Gunadi & Kristy

Badan saya masih lelah sehabis pulang dari acara perpisahan grup kelas seminar di kampus. Kami berenam bersama dosen wali menghabiskan waktu berkeliling beberapa onsen di daerah Kinozaki di utara Hyogo lalu jalan-jalan menikmati pemandangan di sebuah daerah ketinggian yang menghamparkan laut Jepang dengan samar-samar kabut yang menutupi penglihatan di ujung cakrawala. Perjalanan itu cukup menyenangkan tapi betul-betul melelahkan karena kami harus bermobil lebih dari 3 jam dari Sannomiya.


(laut setouchi di belakang)

Sepulang dari perjalanan itulah saya masih belum bisa menikmati istirahat karena keesokan harinya pernikahan seorang teman harus dipersiapkan. Acara ini cukup berat bagi saya karena saya hadir bukan sebagai orang yang diundang melainkan sebagai MC.

Sebenarnya materi MC sudah saya minta sejak beberapa minggu sebelumnya karena materi itu masih harus saya terjemahkan ke bahasa Jepang sehingga tentu saja perlu waktu untuk lebih memperhalus bahasa yg akan saya pakai. Tapi karena pengantin laki-laki, Gunadi, sendiri sibuk melakukan persiapan yg lain maka materi sangat terlambat. Slide power point yg disediakan oleh anggota tim yg lain ternyata masih harus saya edit ulang karena beberapa ungkapan atau bahasa Jepang dan Inggrisnya yg salah ketik. Hingga malam menjelang hari H tanggal 23 itu pun saya belum menyelesaikan naskah jalan cerita hidup pengantin itu dan go to bed karena memutuskan akan menyelesaikannya esok hari sambil gladi resik di lokasi pesta. 12時過ぎ眠ってしまった。

Saya tiba lewat dari setengah 11 agak telat beberapa menit sesuai kesepakatan saya dgn Rusmanto, mahasiswa Kobe University yg membuat slide power point. Rusmanto menghapus beberapa halaman dari slide itu yg awalnya berisi puisi-puisi Khalil Gibran, sesuai permintaan saya karena terus terang saja saya tidak begitu suka sebab pernah mendengar akan nilai minus Kahlil Gibran. Kalau kita baca, memang salah satu karya tersohornya THE PROPHET mengambil penokohan yg diberi nama MUSTOFA yg dimirip-miripkan dgn tokoh agung kita Muhammad SAW. Am I over acting? Whatever, it is my like and dislike 🙂  Yang jelas saya yg akan menterjemahkan dan membacakan puisi itu dalam bahasa Jepang dan rasa-rasanya tak akan mampu saya bawakan kalau saya pribadi tak menyukai orang yg membuatnya.

Kami bekerja secara paralel dengan tim yg cukup bagus karena job description yg lumayan bagus walaupun beberapa orang teman masih membawa kebiasaan jam karet dan muncul setelah masuk waktu dhuhur. Saya yg berusaha konsen di depan laptop karena harus menerjemahkan cerita hidup Gunadi dan Kristy, beberapa kali harus terganggu karena masalah teknis yg tak kunjung beres. Projector yg harusnya memancarkan layar laptop dari ruang operator tak kunjung kompromi dgn laptop Rusmanto yg menggunakan Vista. Setelah dicoba menggunakan laptop lain yg memakai XP pun tak bisa akhirnya digunakan alternatif dgn memakai mini projector yg dipinjam dari lab seorang mahasiswa lain, Kartika. Menjelang jam setengah 5 sore persiapan sudah agak beres dan saya segera berganti pakaian dengan setelan jas yg dibawa Dewi ketika datang bersama Aisha, Adnan, mbak Ami, dan mbak Rina tetangga kami di Port Island.

Menjelang setengah 6 sore tamu-tamu orang Jepang mulai berdatangan satu persatu, padahal teman-teman yg sedianya bertugas di meja resepsionis belum juga mengambil posisi. Seorang tamu menyodorkan seikat bunga sebagai hadiah dan mama Kristy yg kebingungan di dekat meja membisiki saya dan menyuruh saya mengambil alih. Saya yg semula hanya ditugasi menjadi MC jadi bingung karena ternyata tidak ada yg ditunjuk menjadi kordinator acara secara keseluruhan sehingga ketika tamu2 mulai berdatangan para anggota tim malah bingung harus berbuat apa. Akhirnya saya mengambil inisiatif mulai meminta tamu-tamu untuk masuk sembari menunggu pengantin yg masih dirias di gedung sebelah. Ternyata pengantin telat rias karena nenek Kristy yg membawa sepatu sempat tersesat di jalan ketika menuju gedung tempat pernikahan diadakan. Saya hanya senyum-senyum kecut melihat suasana yg membingungkan itu. Saya memberi kode ke mbak Melly dan kami akhirnya mempersilakan hadirin untuk masuk ke ruangan semuanya. Mbak Melly memandu dengan bahasa Inggris dan saya mengikut dengan terjemahan bahasa Jepang.

Pengantin akhirnya muncul bersama pengiring dan bersiap-siap masuk ruangan. Saya mengkode Rusmanto yg sempat kebingungan menjadi joki musik. Akhirnya pengantin masuk diiringi dengan musik yg sedari tadi mengalun tanpa ada nada khusus karena kesulitan operator memainkan musik dari awal. Saya berusaha tersenyum dan berharap bahwa aura pengantin yg masuk akan menghadirkan suasana khidmat walaupun musik yg mengalun sepertinya tak sesuai.

Acara dimulai dengan sambutan dari paman mempelai wanita, saya berdiri di samping sang paman menerjemahkan pesan-pesan dari keluarga di Indonesia ke dalam bahasanya Oshin. Sang paman yang masih memeluk agama nashrani menutup sambutan dengan mendoakan sang kemenakan dalam agama yg dipeluknya, pada saat itu saya memasukkan pesan dalam bahasa Jepang kepada hadirin bahwa sang paman akan berdo’a dalam cara Nashrani dan bagi yg agamanya berbeda silakan berdo’a menurut agama dan kepercayaannya masing-masing dan saya menutup terjemahan itu dalam bahasa Indonesia dengan pesan yg sama. Teman-teman yg kebanyakan adalah muslim tampak tidak senang dan seakan ingin protes. Saya mundur selangkah dan berdiri tegak menatap ke depan dan sama sekali tidak mengambil posisi berdo’a. Di antara teman-teman mahasiswa malah ada yang berdiri sambil melipat tangan di dada yang kalau diartikan sekan-akan ingin berkata “apa-apaan ini?”. Saya hanya tersenyum.

Saya sendiri heran kenapa orang setua itu tidak bisa bijaksana dalam bertindak, bukankah sudah jelas di hadapannya adalah orang Indonesia yg mayoritas muslim dan orang Jepang yg kebanyakan dinamisme/animisme, kok masih nekat-nekatnya berdo’a dengan menyebut nama “tuhan bapak” 🙂  Seharusnya pada suasana yg multi religi seperti ini acara do’a dilakukan dengan menyebut nama “Tuhan” saja tanpa perlu menonjolkan kepercayaan sendiri.

Suasana kaku itu akhirnya mulai mencair setelah acara pemaparan jalan cerita cinta mempelai masuk. Kalau sebelumnya mbak Melly yg memandu narasi maka pada saat masuk bagian ini saya yg membawakan kisah dalam bahasa Jepang memandu dan diikuti dengan terjemahan bahasa Indonesia. Jalan cerita yg cukup panjang itu kami baca berdua secara bergantian dan ternyata cukup berhasil membawa suasana yg haru, walaupun mikrofon yg kami pakai suaranya tidak begitu lantang. Ada beberapa frase bahasa Jepang yg di telinga saya sendiri kedengaran agak janggal tapi apa boleh buat, berhubung terjemahannya baru dilakukan 3-4 jam yg lalu, maka shouga nai kata orang Jepang.

Sehabis acara pemaparan jalan cerita itu, beberapa orang pembicara diminta untuk memberi sambutan dan pidato dan di sinilah kerja keras saya karena harus menerjemahkan kata2 pembicara secara relay dengan 2 arah. Untunglah pembicara pertama professor Gunadi telah menyiapkan naskahnya dalam bahasa Indonesia, yang walaupun pengucapannya terpatah-patah namun cukup bisa dimengerti. Hadirin bertepuk tangan riuh sekali ketika professor Nishio mengakhiri pidatonya. Saya mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan beliau kembali ke tempat duduk.

Sambutan yg selanjutnya diberikan oleh profesor Hayashi yang merupakan pembimbing mempelai wanita, Kristy. dan karena beliau berbicara langsung dalam bahasa Jepang maka saya harus mengiringi dengan terjemahan langsung sesudah beliau.

Sambutan selanjutnya dibawakan oleh Yasunaga-san yg merupakan teman dekat Gunadi di lab, lalu diikuti oleh pak Trika, ketua PPI Kobe, dan pak Teguh yang menjadi wali mempelai pria.

Setelah sambutan-sambutan, acara diisi dengan pemotongan kue lalu diikuti dengan acara makan bersama. Pada acara itu saya menyempatkan mengunjungi satu-persatu tamu-tamu yg saya kenal sembari mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka. Di ujung meja saya menyapa pak Adi, konsul Sosial Budaya KJRI yang dengan baik hati melowongkan waktunya datang bersama nyonya pada acara Gunadi-Kristy ini. Pada profesor Nishio dan Hayashi saya hanya 目礼 (mokurei=mengangguk hormat).

Resepsi itu akhirnya ditutup dengan acara foto-foto bersama pengantin yang diakhiri dengan beres-beres. Teman-teman dengan sadar membantu acara beres-beres yang merupakan bagian yang cukup sulit sebab kami harus mengembalikan kondisi ruangan seperti sebelum dipinjam. Sekitar jam 9 lewat saya bersama pak Trika menuju ke kantor pengelola ruangan dan memberitahu bahwa kami akan telat sekitar sejam dari jadwal semula jam 9 malam karena masih harus beres-beres. Pak Satpam yang sudah dihadiahi segepok makan malam ala Indonesia itu tersenyum dan berkata “Iya, iya zenzen daijoubu” (nggak, nggak sama sekali nggak apa-apa).

Sekitar jam 9 lewat 40 menitan saya bersama keluarga permisi pulang duluan karena Adnan dan Aisha sudah kelihatan mengantuk. Malam yg melelahkan tapi mudah2an bisa membahagiakan dengan memberi kenangan indah bagi sang pengantin.