Archive for September 2007

Gladi Resik

Sebenarnya sudah berkali-kali Tatsuta sensei mengingatkan agar kami tepat waktu pada saat gladi resik hari ini. Peringatan itu sudah saya sampaikan juga ke teman2 anggota tim tapi ternyata tetap saja budaya jam karet orang Indonesia tidak hilang walaupun hidup di negeri sakura ini. Ketika saya dan Dewi bersama Aisha dan Adnan sampai di lantai 4 shoes plaza jam 12:50-an, ruangan besar yg dipinjam untuk latihan itu hanya berisi mbak Susy, Wildan, Lia dan mbah Tatsuta. Sampai jam 14:00-an baru 3 orang yang berkumpul, padahal kami harus latihan dgn anggota sebanyak 18 orang.

Menjelang jam 15:00-an barulah satu persatu anggota tim datang. Memang sih saya juga tidak bisa menyalahkan teman2 yg punya kegiatan seabrek sehingga tidak bisa datang tepat waktu, tapi suasana seperti ini biasanya berujung dengan keterburu-buruan di ujung waktu. Dan ternyata kekhawatiran saya terbukti, sebab menjelang jam 17:00 pun ruangan yang seharusnya sudah kosong itu masih harus dibersihkan dan dibereskan sehingga janji kami untuk memakai ruangan hanya sampai 17:00 tidak bisa ditepati. Teman2 yg sudah pulang duluan memang tidak tahu menahu, tapi mbah Tatsuta yg harus mengurus kunci ruangan terpaksa harus datang lagi ke ruang pengurus gedung dan membungkukkan badan untuk meminta maaf atas penggunaan yang lewat waktu. Saya hanya mengurut dada dan tak tahu harus berkata apa.

Sehabis beres2, rombongan diarahkan menuju daerah masjid. Malam ini sensei mengajak beberapa pentolan tim untuk makan malam di restoran Naan Inn. Setelah mengisi perut dengan tandoori chicken dan naan, kami berpisah dan pulang ke ruah masing2.

Concerto.

Lia, Wildan, dan mbak Susy sudah hampir beres packing barang ketika saya sampe di kediaman Tatsuta Sensei. Begitu masuk ke rumah utama sensei, saya menelpon ke KJRI untuk menanyakan perihal draft pidato pak Pitono, Konjen RI Osaka. Menurut info staf Jepang yg terima telpon, yang menangani masalah itu, mbak Suzanna, sedang menelpon. Sementara itu di sebelah saya mbah sedang menerima telpon yg masuk. Begitu saya menutup telpon HP, mbah Tatsuta menyodorkan gagang telpon dan menyuruh saya berbicara dengan mbak Suzanna sekertaris pak Pitono itu. Orang yg saya telpon ternyata sedang menelpon ke telpon yg terletak di sebelah saya 🙂

Setelah beres2 barang bawaan, saya, Wildan, dan Lia meninggalkan kediaman sensei dan bergegas menuju halte bis. Hari ini saya berjanji mengajak mereka untuk melihat-lihat Port Island Kobe tempat apartemen yg kami diami berada, sambil mencoba Port Liner yg berjalan di atas rel yg melayang sekitar 30 meter di atas air laut.

Kami bertiga akhirnya menaiki kereta tanpa masinis itu dan berhenti di stasiun ujung, Kobe Air Port. Wajah Wildan dan Lia tidak begitu terpesona melihat sajian teknologi  itu. Mungkin karena mereka sudah pernah melihat negara2 Eropa yg mungkin sudah lebih maju di bidang perkeretaan, ataukah mereka mulai mengidap demam panggung karena menjelang penampilan hari minggu nanti. Kami akhirnya naik kembali ke kereta dan menuju apartemen saya.

Hari ini jumat dan seharusnya Wildan dan saya menuju masjid untuk sholat jumat, tapi setelah menunggu mereka membereskan makan siang yang disajikan oleh Dewi dan jam sudah hampir setengah dua, maka saya tidak yakin bahwa kami akan bisa dapat sholat jumat jikapun berangkat. Akhirnya saya memutuskan untuk sholat dhuhur saja daripada nekat berangkat ke masjid yg berjarak hampir 30 menit dari Port Island. Wildan tertidur di ruang tengah sementara Lia menghabiskan waktu bercanda dengan Aisha, putri kami.

Jam 17:50 rombongan keluarga saya ditambah Lia dan Wildan berkumpul di Fisherman’s bersama mbah+Eyang Tatsuta dan mbak Susy. Malam ini kami makan malam ditraktir sensei di restoran “tabehoudai” (makan sepuasnya) itu.

Setelah berpuas-puas dengan udang dan kerang di restoran itu, kami berempat menuju ke lantai satu dan bergegas menuju tangga naik kapal pesiar andalan Kobe, Concerto. Tatsuta sensei memenuhi janjinya untuk mengajak kami pesiar dengan kapal Concerto untuk menikmati pemandangan malam kota Kobe.

Di luar dugaan, ternyata pemilik kapal pesiar mewah di Kobe itu telah dikontak oleh Sumino sensei sehingga ketika kami akan naik ke tangga, beliau menyegajakan diri menjemput dan mengucapkan salam kepada kami. Beliau seorang wanita usia 50-an dengan perawakan langsing dan terlihat jumawa dengan pakaian berwarna putih. Dengan sopan beliau mengantar hingga dekat pintu ruangan khusus carteran. Dan di luar dugaan lagi, kami diberi ruangan khusus berupa kamar kapasitas 21 orang padahal mbah hanya memegang tiket penumpang biasa untuk 7 orang, alhamdulillah. Sebuah kemewahan yang sepertinya tak akan saya beli dengan uang sendiri walaupun diberi kemampuan oleh Allah. It’s too luxury.

Setelah menikmati 1 jam 45 menit di atas teluk Akashi, kapal merapat kembali di Harbour Land. Saya dan keluarga naik taksi pulang ke apartemen, eyang dan mbah pulang ke kediaman mereka, sementara rombongan mbak Susy menuju wisma JICA. Malam ini mereka menginap di wisma JICA Kobe.

Indonesia Daisuki

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 siang ketika saya bergegas meninggalkan apartemen menuju stasiun Port Liner. Hari ini saya harus tiba di wisma Konjen RI di daerah Mikage, Kobe sebelum jam 12 siang sesuai janji saya kepada Ibu Ratna Pitono, istri Bapak Pitono Purnomo, konsulat jenderal Republik Indonesia di Osaka.

Setelah berganti kereta ke Hankyu, saya mulai kebingungan karena agak lupa2 harus turun di stasiun mana. Akhirnya saya turun di stasiun Rokko lalu menelpon teman. Ternyata saya terlalu cepat turun, karena harusnya saya turun di stasiun Mikage, satu stasiun dari Rokko. Bergegas saya naik kereta selanjutnya dan melirik jam tangan, 11:19.

Setelah turun di Mikage buru2 saya menuju taksi yg diparkir dan meminta diantar ke wisma konjen. Tadinya sedikit khawatir jangan2 sopir taksi tidak tahu, ternyata sang sopir hapal dengan baik posisi kediaman wakil RI di daerah Kansai itu.

Sesampainya di sana, Ibu Ratna ternyata masih sedang bersantap siang dengan mbah Tatsuta sensei, Ibu Resti, istri konsul Ekonomi KJRI, dan rombongan kesenian dari Saung Mang Udjo Bandung, Lia, Wildan, dan perwakilan PPIJ (Persatuan Persahabatan Indonesia Jepang), ibu Susy. Ibu Indri, istri konsul sosbud KJRI dan Nyonya Masni, konsul penerangan tampak duduk2 di pintu gerbang dan tidak ikut bergabung di meja makan karena menjalankan ibadah puasa. Ibu Ratna, Ibu Susy, mbah Tatsuta memang non muslim jadi tidak puasa, Ibu Resti, tidak menjalankan puasa karena sedang berhalangan sementara Lia dan Wildan libur puasa dulu karena sedang safar menjalankan misi kebudayaan ke Jepang ini. Ibu Susy, Lia, dan Wildan baru tiba dari Bandung kemarin pagi setelah dijemput oleh saya dan eyang+mbah Tatsuta. Saya ikut duduk2 di meja makan dan tentu saja menolak hidangan karena puasa.

Hari ini jadwal mereka adalah kunjungan ke Sekolah Dasar Kambara di daerah Shukugawa, Kobe.

Sesuai janji akhirnya kami tiba di lokasi sekitar jam 1 siang, setelah ramah tamah sejenak dengan kepala sekolah dan guru2 kami segera menyiapkan perangkat angklung yang berjumlah sekitar 130 buah. Ruangannya adalah aula serba guna yang saya taksir lebih luas daripada masjid di pesantren saya, IMMIM Tamalanrea yg biasa menampung lebih dari 800 orang.

Bangunan sekolah sudah terlihat tua tapi masih sangat bersih dan rapih. Menurut keterangan guru di situ, murid2lah yg selalu rajin membersihkan segala penjuru sekolah itu. Selain aula yg sangat besar, ruangan belajar, ruang guru, sekolah itu dilengkapi dengan lapangan olahraga yang luasnya mungkin sama dengan lapangan sepak bola standar. Fasilitas yg standar di Jepang , tapi mungkin hanya dimiliki oleh sekolah2 elit kalau di Indonesia. Dan karena sekolah ini adalah sekolah negeri, maka tentu saja semua fasilitas itu dibiayai oleh negara tanpa perlu ‘sumbangan’ murid2 dengan membayar uang pembangunan yang besarnya aduhai. Inilah enaknya kalau negara dikelola dengan benar, buntut2nya yg enak adalah kita sendiri, rakyat. Sementara negara kita yg dikelola oleh pejabat2 yg banyak koruptor, kita hanya bisa mengusap dada karena fasilitas yg tidak memadai.

Acara angklung dimulai setelah siswa2 berkumpul. Lia dan Wildan yang sebenarnya masih sangat muda karena berusia 17 dan 21 tahun, tampak tidak canggung melakoni perannya. Wildan dengan mulus memainkan beberapa lagu Indonesia dan Jepang dengan seperangkat angklung dari Saung Mang Udjo, sementara Ibu Susy membeking dengan alunan piano. Anak2 SD itu tampak menyimak dengan seksama dan dengan semangat bertepuk tangan riuh ketika Wildan menutup konser solonya dengan baik.

Setelah Wildan, Lia tampil untuk membimbing anak2 itu bermain angklung. Para istri2 pejabat ikut membantu membagikan angklung ke anak2 SD itu yg dengan antusias memegang dan mencoba membunyikan alat musik bambu itu. Sayang sekali karena angklung yg dibawa hanya sejumlah 120 buah, maka hanya anak2 kelas 3 & 4 yang kebagian, sementara anak2 kelas lain terpaksa menatap dengan penuh harap ke teman2nya yg beruntung kebagian alat musik itu.

Lia yg bulan depan baru berusia 18 tahun itu tanpa canggung membimbing anak2 SD Kambara memainkan beberapa lagu. Anak2 Jepang itu ternyata dengan mudah mengikuti petunjuk dan berhasil memainkan beberapa lagu. Permainan angklung ditutup dengan lagu Bengawan Solo, karangan mpu Gesang.

Anak2 dan guru2 di sekolah itu tampak senang sekali. Seorang anak murid kelas 4 malah tidak mau jauh2 dari Wildan dan terus saja mencoba berkomunikasi dengan Wildan. Sesekali saya menterjemahkan bolak-balik sembari kesana kemari membereskan alat musik bambu. Seorang anak mendekati saya dan menjabat tangan sembari mencium punggung tangan saya dan berucap”arigatou gozaimashita”. Saya membalas dengan “dou itashimashite”. Sempat kaget juga karena biasanya anak2 Jepang biasanya hanya diajarkan jigi (membungkukkan badan ketika mengucapkan salam/terima kasih), mereka tidak diajarkan untuk cium tangan.

Ketika kami bersiap-siap pulang, anak2 itu masih sempat merubungi mobil dan mencoba berkomunikasi. Si anak yg sedari tadi dekat2 Wildan sempat berkata “Indonesia daisuki. Ookiku nattara Indonesia no daigaku ni ikitai” (Saya suka sekali dengan Indonesia, kalau sudah besar saya ingin masuk universitas di Indonesia). Ketika kalimatnya saya terjemahkan, ibu Ratna terlihat sangat senang sekali.

Kami meninggalkan SD itu dengan perasaan puas karena kegiatan berlangsung sukses.

Dua jam kemudian eyang+mbah Tatsuta, ibu Susy, Lia, Wildan, dan saya sudah duduk di restoran Takakura yg terletak di lantai 25 gedung Joy Plaza di Shin Nagata. Kami menikmati hidangan ala Jepang sembari disuguhi pemandangan malam kota Kobe yang bersinar di bawah purnama 15 ramadhan.