Archive for November 2007

Selamat Jalan Rudi…

Pagi-pagi ngecek HP, ada sebuah nada masuk yg tak terjawab dan di kolom email tersimpan satu buah voice message. Dengan segera saya buka dan mendengarkan isinya. Di speaker terdengar suara :

“Assalamualaikum. Bang Rudi sudah meninggal, bang! Itu aja yang mau saya beritahukan”

Yang meninggalkan pesan itu tak berucap nama tapi saya sudah tahu kalau itu adalah Syahril, adik Rudi.

Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Saya serasa sesak nafas sejenak, ada haru, ada sedih, semua bercampur aduk. Akhirnya perjuangan Rudi melawan komplikasi penyakit sepulang dari Jepang berakhir sudah.

———–

Saya mengenal Rudi Azahar Harahap, demikian nama panjangnya, ketika mengikuti tes ikut magang di Kendari, Sulawesi Tenggara. Pda awalnya saya mengira ia orang Tolaki asli (suku asli yang mendiami daratan Sulawesi sebelah tenggara) karena kulitnya yang putih dan matanya agak sipit. Tapi setelah bicara saya langsung tahu kalau Rudi adalah orang Batak. Dia merantau dari Medan dengan segala suka dukanya demi mewujudkan impiannya. Di Kendari dia diberi kemudahan oleh Allah karena ada sebuah keluarga Batak yang bersedia memberi akomodasi selama ikut ujian.

Rudi inilah yang pertama kali mengubah paradigma umum saya tentang orang Batak. Selama bertahun-tahun merantau di Jawa saya sudah sering berinteraksi dengan orang2 suku Batak dan selalu mendapat kesan bahwa mereka adalah orang-orang yang kasar, mau menang sendiri, dll. Tapi semua kesan itu lenyap ketika berinteraksi dengan Rudi. Walaupun suaranya keras ketika berbicara, tapi hatinya tidak sekeras suaranya. Dan pembawaannya yang mantap menjadikan Rudi orang yang enak diajak bicara.

Sepulang dari Jepang, Rudi bekerja di sebuah perusahaan Jepang di daerah Ciawi dan kedengarannya beroleh pekerjaan yang cukup bagus. Di antara tugas2nya itu adalah menerjemahkan teks2 yg berisi manual mesin2 yang didatangkan dari Jepang. Beberapa kali dia sempat kirim email dan bertanya tentang terjemahan2 itu.

Selang beberapa saat terdengar kabar dari Syahril bahwa Rudi jatuh sakit karena terlalu keras kerjanya. Apalagi ditambah dengan kondisi selama di Jepang yang tampaknya membekaskan pengaruh buruk terhadap kesehatannya. Berbulan-bulan ini ia keluar masuk rumah sakit dan harus menjalani cuci darah karena komplikasi penyakit.

Rudi yang tangguh akhirnya harus menyerah. Menurut adiknya, Rudi menghembuskan nafas terakhir kemarin malam setelah kondisinya sangat buruk karena mesin cuci darah di rumah sakit di Medan sedang macet-macet.

Selamat jalan Rudi, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu, membebaskanmu dari siksa kubur, melapangkan kuburmu, dan meringankan hisabmu kelak di akhirat, amin.

Mau anda mengaminkan doa di atas?

Jazaakumullah khaeran katsiran.

漢検 for windows mobile

昨日久々にコンピューターを再インストールした。おそらく最終は一年前にその面倒くさい工程をした。去年の終わりぐらいに無線のキーボードを附けた後に文字の入力が可笑しくなり、起動するたびにガタガタとする音があったけど、全然時間がなくて結局ほったらかした。よく考えればコンピュータの不良調子による失くした時間は、再インストール時間よりが長くなるかもしれません。それにしても、手が回らなくいつも「あとで、あとで」自分に言って何もしなっかた。

今日は月曜日だから、そんなに忙しくなかった。少し朝にガルダの件で、メールのやり取りをしたが、その後暇だった。昼ごろインドネシア語クラスで講座をし、新メンバーが三人入ったので、ちょっと賑やかになり、途中で神戸のテレビ局「SUN TV」の取材してきた。クラスが始まる前に言われたので、びっくりせずにあまり気にしないで講座をやっていた。生徒の皆さんもカメラを無視して一生懸命フォローした。放送はSUN TVで2007年11月20日17時のニュースシグナルで少し流れるらしいと夕方にメールでKCCCのスタッフからお知らせがきた。

KCCCからキャンパスに行き、石黒先生から卒論の話を少し聞いてからアパートに帰った。途中で三宮の阪神食品館とポアイのトーホに寄って、愛紗チャンの大好きな”しめじ”、キムチ鍋汁や海老などをこうた。鍋汁を選ぶのはちょっと難しかった。美味しそうに見えても本みりんとかチキンエキスが入っているのはほとんどから、ハラルだと判断できるのはそのキムチだけだった。今夜は豆腐、しめじ、さけの白子、帆立貝、牡蠣、とキムチ鍋だ。こんな寒い夜にやっぱり鍋料理はたまらんね~

食事を終えて、パソコンの画面に戻った、何日前から「漢検」のことに気になってニンテンドの情報を探ったが、ソフトバンクのX01HT携帯電話を持っているから、また新機械を購入して持ち歩いてのは面倒くさそうと思いながらグーグルを検索。あればソフトだけを買ってX01HTにインストールしようと思ったけど、なかなかそ言うソフトは見当たらない。電子辞書とかはいくつかのソフトはあるけど、漢字ゲームだけはやっぱり中々なかった。フリーソフトどころか、商品もないのだ。

いくつかの商品は気に入ったけど、XPやタブレットPCしか対応できないので、買っても使わない。また、ATOK社が作った学習電子辞書もあったが、1万8千もするし、ただの辞書だけらしい。Windows mobile 対応するソフトを待って、すこし我慢するか、ニンテンドを購入して携帯電話と持ち歩くか、まだ迷っている。

Siti in Kobe City

Kerjaan hari ini di luar dugaan cukup membuat badan penat.

Hari ini IMM dan KJRI Osaka mengadakan acara yang disebut TEMASINDO atau Temu Masyarakat Indonesia. Walaupun namanya Masyarakat Indonesia, sayang sekali bahwa pengunjung yg datang kebanyakan kenshusei dan orang2 bawaannya. Mungkin karena kurangnya sosialisasi acara oleh pihak penyelenggara sehingga seakan-akan acara itu memang hanya untuk kenshusei IMM Japan.

Acara itu semula rencananya akan dihadiri oleh Menteri Tenaga Kerja RI itu, namun karena satu dan lain hal (istilah yang sering banget dipakai di Indonesia nih 🙂  ), maka kehadiran beliau diwakilkan kepada Dirjen Pemagangan, Bapak Bagus Marijanto. Saya pribadi malah setuju sekali bahwa untuk acara2 seperti ini seharusnya tidak usah dihadiri oleh pak Menteri, cukup penanggung jawab program seperti Dirjen-lah yang seharusnya turun lapangan dan melihat langsung seperti apa kenshusei itu sebenarnya. Kalau yang datang pak menteri, maka kalaupun ada ide yang muncul dari situ, tetap saja pejabat pelaksana seperti pak Bagus yang akan turun tangan. Jadi, kerja dua kali.

Setelah sambutan2, acara diisi dengan lawakan mas Doyok bersama Ali dan Topan. Setelah itu penampilan band2 kenshusei yang ternyata cukup menyenangkan untuk dinikmati. Yang menjadi masalah adalah ketika mbak Wulan dan mbak Linda naik panggung dan menghibur penonton dengan goyangan dangdutnya. Beberapa kali saya, pak Slamet, dan Kitagaki-san terpaksa naik ke panggung dan mendorong penonton yang kelihatannya sudah terlalu nafsu untuk bergoyang di atas panggung. Beberapa kenshusei terlihat melotot matanya menyaksikan goyangan penyanyi2 lokal itu, saya hampir ngakak melihat ekspresi wajah2 itu dari sudut panggung.

Sebelum penampilan Siti Rachmawati yang lebih dikenal dengan sebutan SITI KDI, ada beberapa band2 kenshusei yang naik mengisi acara. Saya digamit oleh Fumioka Kacho dan menggiring saya ke ruang istirahat pejabat2 dan menunjuk posisi tempat duduk Ishida sensei dari Tokyo. Ishida sensei ini adalah salah seorang dewan direksi IMM pusat yang dulu banyak membantu saya untuk memperoleh informasi universitas dan bahkan sempat memberikan surat rekomendasi ketika akan mendaftar di Sato Foundation. Walaupun akhirnya saya tak beroleh beasiswa itu tapi bantuan beliau jelas merupakan andil yang sangat besar dalam perjalanan hidup saya, dan baru hari ini saya bisa mengucapkan terima kasih.

Ishida sensei langsung mengenali saya ketika saya menyebut nama. Kami bercakap dalam bahasa Jepang walaupun sebenarnya bahasa Indonesia beliau sangat lancar karena sempat menjabat sebagai  Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya beberapa belas tahun yg lalu. Beliau memberi isyarat menunjuk seorang bapak yang duduk di seberang meja sambil berbisik ke saya “Bagus-san ni aisatsu shita?“(sudah menyapa pak Bagus belum?), saya yang waktu itu belum tahu siapa pak Bagus langsung menjawab “mada desu“(belum). Beliau menarik tangan saya dan memperkenalkan ke pak Bagus, pak Taufik, dan pak Firdaus. Belakangan setelah menerima kartu nama beliau2 baru saya tahu kalau pak Bagus itu Kepala Dirjen Pemagangan, Depnaker RI, pak Taufiq adalah Deputy Menteri Koperasi dan UKM, dan pak Firdaus adalah Kasubdit Perijinan dan Advokasi dari Direktorat Pemagangan. Baru ngobrol sebentar, Ishida sensei muncul lagi di belakang saya, beliau menarik saya dan memperkenalkan kepada kepala IMM pusat di Tokyo. Sehabis basa-basi saya melewati kursi pak Bagus dan beliau dengan penuh antusias mengajak ngobrol. Kalau tidak melihat kartu nama, maka mungkin saya tidak akan menyangka bahwa beliau adalah pejabat senior, sebab cara beliau ngobrol dan bahasa yang dipakainya sangat biasa, sama sekali tak ada kesan “jaim” seperti beberapa pejabat2 negara yang menjaga jarak ketika ngobrol dengan rakyatnya. Di samping beliau, pak Taufiq juga gabung ngobrol, beliau bercerita tentang sebuah rencana program yg akan diprakarsai oleh Departemen Koperasi dan UKM RI. Kami mengobrol cukup lama sampai akhirnya waktu mereka habis karena harus mengejar kereta untuk ke Tokyo. Pak Taufiq berpesan agar menuliskan abstrak penelitian saya ke dalam bahasa Indonesia dan meminta agar dikirimkan ke beliau.

Setelah mengantar bapak2 itu ke pintu, saya bergegas menuju ke ruang pertunjukan dan menikmati suguhan dari band2 kenshusei yang beberapa memang betul2 memukau. Sambil menonton saya masih terus berpikir bagaimana sebaiknya tatanan panggung agar mbak Siti bisa menyanyi dengan baik dan penonton bisa menonton dengan tenang. Ketika itulah pak Slamet, staf KJRI lewat dan saya mengutarakan kekhawatiran dan beliau memberi ide yang sangat cemerlang yaitu dengan menaruh kursi di depan panggung. Pak Slamet ini memang sangat kaya dengan ide2 yang cemerlang. Dalam beberapa kali event yg sempat saya bantu, beliau sering sekali memberikan jalan keluar dari permasalahan dengan pemecahan yang sederhana tapi ampuh.

Kami akhirnya mulai menyusun kursi mengelilingi panggung. Namun, ternyata kursi saja tak cukup, akhirnya kami menyusun meja membentuk V sehingga tercipta ruang yg cukup untuk penjoged dan masih tersisa ruang pandang bagi yg duduk.

Saya berkeliling panggung dan mengamati bahwa hampir semua bagian sudah cukup kokoh dan tidak akan diterobos oleh rangsekan penonton, kecuali bagian belakang yang memang rawan karena hanya tertutup kain merah putih. Akhirnya saya stand by di belakang panggung untuk mencegah penonton masuk, dan akhirnya nyaris tidak menonton pertunjukan 🙁 Karena saya memang tidak begitu hobi dangdut dan kedatangan saya hari ini dalam rangka bekerja, maka saya sama sekali tidak merasa rugi. Beberapa orang mencoba menerobos kain dan berulang kali pula saya dengan sabar meminta kesediaan mereka untuk menghentikan aksinya. Alhamdulillah mereka masih mau mengerti walaupun saya melarang sambil tersenyum.

Ketika mbak Siti beres manggung, tugas selanjutnya adalah mengawal hingga ke ruang ganti. Rangsekan penonton yg mencoba memfoto cukup ganas hingga akhirnya saya berlima bersama staf IMM harus pasang badan sampai bisa menerobos kerumunan massa itu. Setelah mbak Siti istirahat dan ganti pakaian saya masuk dan bertanya apakah boleh minta foto bareng karena sebelumnya saya memang sudah dimintai tolong oleh seorang teman, pak Trika dan Nyonya, untuk foto bareng mbak Siti. Mbak Siti dengan ramah sekali mempersilakan. Saya yang tadinya nggak niat foto, akhirnya ikutan masuk dan jadilah selembar di bawah ini.

 siti in kobe

Setelah mengantar mbak Siti dan manajernya bersama staf KJRI, pak Teddy ,ke mobil, saya kembali ke atas dan membantu beres2. Sekitar 40 menit kemudian baru semua pekerjaan beres dan tim IMM berpisah di tempat parkir.

Jam 6 saya sudah di atas Port Liner menuju Port Island, pulang.