Archive for December 2007

Gunadi & Kristy

Badan saya masih lelah sehabis pulang dari acara perpisahan grup kelas seminar di kampus. Kami berenam bersama dosen wali menghabiskan waktu berkeliling beberapa onsen di daerah Kinozaki di utara Hyogo lalu jalan-jalan menikmati pemandangan di sebuah daerah ketinggian yang menghamparkan laut Jepang dengan samar-samar kabut yang menutupi penglihatan di ujung cakrawala. Perjalanan itu cukup menyenangkan tapi betul-betul melelahkan karena kami harus bermobil lebih dari 3 jam dari Sannomiya.


(laut setouchi di belakang)

Sepulang dari perjalanan itulah saya masih belum bisa menikmati istirahat karena keesokan harinya pernikahan seorang teman harus dipersiapkan. Acara ini cukup berat bagi saya karena saya hadir bukan sebagai orang yang diundang melainkan sebagai MC.

Sebenarnya materi MC sudah saya minta sejak beberapa minggu sebelumnya karena materi itu masih harus saya terjemahkan ke bahasa Jepang sehingga tentu saja perlu waktu untuk lebih memperhalus bahasa yg akan saya pakai. Tapi karena pengantin laki-laki, Gunadi, sendiri sibuk melakukan persiapan yg lain maka materi sangat terlambat. Slide power point yg disediakan oleh anggota tim yg lain ternyata masih harus saya edit ulang karena beberapa ungkapan atau bahasa Jepang dan Inggrisnya yg salah ketik. Hingga malam menjelang hari H tanggal 23 itu pun saya belum menyelesaikan naskah jalan cerita hidup pengantin itu dan go to bed karena memutuskan akan menyelesaikannya esok hari sambil gladi resik di lokasi pesta. 12時過ぎ眠ってしまった。

Saya tiba lewat dari setengah 11 agak telat beberapa menit sesuai kesepakatan saya dgn Rusmanto, mahasiswa Kobe University yg membuat slide power point. Rusmanto menghapus beberapa halaman dari slide itu yg awalnya berisi puisi-puisi Khalil Gibran, sesuai permintaan saya karena terus terang saja saya tidak begitu suka sebab pernah mendengar akan nilai minus Kahlil Gibran. Kalau kita baca, memang salah satu karya tersohornya THE PROPHET mengambil penokohan yg diberi nama MUSTOFA yg dimirip-miripkan dgn tokoh agung kita Muhammad SAW. Am I over acting? Whatever, it is my like and dislike 🙂  Yang jelas saya yg akan menterjemahkan dan membacakan puisi itu dalam bahasa Jepang dan rasa-rasanya tak akan mampu saya bawakan kalau saya pribadi tak menyukai orang yg membuatnya.

Kami bekerja secara paralel dengan tim yg cukup bagus karena job description yg lumayan bagus walaupun beberapa orang teman masih membawa kebiasaan jam karet dan muncul setelah masuk waktu dhuhur. Saya yg berusaha konsen di depan laptop karena harus menerjemahkan cerita hidup Gunadi dan Kristy, beberapa kali harus terganggu karena masalah teknis yg tak kunjung beres. Projector yg harusnya memancarkan layar laptop dari ruang operator tak kunjung kompromi dgn laptop Rusmanto yg menggunakan Vista. Setelah dicoba menggunakan laptop lain yg memakai XP pun tak bisa akhirnya digunakan alternatif dgn memakai mini projector yg dipinjam dari lab seorang mahasiswa lain, Kartika. Menjelang jam setengah 5 sore persiapan sudah agak beres dan saya segera berganti pakaian dengan setelan jas yg dibawa Dewi ketika datang bersama Aisha, Adnan, mbak Ami, dan mbak Rina tetangga kami di Port Island.

Menjelang setengah 6 sore tamu-tamu orang Jepang mulai berdatangan satu persatu, padahal teman-teman yg sedianya bertugas di meja resepsionis belum juga mengambil posisi. Seorang tamu menyodorkan seikat bunga sebagai hadiah dan mama Kristy yg kebingungan di dekat meja membisiki saya dan menyuruh saya mengambil alih. Saya yg semula hanya ditugasi menjadi MC jadi bingung karena ternyata tidak ada yg ditunjuk menjadi kordinator acara secara keseluruhan sehingga ketika tamu2 mulai berdatangan para anggota tim malah bingung harus berbuat apa. Akhirnya saya mengambil inisiatif mulai meminta tamu-tamu untuk masuk sembari menunggu pengantin yg masih dirias di gedung sebelah. Ternyata pengantin telat rias karena nenek Kristy yg membawa sepatu sempat tersesat di jalan ketika menuju gedung tempat pernikahan diadakan. Saya hanya senyum-senyum kecut melihat suasana yg membingungkan itu. Saya memberi kode ke mbak Melly dan kami akhirnya mempersilakan hadirin untuk masuk ke ruangan semuanya. Mbak Melly memandu dengan bahasa Inggris dan saya mengikut dengan terjemahan bahasa Jepang.

Pengantin akhirnya muncul bersama pengiring dan bersiap-siap masuk ruangan. Saya mengkode Rusmanto yg sempat kebingungan menjadi joki musik. Akhirnya pengantin masuk diiringi dengan musik yg sedari tadi mengalun tanpa ada nada khusus karena kesulitan operator memainkan musik dari awal. Saya berusaha tersenyum dan berharap bahwa aura pengantin yg masuk akan menghadirkan suasana khidmat walaupun musik yg mengalun sepertinya tak sesuai.

Acara dimulai dengan sambutan dari paman mempelai wanita, saya berdiri di samping sang paman menerjemahkan pesan-pesan dari keluarga di Indonesia ke dalam bahasanya Oshin. Sang paman yang masih memeluk agama nashrani menutup sambutan dengan mendoakan sang kemenakan dalam agama yg dipeluknya, pada saat itu saya memasukkan pesan dalam bahasa Jepang kepada hadirin bahwa sang paman akan berdo’a dalam cara Nashrani dan bagi yg agamanya berbeda silakan berdo’a menurut agama dan kepercayaannya masing-masing dan saya menutup terjemahan itu dalam bahasa Indonesia dengan pesan yg sama. Teman-teman yg kebanyakan adalah muslim tampak tidak senang dan seakan ingin protes. Saya mundur selangkah dan berdiri tegak menatap ke depan dan sama sekali tidak mengambil posisi berdo’a. Di antara teman-teman mahasiswa malah ada yang berdiri sambil melipat tangan di dada yang kalau diartikan sekan-akan ingin berkata “apa-apaan ini?”. Saya hanya tersenyum.

Saya sendiri heran kenapa orang setua itu tidak bisa bijaksana dalam bertindak, bukankah sudah jelas di hadapannya adalah orang Indonesia yg mayoritas muslim dan orang Jepang yg kebanyakan dinamisme/animisme, kok masih nekat-nekatnya berdo’a dengan menyebut nama “tuhan bapak” 🙂  Seharusnya pada suasana yg multi religi seperti ini acara do’a dilakukan dengan menyebut nama “Tuhan” saja tanpa perlu menonjolkan kepercayaan sendiri.

Suasana kaku itu akhirnya mulai mencair setelah acara pemaparan jalan cerita cinta mempelai masuk. Kalau sebelumnya mbak Melly yg memandu narasi maka pada saat masuk bagian ini saya yg membawakan kisah dalam bahasa Jepang memandu dan diikuti dengan terjemahan bahasa Indonesia. Jalan cerita yg cukup panjang itu kami baca berdua secara bergantian dan ternyata cukup berhasil membawa suasana yg haru, walaupun mikrofon yg kami pakai suaranya tidak begitu lantang. Ada beberapa frase bahasa Jepang yg di telinga saya sendiri kedengaran agak janggal tapi apa boleh buat, berhubung terjemahannya baru dilakukan 3-4 jam yg lalu, maka shouga nai kata orang Jepang.

Sehabis acara pemaparan jalan cerita itu, beberapa orang pembicara diminta untuk memberi sambutan dan pidato dan di sinilah kerja keras saya karena harus menerjemahkan kata2 pembicara secara relay dengan 2 arah. Untunglah pembicara pertama professor Gunadi telah menyiapkan naskahnya dalam bahasa Indonesia, yang walaupun pengucapannya terpatah-patah namun cukup bisa dimengerti. Hadirin bertepuk tangan riuh sekali ketika professor Nishio mengakhiri pidatonya. Saya mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan beliau kembali ke tempat duduk.

Sambutan yg selanjutnya diberikan oleh profesor Hayashi yang merupakan pembimbing mempelai wanita, Kristy. dan karena beliau berbicara langsung dalam bahasa Jepang maka saya harus mengiringi dengan terjemahan langsung sesudah beliau.

Sambutan selanjutnya dibawakan oleh Yasunaga-san yg merupakan teman dekat Gunadi di lab, lalu diikuti oleh pak Trika, ketua PPI Kobe, dan pak Teguh yang menjadi wali mempelai pria.

Setelah sambutan-sambutan, acara diisi dengan pemotongan kue lalu diikuti dengan acara makan bersama. Pada acara itu saya menyempatkan mengunjungi satu-persatu tamu-tamu yg saya kenal sembari mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka. Di ujung meja saya menyapa pak Adi, konsul Sosial Budaya KJRI yang dengan baik hati melowongkan waktunya datang bersama nyonya pada acara Gunadi-Kristy ini. Pada profesor Nishio dan Hayashi saya hanya 目礼 (mokurei=mengangguk hormat).

Resepsi itu akhirnya ditutup dengan acara foto-foto bersama pengantin yang diakhiri dengan beres-beres. Teman-teman dengan sadar membantu acara beres-beres yang merupakan bagian yang cukup sulit sebab kami harus mengembalikan kondisi ruangan seperti sebelum dipinjam. Sekitar jam 9 lewat saya bersama pak Trika menuju ke kantor pengelola ruangan dan memberitahu bahwa kami akan telat sekitar sejam dari jadwal semula jam 9 malam karena masih harus beres-beres. Pak Satpam yang sudah dihadiahi segepok makan malam ala Indonesia itu tersenyum dan berkata “Iya, iya zenzen daijoubu” (nggak, nggak sama sekali nggak apa-apa).

Sekitar jam 9 lewat 40 menitan saya bersama keluarga permisi pulang duluan karena Adnan dan Aisha sudah kelihatan mengantuk. Malam yg melelahkan tapi mudah2an bisa membahagiakan dengan memberi kenangan indah bagi sang pengantin.

Rindu

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Takbir memenuhi ruang dengarku
Nama-Mu mengisi senyapku
Tapi terasa sepi

Semua diam menatap bingungku

Tlahkah Engkau jauh?

Pagi, siang, malam, dan pagi lagi
Semua berlalu meninggalkanku dalam bingungku
Inikah yg insan cari?

Kukira aku mengikuti-Mu
Tapi jauh tlah terpinggirkan aku
kesepian di ramai dunia
sendiri bersama yang lain

Tak ada lagi syahdu
Tak lagi ada kaca-kaca di pelupukku
Tlah hilang getar-getar indah dalam harap-harap cemas

Kenapa semua menipis?
Kenapa segala mengabur?
Kenapa?

Entahlah, tepekurku tak menjawab tanyaku.

Aku rindu

Aku rindu dengan senyap yang syahdu itu

Aku rindu dengan untaian cairan bening itu
Ketika kubersujud dan meratap dalam diam
Sembari berdialog tanpa kata

Aku rindu dengan getar dalam nafasku
Ketika menyebut nama-Mu dalam sepi
Sembari berharap tanpa khawatir

Karena kutahu pasti ku kan kembali pada-Mu

Orientasi Jilid III

Orientasi terakhir sebelum masuk masa pelatihan intensif ini dilakukan di kota kelahiran Mandom Corporation yaitu Osaka. Lokasinya yang mengambil tempat di hotel bernama River Side Hotel Osaka seakan-akan mencoba mengantar kami pada kilas balik sejarah panjang Mandom Corporation yang tahun ini genap berusia 80 tahun. Hotel ini sesuai namanya, terletak persis di sebelah sungai Ookawa yang merupakan cabang sungai Yodogawa. Sungai Yodogawa ini menurut catatan wikipedia adalah satu-satunya sungai yang mengalirkan air danau Biwako ke laut. Suasana di hotel itu betul2 meng-osaka dengan pemandangan gedung pencakar langit yg memantul di permukaan sungai beberapa blok dari hotel.

Saya tiba di lobi hotel lebih cepat satu jam dari waktu yg dituliskan di surat undangan. Secepatnya saya menuju WC untuk berwudhu dan hendak sholat dhuhur dan ashar secara jama’ qashr. Pada saat keluar dari WC di lantai satu lobi hotel itulah beberapa peserta menyapa saya, beberapa orang Jepang dan Shin-san, orang Cina.

Saya memberi isyarat akan sholat kepada mereka dan mengambil sudut lobi dan menunaikan sholat. Sehabis saya sholat beberapa peserta lain berdatangan dan menempati sofa2 di lobi itu. Sejurus kemudian staf personalia dari kantor pusat datang dan kami pun menuju lantai 5 tempat acara akan dilaksanakan.

Jam 1 persis acara dimulai dan kami mulai terlibat dalam rangkaian kegiatan yang sudah dirancang oleh staf HR itu. Pada jam 3-an, acara itu diselingi dengan wawancara perorangan seputar career building dengan manager HR dan kabagnya. Saya yg memang sebelumnya sudah diberi bocoran rencana karir lima tahun ke depan tidak begitu banyak bertanya karena hampir semua pertanyaan saya sudah terjawab oleh informasi tambahan yg telah diberikan kepada kami sebelumnya. Saya hanya mencoba memastikan ulang masalah transport saya untuk kerja nanti sehubungan dgn lokasi kerja di tahun pertama yg rencananya adalah di kompleks kawasan industri. Kabag yg semula menjanjikan akan memberi pinjaman mobil dari perusahaan agak kebingungan karena mobil yg sedianya akan dipinjamkan ternyata sudah terpakai oleh yg lain. Manajer HR terlihat bingung dan sempat menawarkan alternatif lain berupa skooter lalu kemudian menjawab sendiri, “demo, samui desu ne” (tapi dingin ya..). Akhirnya beliau berjanji akan membicarakan hal tersebut dgn atasan dan akan memberi keputusan. Apakah akan tetap dipinjamkan dari kantor ataukah diberi pinjaman tanpa bunga dari koperasi perusahaan untuk membeli sendiri mobilnya. Mobil memang bukan barang mewah di sini karena gaji sebulan saja bisa untuk mendapatkan sebuah mobil bekas yg masih mengkilap.

Saya hanya mengangguk dan tersenyum sembari kagum dengan perhatian mereka, bahkan kepada seorang calon pegawai baru yg belum tentu memberi manfaat sesuai harapan mereka.

Sehabis wawancara saya kembali ke grup kerja dan meneruskan aktifitas kami.

Jam sepuluh malam akhirnya acara ditutup meskipun tugas kelompok yg diberikan kepada kami belum selesai. Akhirnya peralatan kami boyong ke kamar dan kamar tempat saya tidur dijadikan base camp untuk menyelesaikan tugas. Untunglah kamar yg kami isi berempat itu adalah model washiki atau japanese room sehingga cukup luas untuk menampung anggota kelompok saya yg berlima. Beberapa saat kemudian anggota kelompok lain berdatangan sehingga kamar itu penuh oleh belasan orang. Tugas kelompok akhirnya beres sebelum jam 12 dan penghuni kamar lain akhirnya pulang ke tempatnya masing-masing. Saya tertidur jam 1 lewat setelah berendam air hangat.

Keesokan harinya acara dilanjutkan dengan presentasi hasil kerja kami. Hasilnya cukup menarik karena ternyata masing2 kelompok memiliki kreatifitas dan daya cipta yg cukup beragam. Teman2 yg dari latar belakang teknik pun ternyata cukup paham dengan urusan marketing walaupun memang terlihat cenderung memandang remeh urusan yg satu itu.

Acara terakhir ditutup dengan penyampaian informasi2 dari perusahaan sehubungan dengan urusan2 dokumen, pindah rumah, dan pelatihan intensif di bulan2 awal masa kerja kami insya Allah maret tahun depan.

Kami akhirnya bubar sekitar jam 3 sore dan pulang ke tempat masing-masing.