Archive for April 2008

Visi

Jalanan sudah agak ramai ketika saya memacu Mitsubishi Minica di 312号自動車専用国道 (jalan nasional khusus kendaraan bermotor jalur 312), hari ini adalah hari pertama kerja.

Tempat parkir di lingkungan pabrik Mandom Fukuzaki sudah agak terisi ketika saya membelokkan mobil mencari tempat yang lowong, beruntung karena deretan parkir khusus 軽自動車 (mobil beremisi rendah) masih agak lengang sehingga saya tidak perlu jauh-jauh berputar. 5 menit sebelum jam 8 saya sudah duduk di ruangan kecil di samping kantor administrasi pabrik tempat saya akan bekerja, di samping saya duduk Mizuse-kun dan Takahashi-kun, 2 pegawai baru yang baru saja tamat dari STM Industri Himeji. Kami bertiga menyimak penjelasan dari wakil kepala pabrik.

Saya yang SK-nya 生産業務課 (staf administrasi produksi), selama setahun ditugaskan untuk belajar di genba, saya bakal masuk di proses produksi selama 6 bulan, proses finishing 6 bulan. Setelah itu baru masuk ke desk work di bagian quality control, pembiayaan, dan urusan administrasi pabrik masing-masing 4 bulan. Saya mengangguk dan menyimak dengan seksama. Saya insya Allah akan bekerja di lingkungan pabrik ini hingga tahun 2010, dan jika sesuai rencana maka tahun 2010 nanti saya akan pindah ke kantor pusat di Osaka.

Ada perasaan gengsi yang kadang-kadang menyelinap di lubuk hati, dan perasaan gengsi itu menjadi pertanyaan yang seringkali mengganggu, apakah memang saya perlu bekerja di genba untuk mengerti isi dan jiwa pekerjaan? Kalau tidak mengingat janji manajer HRD akan planning masa depan, maka mungkin saya akan langsung protes begitu disuruh masuk genba selama 1 tahun. Memang saya nyaris tidak melakukan pekerjaan secara langsung, seharian saya hanya berdiri, mencatat, dan mencoba memahami proses-proses pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dan karyawan kontrak di bagian produksi itu, tapi tetap saja saya merasa terganggu oleh kenyataan.

Pada saat-saat perasaan saya mulai terusik itu saya biasanya kembali mengingat pesan instruktur JECC yang mentraining kami selama 3 hari di awal bulan ini. Beliau menceritakan sebuah kisah sebagai berikut :

Ada seorang kawan sekerjanya yang tamatan universitas cukup terkenal. Kawannya itu ketika melamar di perusahaan produsen alat toilet (INAX) tempat mereka kerja itu meminta posisi sebagai salesman. Tapi karena posisi itu sudah penuh maka untuk sementara ybs ditugaskan di bagian akaunting. Sebenarnya ybs tidak bisa menerima kenyataan, tapi karena sudah kadung masuk maka ia menerima dengan ogah-ogahan. Selama di akaunting itu ia bekerja setengah hati sehingga rekan sekerjanya kebanyakan menganggap ia tidak becus dalam bekerja. Prestasi kerjanya dinilai jeblok. Ia selalu berdalih bahwa buruknya prestasi kerjanya disebabkan oleh penempatan kerjanya yang tidak cocok.

Suatu hari posisi salesman terbuka untuk satu orang, tentu saja si kawan itu langsung mendaftar. Bagian personalia tidak sembarangan menempatkan orang sebagai salesman karena seorang salesman adalah wajah dari perusahaan, buruk laku salesman maka buruk pula citra perusahaan (prinsip dasar pekerjaan sebagai salesman ini berlaku hampir di semua perusahaan-perusahaan di Jepang), oleh sebab itu personalia mencoba mencari tahu seperti apa karakter dan prestasi kerja si kawan itu dengan bertanya ke rekan sekerjanya, dan tentu saja jawabannya anda sudah tahu. Image yang ada adalah buruk dan tidak becus sehingga personalia akhirnya memutuskan untuk tidak mengkabulkan permohonan si kawan itu.

Seandainya si kawan itu bekerja di bagian akaunting dengan sepenuh hati, maka image karakternya akan baik dan mendapat penilaian yang positif sehingga besar kemungkinan ia akan bisa melangkah ke karir yang diinginkannya. Tapi karena ia bermalas-malas di pekerjaannya yang sekarang dengan alasan “tidak cocok”, maka sebagai akibatnya ia malah tidak bisa beranjak dari tempatnya yang sekarang.

Sebagai manusia biasa, kita memang dilengkapi dengan gengsi, perasaan tak nyaman, ingin potong kompas, dan sederet perilaku yang bisa menjerumuskan kita ke arah yang berlawanan arah dengan keinginan yang melatarbelakangi perilaku itu. Apa yang saya hadapi sekarang ini sedikit mirip dengan cerita Fujimoto-san di atas, perbedaannya adalah saya sudah diberitahu tentang perencanaan karir masa depan sementara aktor di cerita itu memang belum diberi rencana apa-apa.

Plot cerita yang paling mirip dengan cerita di atas mungkin adalah kisah2 tentang kenshusei yang baru pulang dari Jepang.

Banyak kenshusei yang baru pulang dari Jepang diterima bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang, tapi hanya sedikit yang berhasil membangun karir dan bertahan di keganasan persaingan dunia kerja. Banyak yang merasa tidak puas karena harus menerima gaji dengan jumlah yang sangat sedikit dibandingkan ketika bekerja di Jepang (pemikiran yang agak menggelikan). Banyak pula yang tidak bisa terima karena harus kembali bekerja di dunia otot dengan gaji ala Indonesia. Ada banyak mantan kenshusei yang mengira kalau pulang ke Indonesia dan masuk kerja di perusahaan Jepang bisa langsung menempati posisi tinggi di dalam perusahaan sehingga tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka harus mulai lagi dari nol. Padahal pihak perusahaan mungkin ingin melihat sejauh mana dedikasi dalam bekerja, lalu mungkin mulai merancang carrier plan yang sesuai. Kalau di pekerjaan yang sekarang kita tidak bisa sungguh-sungguh, maka perusahaan akan berpikir bahwa kita memang tidak bisa bekerja sehingga sampai kapanpun tidak akan diberi pekerjaan yang memiliki tanggung jawab yang berat. Di sinilah kita harus membuat visi, mempercayai visi itu, dan berusaha membangun jalur menuju terwujudnya visi itu. Pekerjaan yang sekarang memang kembali jadi buruh, tapi kalau ganbatte maka titian karir akan terbentuk.

Memang tidak mudah membuat, membangun, dan mewujudkan sebuah visi menjadi realitas. Tidak banyak orang yang bisa, itulah sebabnya hanya ada sedikit orang yang berhasil di kehidupan ini.

Kalau mengambil hikmah dari cerita Fujimoto-san maka kata kuncinya adalah mensukseskan lakon yang kita tekuni sekarang. Keberhasilan di lakon yang sekarang akan menuntun ke tahap selanjutnya menuju tujuan yang kita inginkan, insya Allah, amin.

Ganbarimashou…

80 Tahun Mandom

Bangun pagi tenggorokan terasa kering dan sakit, tampaknya aleri kafunsho tahun ini lebih banyak menyerang daerah tenggorokan dan pangkal hidung. Bersin-bersin memang tidak sehebat tahun lalu tapi efek samping di tenggorokan dan hidung cukup parah.

Hari ini acara penerimaan pegawai baru yang dirangkaikan dengan peringatan 80 tahun berdirinya Mandom Corporation. Saya bergegas bersiap-siap dan setelah makan pagi langsung menuju kantor pusat yang terletak hanya beberapa ratus meter dari tempat menginap, hotel Apa Villa Tanimachi, Osaka. Setelah semua berkumpul, kami angkatan 92 berangkat secara rombongan dengan menggunakan subway yang disambung dengan shuttle bis Rihga Royal Hotel tempat acara diadakan.
Setelah istirahat sejenak, kami segera menuju aula Osaka International Meeting Hall yang masih lengang. Kami gladi resik beberapa kali lalu kembali ke ruang istirahat dan menikmati makan siang.
Ketika kami kembali lagi ke Hall, ruangan itu sudah hampir penuh oleh pegawai Mandom dan perusahaan rekanannya berjumlah sekitar 750 orang yang berkumpul dari 11 negara. Di antara deretan tamu tampak pak Wilson, perintis dan pemegang saham utama Mandom Indonesia, pak Ali Sanjaya, pemegang saham utama dan pengelola sole agent Mandom Indonesia, presdir perusahaan rekanan Mandom di Dubai, dan presdir2 dari cabang2 Mandom dan perusahaan rekanan di 11 negara.

Acara dimulai pukul 1 siang.

Acara pelantikan angkatan 92 memulai rangkaian acara yang cukup lama dan berakhir sekitar jam 4-an sore. Setelah itu para hadirin diarahkan ke ruang pesta yang terletak di gedung utama Rihga Hotel. Persiapan memakan waktu cukup lama karena harus mengatur ratusan orang. Pesta dimulai pada jam 5-an dengan suguhan video kilas balik sejarah Mandom yang dimulai dari 23 Desember 1927 dengan berdirinya PT. Kintsuru Kousui. Video juga memperlihatkan perjalanan Mandom di 9 negara, termasuk Indonesia. Mandom Indonesia yang berhasil mencatat penjualan yang melampaui 1 trilyun tahun lalu menjadi sorotan utama.

Setelah sambutan singkat yang dibawakan oleh Kitamura-san, calon presdir baru Mandom Indonesia, acara makan2 dimulai dengan standing party. Teman2 yg lain yang masing-masing sudah mempunyai senior pembimbing di tempat kerja sudah berpencar ke meja-meja yang tersebar di ruangan yang sangat luas itu. Saya yang tidak punya senior di tempat kerja awalnya agak bingung dan akhirnya bergabung ke grup pegawai2 Mandom Indonesia. Setelah berputar-putar ke beberapa meja menyapa orang2 yang pernah saya kenal, saya kembali lagi ke meja grup Indonesia dan diperkenalkan ke presdir Mandom Indonesia, Yamashita Mitsuhiro. Di meja itu juga bergabung presdir Mandom Cina, Maeda-san, main shareholder Mandom Indonesia Pak Wilson, dan pak Ali Sanjaya, presdir PT.Asia Paramitha Indah, perusahaan sole agent Mandom Indonesia.

Pak Wilson ternyata orang yang menyenangkan diajak ngobrol, tidak jaim dan sangat akrab. Sementara itu pak Ali yang mungkin terlalu sering menggunakan bahasa Cina sehari-hari, bahasa Indonesianya agak terpatah-patah. Saya akhirnya berlama-lama di meja itu karena kasihan melihat pak Ali yang tidak punya teman ngobrol. Pak Wilson yang tamatan universitas di Jepang sangat fasih bahasa Jepangnya sangat mudah berbaur di meja lain, tapi pak Ali yang hanya bisa bahasa Indonesia dan Cina tampak kesulitan berbaur karena hanya beberapa pegawai lain yang bisa berbahasa Indonesia. Saya bertanya tentang masa-masa kulaih pak Wilson di Jepang.

Acara pesta berakhir sekitar jam 7-an. Kami berkumpul di ruang depan tempat pesta lalu bertolak menuju pusat Osaka Timur. Acara minum kedua diadakan oleh senior kami angkatan 91.

Acara minum kedua dimulai dengan perkenalan masing-masing yunior dan senior lalu dilanjutkan dengan acara bebas berkeliling meja sambil menuangkan minuman ke gelas senior. Beberapa teman2 yg lain tampak sudah memerah mukanya karena sejak pesta utama sudah minum beberapa botol bir. Saya yang memang tidak pernah menyentuh alcohol tentu saja tetap segar bugar, walaupun agak kekenyangan karena menyantap beberapa ekor udang bakar dan sashimi lobster yang tersedia di meja. Dan karena saya sendiri tidak minum bir, maka saya juga tidak menuangkan bir buat senior. Ada beberapa senior yang sempat bertanya kenapa saya tidak minum bir, untung setelah dijelaskan bahwa saya muslim mereka bisa mengerti. Pesta kedua cukup meriah dan ramai. Kami akhirnya bubaran setelah malam cukup larut. Saya bersama teman2 yg menginap di hotel Apa Villa segera bergegas menuju subway, untunglah kami masih sempat naik kereta terakhir Tanimachi Line.

Setiba di hotel, saya menghabiskan waktu setengah jam di sauna dan sento (pemandian air panas buatan) di hotel, sholat magrib+isya dgn jamak qoshar lalu tertidur kecapekan.