Archive for March 2009

Mensiasati Perasaan Bersyukur

“Belajarlah dari orang Cina, mereka tidak akan menggunakan semua harta melebihi kemampuan. Kalaupun mereka sanggup membeli mobil mewah maka mereka hanya akan membeli mobil biasa, kalau mereka hanya sanggup beli mobil biasa maka mereka hanya beli motor, kalau mereka sanggup beli motor maka mereka tetap sabar dan memakai sepeda, kalaupun sanggup beli sepeda mereka tak akan beli sepeda, mereka akan jalan kaki dan menyisihkan uang yg mereka punya untuk persiapan di saat2 kritis.”
Itu adalah nasihat ayah saya sejak saya masih kecil, dan nasehat itu bukan sekedar kata, melainkan beliau praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau selalu berusaha untuk tidak membelanjakan uang di luar kemampuan finansial beliau.
Tentu saja tidak semua orang Cina bersikap bijak seperti kata Bapak saya itu, tapi memang harus diakui bahwa ada banyak dari mereka yang mampu menahan diri untuk tidak mengkonsumsi barang2 melebihi kemampuan ekonomi sendiri sehingga mereka masih mampu bertahan ketika tiba masa sulit.
Nasihat Ayah itulah yg saya ingat ketika setahun yg lalu saya ditawari pinjaman tanpa bunga oleh perusahaan untuk membeli mobil. Waktu itu uang yg saya pegang hanya cukup untuk membeli mobil bekas yg butut, tapi kalau ditambahi dengan pinjaman dari perusahaan maka akan cukup untuk membeli mobil yg cukup layak. Saya memilih bersabar, menolak pinjaman dan merasa puas dengan mobil bekas yg berhasil saya beli dengan uang sendiri dan dengan harga yg murah. Mobil Minica versi Pj keluaran Mitsubishi 15 tahun yg kami beli itu sebenarnya masih berbodi mulus tapi karena memang sudah tua maka mesinnya tidak tahan diajak jalan jauh. Pada musim dingin kami kadang2 harus sabar menahan dingin kalau melaju di jalan tol karena kalau AC pemanas dinyalakan mesin berbunyi aneh sehingga agak mengkhawatirkan kalau2 tiba2 mogok di jalan. Dan karena bodinya yg kecil maka kalau kami sekeluarga naik, penuh sesaklah si kecil itu.
Tapi saya sangat bersyukur dengan keputusan pembelian mobil tersebut, selain BBMnya yg bisa hemat hingga sekitar 25km/liter, bodinya yg kecil memudahkan saya yg memang baru megang SIM setahun ini untuk belajar nyetir lebih lancar. Dan justru karena saat membeli mobil pertama kali kami memulai dengan mobil kecil, murah, dan tanpa fitur2 istimewa seperti itu maka kami bisa mengerti apa arti sedikit kemewahan dan bersyukur kepada Allah SWT atas kenyamanan yg ada di mobil kami yg sekarang. Seandainya  setahun yg lalu itu saya menerima pinjaman perusahaan dan membeli mobil yg setaraf dgn yg baru saja kami beli minggu lalu maka mungkin kami akan susah mengerti bagaimana nikmatnya berkendara tanpa perlu khawatir dengan mesin yg overheat, kursi yg empuk, layar TV ekstra di kursi belakang, kamera penuntun parkir, sonar pendeteksi sekeliling, navigator dengan perintah suara, dan sederet fitur yg tersedia di Toyota Ipsum versi 240u itu. Mungkin bagi orang Jepang, mobil bekas berumur 8 tahun yg baru kami beli itu hanya mobil biasa dengan kelengkapan standar mobil keluarga karena fitur2 yg ada memang sudah lazim ada di mobil2 minivan keluarga di sini, tapi bagi yg sebelumnya memakai mobil dgn kelengkapan minim maka peningkatan itu adalah suatu kemewahan yg luar biasa dan tentu saja sangat kami syukuri.
Dalam hidup ini seringkali kita lupa bersyukur dan tidak menganggap rejeki yg kita nikmati saat ini adalah keluarbiasaan hanya karena kita memperolehnya dengan sedikit mudah sehingga cenderung menganggap semua itu adalah hal yang lumrah dan biasa, padahal semua itu adalah kemurahan luar biasa dari Allah SWT.
Jika anda punya pilihan untuk menikmati sesuatu, janganlah langsung memilih tingkat tertinggi dari pilihan yg ada. Cobalah mulai dari tingkat yg bawah, sehingga ketika anda berada pada tingkat yg lebih tinggi anda bisa mengerti bahwa masih ada banyak orang yg hanya diberi nikmat kurang dari apa yg anda nikmati saat ini. Anda bisa mengerti karena anda pernah mengalami tingkatan kenikmatan itu.
“Undzur ilaa man aspala minkum wa laa tandzur ila man huwa fawqakum fahuwa ajdaru an laa tazdaruu ni’matallahi alaekum ”
(Lihatlah kepada orang yg (keadaannya) kurang dari kamu, jangan melihat kepada orang yg di atas kamu karena yg demikian itu akan membuatmu tidak mensyukuri nikmat Allah atasmu)

Mitsubishi Minica

Mobil kami yg dulu, Mitsubishi Minica Pj

カナッア (qana’ah)とは

もしも、あなたの人生で全ての欲しいものが手に入れられならば、本当に満足はできますか?高給与の仕事、いい肩書き、お城の様なお家、外国製の高級車。本当に満足できますか?その答えはほぼ百パーセントNOである。なぜならば、人間は自然に自分よりもっと裕福なひとに目をつけるからである。ムハンマド預言者『彼に平安であれ』はこの様な言葉を告げた(日本語の直訳):

”人間は純金のひとつの山を持っていれば、二つ目の山を求める。二つの山を持っていれば、三つ目の純金の山を求めつつける。人間は『土』が与えられるまで止まらぬ(「土が与えられる」の意味は土に埋葬いわゆる亡くなる)”

これは他人事ではない、私もそうである。自分の人生を振り返ってみませんか?初めて車を買ったとき、あまりお金がなくてぼろぼろな中古車で満足できたけど、友人が新車を購入したときなぜか焼餅になって、ついにローンに手を出した。しかし、何年経ったらその新車は古く見えてまた新しい車に換えたい。お金ちゃんとあれば別に問題ないけど、お金がないのに無理やりローンを組んで、日夜も知らずアルバイトで頑張ってローンを支払い続ける。こんな人生はおかしくないと思いませんか?いい品物を求め続けるのは決して悪いことでもないが、周りの目を気になるばっかりで自分の能を超える無理やりのはいいことではない。自分意欲を満たすためには、いつまでも終わらない。だからどうするの?一番いいのは、できる限りで頑張るけど、今の自分のあり方が神様に感謝して人生を送ること。ムハンマド預言者『彼に平安であれ』の言葉なら、つぎの様である。

”Undzur ilaa man aspala minkum wa laa tandzur ila man huwa fawqakum fahuwa ajdaru an laa tazdaruu ni’matallahi alaekum (ウンズル イラア マン アスパラ ミンクム ワラア タンズル イラア マン フワ ファウカクム ファフワ アジュダル アンラア タズダルウ 二ッマタッラアヒ アラエクム)”

訳 : ”あなたより裕福な人ではなく、あなたより不幸なひとに目をつけろ。そうすれば、あなたに与えられたALLAH神様の裕福さは軽く見えぬ(もっと感謝できる)”

あなたは高級者に乗れば、軽自動車に乗っている人々を見て、自分はとても運がいいと分かる。

あなたは軽自動車に乗れば、ぼろぼろな中古車に乗る人々を目をつけろ、そうすれば自分は恵まれることは分かってくる。

あなたは中古車にしか乗れない場合、周りよく見ろ、50cc原付しか乗れないひとが多い。それを見て感謝しろ。

原付しか乗れないあなたは、チャリンコしか乗れないひとは多いよ、だからあなた自身はまだまし。

チャリンコしか乗れないひとは、自分よりまだ不幸なひとが多い。寝たきりなり、動くさえできないひとはとても多い、だから健康に感謝しろ。

これがアラビア語で 『カナッア』 という。要するに、自分に満足感を感じさせることによって、自分のあり方を神様に感謝できる。生活は贅沢ではなくても、こころが豊かであるから毎日の生活は穏やかでいつも満喫できる。気持ちの設定は自分次第!

Osaka Beres!

Memakan waktu 4 hari untuk melayani sekitar 1200-an pendaftar acara open house Mandom Corporation. 1200-an ini ditambah 700-an di Tokyo adalah peserta yang dipilih dari lebih 5000 pendaftar secara online dari seluruh universitas di seluruh Jepang. Walaupun peserta berlipat 2 kali dibanding ketika di Tokyo, pengadaan kegiatan rutin tahunan ini lebih mudah dilakukan di Osaka, selain karena fasilitas gedung yg tentu saja sangat memadai karena kegiatan kami adakan di kantor pusat Mandom, staf HRD yg lain bisa juga kami tarik untuk membantu karena cukup turun ke lantai 1 dan 2 untuk ikut serta.

Pertanyaan calon2 sarjana S1/S2/S3 yg ikut dalam kegiatan ini agak berbeda dengan mereka yg ikut di Tokyo. Untuk peserta2 di Tokyo mereka lebih banyak bertanya untuk mencari tahu apa sebenarnya isi dalam Mandom corporation, mulai dari filosofi perusahaan, pandangan karyawan2nya terhadap perusahaan, atau sejarah2 tentang perusahaan yg tahun ini genap berusia 82 tahun ini. Sementara itu, di Osaka, peserta lebih banyak bertanya tentang suasana kerja, visi karyawan, tingkat kesejahteraan, dan bahkan ada yg nekat bertanya berapa jumlah karyawan baru yg akan diterima tahun ini. Mungkin karena Mandom Corporation sudah cukup dikenal di daerah Kansai, maka pertanyaan lebih berpusat pada keadaan riil sehari-hari. Khas orang Kansai, tanpa basa-basi.

Kalau di Tokyo di keseluruhan kegiatan saya selalu ikut menjawab pertanyaan2 di sesi dialog, di Osaka satu hari pertama saya tidak bisa beranjak dari meja kerja karena pekerjaan di divisi HRM (Human Resource Management) tidak bisa ditinggalkan. Baru setelah pekerjaan y menyangkut mutasi pegawai itu beres, saya bisa ikut serta. Dan tak lupa saya selalu menyapa dan memperkenalkan diri dengan salam dalam bahasa Indonesia. Cukup menyenangkan melihat wajah2 kaget dan bingung dari ratusan peserta yg mungkin tidak menyangka bahwa akan ada orang asing yg ikut dalam kegiatan rekruitmen di perusahaan Jepang seperti Mandom Corporation. Apalagi selama menyambut mereka di lantai satu, saya selalu membalik papan nama saya agar tak terlihat, lihat papan nama yg tak tertulis dengan kanji saja mereka sudah akan bisa menebak, tapi kalau dari wajah masih banyak yg seringkali tertipu. Senior saya dan asisten manajer yg orang Kansai dan pada dasarnya suka guyon sangat menikmati cairnya suasana yg semula sempat kaku selama 1 jam pertama. Sempat pernah saya perhatikan seorang peserta menganga saking terkejutnya, mungkin ybs sama sekali tidak menyangka kalau saya orang asing sehingga ketika saya menyapa dalam bahasa yg tak mereka mengerti baru tersadar kalau saya bukan orang yg sama dengan mereka.

Hasil ujian peserta di Osaka secara rata2 yg saya amati secara sekilas, lebih rendah dibanding mereka yg di Tokyo. Mungkin karena jumlah peserta yg banyak sehingga jumlah peserta yg mencatatkan nilai rendah juga terlihat lebih banyak dibanding yg di Tokyo. Tapi yg jelas, peserta yg dicoret karena memperlihatkan tingkah laku yg tidak memiliki akhlak baik seperti tidur, main HP, curang, dll, jumlahnya lebih sedikit dibanding yg di Tokyo. Kami agak kesulitan memonitor karena pserta yg mencapai 150 per-sesi, karena hanya ada saya dan senior saya yg mengamati secara langsung tingkah laku mereka.

Selama kegiatan berlangsung beberapa mahasiswa asing dari Cina, Hongkong, dan Korea sempat datang bertanya secara perorangan dan bertanya-tanya tentang bagaimana saya bisa lolos seleksi. Sekali-kali ada juga mahasiswa Jepang yg penasaran ingin tahu tentang seberapa besar dan seberapa terkenalnya Mandom di Indonesia atau apakah betul produk2nya seperti Gatsby, dll adalah produk2 yg banyak disukai konsumen di Indonesia. Saya hanya menjawab secara umum dan meyakinkan bahwa Mandom memang perusahaan yg cukup diperhitungkan di kancah per-kosmetikan di Indonesia, bukan hanya Gatsby tapi juga dgn Pixy, Pucelle, Lovillea, dll.

Sesi terakhir di hari terakhir ditutup dengan jumlah peserta 146 orang dari kapasitas maksimum yg kami siapkan sebanyak 150 orang per sesi. Cukup menarik juga kegiatan seperti ini karena mengingatkan akan perjuangan saya 2 tahun yg lalu ketika saya berada di posisi mereka.

Alhamdulillahi rabbil alamin.