What A Day!

Pagi2 buka komputer, email2 tak terbaca berderet di account Garuda PPI Kansai. Pada musim liburan seperti ini teman2 mahasiswa yg butuh bantuan untuk mendapatkan tiket Garuda membludak. HP saya berdering, saya angkat, jawab, berdering lagi, saya angkat, jawab, berdering lagi, saya angkat, jawab, berdering lagi…begitu terus hingga menjelang siang. Saya melirik jam dinding yang tergantung di belakang saya dan jarum sudah menunjukkan posisi jam 11 siang lewat. Puff…saya menyeka keringat. Terburu-buru berusaha menyelesaikan pekerjaan yg bisa saya selesaikan karena harus segera berangkat ke Osaka, tadinya saya berencana ke lokasi rumah pemakaman seorang kenshusei yg meninggal kemarin pagi, menurut informasi dari shikyoku-chou IMM Osaka kemarin, sholat akan dilangsungkan siang jam 14:00 kamis ini. Tapi setelah melihat situasi yg sulit ini, saya jadi ragu apakah bisa berangkat sebelum jam 1 siang. Apalagi ditambah masuknya telpon dari seorang rekan mahasiswa di Osaka yg minta bantuan karena orang tuanya meninggal dan ybs harus pulang jumat besok. Akhirnya saya menyerah dan memutuskan tidak ke Osaka.

Menjelang siang telpon agak reda. Sembari menunggu kontak dari Garuda saya duduk2 tenang sejenak, tapi tiba2 lagu Sekai ni hitotsu dake no hana mengalun dari HP saya. Nomornya kelihatannya dari Indonesia, dari mana nih…. sembari membatin saya mengangkat telpon. Di seberang terdengar suara wanita yg menanyakan apakah benar ini nomor HP saya, saya langsung mengiyakan sambil menduga-duga, jangan2 ini telpon marketing staff NTT 0033 di Jakarta yg sering mencari prospek orang2 Indonesia di Jepang. Ternyata saya salah, dengan lugas penelpon yg belakangan memperkenalkan diri sebagai Lala menyebutkan dirinya dari tim manajemen petinju Indonesia, Chris John.

Beliau kemudian memberitahu kalau ingin meminta tolong supaya tim Chris yang akan bertanding tanggal 19 di Rokko Island nanti untuk didampingi. Saya menyanggupi dgn syarat bahwa hari ini dan besok saya harus absen karena sudah ada jadwal di luar daerah Kobe. Tim Chris ternyata sedang kebingungan karena kesulitan komunikasi, mereka sangat kesulitan yang terutama disebabkan karena fasilitas hotel yg disiapkan oleh promotor pengundang tidak memenuhi selera sang pelatih dan tidak dilengkapi dengan tempat latihan kebugaran. Di hotel lama mereka sudah check out sementara di hotel baru yg dituju belum check in, pihak pemantau di Indonesia kebingungan karena kehilangan kontak, apalagi HP yg dibawa oleh anggota tim tidak satu pun yg bisa dihubungi. Ibu Lala akhirnya berkata akan minta konfirmasi dulu dgn pelatih Chris dan berjanji akan menghubungi saya lagi. Saya menutup telpon dan berusaha kembali ke deretan email PPI Kansai.

Lewat 15 menit ibu Lala belum juga memberi konfirmasi, padahal saya sudah kebingungan sebab harus menyiapkan barang bawaan ke Aioi sore ini juga. Saya sudah harus tiba di hotel Rinkaiso sebelum jam 20:00 malam atau jika tidak, maka saya harus makan malam di stasiun Aioi sebab restoran di hotel yg dipesankan pihak IHI Amtec hanya buka hingga jam 8 malam.

Setelah kontak2 dgn staf di KJRI akhirnya saya bisa nyambung dgn ibu Lala di Jakarta dan segera mencari tahu hasil konfirmasi. Ternyata ibu Lala belum juga dapat kontak. Akhirnya saya meminta informasi hotel yg dituju dan berjanji akan melacak keberadaan mereka.

Dengan satu telpon saya berhasil tersambung langsung dgn Chris. Segera saya jelaskan tentang kontak ibu Lala dan bertanya kesulitan apa yg bisa saya bantu. Akhirnya Chris cerita tentang masalah hotel dan gym, tapi tidak bisa apa2 sebab pelatihnya sedang tidak ada di tempat. Saya menanyakan apakah perlu bantuan untuk dicarikan hotel, dan Chris mengiyakan, setelah menghubungi ibu Lala via HP, saya kembali k depan meja kerja dan mulai mencari informasi hotel.

Setelah klik2 di beberapa lokasi, akhirnya saya berhasil memperoleh hotel yg sesuai kriteria yg disebutkan oleh Chris, awalnya penerima telpon memberi informasi bahwa semua kamar hotel sudah full hingga 10 hari ke depan. Dengan sedikit promosi saya menceritakan tentang Chris dan jadwal pertandingannya yg sudah dekat tapi belum dapat lokasi tetap untuk menginap. Akhirnya staf itu diskusi dgn manajernya dan bersedia menggeser beberapa tamu untuk tim Chris, dengan beberapa syarat yg apa boleh buat unnegotiable. Untuk sementara kamar hotel saya booking atas nama saya dan berjanji akan rekonfirmasi dalam 1,5 jam lagi. Saya merasa agak lancang karena melangkahi pelatih Chris, tapi sebodoh amat, pikir saya. Yang penting Chris bisa dapat tempat yg tenang dan bisa mulai berlatih mulai besok dan siap2 tanding minggu depan. Kalaupun nanti pelatihnya tidak setuju, toh, saya bisa cancel dgn one call.

Setelah barang bawaan siap saya langsung menuju hotel.

Sejam kemudian saya sudah berada di lobbi hotel dan bersalaman dgn Chris.

Saya hanya sekali pernah melihat Chris bertanding di TV dan ternyata perawakannya lebih besar dari bayangan saya. Inilah sang juara yang dibanggakan Indonesia. Dan inilah sang juara yang membawa bendera Indonesia ke Jepang dan hanya ditemani oleh pelatih dan asistennya. Nama besar yang dia bawa begitu kontras dengan pelayanan yg dia terima dari pelayan masyarakat Indonesia.

Kami akhirnya menuju kamar dan langsung bertemu dengan pelatihnya, Christian. Dan di sinilah saya merasakan ada hal yang aneh. Staf yg di Indonesia ketika menelpon kedengaran sangat khawatir dgn kondisi tim di Jepang. Tapi Christian yg saya temui di depan pintu WC kamar malah sempat mengernyitkan alis ketika bertemu saya, tanggapannya dingin ketika dijelaskan bahwa saya diminta mendampingi mereka selama ada di Jepang. Yang butuh siapa?, saya atau mereka? Batin saya dalam hati.

Saya sebenarnya sudah ingin pulang ketika melihat situasi yang semula tak saya sukai ini. Mungkin karena terbiasa berada di posisi “diminta”, sehingga saya agak kikuk ketika berada pada posisi yang seakan-akan meminta, padahal saya meninggalkan segunung pekerjaan yg hasilnya secara material relatif tidak lebih kecil dibandingkan kalau pelatih Chris itu membayar saya dengan full payment sekalipun. Saya menahan diri dan mengingatkan diri saya bahwa saya memang menyanggupi tawaran ini karena ingin membantu tim Chris yg membawa merah putih bersama mereka. Saya menyebutkan harga yg sebenarnya irasional bagi saya sendiri karena hanya bernilai sepertiga dari gyara  yg saya terima dgn menjadi translator bilingual sekalipun, padahal kali ini saya harus memutar otak 3 kali lipat sebab pelatih Crhis hanya bisa bahasa Inggris logat Australia sementara Chris sendiri tentu lebih prefer kalau berbahasa Indonesia, yang artinya kali ini adalah trilingual, Inggris-Jepang-Indonesia. Sekali-sekali lah, demi merah putih, hibur diri saya.

Kami akhirnya menutup deal dan segera meninggalkan kamar menuju ke lantai bawah dan berpisah setelah sedikit berputar-putar di shopping centre di dekat hotel. Christian berjanji akan menelpon sabtu pagi.

Dengan tergesa-gesa saya lari ke stasiun kereta dan meluncur menuju Aioi dan 2 jam kemudian saya sudah naik taksi dari stasiun Aioi menuju rinkaiso hotel. Alhamdulillah saya tiba pas jam 20:00 ketika staf di restoran baru saja akan beres2. Clerk hotel dgn segera meminta staf restoran menyediakan makanan.

Setelah makan malam, 15 menit kemudian saya sudah nongkrong di asrama IHI Amtec sambil menyeruput teh hangat buatan anak Amtec dan bertukar kata dengan Adi Ahmad Soleh, Adin Puadin, Asep Mubin, Asep Sukirman, Heru Firmansyah, Hidayat Sudrajat, Juanda, dan Wahyu Wilmana. 8 orang kenshusei IHI Amtec yg terbaru angkatan 19-04, asal Jawa Barat.

What a day!

2 comments

  1. angga says:

    wah seru baca cerita ini.
    kasian juga cris john,orang yang mengharumkan bangsa terlantar di negri orang.
    ganbatte cris john…….

  2. yuda says:

    salut mas aRif,
    tolong dijaga baik, amanah bangsa loh !

%d bloggers like this: