PM Fukuda mengundurkan diri

Hari pertama ramadhan ini diwarnai oleh kegemparan dunia politik Jepang dengan pengunduran diri perdana menteri Fukuda Yasuo. Dalam pidato singkatnya sekitar 15 menit di kediamannya 30 menit yg lalu, beliau menyatakan sudah mantap untuk mundur dari kursi PM karena menilai dirinya tidak bisa menunaikan tugas dengan baik. Beliau juga menilai kebijakan2 yg beliau ambil seperti konversi status pajak jalan dari yg semula berstatus pajak khusus menjadi pajak umum tidak membawa dampak keringanan kepada warga negara, sehingga dinilai tidak efektif. Permasalahan dalam negeri mulai dari inflasi, harga BBM melangit, korupsi kecil2an tapi massal di dinas perhubungan, dll beliau nilai juga merupakan ketidakmampuan beliau sebagai pengambil keputusan di negeri ini. Beliau cukup berbesar hati untuk mengakui ketidakmampuannya dalam memimpin walaupun pidato itu diucapkan dengan mata yg agak berkaca-kaca menahan air mata. Wartawan yg hadir tidak begitu garang dalam menyerang dengan pertanyaan sehingga acara konferensi pers itu berlangsung cukup singkat.

Sebenarnya niat PM Fukuda untuk mengundurkan diri sudah beliau ungkapkan sejak minggu lalu dan beliau tampaknya mengambil keputusan untuk memantapkannya awal pekan ini. Sebagian pengamat menilai bahwa pengunduran diri Fukuda ini adalah sebagian dari taktik untuk menjaga agar kursi PM tidak jatuh ke partai Demokrat yang sudah mengincarnya sejak tahun lalu setelah menang mutlak di Majelis rendah. Dan kalau ternyata analisa ini benar maka Fukuda Yasuo hanya pantas digelari politikus, bukan negarawan karena lebih mementingkan urusan partainya dibanding kepentingan negaranya, wallahu a’lam.

Terlepas dari kontroversi motif pengunduran diri Fukuda, kebesaran jiwa beliau mengakui di depan umum akan ketidakmampuannya untuk menjadi nakhoda bagi kapal bernama Jepang ini adalah suatu hal yang patut diacungi jempol. Mungkin tidak banyak pemimpin di negara kita yang sejantan dan setegar beliau. Bagi saya pribadi, berani mundur ketika merasa tak mampu lagi adalah jelas merupakan bagian dari sifat kenegarawanan beliau. Fukuda-san, Otsukare sama deshita.

2 comments

  1. Yuki says:

    Salam kenal, Bp. Arif. Saya orang Jepang yang tinggal di Indonesia sejak tahun 1995 s/d tahun 2006, dan sekarang merantau di Singapore.

    Ketika saya membaca bahasa Jepang Bapak, saya kira Bapak orang Jepang yang masuk Islam, ternyata tidak. Kaget sekali karena bahasa Jepang Bapak hampir sama dengan orang Jepang asli, mungkin malah lebih bagus juga. Beberapa teman saya pintar bicara dalam bahasa Jepang, tapi tidak ada yang bisa tulis baik seperti Bapak dengan menggunakan kanji.

    Jepang masih panas dalam bulan September. Selamat menunaikan Ibadah Puasa pada tahun 1429 H. Semoga Ibadah Puasa kita mendapat keberkatan dari Allah SWT.

    Salam hangat

  2. arif says:

    Salam kenal juga mbak Yuki. Trima kasih atas sanjungannya walaupun sebenarnya agak ragu kalau mbak Yuki benar2 orang Jepang karena bahasa Indonesianya sudah persis orang Indonesia, atau malah lebih bagus 🙂

    Selamat menunaikan ibadah puasa juga semoga mbak Yuki diberi kemudahan oleh Allah dalam menjalankan ibadahnya, amin.

%d bloggers like this: