas Dodik Kurniawan yg membawakan makalah tentang contoh2 bisnis yg bisa digeluti oleh teman2 kenshusei sepulangnya ke tanah air nanti. Sebagai orang yg bisa menabung minimal 4-5 juta sebulan, kenshusei berpotensi untuk mengembangkan usaha, baik di skala mikro atau kecil, atau bahkan skala menengah jika melakukan joint venture dengan teman2 kenshsei lainnya. Kalau seorang kenshusei bisa berhemat selama di Jepang, mereka sebenarnya bisa membawa pulang dana lebih dari 300juta rupiah.
Ada beberapa wajah yg serius menyimak dan kelihatannya sangat haus akan info2 seperti itu.
Sehabis mas Dodik akhirnya giliran saya tiba. Dengan agak deg-degan saya memulai.
Alhamdulillah materi bisa saya sampaikan sesuai rencana yg ada di kertas handout dan di isi kepala. Ada beberapa bagian yg saya improvisasi karena membaca wajah2 peserta dan atmosfir yg ada, tapi secara garis besarnya sejalan dgn powerpoint saya. Materi saya tutup dengan meminta peserta untuk kembali mengingat perjuangan yg telah mereka tempuh untuk bisa datang ke Jepang, saya meminta mereka membayangkan bagaimana keadaan mereka dulu dan di akhir kata meminta mereka untuk berjanji akan berusaha agar keadaan mereka tidak kembali lagi seperti sebelum datang ke Jepang. Saya mengamati beberapa orang tampak tercenung dan berharap bahwa mereka akan betul-betul sadar dari lubuk hati dan mau berusaha keras untuk kehidupan yg lebih baik. Alangkah senangnya kalau 10 atau 20 tahun mendatang jika mendengar ada banyak dari kenshusei yg kemudian sukses di usaha, dan akan lebih senang lagi kalau ada yg berasal dari hasil PWEP ini, amin.

Di antara slide presentasi saya, saya selipkan sebuah iklan dari serial body paper Gatsby yang saat ini sedang gencar2nya ditayangkan di TV2 Jepang. Di bawah ini adalah salah satu dari serial iklan2 tersebut yg ternyata sudah masuk di youtube.

PWEP selesai sekitar jam 5 sore.
Mudah2an PWEP di Okayama pada tanggal 2 agustus nanti bisa lebih berhasil. Bagi teman2 kenshusei di sekitar Okayama, Tottori, dan Hyogo Barat, pantau berita PWEP di website wgtt.org, sampai jumpa di Okayama.

Peluang Yang Terlewatkan

Di antara sederetan tugas yg menjadi tanggung jawab saya di HRD tahun ini adalah menyediakan layanan langganan majalah sebagai sumber informasi dan ilmu bagi staf kami yang berjumlah lebih dari 1000 orang termasuk yang ekspatriat dan tersebar di 8 lokasi di Asia. Ketika mempelajari berkas-berkas yg dipergunakan oleh pendahulu saya, saya menemukan bahwa persentase dari jumlah majalah yang bersifat global dan berbahasa Inggris yg dimasukkan dalam daftar program ini kurang dari 10 persen. Padahal daerah jelajah produk yg kami produksi sudah mencakupi hampir semua benua Asia, bahkan mulai memasuki benua Afrika, semenanjung Arab, dan Rusia, sehingga memperkaya wawasan tentang pasar, teknologi, budaya, dll yg bersifat global seharusnya sudah merupakan kewajiban.

Terdorong oleh keinginan untuk mengisi kekosongan sumber informasi di kategori itu, sekaligus mencoba mengangkat reputasi media massa tanah air, saya memutuskan untuk memasukkan minimal 1 majalah berbahasa Inggris dari Indonesia.

Sebagai langkah awal saya mencoba mengumpulkan data majalah apa saja yg menyediakan versi hard cover dalam bahasa Inggris.
Dari hasil riset singkat itu majalah Tempo menempati peringkat teratas di daftar saya. Setelah berkonsultasi dengan manajer, akhirnya saya memasukkan Tempo sebagai salah satu calon dari kategori majalah berbahasa Inggris dan memiliki isi yg fokus pada Asia, terutama Indonesia, manajer tampaknya tidak begitu senang kalau mengkhususkan Indonesia saja tapi saya ngotot sehingga akhirnya beliau mengiyakan dengan syarat saya bisa memberi alasan yg tepat kenapa harus Tempo yg masuk di daftar atas.

Langkah selanjutnya adalah mengontak pihak sirkulasi Tempo dan mencari tahu apakah mereka punya agen di negeri Oshin ini, atau kalau tidak maka saya berencana berlangganan langsung via pos. Saya mencoba mengirim email kepada alamat email yg tercantum di website mereka, hasilnya email saya dibounced, tapi di situ tertulis alamat email yg katanya bisa dihubungi. Saya menduga itu adalah salah satu teknik webmaster situs Tempo untuk mengurangi spam mail. Dengan sabar saya mengirim ulang permohonan langganan ke alamat yg tersebut di email otomatis itu. Tapi sampai menunggu berhari-hari tidak juga ada jawaban. Akhirnya saya menyalin isi email itu dan mengirimkannya via fax yg menurut info di website adalah no.fax bagian sirkulasi. Saya mencantumkan alamat email, no telpon, dan fax dengan berharap bisa dikontak segera, entah itu dengan cara apa. Berhari-hari saya menunggu, tak juga kunjung datang jawaban.
Karena tak kunjung dijawab, akhirnya saya mengangkat telpon dan menghubungi nomor telpon bagian sirkulasi yg tercantum di website Tempo, lagi-lagi saya kecele karena ternyata saya hanya diberi nomor lain dan diminta menelpon ulang. Dengan telaten saya mengikuti instruksi dan menelpon ke nomor yg diberikan, dan akhirnya saya disambungkan dengan bagian sirkulasi. Dengan cepat saya menjelaskan siapa saya dan apa maksud saya menghubungi mereka, staf Tempo meminta nama, nama perusahaan, nomor telpon, fax, dan alamat email saya padahal kami belum memiliki perjanjian apa-apa, pembicaraan baru pada tahap penjajakan. Waktu itu saya merasa bahwa staf itu seakan-akan tidak percaya dengan identitas saya ataukah sangat sungguh-sungguh akan memproses penawaran saya, karena berkali-kali mengecek kebenaran data yg saya sebutkan via telpon. Saya kemudian meminta nomor fax yang benar-benar dipakai oleh pihak sirkulasi majalah Tempo dan berjanji akan kirim detail penawaran via fax.
Saya menepati janji hari itu juga, fax yg sebelumnya saya kirim dan tidak ketahuan rimbanya, saya salin ulang dan kirimkan sekali lagi.

Hasilnya, hampir dua bulan sudah berlalu dan hingga hari ini tidak satupun kontak dari pihak Tempo.

Program langganan majalah itu akhirnya saya jalankan setelah mengeluarkan Tempo dari daftar potensial saya dan dua minggu lalu informasi sudah saya sebar ke lebih dari 1000 pegawai Mandom di Jepang dan puluhan ekspatriat kami yg tersebar di berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia.

Seandainya Tempo merespon penawaran kami dengan baik maka bisa saya pastikan bahwa majalah itu akan bersanding bersama Newsweek dan Businessweek di deretan majalah berbahasa Inggris di seribuan pamflet yg tersebar di benua Asia itu, karena keputusan dipilihnya sebuah media hampir 100% ditentukan oleh saya. Mungkin memang peminatnya tidak akan banyak, karena jumlah pegawai kami yg melek Inggris dan berminat langganan majalah saya taksir tidak akan mencapai jumlah 3 digit, tapi paling tidak Tempo bisa menjadikan hal itu sebagai bahan jualan, coba bayangkan frase di bawah ini :

TEMPO ENGLISH, BACAAN RESMI DI PERUSAHAAN JEPANG

Tapi peluang itu lenyap begitu saja karena kurangnya respon yang baik terhadap penawaran pelanggan. Sayang memang, tapi apa boleh buat, semua sudah lalu. Kesempatan itu sudah dilewatkan dan mungkin tidak akan terulang lagi karena besar kemungkinan tahun depan pengelola program ini akan kembali dikelola oleh orang Jepang, seperti sejak belasan tahun yang lalu.
Di mata orang Jepang, Tempo belum tentu sebesar dan sehebat di mata orang Indonesia seperti saya.

———————————————-

Dalam hidup ini seringkali kita melewatkan sebuah peluang yg mengetuk pintu rumah kita, peluang yang terlihat kecil tapi sebenarnya bisa saja menyimpan potensi yang besar.

Apakah anda tidak melewatkan peluang yang potensial belakangan ini? Mari membuka mata dan hati kita selalu.