Orientasi Jilid I

Dengan terburu-buru saya menyelesaikan kegiatan di kamar mandi, menyambar pakaian dan segera bergegas berangkat. Dewi sambil menggendong Adnan menuntun Aisha mengantar saya hingga ke depan pintu, setelah mendapat kecupan sayang di tangan kanan dari istri dan kedua anak, saya membalas dengan ciuman di pipi dan segera melompat keluar pintu, Aisha melambaikan tangan mungilnya “bye…bye” katanya dengan penuh semangat.

Hari ini saya harus berada di kantor pusat Mandom sebelum jam 12:55 untuk menghadiri orientasi jilid I dari 3 kali orientasi yang dijadwalkan perusahaan sebelum resmi masuk ke tim Mandom, Japan.

Jam menunjukkan pukul 12:54 ketika saya memasuki gerbang gedung berlantai 11 itu. Setelah menerima tanda pengenal di uketsuke saya setengah melompat menuju ruang rapat besar di lantai 2. Tampaknya saya termasuk salah satu dari 2 orang yg terlambat hari itu karena di situ sudah berkumpul 16 orang calon pegawai baru Mandom tahun depan. Acara itu dihadiri oleh semua naiteisha (calon pegawai yang telah diterima secara resmi) dari dua lokasi seleksi Mandom di Jepang, 12 orang dari seleksi di daerah Kansai dan 4 orang dari daerah Kanto, ditambah dua orang asing, satu orang Cina dan 1 orang Indonesia, yaitu saya. Acara dimulai tepat jam 13:00.

Sambutan diberikan oleh direktur urusan HRD dengan singkat lalu diteruskan dengan perkenalan masing2 peserta. Yang unik adalah perkenalannya bukan dengan memperkenalkan diri sendiri, melainkan dengan memperkenalkan orang di sebelah masing2, oleh sebab itu mau tidak mau kami harus berusaha mencari tahu sebanyak mungkin tentang orang yg akan menjadi subyek pembicaraan. Sistem itu mereka sebut 他己紹介 (takoshoukai=perkenalan diri orang lain). Dan di sinilah terlihat kehebatan dari staf2 HRD.

Ternyata dari 18 orang yang dipilih dari ratusan peminat itu, semuanya memiliki karakter dan keunikan sendiri-sendiri. Mulai dari cowok ジャニーズ系 (junkis) dengan rambut berwarnanya, cowok karakter kalem tapi mantap, cewek tomboy, hingga cewek yang ribut dan cerewet minta ampun. Ternyata dalam seleksi pegawai prinsip iro-iro masih tetap diterapkan. Dan tentu saja yang paling beda adalah saya bersama Shin-san yang bukan orang Jepang 🙂

Acara juga diisi dengan game yang menuntut kekompakan tim dan sekaligus menguji kesolidan kerjasama dengan teman2 yang nantinya akan menjadi rekan kerja. Game akhirnya ditutup walaupun tidak menghasilkan target sesuai harapan karena waktu yang sudah habis. Kami kemudian beriringan menuju sebuah restoran di dekat kantor untuk menikmati makan malam sekaligus menutup acara orientasi jilid I itu.

Sehabis acara makan-makan kami kemudian berpisah di depan gedung restoran dan sebelumnya sempat mengantar teman2 yg dari Kanto untuk reservasi hotel. Pada saat nongkrong itulah saya sempat punya kesempatan ngobrol dengan direktur HRD dan bercakap tentang Mandom Indonesia dan sepak terjang Yamashita Sacho yang tampaknya adalah orang hebat dengan kemampuan tri-lingualnya, Nihonggo, English, dan Bahasa Melayu. Bahkan pak direktur HRD pun terlihat tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada beliau.

Kami akhirnya berpisah di dekat pintu masuk kereta subway.