Archive for March 2008

JECC

Pelatihan dimulai pukul 9 pagi diawali dengan perkenalan oleh instruktur JECC, sebuah perusahaan khusus training pegawai perusahaan yang konon sudah menjadi rekanan Mandom selama 30 puluh tahunan. Fujimoto-san, sang instruktur membawakan materi dengan apik dan penuh semangat, antusias peserta lain terlihat cukup tinggi. Materi yg dibawakan berupa pengetahuan umum tentang etika bisnis ala Jepang ditambahi life enlightment ala JECC. Wajah2 teman2 yg lain terlihat agak bingung ketika Fujimoto-san mulai berbicara tentang tujuan hidup sembari berkisah tentang perjalanan hidup dan karirnya sendiri, rupanya ia telah menjalani beberapa fase dalam kehidupannya, mulai dari pegawai kantor, wiraswasta, hingga menjadi instruktur di JECC. Satu hari berakhir cukup melelahkan karena materi yg dibahas cukup padat.

Sorenya saya berpindah kamar dan bergabung bersama grup kamar baru, malam sebelumnya kami menggunakan kamar ala Jepang, dan malam ini juga masih menggunakan kamar dengan gaya yang sama tapi dengan anggota yang berbeda. Salah satu di antara 3 penghuni selain saya bernama Nishimura Ken, putra ketiga Presiden Direktur Mandom Jepang. Rupanya cucu pendiri Mandom itu masuk perusahaan bersamaan dengan periode saya setelah 3 tahun mencari pengalaman di perusahaan lain. Kalau kami bertiga dipersiapkan menjadi pegawai-pegawai Mandom, maka cucu sang pionir ini tampaknya masuk perusahaan untuk dipersiapkan menjadi boss beberapa belas tahun dari sekarang. Yang hebat, sang putra itu bersedia memulai karir dengan berstatus rekrut baru, padahal pengalamannya selama 3 tahun di perusahaan lain sebenarnya sudah cukup untuk mendudukkan ia di salah satu pos di perusahaan. Penampilannya yang sederhana dan tidak jaim membuat saya pribadi menjadi kagum.

Hari Pertama

Saya setengah berlari menyeret tas travel ke arah stasiun dalam siraman hujan rintik, jam sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore, padahal saya harus tiba sebelum jam 5:50 sore di hotel River Side, Osaka. Setelah melihat jadwal kereta yang selanjutnya adalah setengah jam lagi, saya langsung menuju pangkalan taksi di samping stasiun. Saya tiba di stasiun Himeji lewat jam 4. Karena merasa tak mungkin bisa sampai kalau naik kereta biasa maka saya langsung menuju mesin penjual tiket shinkansen. Sekitar 15 menit kemudian saya sudah sampai di Shin Osaka, dan telat sekitar 2 menit dari jadwal yang ditetapkan. Untungnya teman2 yg lain baru saja akan menuju resepsionis ketika saya menyeret tas masuk ke ruang lobi.

Besok pelatihan intensif bagi pegawai baru Mandom Corporation akan dimulai.

Wisuda

Suatu hari sebuah perusahaan sepatu berkelas dunia mengirim salesmannya ke sebuah negara di Afrika. Salesman itu ditugasi untuk menganalisa peluang pasar di negara benua hitam tersebut. Ketika tiba di negara itu sang salesman kebingungan melihat penduduk yang nyaris semuanya bertelanjang kaki, tak ada seorang pun yang memakai sepatu. Ia langsung pulang dan memberikan laporan ke atasannya. “Mustahil menjual sepatu di negara tersebut karena tak ada seorang pun yang mau memakai sepatu. Semua orang di negara itu bertelanjang kaki”.Atasannya jadi penasaran dan hari berikutnya dikirim lagi seorang salesman lainnya.Salesman yang baru dikirim itu begitu tiba di negara tersebut dan melihat nyaris semua penduduk negara itu tidak memakai sepatu langsung bertolak pulang dan kembali ke negaranya. Dengan segera ia membuat laporan ke atasannya. “Kita pasti sukses menjual sepatu di negara itu. Hampir semua orang belum memakai sepatu jadi kita pasti bisa memasarkan sepatu dalam jumlah yang sangat besar. Bayangkan, pasar sepatu untuk satu negara!”.Anda bisa lihat bagaimana satu situasi dibaca dengan berbeda oleh dua orang salesman. Yang satu melihat kekurangan hanya sebagai kekurangan, sedangkan yang satunya lagi melihat kekurangan itu sebagai peluang. Anak2ku sekalian harus bisa bersikap seperti salesman yang kedua, yaitu selalu berusaha mencari peluang, bahkan pada suatu keadaan yang dianggap kekurangan pun.

Demikian cuplikan isi dari nasihat bapak gubernur prefektur Hyogo, Ido Toshizou, dalam sambutannya pada acara wisuda universitas Hyogo hari ini di Kokusai Hall, Sannomiya Kobe.

Acara wisuda itu melantik sarjana baru sebanyak 1136 orang dari 11 fakultas yang ada. Di antara 1136 orang itulah saya terselip duduk di deretan wisudawan fakultas ekonomi. Di samping saya duduk teman kuliah orang Cina, Jo dan Chin. Semua wisudawan memakai jas hitam kecuali satu orang yang memakai kimono dan hakama. Sementara mayoritas wisudawati memakai kimono dan hakama, beberapa tampak hanya memakai kimono biasa tanpa hakama di luarnya.

Dada saya serasa sesak. Terbayang kembali ketika 4 tahun yang lalu saya duduk di ruangan itu pada saat acara pelantikan mahasiswa baru. Kala itu saya sangat bahagia karena hasil perjuangan semasa kenshusei untuk mengumpulkan uang dan belajar bahasa Jepang secara mandiri membuahkan hasil kelulusan di universitas yang cukup berkelas. Pesimis orang2 yang ragu bahwa apakah mungkin mantan kenshusei yang tidak pernah belajar di nihonggo gakkou bisa bersaing dengan calon2 mahasiswa asing dari Korea dan Cina yang bahasa Jepang dan kanjinya lancar, berhasil saya tepis dengan lulus ujian masuk universitas Hyogo.

Hari ini ujung dari semua usaha sejak 7 tahun yang lalu itu membuahkan hasil. Saya berhasil mengantongi ijazah sarjana dari university of Hyogo. Alhamdulillahi rabbil alamin.

Latar belakang panggung, di sebelah kanan yang paling kiri adalah gubernur Hyogo

Segenap civitas akademik universitas Hyogo

Foto bersama nihong-no okaasan, Suzuki Sensei.

Foto bersama teman2 satu kelas seminar.