Archive for October 2007

Survey for 卒論 (Skripsi)

Sejak kemarin secara resmi saya meluncurkan sebuah survey untuk bahan penulisan skripsi, sebagai tugas akhir saya untuk menyelesaikan kuliah ekonomi saya di universitas Hyogo, Kobe.

Dengan bermodalkan database dari komunitas anaknegri ( http://anaknegri.com ) dan KURNIAWAN A&S ( http://pajaknenkin.com ) alhamdulillah saya berhasil mengirimkan invitasi ke lebih dari 1000 orang di seluruh Jepang dan Indonesia. Walaupun demikian sekitar 300 alamat email yang saya kirimi ternyata sudah tidak aktif, mungkin karena sudah kadaluarsa atau juga karena memang sudah ditutup sendiri oleh pemiliknya.

Hingga hari ini, hari kedua, alhamdulillah sudah lebih dari 50 orang teman2 yg datang berkunjung dan mengisi pertanyaan2 saya di http://survey.arifkurniawan.net . Bagi teman2 kenshusei dan mantan kenshusei, kalau punya kelowongan waktu, mohon partisipasinya ya….Insya Allah tidak akan makan waktu banyak karena kebanyakan pertanyaan bisa diisi dengan klik mouse.

Pertanyaan2 yang saya susun ini bertujuan untuk mengumpulkan data untuk saya pakai menganalisa sejauh mana teman2 kenshusei itu mempunyai keinginan untuk wirausaha dan sejauh mana mereka mempersiapkan diri untuk itu. Selain itu saya juga berusaha mengumpulkan data latar belakang kenshusei, seperti pendidikan, keluarga, perusahaan, dan pesan2 dan kesan2 mereka terhadap magang dan kohai2nya.

Yang paling menarik sebenarnya bukan hasil data yg saya kumpulkan. Bagi saya yang paling menarik adalah kolom PESAN2 BUAT KOHAI. Kenapa saya katakan menarik, karena isi pesan2 itu begitu banyak berubah dari pesan2 senpai2 yang pernah saya dengar ketika 7 tahun yg silam saya pertama kali datang ke Jepang.

Dulu, ketika sempat satu kali mengisi acara PESAN2 BUAT KOHAI di hotel Takefu, Fukui, tahun 2003 yg lalu, saya pernah memaparkan sebuah ulasan yang pada intinya mengajak teman2 kenshusei, baik yg kala itu sudah mau pulang, atau yg baru datang, untuk selalu “menentukan tujuan dan membangun cita-cita“. Materi itu di waktu itu masih terdengar asing di telinga kenshusei2 karena rata2 senpai kalau memberi pesan2 dan kesan2, biasanya, “ganbatte kudasai, kerja yg rajin, menabung yg rajin, dengar apa kata pembimbing, dll“. Nyaris tidak ada yg berusaha untuk menyarankan agar kohai2nya berpikir apa tujuan mereka selanjutnya.

Setahun yg lalu, ketika pertama kali saya menemani teman2 kenshusei di IHI Amtec, di Aioi Shi, Hyogo. Ketika diminta untuk memberi pesan atau nasehat, maka pada 2 orang kenshusei yg masih segar2 dan semangat karena baru datang itu, saya berucap. “Dari sekarang kalian harus mulai berpikir, mau apa kalian setelah pulang ke Indonesia nanti“.

2 kenshusei yg duduk di depan saya itu kelihatan bengong. Mungkin dalam hati mereka “baru datang, kok sudah disuruh berpikir mau apa setelah pulang nanti“. Tapi setelah setahun lewat, mungkin mereka sudah mengerti kenapa saya ngomong begitu waktu itu. Ataukah, mereka malah sudah lupa? 🙂

Di kolom PESAN2 BUAT KOHAI di survey saya itu, kalimat yang temanya menyerupai pesan saya di atas sudah banyak terpampang. Yang berarti teman2 mantan kenshusei yg sudah pulang itu sudah sadar bahwa seharusnya, seorang kenshusei yg datang ke Jepang, seharusnya sudah mulai merancang masa depannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di pintu perusahaan, pada hari pertama.

Sayang sekali kebanyakan dari teman2 mantan kenshusei, menyadarinya setelah kembali ke Indonesia 🙁

Video Compilator

Sejak kemarin saya menguji coba sebuh plug-in baru di http://anaknegri.com yaitu rubrik yang saya sebut VIDEO ANAKNEGRI ( http://anaknegri.com/?arah=video ). Dengan fasilitas ini maka segala keruwetan yang selama ini kita hadapi ketika akan menikmati video2 kiriman orang2 seluruh dunia di Youtube atau Google, akan hilang. Selama ini untuk menonton film “NAGABONAR JADI 2” di Youtube yg terdiri dari 14 klip, maka saya harus mengklik-klik link2 itu sebanyak 14 kali dan tentu saja harus mencari2 dulu kalau ternyata link selanjutnya tidak tersedia di layar yg sedang saya lihat. Dengan fasilitas ini maka cukup satu orang saja yg perlu susah payah mengumpulkan link dan durasi potongan2 klip itu, dan selanjutnya film itu bisa ditonton secara simultan dengan layar yg lebih lebar (600 x 490 pixel), tanpa perlu klik2 dan search lagi. Selain itu dengan satu klik tombol maka latar belakang video akan menjadi gelap sehingga mata juga tidak terlalu lelah ketika mempelototi klip2 itu.

Plugin ini sebenarnya sudah lama saya buat, yaitu sekitar 3-4 bulan yg lalu. Namun karena kesibukan di hal2 lain maka tertinggalkan sejenak. Tadinya saya berniat merakitnya dengan full javascript, tapi setelah melihat leletnya server youtube ketika harus narik file video, maka ndak jadi. Karena kalau browser yg tanpa dibebani tugas macam2 aja seringkali lelet, apalagi kalau dibebani oleh javascript di halaman anaknegri.com. Wah, bisa tambah lelet 🙂 Maka jalan keluarnya adalah dgn server side scripting.

Hingga hari ini sudah puluhan klip yg berhasil saya input. Termasuk di dalamnya film Nagabonar Jadi 2 (full version 2 CD sekaligus), koleksi klip Dewa 19, Peter Pan, Letto, Nidji, dan tentu saja ndak ketinggalan dokumenter2 menarik seputar Sejarah Islam, dan film2 John Pilger. Mudah2an anggota anaknegri lainnya juga bersedia meluangkan waktunya untuk membuat kompilasi2 video yg bermutu.

Mudah2an membawa manfaat bagi kawula anaknegri.com. Selamat menonton, jangan lupa waktu ya 🙂

Kaki, makanan kesukaan kami

Udara mulai dingin, perkiraan cuaca di TV juga sudah mulai memperlihatkan gambar2 yuki darma di bagian atas kepulauan Jepang. Besok hujan katanya.

Musim gugur kali ini adalah yang ketujuh sejak pertama kali saya datang ke Jepang tahun 2000 lalu. Musim gugur tahun 2003 tidak saya jalani di Jepang karena waktu itu saya harus pulang ke Indonesia sebab masa kenshu habis di bulan Agustus tahun 2003.

Pada musim ini biasanya acara TV banyak dihiasi oleh acara2 masakan dgn tema 秋の味覚 (aki no mikaku) atau Cita Rasa Musim Gugur. Pada bulan2 ini juga makanan kesukaan kami sekeluarga yaitu 牡蛎 (kaki=oyster=kerang) muncul di kios ikan di Itayado atau DAIE dekat apartemen kami. Kerang ini sangat lezat kalau ditempura, atau dibuat kaki miso siru (sup miso kerang), atau kalau yang masih segar malah paling enak disantap mentah dengan diperciki air jeruk nipis, mmmhhh…….

Kadang2 saya sering berandai-andai bahwa air perairan pantai di Indonesia juga bisa bersih seperti di Jepang sehingga kerang juga bisa diternakkan. Dulu sebelum tahu, saya sering bertanya-tanya kenapa di Indonesia kerang jenis ini tidak diternakkan, padahal daerah kepulauan Indonesia yang konon pulaunya berjumlah 18.103 buah adalah daerah yang sangat berpotensi untuk pengembangan kerang. Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata kerang yang sangat lezat itu malah bisa menjadi sumber malapetaka kalau diternakkan di perairan yang air lautnya terkontaminasi oleh polusi. Sebab, kerang yang hidupnya menetap di satu tempat (menempel di tali rakit) akan menyerap dan mensarikan polusi yang terkandung di air laut sehingga bukannya menjadi makanan yang menyehatkan, malah akan menjadi sumber penyakit.

Beternak kerang ini sebenarnya tidak susah. Di bawah ini saya terjemahkan beberapa poin2 inti tentang beternak kerang yang ditulis oleh sebuah perusahaan perikanan bernama Okamoto ( http://www.nn.iij4u.or.jp/~ookatou/net602/y220.htm ) :

————————————–

Metode Ternak Kerang

1. Peralatan Yang Dibutuhkan

Pada dasarnya dibutuhkan 4 alat utama yaitu bahan/alat tempat kerang menempel (berupa tali tembaga, rumbaian bambu, atau tongkat), bagan atau rakit, jangkar, dan alat pemanen. Untuk alat/bahan tempat kerang menempel juga dibutuhkan kulit kerang atau kulit bekas mutiara. Kulit kerang ini berfungsi sebagai pemancing agar kerang menempel. Cara memasangnya berbeda-beda di setiap daerah tapi biasanya kulit kerang ini ditaruh dengan jarak sekitar 1,5 meter dengan posisi yang sama, yaitu menghadap ke bawah.

2. Lokasi Pemasangan Bagan/Rakit

Lokasi peternakan harus berada di perairan dengan suhu sekitar 22 s/d 26 derajat celcius, tingkat keasinan sekitar 1,017 s/d 1,021 (angka ini adalah standar yang digunakan di Jepang, silakan cek standar nilai yg dipakai di Indonesia di sumber lain), dan arus air sekitar 50 s/d 60 cm/detik. Taruhlah rakit dengan kerapatan sekitar 1,8 meter s/d 2 meter, bergandengan 2 buah dan berderet maksimal 12 rakit/bagan.

Catatan : untuk di Indonesia, anda sebaiknya mengecek dulu ke departemen perikanan apakah lokasi yang akan anda tempati menaruh rakit adalah perairan yang bersih dari polusi dan hasilnya nanti tidak membahayakan kesehatan. Untuk mengecek tingkat salinitas dan kandung zat2 di dalam air, bisa dilakukan dengan melihat data di departemen perikanan atau cek sendiri dengan mengambil sampel air lalu membawanya ke laboratorium di instansi2 pemerintah atau universitas2 dekat lokasi. Biasanya ada biaya pemeriksaan laboratorium.

3. Periode Pemasangan Rakit

Lakukanlah pemasangan rakit setelah mengecek hal2 berikut :

a. Telitilah kapan masa bertelur kerang di daerah itu. Ukur suhu air setiap hari dan perkirakanlah masa bertelur itu dengan melihat suhu (lihat suhu di atas).

b. Cobalah cek air di sekitar lokasi dengan menggunakan jala kasa. Coba perhatikan kandungan jentik2 plankton dan kerang. Perhatikan ritmenya dan mulailah menaruh rakit pada masa puncak.

c. Pada masa awal, lakukan pemasangan rakit setiap bulan dan ukurlah pada bulan berapa hasil yang terbanyak didapat. Tandailah secara seksama.

4. Metode Pemasangan Bagan/Rakit

Pada dasarnya ada 3 metode, yaitu :

a. Untuk perairan yang cukup dangkal sekitar 10 meter, bisa dilakukan dengan rangka tenggelam dengan diberi pemberat. Syaratnya adalah permukaan dasar laut harus berupa pasir, bukan lumpur. Tenggelamkan rangka yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki banyak tempat kerang menempel nantinya.

b. Untuk perairan yang berlumpur, bisa dilakukan dengan menanamkan rumpun2 bambu. Dan setelah waktu yang ditentukan bisa diangkat.

c. Metode yang paling populer adalah rakit atau bagan apung dengan diberi tali2 menjulur ke bawah. Dibandingkan 2 metode di atas, dengan metode ini kerang jauh lebih mudah dijaga, dirawat, dan dipanen.

5. Pemanenan dan Pemeliharaan

Musuh alami dari kerang ini selain beberapa jenis ikan, ulat laut, rumput laut, dan kerang2 tertentu, yang paling fatal adalah tingkat keasinan air laut. Kerang (jenis マガキ/magaki) tidak tahan dengan keasinan yang lebih rendah dari 1,016 dan lebih tinggi dari 1,021. Jika air laut turun keasinannya di bawah 1,006 maka dalam 2 s/d 4 hari bisa dipastikan kerang akan mati. Untuk ikan, ulat dan kerang bisa dilakukan dengan mengangkat tali ke udara beberapa saat. Sedangkan untuk rumput laut harus disiangi satu persatu. Sementara itu untuk keasinan air, yang terbaik adalah dengan melakukan penelitian tingkat keasinan air laut sebelum menaruh bagan/rakit.

Catatan : sifat kerang di atas adalah kerang yang hidup di perairan Jepang, silakan cari informasi tentang tingkat keasinan dan daya tahan hidup kerang di perairan Indonesia di website Departemen Perikanan http://www.dkp.go.id/

Cara pemanenan yang termudah adalah dengan menggunakan mesin penggulung tali yang dipasang celah sempit sehingga ketika tali tergulung ke gulungan, kerang akan terlepas dari tali dan jatuh ke dalam drum yang ditaruh di bawah mesin penggulung. Dan untuk memudahkan penarikan maka ujung tali yang menempel di rakit sebaiknya bukan diikat mati melainkan dicantolkan dengan besi berbentuk huruf U, dengan demikian sekali kait juntaian kerang bisa langsung ditarik ke atas kapal.

Masa panen adalah sekitar 10 s/d 12 bulan sejak pertama kali rakit dipasang. Jika dibiarkan lebih dari 1 tahun maka kerang akan melemah perlahan-lahan dan mati begitu saja.

——————————————————

Beternak kerang ini cukup menggiurkan masa depannya. Selain tidak terbatas karena akan terus dikonsumsi selama kualitas memenuhi standar, juga karena biaya yang dibutuhkan relatif murah padahal hasilnya sangat lumayan. Menurut data dari Departemen Perikanan di artikel yang ditulis pada bulan agustus 2007 ( http://www.dkp.go.id/content.php?c=4313 ), biaya untuk satu bagan sekitar 5 juta rupiah (sudah termasuk tenaga kerja), padahal satu bagan itu bisa menghasilkan penjualan sebesar 14 juta rupiah (dengan asumsi 1 kilo dijual 500 rupiah). Kalau seorang kenshusei yg baru pulang dari Jepang membawa pulang uang 150.000 yen saja, maka ia sudah bisa membangun sekitar 2-3 buah bagan atau rakit.

Masalah yang terpenting dari usaha ini adalah sistem keamanan karena lokasi peternakan yang berada di tengah laut tentu akan mudah dirampok oleh orang2 bejat. Tapi kalau usaha peternakan ini dilakukan secara berkelompok, maka dalam grup usaha itu bisa dilakukan ronda secara bergantian. Bahkan kalau memang usahanya bisa maju, tidak mustahil pihak berwajib di daerah anda akan memberikan perhatian khusus di masalah keamanan. Jadi, harus nyogok? Tidak juga, semua itu tergantung kita. Kalau kita berusaha membangun hubungan yang baik dengan penguasa tanpa kongkalikong, maka insya Allah akan ada pejabat2 yang amanah yang akan membantu. Insya Allah, Allah akan membukakan mata orang2 yang bersedia membantu. Allah tidak pernah menutup mata kepada hamba2-Nya yang berusaha.

Ganbarimashou….